Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 14 - Balas Dendam (Saud) part 1


__ADS_3

Munding keluar dari ruang rawat inap dan berjalan ke parkiran motor. Hujan gerimis mengguyur Kecamatan Sukolilo. Munding yang hanya mengenakan kaos dan celana panjang tanpa jaket nekat menerobos gerimis dan berjalan ke arah motor.


Munding menyalakan motornya dan keluar dari halaman parkir RSUD Sukolilo. Dia mengarahkan motornya ke arah Pasar Sukolilo yang terletak tidak jauh dari RSUD.


Di kota kecamatan seperti Sukolilo, semua fasilitas umum mempunyai jarak yang hampir berdekatan. Mungkin sebenarnya Sukolilo juga tidak layak disebut ‘kota’ sedari awal.


Jalanan sudah mulai sepi, meskipun jam baru menunjukkan pukul 20.00 malam, untuk penduduk daerah pegunungan seperti Sukolilo, lebih baik mereka meringkuk di bawah selimutnya yang hangat daripada keluar di malam hari. Menahan dinginnya hembusan angin dingin pegunungan di malam hari.


Dalam waktu hitungan menit saja, Munding sudah sampai di pasar Sukolilo. Pasar yang di siang hari ramai oleh oleh pedagang dan pembeli suasana berubah 180 derajat di malam hari. Toko-toko maupun pedagang pasar tutup sebelum adzan maghrib berkumandang setiap hari.


Hanya satu dua pedagang yang masih terlihat berusaha mengais rejeki di tengah gerimis hujan malam ini. Beberapa warung tenda penjual makanan seperti bakso, ayam penyet dan nasi kucing tetap setia menunggu pelanggan yang mungkin kelaparan di malam hari.


Tapi bukan tempat itu yang dituju oleh Munding. Kemarin dia mendengar Pak Razak menyebut nama ‘Saud’, preman pasar yang disegani di Sukolilo. Dan Munding punya sedikit bayangan dimana dia harus mencari Saud untuk membuat perhitungan.


Di Sukolilo, minuman keras tidak diperjual belikan dengan bebas. Meskipun begitu, bagaimana caranya preman-preman pasar itu bisa mendapatkannya kalau tidak ada yang menjual? Jawabannya adalah penjual illegal. Dan mereka rata-rata adalah pemilik kios jamu.


Mereka menggunakan kedok sebagai penjual jamu tradisional dan membuka kiosnya sampai malam hari secara terang-terangan. Kalau pelanggan datang dan memesan jamu seperti beras kencur, temulawak dan lainnya, mereka akan dengan senang hati akan melayaninya.


Tapi, dibalik itu, mereka juga menyediakan minuman lain yang seharusnya tidak diperjualbelikan. Dan itulah tempat yang sekarang dituju Munding.


Munding mengelilingi komplek pasar Sukolilo yang tidak seberapa luas itu dengan motornya, sampai akhirnya dia menemukan sebuah kios jamu yang sedikit ramai dengan pengunjung. Ada sekitar 7 orang laki-laki yang sedang duduk dan menikmati minuman di sana.


Seorang gadis dengan pakaian yang sedikit ketat melayani para pembeli itu sambil tertawa-tawa. Sesekali tangan para lelaki itu terulur mencoba menyentuh si gadis yang akan dibalas dengan tepisan dan teriakan manja dari si gadis.


Trik lama untuk menjaga pelanggan kios jamu.


Munding memarkir motornya tak jauh dari kios jamu, kemudian dia berjalan ke arah orang-orang yang sedang asyik menikmati minumannya itu.

__ADS_1


Isi kepala Munding hanya dipenuhi oleh bayang-bayang Pak Yai yang sedang terbaring di ICU dengan perban yang membalut kepalanya. Di tengah gerimis hujan, Munding mengatupkan rahangnya dan mengepalkan tangannya sembari berjalan mendekati mereka.


Munding seakan lupa semuanya, yang ada di kepalanya hanyalah bisikan-bisikan tak jelas yang Munding tidak mengerti maksudnya. Dada Munding terasa sesak dan sakit dan Munding seperti mengalami sesak napas. Napasnya mulai terengah-engah, mencoba mengembalikan udara yang seakan-akan enggan memasuki paru-parunya.


Tanpa sadar, Munding sudah berdiri di depan kios jamu dengan kedua tangan yang mengepal dan napas yang tidak beraturan.


“Saud??” cuma satu kata yang keluar dari mulut Munding dari sela-sela giginya yang mengatup rapat.


Serentak keenam laki-laki yang rata-rata berusia diatas 20 tahunan itu melihat ke arah pemuda yang memakai jumper hitam bergambar tengkorak di punggungnya yang duduk membelakangi Munding.


Suasana di kios jamu yang sebelumnya penuh dengan tawa dan candaan nakal pun menjadi hening. Hanya bunyi gerimis hujan terjatuh di atas kanopi yang terbuat dari galvalum terdengar nyaring, ditambah sayup-sayup lagu dangdut dari DVD yang diputar di sebelah dalam kios jamu.


Si gadis penjual jamu memegang erat botol minuman yang ada di tangannya sambil melihat tegang ke arah Munding.


“Cuih, bocah ingusan dari mana yang mencari aku?” kata laki-laki berjumper hitam itu tanpa menoleh ke arah Munding.


“Mati kau!!!” teriak Saud sembari mengayunkan botol kosong itu ke arah kepala Munding.


Munding yang sedari tadi sudah dalam kondisi siaga dengan cepat melakukan tendangan melingkar ke arah botol yang diayunkan Saud, suara desisan napas perut terdengar dari mulutnya seiring ayunan tendangannya.


“Sssssshhhhhhhhhhhhh”


Pyarrrrrrrrrr


Botol itu hancur berkeping-keping terkena tendangan Munding. Saud terlihat kaget untuk sesaat kemudian dia melompat mundur dan mengambil jarak dari Munding. Keenam laki-laki yang sedari tadi duduk juga langsung berdiri dan bergerak mengelilingi Munding.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


“Aduuuuuuuuuhhhhhhh.”


“Pelan-pelan Dek, sakit ini,” rintih Munding kecil kepada Nurul yang sedang mengolesi obat merah ke kakinya dengan kapas.


Beeettttttttttttt. Ctakkkkkkkk.


“Aaaoooooo,” Munding menjerit kesakitan tapi tidak berani berkomentar dan mengeluh lagi, karena baru saja Pak Yai menyabetkan batang rotan ke punggungnya.


Nurul tertawa kecil sambil tetap mengobati kaki Munding dengan pelan-pelan.


“Cengeng sekali kamu Le, baru segitu aja sudah merintih-rintih,” kata Pak Yai.


“Pak Yai, kenapa sih Munding harus menggerus tulang kering kaki Munding pake bambu seperti tadi? Kenapa Pak Yai nggak ngajari Munding ilmu kebal, tenaga dalam atau ajian-ajian saja? Munding kan nggak perlu kesakitan gini,” protes Munding kecil.


Pak Yai mengangkat batang rotan ditangannya dan Munding pun sudah menutup matanya sambil meringis, bersiap-siap merasakan sakitnya sabetan Pak Yai. Tapi setelah beberapa lama, rotan itu tak kunjung mendera tubuhnya. Munding pun membuka matanya.


Pak Yai tersenyum ke arah Munding, “waktu Bapak mondok di Pasuruan dulu, Bapak nggak pernah diajari yang kayak gituan Le. Kata Yai-nya Bapak, itu urusan ghoib, yang ghoib kita serahkan sepenuhnya sama Gusti Allah. Ngerti Le?” tanya Pak Yai.


Munding terlihat kebingungan, selama ini dia berpikir bahwa santri pondokan itu selain terkenal dengan ilmu agamanya tapi juga terkenal karena mereka itu ‘linuwih’, punya kelebihan daripada orang biasa.


“Waktu itu, Bapak juga protes sama Yai, tapi Yai ngomong gini ‘gigi Kanjeng Nabi saja pernah patah waktu perang Uhud, lha kalian mau kulit kalian nggak mempan dibacok senjata tajam?’, kami akhirnya nggak pernah ngomong lagi masalah ghoib ini,” kata Pak Yai.


Munding terdiam dan sejak itu Munding tidak pernah sekalipun menyinggung masalah ilmu-ilmu ghoib lagi kepada Pak Yai.


\=\=\=\=\=


“Rupanya kau bukan bocah sembarangan ya? Pantas saja kau berani cari aku,” kata Saud yang sudah berdiri berhadapan dengan Munding.

__ADS_1


__ADS_2