
Amel yang tadinya ingin berdiri dan merebut pistol dari tangan Bram tiba-tiba berhenti. Dia melihat sebuah pemandangan yang benar-benar merubah hidupnya. Bahkan Bram juga yang sudah mulai kehilangan logikanya juga terkejut saat melihat Munding.
Untung saja Citra memejamkan matanya dan tidak menyaksikan kejadian itu.
Bram dan Amel melihat ada dua Munding di hadapan mereka, Munding yang satu masih berdiri dan menatap ke arah mereka, Munding yang lainnya menjatuhkan dirinya kearah kiri. Pose jatuh yang sama sekali nggak keren dan sangat mirip dengan jatuhnya pohon yang ditebang.
Lurus, miring dan rubuh.
Sesaat kemudian, semburan merah terlihat menyiprat di dinding dan sebuah sobekan jumper terlihat melayang dari arah tempat Munding berdiri barusan. Dan tiba-tiba saja, terdengar suara keras seperti tulang yang remuk karena pukulan atau tendangan yang diikuti oleh tubuh Bram melayang dan bersarang di tembok dinding yang keras.
Kemudian seperti kemunculan sosok hantu di tengah kuburan, tiba-tiba, Munding sudah berdiri di depan Amel dan melihat ke arah Bram yang tak sadarkan diri. Tak sampai satu detik setelah Munding muncul di hadapan Amel. Munding jatuh tak sadarkan diri.
Amel yang barusan melihat Munding berdiri di sebelah Rey sana, kemudian tiba-tiba menemukan Munding sudah berdiri di dekatnya tentu saja terkejut bukan main. Apakah ini trik sulap? Ataukah supernatural ability? The Flash? Berbagai pikiran muncul dengan cepat di kepala Amel, sebelum akhirnya Munding roboh dan Amel menangkapnya.
“Munding?” tanya Amel dengan panik, “kamu nggak apa-apa kan Munding?” kata Amel sambil mengguncang-guncangkan tubuh Munding yang kini ada di pangkuan Amel.
Citra yang tadi menutup matanya karena melihat Bram menembakkan pistolnya ke arah Munding, mendengar teriakan panik Amel dan membuka matanya. Dia hanya melihat Munding yang terbaring di lantai dan kepalanya berada di pangkuan Amel.
Kedua gadis itu tidak menyadari kalau ada seseorang laki-laki berbadan kekar dan berjaket MinMaks mengendap-ngendap keluar dari kamar tamu yang baru saja dia buka dan menyelinap ke luar rumah. Untuk sesaat tadi, Ardy sudah melihat Rey dan Bram yang tak sadarkan diri. Solusi teraman baginya adalah melarikan diri sebelum polisi datang.
Tapi dugaan Ardy salah, bukan polisi yang datang duluan ke rumah Citra, tapi pasukan militer yang datang dengan dua buah truk pengangkut infanteri yang mereka punya. Lengkap dengan laras panjang, seragam dan helm tempurnya.
Semua anggota MinMaks yang terkapar di pinggir jalan raya langsung diamankan oleh personel tentara tersebut dan dikumpulkan menjadi satu. Para prajurit itu juga mengumpulkan senjata tajam mereka sebagai barang bukti nanti.
Apapun ceritanya, para prajurit ini datang kesini untuk membantu saja, penanganan kasus ini tetap akan diserahkan ke pihak polisi.
Seorang wanita cantik berpakaian bebas terlihat berdiri dan mencari-cari seseorang. Meskipun dia berpakaian bebas, tapi setiap prajurit yang berpapasan dengannya akan selalu memberi hormat kepada wanita cantik itu. Terlihat jelas sekali kalau dia adalah perwira tertinggi yang datang bersama rombongan prajurit ini.
Fariz, Rin, A Long dan Wowo sedang beristirahat dan menyenderkan tubuhnya ke dinding teras depan rumah Citra. Mereka semua mengalami luka-luka di tubuhnya. Tapi tidak ada luka yang serius dan menyebabkan cacat permanen.
__ADS_1
Luka ringan seperti itu pasti akan sembuh dengan sendirinya.
Ketika mereka berempat melihat wanita cantik yang sepertinya adalah komandan dari grup tentara yang baru saja datang ini, mereka tahu kalau dia pasti orang kepercayaan Papa si Amel. Keempat pemuda yang sedang beristirahat dan mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaganya ini tak melepaskan pandangan mata mereka dari Ambar.
Tapi tak berapa lama kemudian Rin melirik ke arah Fariz dan membuang mukanya ke arah lain. Tak lagi peduli dengan wanita dewasa yang berwajah cantik dan seksi itu.
“Hot banget Bro,” kata A Long memuji wanita itu sambil berdecak kagum.
“Iya,” jawab Wowo Gundul sambil mengangguk-anggukan kepala.
Fariz melotot ke arah A Long dan Wowo, “Long, yang sopan sama wanita! Wo, kamu juga, kamu tu baru aja pedekate sama si Citra dah mau selingkuh aja, kira-kira Wo.”
A Long dan Wowo terlihat kaget dengan reaksi Fariz. Dari tadi mereka ngegodain cewek, perasaan tu anak adem ayem aja. Nah sekarang, baru komen dikit doang langsung nyolot gitu.
Fariz kemudian berdiri dengan susah payah dan berjalan mendekati Ambar. Mereka berdua terlihat berbicara sebentar, setelah itu menuju ke dalam rumah Citra.
“Nggak usah kaget gitu,” kata Rin pelan.
“Dulu waktu kelas 1, aku sama Fariz sahabatan. Dia sering main ke rumah dan nginep di tempatku. Kupikir kita dekat karena sama-sama suka beladiri, tapi ternyata, dia naksir sama Mamaku. Baru dari situ aku tahu kalau selera Fariz ‘beda’. Dia suka wanita yang jauh lebih tua. Sarap kan?” kata Rin pelan.
A Long dan Wowo sama sekali tidak menyangka kalau Fariz dan Rin punya background hubungan seperti itu. Coba bayangin kalau Mamanya Rin beneran jalan sama Fariz, bukankah itu berarti si Rin harus manggil Fariz, Papa? Nggak kebayang kan teman sekelas jadi Papa kita yang harus kita cium tangannya setiap pagi saat berangkat sekolah? Lha nanti di kelas ketemu lagi, tapi jadi temen kita. Nah lho.
Sesaat kemudian, Wowo dengan curiga melirik ke arah A Long.
“Long, ente ngaku Long, selera ente apaan? Jangan-jangan ente punya ‘kelainan’ juga seperti si Fariz?” teriak Wowo sambil menunjuk-nunjuk ke muka A Long yang ada di sebelahnya.
“Lu jangan seenaknya sendiri ngomong ya? Ane normal, bangkeee!! Si Rin tu yang mungkin sama sarapnya kayak si Fariz. Dia nggak pernah komen sama sekali kan kalau kita ngegodain cewek,” teriak A Long sebagai jawaban, “Rin, jangan-jangan lu LGBT ya?” tuduh A Long sambil menyilangkan kedua tangan ke depan dadanya sendiri, seolah-olah takut akan diperkosa Rin.
“Woiiii. Aku normal setannn,” jawab Rin, “tapi emang seleraku agak beda sama kalian,” lanjutnya pelan setelah terdiam beberapa saat.
__ADS_1
A Long dan Wowo memperhatikan dengan seksama dan menyiapkan hati mereka masing-masing untuk mendengarkan pengakuan si Rin. Mana tahu ternyata dia lebih parah ketimbang si Fariz.
Melihat A Long dan Wowo menunggu dirinya melanjutkan kalimat yang tadi, Rin justru tertawa, “kalian tu ya, kepo banget sih.”
Dengan cepat Wowo dan A Long bergerak maju dan bersiap mengeroyok Rin yang masih duduk di tempatnya, “ditungguin malah ngebacot aja lu,” kata A Long sambil memegang kerah baju Rin.
“Oke, oke,” kata Rin sambil mengangkat tangannya, “aku nggak suka cewek seksi dan modis model Citra atau Amel. Aku sukanya cewek cupu, berjilbab tapi pinter, seperti si Billa dari 2-A gitu,” lanjutnya sambil menyebut nama Salsabilla Aidil Fitri, cewek terpinter dan juara angkatan di SMA Harapan Bangsa untuk angkatan mereka.
Mulut A Long menganga terbuka lebar sampai hampir menyentuh tanah. Mungkin kalau kita masukkan sekop ke sana, muat kali ya. Wowo cuma garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan tanpa rambut. Dia kan nggak kenal sama si Billa.
“Kalau ane sih seleranya..” kata Wowo, tapi langsung dipotong oleh A Long, bahkan sebelum dia mengucapkan kata ke limanya, “lu nggak usah ngomong Wo. Kalau lu sih, yang penting cewek dan berlubang, pasti lu sikat. Dah kelamaan jadi jomblo ngenes sih lu,” vonis si A Long kejam.
Tapi Wowo justru nyengir mendengar kata-kata A Long, “kok ente tahu cewek selera ane sih Long?”
Dan mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak sambil merebahkan badan mereka ke lantai teras rumah Citra yang terasa tidak lagi dingin malam itu.
\=\=\=\=\=
Oke mungkin ada yg bertanya-tanya kenapa chapter sebelumnya diberi judul supersonic.
Kecepatan suara dalam atmosfer normal sekitar 343-344 m/s. Dan itu yg disebut ambang batas kecepatan supersonic.
Kalau istilahnya di penerbangan Mach 1.
Kecepatan peluru 370 m/s itu untuk peluru kaliber terkecil ya. Tapi tetap sudah melebihi kecepatan suara. Itu artinya secara teori, sebelum kamu mendengar suara tembakan di telingamu, peluru pasti sudah bersarang di tubuhmu. Lebih cepet pelurunya dibanding suaranya.
Jadi saat Munding menghindari peluru, sebenarnya dia bergerak dengan kecepatan lebih dari kecepatan suara. Itulah kenapa judulnya 'supersonic' tapi hal itu absurd dan nggak mungkin dilakukan di dunia nyata.
Dulu waktu kecil, karena kurang hiburan dan nggak ada kerjaan, saya sering pake konsep ini untuk ngukur jarak petir menyambar dari tempat kita berdiri atau jarak seseorang nyalain kembang api dan petasan.
__ADS_1
Malah ngelantur ya kan?