
Beberapa bulan setelah Munding pulang ke Sumber Rejo, Asma makin sering berkunjung dan menghabiskan waktunya di rumah Nurul. Tapi tak pernah sekalipun dia menginap lagi. Suami Nurul kan sekarang sudah pulang. Dimana dia harus tidur kalau menginap?
Munding yang sedari awal memang tidak tertarik untuk bersekolah dan memperoleh ijazah, awalnya tidak mau melanjutkan lagi SMAnya, tapi setelah Nurul dan Asma bekerja sama untuk memaksa Munding kembali bersekolah, Munding pun melanjutkan sekolahnya.
Seriring berjalannya waktu, Nurul merasa kalau mereka tidak bisa lagi hidup serumah dengan orang tua Nurul. Toh mereka berdua sudah menikah, akhirnya setelah merengek dan meminta ijin kepada Bapak dan Ibu, Munding dan Nurul diijinkan untuk memulai membangun rumah mereka sendiri.
Awalnya, Munding dan Nurul ingin membangun rumah di Sumber Rejo, di dekat rumah Bapak dan Ibu, tapi mereka menganjurkan agar Munding dan Nurul membangun rumah impian mereka di Sukorejo.
Munding sedikit bimbang, dia mempunyai sejarah kelam di desa kelahirannya itu. Dan sebisa mungkin Munding tidak ingin kembali kesana. Tapi kata-kata Bapak mertuanya malam itu sangat diingatnya.
“Kamu boleh benci sama Ibu atau Mbakyumu, tapi Bapakmu? Mbahmu? Buyutmu? Mereka semua itu lahir dan besar di Sukorejo. Siapa yang akan meneruskan rumah dan sawah turun temurun milik mereka semua.”
“Selain itu, kamu disana untuk membuat perubahan. Syiar. Dirikanlah mushola. Ajarkan penduduk sekitar supaya pandai agama. Supaya tidak ada lagi anak yang mengalami masa kecilnya seperti dirimu. Ngerti Le?”
Munding pun akhirnya menuruti Bapak Mertuanya.
Munding kemudian mendirikan rumahnya di sebelah rumah kayu turun temurun dari keluarga bapaknya yang masih dia biarkan seperti dulu. Dia juga membuat sebuah mushola kecil tempat Nurul mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di lingkungan sekitarnya.
Tapi karena Munding dan Nurul masih remaja, mereka memperkerjakan seorang asisten rumah tangga untuk membantu Nurul sehari-hari.
Munding dan Nurul menjalani hidup mereka dengan bahagia, hingga suatu hari, Nurul menerima sebuah pesan chat dari Ibunya. Bapak meminta Nurul mengajak Munding ke rumah mereka di Sumber Rejo.
Munding dan Nurul menuruti permintaan orang tua mereka.
__ADS_1
Ketika Munding dan istrinya sampai ke rumah Bapak di Sumber Rejo, ada seorang laki-laki berusia diatas 45 tahunan yang duduk bersama dengan Bapak di teras depan. Laki-laki tersebut tersenyum ketika melihat Munding datang bersama istrinya.
“Assalamualaikum,” salam Munding dan Nurul.
“Waalaikumussalam,” jawab Bapak dan laki-laki paruh baya tersebut.
“Duduk sini Le,” kata Bapak kepada Munding sambil menunjuk ke satu tempat di depan mereka berdua, “Nduk, bikinin suamimu minuman ke belakang ya?” kata Bapak kepada Nurul.
Setelah Nurul menghilang ke belakang, Bapak tersenyum dan memperkenalkan laki-laki di sebelahnya, “ini namanya Sulaiman, dia adik angkatku dan berasal dari Sulawesi,” kata Pak Yai, “kamu jangan panggil dia Pak Lek, panggil aja Om, ngerti Le?” lanjutnya.
“Iya Pak,” jawab Munding sambil mencium tangan laki-laki bernama Sulaiman yang ternyata adik angkat Pak Yai itu.
“Panggil Om Leman aja,” kata Sulaiman pelan sambil tertawa kecil ke arah Munding.
Tak lama kemudian mereka bertiga bercerita tentang banyak hal dan tertawa-tawa di teras depan rumah, hingga akhirnya Bapak mengucapkan sesuatu sambil setengah bercanda tapi membuat Munding kaget setengah mati, “nanti biar si Leman yang nunjukkin ke kamu, apa artinya manifestasi.”
Setelah melaksanakan sholat Ashar, Sulaiman pun bernait undur diri, tapi dia ditahan oleh Pak Yai, “Leman, kan tadi aku sudah ngomong sama anakku soal manifestasi.”
Sulaiman menarik napas, “Bang, bukan aku tak mau, tapi aku ini tidak seperti abang yang pandai mendidik murid. Aku tak pandai berkata-kata seperti abang,” protes Sulaiman.
“Aku tidak memintamu untuk mengajari si Munding, aku menyuruhmu untuk menunjukkan padanya,” kata Pak Yai.
Sulaiman pun menyerah kalah. Setelah itu Pak Yai dan Munding mengikuti Sulaiman ke dapur. Saat itu Bu Nyai dan Nurul masih menggoreng tempe di dapur. Melihat ketiga orang laki-laki itu masuk ke dalam dapur, Bu Nyai mengernyitkan dahinya ke arah suaminya.
__ADS_1
Pak Yai membisikkan sesuatu kepada istrinya tak lama kemudian, Bu Nyai mengajak Nurul untuk keluar dari dapur. Setelah keduanya hilang dari dapur, Sulaiman menggulung baju lengan panjangnya.
Munding kaget ketika melihat lengan laki-laki itu, karena lengan itu dipenuhi tattoo abstrak yang dimulai dari pergelangan tangan hingga ke atas dan Munding tak tahu apakah tattoo itu berhenti di sana.
Pak Yai berkata pelan, “seluruh tubuh Leman ditattoo, kecuali leher keatas, pergelangan tangan dan telapak tangan, pergelangan kaki dan telapak kaki.”
Tanpa melakukan persiapan apa-apa, Leman kemudian memasukkan tangannya ke dalam minyak panas dan membalik gorengan itu dengan menggunakan tangannya. Munding terdiam saat menyaksikannya.
Setelah dua kali melakukan itu, Leman kemudian mengangkat tangannya dari minyak panas tanpa terluka kemudian membetulkan kembali lengan bajunya yang digulung untuk menutupi tattoo di lengannya.
“Terus?” kata Pak Yai.
Leman cuma mengangkat bahu dan terdiam, tapi tak lama kemudian dia terlihat gembira dan berkata ke arah Munding, “mahluk itu fana, yang kekal hanya Sang Pencipta. Jadi sudah sewajarnya kalau semua ciptaan akan kembali hancur karena sifat aslinya yang fana itu.”
Munding sama sekali tak paham maksud kata-kata Om Leman tadi. Tapi dia tahu kalau hal itu penting baginya, karena itu Munding mengingatnya dalam hati.
Melihat Munding yang kebingungan, “sudah kubilang kan Bang? Aku ini tak pandai mendidik murid,” kata Leman sambil menggaruk kepalanya.
“Oke lah,” kata Pak Yai menyerah pasrah.
Tak lama kemudian Om Leman pun pamit kepada keluarga Pak Yai dan melanjutkan perjalanannya entah kemana. Munding dan Nurul memutuskan untuk menginap di rumah Pak Yai malam itu.
Tapi Munding terus terbayang saat Om Leman tadi melakukan aksi debusnya. Apakah tahapan manifestasi justru kembali ke arah ‘debus’ dan ‘ilmu kekebalan’ yang dulu pernah ditanyakan oleh Munding kepada Pak Yai?
__ADS_1
Bukankah saat itu, Pak Yai menolak mentah-mentah ilmu kebatinan model seperti itu?
Dan Munding menghabiskan malam itu dengan seribu tanya penjelasan dari Bapak Mertuanya.