Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Sebuah Catatan - Serigala Petarung


__ADS_3

Ini bukan update ya. Sekedar flash back saja tentang konsep Serigala Petarung yang dipakai di dalam series novel Munding.


Konsep Serigala Petarung dikembangkan atas dasar keyakinan kalau manusia pada dasarnya memiliki naluri alamiah seekor binatang buas dalam diri mereka.


Naluri alamiah ini dianugerahkan kepada manusia (dan juga semua mahluk hidup lain) sebagai bentuk pertahanan diri dan survival instinct.


Pada era awal kehidupan manusia, naluri predator sangat berguna untuk membantu manusia untuk bertahan hidup. Baik sebagai individu ataupun kelompok.


Semakin kuat seseorang, semakin tinggi posisinya di masyarakat.


Petarung terkuat pada masa itu akan dijadikan pemimpin, pelindung tapi juga sekaligus kambing hitam oleh kelompoknya karena dialah yang akan pertama kali maju untuk menghilangkan ancaman bahaya bagi kelompoknya.


Lambat laun, seiring dengan berkembangnya manusia dan setelah manusia menjadi spesies yang dominan di muka bumi, ancaman bahaya yang dihadapi oleh manusia juga semakin berkurang.


Eksistensi para petarung yang dulunya menjadi sosok tak tergantikan demi keberlangsungan hidup kelompoknya mulai dipertanyakan.


Manusia-manusia lemah yang dulunya hanya bisa berlindung di belakang para petarung mulai merasa terancam oleh keberadaan para pelindungnya.


Manusia-manusia lemah itu kemudian bersekongkol dan berkumpul untuk membatasi dan bahkan berusaha mengeliminasi keberadaan para petarung tadi dengan jalan menciptakan norma.


Atas nama mayoritas, mereka menggunakan norma untuk menekan keberadaan para petarung. Para pelindung yang dulunya berdiri dengan gagah di depan kelompok, kini menjadi buronan yang dikejar-kejar oleh kelompok yang dulu dilindunginya.


Seiring berjalannya waktu, para petarung yang sudah tidak dibutuhkan tadi lambat laun menghilang keberadaannya.


Masyarakat kemudian terbiasa menjalani hidupnya dengan mengandalkan aturan imajiner yang diciptakan oleh manusia-manusia lemah itu.


Aturan yang disebut norma.


Dalam era sekarang ini, dimana kedamaian sudah tercipta karena norma yang berhasil digunakan dan dipatuhi oleh mayoritas manusia, eksistensi naluri predator yang merupakan bagian alami dari manusia menjadi tersingkirkan, mereka tertidur dan terkubur jauh di dalam setiap jiwa manusia.

__ADS_1


Manusia hidup dengan tenang dan merasa kalau diri mereka berbeda dengan binatang buas yang mengandalkan nalurinya untuk bertahan hidup.


Tetapi.


Dari sekian banyak manusia, ada sebagian kecil dari mereka yang karena keterpaksaan, takdir atau pun dengan sengaja, berhasil melakukan kontak dengan naluri predatornya yang telah terkubur dalam jiwa mereka.


Mereka yang menyadari keberadaan naluri predator dalam diri mereka inilah yang disebut dengan Serigala.


Para Serigala itu sendiri dan otoritas yang berwenang kemudian meneliti dan mengkelompokkan para Serigala dengan satu tujuan, mengendalikan mereka untuk mencegah terjadinya rusaknya kedamaian yang sudah tercipta dengan berlakunya norma dalam kehidupan manusia.


Kelompok pertama disebut Serigala biasa. Mereka adalah manusia yang tanpa sengaja bersinggungan dengan naluri predatornya dan menerima keberadaan mereka. Mereka menganggap manusia lain sebagai 'mangsa' dan tidak pernah merasakan perasaan bersalah saat menghabisi nyawa orang lain. 


Masyarakat awam menyebut mereka dengan pembunuh berdarah dingin atau psycopath. 


Mereka berbahaya, tapi tingkat ancamannya tidak mengkhawatirkan pihak yang berwenang karena satu alasan, secara kejiwaan mereka adalah pemangsa tapi secara physical mereka cuma manusia biasa. 


Mereka bisa berpikir secara cepat dan rasional saat membunuh korbannya tapi tetap tidak bisa melewati batasan kemampuan seorang manusia. Sekelompok polisi terlatih bersenjata lengkap dapat dengan mudah melumpuhkan para Serigala ini.


Mereka adalah individu ataupun sekumpulan manusia yang dengan sengaja melatih kemampuan beladirinya dibarengi dengan kesadaran diri akan adanya naluri binatang buas yang bersarang dalam tubuhnya hingga akhirnya melewati kapasitas yang seharusnya dimiliki oleh manusia biasa.


Karena ancaman yang ditimbulkannya, otoritas dan kelompok-kelompok yang berkepentingan akan eksistensi mereka, mengembangkan sistem dan cara pelatihan mereka sendiri-sendiri untuk menciptakan Serigala Petarung mereka.


Dengan berbagai macam metode yang berbeda, setiap Serigala Petarung yang dibentuk juga mempunyai ciri masing-masing.


Tapi ada satu kesamaan yang disepakati oleh semua kawanan Serigala itu.


Sistem pengklasifikasian Serigala Petarung.


Level pertama dari seorang Serigala Petarung disebut dengan 'awakening'.

__ADS_1


Ini adalah tahapan pertama seorang Serigala Petarung saat dia menerima keberadaan naluri binatang buas dalam dirinya. Dibantu dengan latihan sistematis yang mereka miliki, para petarung ini mampu bergerak tanpa ragu, fokus dan mempunyai koordinasi tubuh yang mendekati sempurna. Sama seperti ketika seekor cheetah yang sedang berkonsentrasi penuh untuk mengejar mangsanya.


Dalam tahap ini, seorang petarung sudah memiliki intent seekor predator yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa musuh-musuhnya, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan intent-nya dengan leluasa.


Intent seorang petarung dalam tahap awakening sangat dipengaruhi kondisi emosionalnya. Menjadikannya berbahaya bagi orang-orang di sekelilingnya jika tidak diimbangi kemampuan yang bagus dalam mengontrol emosinya.


Sebagian besar Serigala Petarung berada dalam tahap ini.


Level kedua dari seekor Serigala Petarung disebut dengan 'inisiasi'.


Serigala petarung dalam tahap ini, selain menerima sepenuhnya keberadaan naluri predatornya. Dia juga telah mempercayai sepenuhnya naluri binatang buasnya. Untuk mencapai tahap ini, seorang Serigala Petarung secara umum diharuskan pernah menghabisi nyawa seseorang dengan kesadaran penuh.


Sebuah miskonsepsi yang berhasil ditemukan oleh Munding.


Saat inisiasinya, Munding menyadari kalau inti dari inisiasi bukanlah terletak pada 'menghabisi nyawa seseorang' tapi lebih kepada pertentangan antara logika dan naluri. Dimana seorang Serigala Petarung harus meyakini nalurinya dengan sepenuh hati sekalipun itu bertentangan dengan logikanya. 


Pertentangan antara logika dan naluri akan mencapai puncaknya ketika seseorang dihadapkan pada pilihan untuk menghabisi nyawa seseorang. Dan seorang Serigala Petarung tetap akan terinisiasi sekalipun dia tidak menghabisi nyawa musuhnya ketika nalurinya berkata demikian dan dia mempercayainya di atas logika.


Dalam tahap ini, seorang petarung sudah dapat mengendalikan intent-nya dengan sempurna. Dia tak ubahnya seperti manusia biasa saat dia mau dan berubah menjadi Serigala Petarung saat dibutuhkan.


Dalam cerita Munding sampai saat ini, ada empat karakter yang diidentifikasi masuk ke dalam tahap ini. Pak Yai, Umar, sang Guru dan Munding.


Dimana Pak Yai mencapai tahapan tertinggi dan mencapai tingkatan setengah langkah menuju level selanjutnya.


Level ketiga dari Serigala Petarung disebut dengan 'manifestasi'.


Belum ada karakter dalam cerita yang diidentifikasi berada dalam tahap ini.


Level keempat dan seterusnya.

__ADS_1


Level empat dan seterusnya sama sekali belum pernah disebutkan dalam cerita sampai saat ini.


__ADS_2