Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 209 - Sandiwara


__ADS_3

Sebuah alarm keras terdengar malam itu ketika Munding masih terlelap. Tidak ada sirine dalam markas ini karena ini bukanlah penjara. Tetapi setiap kamar dilengkapi dengan sebuah alat kecil untuk memberitahukan jika sesuatu emergency sedang terjadi.


Munding lalu bangkit berdiri dan mengenakan pakaiannya.


Dia berjalan keluar ke arah pintu dan ketika membukanya, dia melihat seraut wajah manis sudah berdiri menunggunya disana. Munding tersenyum jahil ketika melihat wajah gadis itu.


“Kenapa?” tanya Afza ketika melihat senyuman jahil Munding.


“Cewek cantik kok kalau tidur ngiler,” bisik Munding pelan, “dilap dulu tu ilernya.”


Muka Afza langsung memerah seketika ketika mendengar kata-kata Munding, dengan cepat dia membalikkan badan menggunakan punggung tangannya untuk mengusap bagian tepi bibirnya. Sesaat kemudian dia membalikkan lagi tubuhnya ke arah Munding tapi kali ini dia menundukkan kepalanya.


Malu, tapi senang. Malu karena ejekan Munding, senang karena pujiannya.


“Kenapa ada alarm di tengah malam seperti ini? Ini kali pertama kan kejadian?” tanya Munding sambil berjalan cepat menujur ke pusat kendali di lantai satu.


Afza yang berjalan di sebelah Munding menjawab dengan nada serius, “Nia melarikan diri.”


Munding menghentikan langkahnya.


“Nia melarikan diri?” ulang Munding lagi dengan nada bertanya minta konfirmasi.


Afza menganggukkan kepalanya.


“Bagaimana mungkin? Dia hanya seorang petarung awakening. Ada dua penjaga dengan tahapan yang sama di luar ruangannya. Belum lagi setiap saat selalu ada salah satu diantar kita yang bertugas piket di ruangan kendali,” kata Munding sambil kembali melangkahkan kaki dan terlihat berpikir dalam.


“Sekarang jatah piket siapa?” tanya Munding kemudian.

__ADS_1


“Sunarya,” jawab Afza pendek dan datar.


“Oooooo,” Munding hanya menganggukkan kepalanya dan dia langsung paham apa yang terjadi.


Tak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di ruangan meeting yang berada di lantai satu. Semua anggota tim Merah Putih genap dan berada di situ. Bahkan Komandan Jae pun hadir juga. Dia hanya melirik ke arah Munding sebentar lalu membuang muka.


Munding dan Afza adalah personel terakhir yang datang ke ruangan ini.


“Personel sekarang sudah lengkap, kita akan mulai meeting darurat ini,” kata Arya yang memang menjadi pemimpin tak resmi dari tim ini.


Komandan Jae hanya berdiri dengan tangan dilipat di depan dadanya tanpa berkomentar apapun. Anggota tim Merah Putih yang lain mendengarkan kata-kata Arya dengan seksama. Mungkin hanya Munding yang tidak begitu antusias dengan meeting ini.


“Tahanan pertama dan paling penting bagi kita berhasil melarikan diri dari tempat ini setengah jam yang lalu. Kita sudah mengirim dua regu pemburu untuk mengejarnya saat ini. Sedangkan personel inti dari tim Merah Putih akan digerakkan setelah kita sepakat dengan tindakan yang akan kita ambil,” kata Arya memulai briefing darurat mereka.


“Dia hanya awakening, dua tim pemburu berisi 20 orang serigala petarung awakening pasti bisa menangkapanya dalam hitungan jam saja,” celetuk Rony.


“Apa maksudmu?” kata Rony dengan nada gusar ke arah Ardian.


“Nia adalah mantan anggota tim elite kepolisian. Setidaknya dia pasti dilatih untuk taktik gerilya dan survival kan?” balas Ardian lagi, “kalau dia bisa ditangkap secepat dan semudah itu, apa isi latihan yang selama ini kalian berikan ke tim elite kalian?”


Rony diam dan tak menjawab. Mia, Ridwan, dan Eiren yang juga berasal dari kepolisian juga sedikit merasa tersentil dengan kata-kata Ardian.


Rony mungkin hanya masuk kategori D0 yang artinya dia selevel dengan Dewi yang juga berasal dari AU, jadi kemungkinan dia tak berani melawan Ardian dalam duel satu lawan satu, tapi Mia dan Ridwan adalah petarung D+, sama seperti Ardian. Mereka tentu tak gentar dengan gertakan Ardian.


“Hei apa maksudmu?” kata Mia.


“Aku tak bermaksud apa-apa, tapi Rony sendiri yang mengatakannya,” jawab Ardian.

__ADS_1


“Dia memang berkata seperti itu, tapi kita semua tahu seperti apa kualitas tim elite kami. Kami tak lagi dibawah kalian,” sambut Ridwan.


“Oooooo. Jadi begitu ya? Kalian sudah mulai besar kepala sekarang?” kata Anggie.


Munding hanya memperhatikan semuanya dalam diam dan melirik Arya sedari tadi. Dia merasa ada yang aneh disini. Di setiap kali meeting atau briefing, ketika ada sedikit saja pergesekkan yang membawa nama institusi, Arya dengan cepat akan meredakan dan melerainya, tapi kali ini dia seolah diam saja dan membiarkan itu terjadi.


Lalu Munding melihat ke arah tiga orang personel militer lainnya, Anggie, Ardian, dan Dewi. Munding lalu sadar bahwa semua ini sudah diatur oleh anggota tim dari militer. Mereka dengan sengaja memicu perselisihan dalam meeting ini.


Munding lalu kembali melihat ke arah Arya dan saat itu mereka berdua bertatapan mata, ada sorot mata permintaan maaf dan mohon pengertian disana. Munding hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.


Arya lalu tersenyum kecil untuk sesaat lalu senyuman itu kembali menghilang dan berubah lagi menjadi wajah datar dan serius.


“Memangnya ada latihan drama ya saat pelatihan tim elite militer? Akting mereka semua jago sekali,” gumam Munding dalam hati.


Wajah keempat personel tim dari kepolisian langsung memerah dan mereka mengatupkan rahang saat mendengar komentar Anggie yang terakhir. Anggie hanya masuk ke kategori D-, dia bukan siapa-siapa dalam tim. Berani sekali dia berkomentar seperti itu.


“Kenapa kalian tak suka ya?” tanya Anggie lagi.


Munding tertawa dalam hati, dia tahu sekalipun Anggie mungkin yang terlemah dalam tim ini, tapi kemampuan silat lidah dia dan kemampuan untuk membuat telinga dan wajah orang lain panas, tak ada yang bisa mengalahkan gadis itu.


“Kamu!!!” bentak Ridwan sambil berdiri dari kursinya.


“Apa ‘kamu-kamu’? Memangnya karena aku yang paling lemah, aku tak boleh bicara?” kata Anggie sambil mendongakkan wajahnya dengan ekspresi menantang ke arah Ridwan.


Belum sempat Ridwan membalas kata-kata Anggie, gadis itu kembali melanjutkan lagi kata-katanya, “Kalian merasa paling hebat ya? Lalu kenapa kalian meminta bantuan kami untuk misi ini? Bikin sendiri tim Merah Putih atau tim kalian sendiri. Buat apa kami ada disini? Kalian kan sudah hebat?”


“Dan lagi, memangnya kalian yang punya jasa paling besar? Munding yang berhasil membekuk Nia. Dia sama sekali belum berkomentar apa-apa soal kaburnya Nia, tapi kalian sudah merasa jumawa dan sok sekali,” imbuh Anggie lagi yang membuat keempat orang lawan bicaranya semakin merah padam.

__ADS_1


Munding hanya mengeluh dalam hati, “terserah kalian mau membuat sandiwara seperti apa, tapi kenapa aku harus diseret-seret juga?”


__ADS_2