Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 107 - Menandai


__ADS_3

“Dua hari lagi sebelum menuju hari H,” gumam Nia sambil merapikan rambutnya setelah keluar dari kamar mandi.


“Ngomong apaan Dek?” tanya Santi kepada adeknya dari dapur rumah mereka.


Nia berlari kecil ke dapur dan memeluk Kakaknya dari belakang, “masak apaan Kak?” tanya Nia.


“Kamu tu ya!! Ditanya malah balas nanya,” gerutu Santi sambil memukul kepala Nia dengan sebuah wortel yang sedang diirisnya, “Kakak mau masak sop.”


“Ish, sop terus, sop terus, sop terus. Kakak dari dulu bisanya cuma masak sop aja. Itu mah gampang, tinggal iris semua bahan, plung, plung, plung. Jadi deh,” gerutu Nia seperti anak kecil yang disuruh makan sayuran, “pantes udah umur segitu belum juga dapet gebetan. Cinta tu dari perut naek ke hati Kak!”


“Kalau Kakak jago masak, pasti cowok pada klepek-klepek,” cerocos Nia sambil mengambil tempe goreng yang barusan turun dari tirisan.


“Eh! Anak kadal, emang kamu dah punya gebetan gitu? Emang kamu jago masak? Sini bantuin Kakak daripada ngehina aja dari tadi,” balas Santi sambil menarik tangan Nia kembali ke dapur untuk membantunya.


\=\=\=\=\=


“Kakak nggak ngajar?” tanya Nia setelah mereka selesai sarapan.


Santi menundukkan kepala, “lagi males, lagian itu kan cuma penyamaran aja. Biarin juga lah kalau dikeluarin dari sekolahan.”


“Kenapa males?” tanya Nia.


“Nggak pa-pa. Kamu nggak usah ikut mikirin masalah Kakak. Kamu bisa pulang dari trainingmu dengan selamat, Kakak dah senang bukan maen,” jawab Santi sambil memegangi tangan adeknya.


Tiba-tiba terdengar suara handphone Santi berbunyi. Santi melihat ke caller ID dan ketika dia menemukan nama Ambar disana, tanpa ragu Santi langsung mengangkat telepon itu.


“Ya?” tanya Santi dengan dada berdebar-debar, alasan sebenarnya dia sedikit malas dan ogah-ogahan untuk berangkat ke Harsa adalah karena dia menunggu berita dari Ambar.


“Sang Dalang, Yusuf Budi Setia, Dirintelkam.”


Sebuah sebutan, sebuah nama dan sebuah jabatan yang menggambarkan sosok seseorang yang selama ini menjadi bayangan hitam yang selalu dikejar oleh Santi dan timnya. Ketika dia mengetahui identitas itu, ada perasaan lega yang tiba-tiba muncul dalam dadanya. Seolah-olah beban berat yang selama ini menghimpit dadanya telah terlepas.

__ADS_1


Akhirnya, aku tahu identitas orang yang kukejar selama ini, bisik Santi lirih dalam hati.


Santi hanya seorang polisi bintara, yang pangkatnya bahkan lebih rendah daripada Bambang. Karena itu, dia sudah menyerah untuk bisa menangkap atau mengadili sang Dalang yang menjadi mastermind semua tindak kejahatan di Harsa.


Santi dan tim mereka juga tahu kalau ada seseorang yang bisa menempatkan Bambang untuk melakukan tugas itu selama bertahun-tahun, itu artinya dia mempunyai posisi yang sangat tinggi dalam lembaga mereka. Bahkan mungkin lebih tinggi dari komandan tim gabungan yang memimpin misi mereka kali ini.


Itulah yang akhirnya membuat sebagian besar tim Santi mengangkat tangan.


Santi sadar itu dan dia juga tahu kalau dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk merubah itu semua, tapi masih ada satu ganjalan dalam hatinya sebelum Santi bisa menutup chapter ini dalam hidupnya dan memulai chapter yang baru. Setidaknya Santi harus tahu identitas orang yang dikejarnya, supaya dia tidak merasa kalau kerja kerasnya selama setahun ini sia-sia.


Ambar membantunya untuk memenuhi keinginan itu.


Ambar hanya mengucapkan kalimat pendek tadi dan kemudian menutup teleponnya kembali. Santi masih terlihat memegangi handphonenya dengan pandangan mata menerawang. Sedikit air mata terlihat menggenang di wajah Santi.


“Kakak kenapa?” tanya Nia ke arah Santi dengan nada kuatir.


Santi tersenyum manis sekali, setelah itu dia mencium kening Nia, adek kandungnya dan keluarga satu-satunya yang kini dia miliki, “nggak pa-pa Dek, Kakak barusan dapat kabar gembira soal kerjaan Kakak,” tangan Santi kemudian mengusap air mata yang mulai mengalir di pipinya.


\=\=\=\=\=


Dua orang remaja sedang berdiri di pinggir lapangan basket SMA Harapan Bangsa. Keduanya sangat kontras sekali. Remaja yang satu berkulit sawo matang dan memiliki wajah khas orang Jawa dengan hidungnya yang enggan untuk tumbuh ke depan. Remaja yang satunya berkulit putih kekuningan dengan matanya yang sipit dan wajah khas keturunan.


“Kamu serius Long?” tanya Munding sambil melihat ke teman-seman sekelasnya yang sedang asyik bermain basket di tengah lapangan.


“Serius Boss, mana berani sih gue becanda kalau soal beginian?” jawab A Long pelan.


Munding masih terlihat sedikit tidak percaya, kemarin, saat dia ikut dengan Ambar menginterogasi Mister X, dia sudah tahu kalau memang ada seorang petinggi yang mengendalikan MinMaks dari belakang layar. Tapi Munding beranggapan kalau MinMaks tumbang, maka seluruh aktivitas terlarang di Harsa juga akan berhenti.


Tapi semua itu hanya khayalan Munding saja, seperti kata pepatah, jauh panggang dari api. Seperti itulah kira-kira keadaan yang Munding alami sekarang ini. Sama sekali tak sesuai harapan. Bayang-bayang Nurul dan kampung halaman Munding kembali menjadi kabur seperti ditelan kabut pagi di kampungnya.


Munding menghembuskan napas panjang.

__ADS_1


“Tapi, bukan geng motor atau berandalan, sekarang mereka malah menggunakan seorang guru untuk tangan-tangan kotor mereka,” gumam Munding pelan.


Kemudian terdengar suara seorang gadis di sebelah Munding, “ni,” kata Amel sambil menyerahkan sebotol minuman dingin berkemasan warna orange.


Munding menerimanya sambil tersenyum, “makasih,” kata Munding pelan kearah Amel.


Amel membalas senyuman Munding dengan anggukan kepala.


“Buat gue mana Mel? Masa cuma Munding yang dibeliin?” protes A Long disebelah Munding.


Amel langsung melotot ke arah A Long, “beli sendiri!! Kan punya kaki, jalan sendiri ke sono tuh,” sungut Amel ke A Long sambil menunjuk ke arah kantin.


Dua orang gadis yang tadi datang bersama Amel, Chloe dan Citra, hanya tersenyum melihat tingkah Amel. Sudah bukan rahasia lagi di Harsa kalau si Amel memang lagi ngejar-ngejar Munding.


Awalnya, Munding selalu dicibir oleh siswa Harsa, bocah kampung, bocah gila, udik, nggak gaul dan bermacam julukan lain diberikan kepada Munding saat awal-awal datang ke sekolah ini.


Bahkan ketika dia berhasil mengalahkan Bram dalam duel satu lawan satu di hari keduanya, banyak siswa masih sering menganggap Munding menang karena keberuntungan.


Tapi ketika Munding menyerang Sriwijaya seorang diri, banyak siswa Harsa yang mulai berubah pikiran terhadap Munding. Apalagi ketika video pertarungan terakhir Munding dan kawan-kawannya di acara ultahnya Citra, image Munding di Harsa berubah 180 derajat. Dia bukan lagi Munding si bocah gila atau Munding si bocah kampung.


Dandanan Munding yang selalu sederhana dan kedatangan Munding dan Amel ke ultah Citra dengan motor matic mereka menjadi trend baru di kalangan siswa Harsa.


Banyak siswa yang sebelumnya saling berlomba merengek kepada orang tua mereka untuk diijinkan berangkat sekolah dengan membawa mobil yang termahal dan terbagus di rumah, kini memilih untuk meminjam motor bebek pembantu mereka yang sering dipakai belanja kepasar.


Dan efek yang paling terasa adalah Munding kini banyak memiliki pemuja, baik terbuka ataupun rahasia. Cowok sederhana dan apa adanya. Itulah sekarang kriteria cowok idaman dari siswi-siswi Harsa.


Amel yang sudah merasa harapannya hampir kandas karena keberadaan seorang gadis bernama Nurul, makin berang ketika tahu Munding kini memiliki banyak penggemar cewek yang mulai dengan nekat dan terang-terangan mendekati Munding.


Dan Amel pun mengambil tindakan yang membuat nyali gadis-gadis itu mengkeret. Dimulai dari dua hari lalu, Amel dengan proaktif mendatangi cewek-cewek yang dengan terang-terangan mendekati Munding dan melabraknya.


Mirip dengan seorang istri yang sedang melabrak pelakor yang menggoda suaminya.

__ADS_1


Itulah kenapa sekarang hampir semua siswa siswi Harsa tahu kalau Amel sudah ‘menandai’ Munding sebagai cowoknya.


__ADS_2