Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 192 - Hunting


__ADS_3

“Nggak pa-pa. Tenang saja, biar aku yang mengantarmu,” Afza terlihat ngotot sambil memegang tas Munding dan menaikannya ke atas mobil.


Munding hanya bisa menarik napas panjang. Tapi sesaat kemudian, dia tersenyum. Bayangan istri dan keluarganya yang akan segera dia jumpai menghapus semua kekesalan pagi ini karena tingkah rekan-rekan se-timnya tadi.


Afza dengan percaya diri bahkan masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan klakson. Tanda bagi Munding untuk segera naik ke mobil dan meninggalkan tempat ini. Munding membuka pintu mobil itu lalu dia menurunkan kaca dan melambaikan tangan kearah rekan-rekannya.


Mereka membalas lambaian tangan Munding dan tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Afza tersebut meninggalkan debu beterbangan di halaman markas tim Merah Putih yang lokasi dirahasiakan tersebut.


Arya melepaskan senyuman dari wajahnya lalu melirik ke arah Mia yang sekarang sudah terlihat mendingan dengan luka-luka yang mulai sembuh. Mia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis lalu meninggalkan rekan-rekannya.


Arya menarik napas panjang lalu memberikan instruksi kepada rekan-rekannya, “Ke ruang interogasi!! Kita harus korek semua informasi dari mulut si Nia,” kata Arya sambil memutar tubuhnya dan masuk menuju gedung yang menjadi markas mereka.


Rekan-rekan se-tim yang lain hanya tersenyum penuh arti. Mereka sudah tahu hubungan kucing-kucingan antara Mia dan Arya, tapi Munding tentu saja tidak tahu itu. Karena itu, Munding menganggap bahwa kemarahan Arya saat Munding melukai Mia tanpa sengaja adalah sesuatu yang wajar dan akan dilakukan Arya untuk semua rekan-rekannya.


Munding salah besar.


\=\=\=\=\=


Sesosok bayangan laki-laki terlihat berlari menyelinap diantara gang-gang sempit perumahan type Rumah Sederhana dan Rumah Sangat Sederhana yang menjadi ikon program perumahan rakyat pada masa orde baru dulu. Perumahan yang sering disingkat RS/RSS itu dianalogikan sebagai perumahan burung merpati karena ukurannya yang super mungil dengan luasan bangunan hanya 21 m2. Luasan segitu, mungkin hanya akan menjadi tempat parkir bagi si Kaya.


Bayangan laki-laki itu terlihat sesekali berhenti dan tersengal-sengal karena kehabisan napas. Dia juga terlihat melirik ke belakang dengan pandangan mata waspada. Seolah-olah sesuatu yang sangat mengerikan sedang mengejarnya.

__ADS_1


Setelah dirasa aman, bayangan itu terduduk di tempatnya bersembunyi sambil menyenderkan punggungnya ke dinding rumah yang terlihat retak disana-sini. Dia memegangi luka di bagian kaki kirinya akibat pertarungan tadi dan meringis kesakitan ketika berusaha mencabut sesuatu dari sana.


Sebuah benda menyerupai anak panah tetapi berukuran kecil dan pendek. Di bagian belakangnya ada sirip empat buah. Sebuah anak panah untuk permainan Darts. Permainan melemparkan anak panah kecil ke sasaran lingkaran yang diletakkan di dinding.


Dan laki-laki itu, Yasin, mengetahui siapa identitas pengejarnya setelah melihat mata panah darts di tangannya, Sang Eksekutor dari Chaos, Clown.


Yasin tersenyum kecut.


Yasin merasa beruntung sejak dirinya diberi pengampunan oleh Izrail setelah kejadian siang itu. Kejadian yang mengantarkan timnya dengan hasil yang sangat menyedihkan. Satu orang tewas, dua orang cacat permanen, dan hanya Yasin yang berhasil menyelamatkan dirinya dengan kondisi jiwa dan raga utuh.


Tapi, justru karena itu, Yasin tahu kalau Chaos pasti akan mengincar dirinya. Bukan hanya karena dialah yang telah salah memberikan informasi tentang Izrail. Tapi karena sebagai inisiator misi, Yasin seharusnya pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kegagalan kali ini.


Seharusnya, tubuh Yasin yang terkapar tanpa nyawa disana dan bukannya Choi yang hanya melaksanakan tugas yang diberikan oleh Chaos. Yasin paham itu. Karena itu, langkah pertama yang dia ambil setelah terlepas dari Izrail adalah berusaha menyelamatkan kekasihnya dari tangan Chaos. Karena dia tahu, sejak kegagalan misi mereka, Yasin dan Nia akan menjadi sasaran balasan dari Chaos sendiri.


Sejak saat itu, kejar mengejar antara Yasin dan Clown terjadi. Sudah beberapa hari ini, Yasin melarikan diri dari kejaran Clown. Dan Yasin sekarang sadar, betapa mengerikannya jaringan informasi yang dimiliki oleh Chaos.


Pertama, mereka berhasil menemukan rumah terpencil yang rencananya akan digunakan untuk peristirahatan Yasin dan Nia. Yasin tidak menyadari kalau penyerang dan penculik Nia bukanlah Chaos.


Kedua, selama beberapa hari ini, semua usaha yang Yasin lakukan untuk melepaskan diri dari kejaran Clown tidak membuahkan hasil. Dia sudah mencoba semua manuver yang dia tahu untuk mengecoh Clown, tapi setiap kali dia berhasil menghilangkan jejaknya, selang satu atau dua hari, si Badut itu sudah kembali berada di belakang ekor Yasin. Yasin benar-benar tak habis pikir dengan cara apa Clown masih bisa mengikutinya padahal dia sudah kehilangan jejak sebelumnya.


Karena itu, Yasin menganggap bahwa jaringan informasi Chaos sangat tertata rapi dan menjangkau segala arah. Yasin sudah menggeledah dirinya sendiri dan membuang semua peralatan yang disediakan oleh Chaos karena takut adanya pelacak di barang-barang itu. Yasin menghindari tempat-tempat umum dan mode transportasi umum dan lebih memilih untuk berjalan kaki atau menggunakan ojek-ojek pangkalan secara acak dari satu titik ke titik lain.

__ADS_1


Tapi tetap saja si Clown berhasil menemukan jejaknya. Ini adalah hari ke sepuluh sejak pertama kali Yasin melihat Clown di dekat rumah yang ditempati Nia.


Yasin membuang panah darts itu ke samping. Lukanya tak seberapa bagi Yasin, dia juga tahu kalau tidak ada racun disana. Yang dia takutkan adalah terdapat alat pelacak dalam panah darts yang dilemparkan oleh Clown tadi.


Yasin menekan luka kecil itu dengan tangan kanannya lalu menghimpitnya dengan dagu. Dengan cepat, tangan kanan Yasin mengambil cairan pembersih luka agar tidak terjadi infeksi pada luka kecil tapi dalam di paha kirinya itu.


Setelah itu, Yasin membalut lukanya dengan tangan kanannya sendiri. Susah, ribet, dan hasilnya tidak rapi. Tapi apa mau dikata, Yasin cuma punya satu tangan saja yang bisa digunakan sekarang.


Tapi,


Berbeda dengan yang sudah-sudah, saat mengingat tangan kirinya, tak ada lagi rasa benci kepada pelaku yang menyebabkan tangannya cacat seperti sekarang ini. Murid Izrail yang bernama Munding.


Yasin menghela napas panjang dan memejamkan matanya.


Sesaat kemudian ketika dia membuka matanya lagi, Yasin tersenyum. Semuanya terlihat berbeda dan lebih lapang. Bibir Yasin mengucap syukur kepada Gusti Allah karena semua yang dia terima sampai detik ini.


Pertemuan dengan Izrail telah membuat Yasin benar-benar kembali ke dirinya yang dulu. Selama beberapa hari dalam kejaran Clown, hanya kesadaran diri yang kini dia miliki kembali inilah yang tetap membuatnya berlari tanpa henti.


Yasin memasrahkan semuanya kepada kehendak Gusti Allah. Hidup dan matinya. Tapi tentu saja dia tetap berusaha sebaik mungkin dalam melarikan diri karena dia selalu berpikiran positif dengan takdir-Nya.


Yasin kembali bangkit berdiri perlahan-lahan, dia merapikan barang-barang P3K yang tadi dia gunakan untuk merawat lukanya dan memasukkan semuanya ke tas ransel kecil yang kemudian dipakainya.

__ADS_1


Yasin melihat ke arah dia datang tadi dan tersenyum, “Clown, aku akan bertarung hingga akhir, hingga ajalku tiba sesuai kehendak-Nya. Tapi aku tak akan pernah menyerah tanpa perlawanan,” bisik Yasin pelan sambil melangkah meninggalkan tempat ini, menuju ke tempat yang tak tahu ada dimana. Langkah kakinya terlihat mantap saat berjalan, meskipun sedikit tertatih karena rasa sakit dari bekas luka kecil tadi.Tapi Yasin sama sekali tak merasakan rasa ketakutan dalam dadanya.


__ADS_2