
Mata Munding menerawang keluar jendela mobil yang melaju kencang di jalan raya. Dia mencoba mengingat kembali semua peristiwa yang dialaminya sejak dibawa oleh pasukan elite Sat Gultor malam itu.
Malam menyedihkan yang memisahkan dia dengan keluarganya.
Munding dibawa ke markas militer dan ditahan disana selama dua minggu. Setelah itu dia dititipkan di LP Umum selama dua hari ketika tragedi dimana beberapa napi senior ingin menyodomi Munding yang masih berumur lima belas tahun.
Munding hanya merasakan 2 malam tidur di Lapas Umum. Setelah itu, pihak militer memindahkannya ke Lapas Khusus milik militer sendiri dan Munding menghabiskannya di sana selama 3 bulan.
Munding menarik napas dalam ketika mengingat hari-harinya di dalam kamar sempit itu.
Takdir membawanya bertemu dengan keluarga Broto dan akhirnya dia menghabiskan 5 bulan waktunya di sini. Hari penuh warna dan berbeda dari yang selama ini Munding jalani.
Tak terasa, sudah lebih dari hampir 9 bulan Munding berpisah dengan keluarganya. Kalau diibaratkan seorang bayi dalam kandungan, sebentar lagi dia pasti akan lahir kedunia. Munding kembali ingat kata-kata terakhir Broto saat dia berpamitan dengannya.
“Seharusnya kamu ditahan selama 3 tahun, tapi ini baru terjalani selama 9 bulan. Jadi jangan pernah berpikir kalau hutangmu sudah lunas ya?” kata Broto saat itu sambil tersenyum.
Sebuah senyuman yang membuat Munding menjadi takut, karena saat itu Munding merasa seolah-olah dia sudah masuk ke dalam perangkap hutang dari seorang lintah darat yang tidak akan pernah lunas, seberapapun dia berusaha untuk membayarnya.
“Kenapa? Mau minum?” terdengar suara lembut dari sebelah kiri Munding membuyarkan angan-angan Munding.
Munding melirik ke arah kirinya dan hanya bisa tersenyum kecut saat melihat Amel mengulurkan sebotol minuman dengan rasa jeruk itu ke arahnya, “kenapa juga sih Amel harus ikutan nganter pulang ke rumah?” protes Munding dalam hati.
Bukan hanya Amel, di dalam mobil berwarna hitam yang mengantar Munding pulang ke Sukolilo, ada Ambar dan Umar juga tentunya ditambah dengan Pak Sopir baru yang bekerja untuk keluarga Broto.
Untuk si Amel, Munding mungkin masih bisa menerimanya, karena dulu Amel pernah bercerita kalau dia ingin sekali bertemu dengan Nurul, entah apa tujuannya. Untuk Ambar, Munding juga masih bisa menerima, karena selama ini, Ambar lah yang memang ditugaskan oleh Broto untuk mengawasi Munding.
Tapi Umar? Kenapa Pak Tua itu ikut mengantarnya ke Sukolilo?
Dan jawaban Umar saat ditanya seperti itu oleh Munding, aku sudah lama tidak bertemu dengan Izrail, cuma sekedar ingin ‘say hello’ kata Umar. Dan Munding langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal tadi.
\=\=\=\=\=
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mobil itu akhirnya memasuki kawasan pegunungan di tengah antah berantah dan bernama Sukolilo ini. Jalan yang sempit dan berkelok-kelok, anak-anak kecil berlarian di pematang sawah serta kabut tipis yang turun dan menutupi pemandangan di kejauhan, terlihat sangat unik bagi Amel.
__ADS_1
Mobil itu memasuki desa Sumber Rejo sesuai aba-aba dari Munding. Beberapa menit kemudian, Munding melihat sebuah pemandangan yang sangat familiar dengannya. Pemandangan yang sangat dia rindukan setiap malamnya.
Sebuah rumah sederhana tapi terlihat bersih dan rapi. Sebuah mushola di sampingnya dengan sungai kecil yang berada di sebelah kirinya. Sungai kecil yang mengalir dan bertemu dengan saluran irigasi yang memanjang di belakang mushola.
Hamparan sawah yang masih terlihat menghijau di belakang mushola kecil itu. Tempat dulu Nurul dan Munding sering menghabiskan waktu mereka bermesraan berdua sambil menunggu waktu sholat tiba.
Rimbun pohon buah-buahan di belakang rumah Pak Yai yang menjadi tempat Munding kecil mengayunkan pukulan dan tendangannya sambil menahan rasa perih dan sakit di tubuhnya. Dan juga Nurul kecil yang selalu menggelar tikar untuk menemani Munding berlatih seolah-olah mereka sedang berpiknik, lengkap dengan makanan ringan dan minuman kesukaan mereka.
Semua kenangan itu mengalir tak terbendung saat Munding turun dari mobil dan melihat semuanya tetap tak berubah seperti dulu, persis seperti apa yang dia ingat dalam kepalanya.
Munding langsung turun ke bawah dan melakukan sujud syukur di halaman mushola sekaligus halaman rumah Pak Yai itu.
Saat Munding masih bersimpuh di halaman dan menengadahkan tangannya karena rasa syukurnya kepada Allah, seorang gadis keluar dari pintu rumah dan sesuatu terjatuh dari tangannya.
Klontang!!!!
“Ya Allah, Dek, kamu tu apa-apaan sih? Kok malah jatuhin rantangnya di teras? Bukannya dianter ke sawah,” teriak seseorang dari dalam rumah.
Tapi si gadis sudah tidak memperdulikan lagi suara teriakan itu, dengan cepat dia berlari ke arah pemuda yang sedang duduk bersujud di halaman rumahnya sambil tersenyum kearahnya itu.
Tanpa malu-malu si gadis langsung memeluk Munding erat dan menangis terisak-isak dalam pelukan Munding.
“Mas pulang Dek,” bisik Munding pelan ke telinga gadis berjilbab yang berada di pelukannya.
Nurul cuma menganggukkan kepalanya dan memeluk suaminya lebih erat sambil tetap terisak-isak. Amel yang tadi sudah turun dari mobil hanya melihat adegan mirip film India itu dari samping mobilnya bersama Ambar dan Umar.
“Kok nggak diberesin sih Dek?” seorang gadis keluar dari dalam rumah dan melihat rantang serta isinya yang berserakan di teras rumah.
Ketika si gadis mengalihkan pandangannya ke arah Nurul yang sedang memeluk seorang laki-laki di tengah halaman, si gadis tercekat dan menggunakan telapak tangannya untuk menutup mulutnya sendiri.
“Munding,” gumam si Gadis lirih dengan mata berkaca-kaca ketika melihat sosok pemuda yang kini berada dalam pelukan Nurul itu.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan jemari sedikit bergetar, Asma mendekati Munding dan Nurul yang ada di halaman rumah. Munding yang menyadari kehadiran seorang gadis berjilbab dari dalam rumah terlihat sedikit terkejut.
__ADS_1
Munding merasa kalau gadis ini agak familiar, tapi dia sama sekali tidak bisa mengingat siapa dia. Nurul yang melihat ekspresi Munding saat melihat Asma cuma tertawa saja.
“Ini Mbak Asma, masa Mas lupa?” kata Nurul sambil mengenggam tangan Asma dan menyeretnya agar lebih mendekat ke arah mereka berdua.
Dan akhirnya Munding pun teringat dengan seraut wajah manis yang dulu terlihat sedih sekali malam itu di tengah lapangan desa Sukorejo, “Asma,” sebut Munding lirih dan tak tahu harus berbuat apa kepada gadis manis yang menaruh hati padanya itu.
Asma juga terlihat canggung dan menundukkan kepalanya ke bawah untuk sesaat. Nurul tersenyum sambil melepaskan nafas panjang, dia tahu semuanya. Tapi Munding kan suaminya, Nurul nggak akan sebaik hati itu untuk membiarkan wanita lain meluk-meluk suaminya di depan hidung Nurul.
Sekalipun itu wanita itu adalah Asma, yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung sendiri.
Nurul kemudian menoleh ke arah mobil yang tadi ditumpangi Munding, “mereka siapa Mas?” tanya Nurul.
“Oh ini,” kata Munding sambil melambaikan tangan ke arah rombongan Amel agar mendekat.
“Ini Bu Ambar. Ini Pak Umar dan ini Amel,” kata Munding sambil memperkenalkan mereka bertiga satu persatu kepada Nurul dan Asma.
Ketika Amel berjabat tangan dengan Asma, mereka berdua tahu kalau mereka adalah saingan dalam memperebutkan hati Munding. Nurul, posisinya sudah tidak tergantikan lagi, mereka tahu itu. Tapi untuk posisi pemain pengganti? Keduanya pun terlihat sama sekali tidak mau mengalah dan tetap menggenggam tangan lawannya setelah beberapa saat.
Ketika mereka mendengar suara deheman dari Ambar, barulah Asma dan Amel melepaskan jabat tangan mereka. Umar hanya tertawa-tawa sambil berjalan ke arah rumah Pak Yai disusul oleh Munding dan Nurul.
“Dek Nurul, itu rantangnya yang jatuh diberesin dulu, biar Mbak panggilin Ibu sama Bapak,” kata Asma sambil berjalan ke menuju ke sawah di belakang mushola.
Nurul pun menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil lap pel. Sesampainya di teras rumah lagi, Nurul mempersilakan tamunya duduk dan mulai bekerja membersihkan tumpahan dari rantang di lantai ketika sebuah tangan memegang lap pelnya.
“Biar Amel bantuin ya Nurul?” tanya Amel sambil tersenyum manis ke arah Nurul.
Nurul tahu apa arti senyuman itu dan dia juga tahu arti dari tatapan mata Amel. Penggemar baru suaminya. Nurul menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil kemudian masuk ke kamarnya. Menyusul suaminya yang tadi masuk ke sini membawa tas dan bawaannya.
“Siapa lagi tu Amel?” tanya Nurul garang kepada Munding yang barusan meletakkan ranselnya di meja.
“Apa sih dek?” protes Munding.
“Nanti malam, Mas harus ceritain semuanya ke Nurul, titik,” kata Nurul sambil ngeloyor keluar dari kamar dan kembali ke teras.
__ADS_1
Munding menarik napas panjang dan tersenyum tipis.
Akhirnya dia pulang.