Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 186 - Negeri yang Indah


__ADS_3

Bagaimana mungkin para perampok itu tidak tergiur dan bersuit senang melihat sasaran seempuk mereka?


Maria dan Hiro saling berpandangan. Yang satu kini hanya memiliki satu kaki, sedangkan rekan satunya lagi hanya memiliki satu tangan. Tapi, mereka juga sama-sama menyadari, kalau mereka tetap gigih mempertahankan uang yang mereka peroleh selama bergabung bersama Chaos sampai saat ini, mereka pasti akan kehilangan nyawa mereka.


Hiro tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah Maria. Maria mengerti maksud rekan yang baru saja mengalami pertarungan hidup dan mati dengannya itu.


“Phantom, kami tak ingin membawa uang kami. Biarlah uang kami tetap berada di organisasi. Kami hanya meminta jaminan untuk keselamatan kami berdua,” kata Maria dengan pelan dan tegas.


Phantom terdiam sejenak setelah mendengar permintaan Maria. Lalu dia melirik ke arah kaki Maria dan tangan Hiro. Phantom menyadari kondisi mereka. Mereka berdua dipaksa untuk memilih agar merelakan harta mereka atau kehilangan nyawa. Dan mereka memilih yang kedua. Ketika menyadari itu, Phantom tertawa keras hingga suaranya menggema dalam ruangan gelap ini.


“Bagus. Aku setuju, keselamatan kalian akan menjadi tanggung jawab Chaos,” jawab Phantom pelan.


“Kalian!!” kata Phantom ke arah sosok-sosok yang mengelilingi mereka di tepi dan sudut ruangan dalam kegelapan, “Mereka berdua tak punya apa-apa lagi dan mereka berada di bawah perlindungan Chaos. Berpikirlah dua kali sebelum bertindak konyol!!”


Phantom lalu membalikkan badan dan berjalan menuju ke pintu keluar sambil memasukkan jemarinya kedalam kantong saku celananya, beberapa langkah sebelum dia mencapai pintu, Phantom berhenti melangkah, “Jika kalian memang sangat menginginkan uang Hiro dan Maria, cari Yasin!! Bawa dia kepadaku!! Aku akan berikan uang mereka berdua untuk siapapun yang berhasil melakukannya.”


Phantom lalu melangkah lagi dan suaranya kembali terdengar bersamaan dengan derap langkah kakinya yang bergema, “tapi itu artinya kalian harus punya cukup nyali untuk bersaing dengan Clown ...”


“Hahahahahahahahaha,” hanya suara tawa Phantom yang kemudian terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.


Sama sekali tidak ada yang menyadari bahwa Shadow sudah tidak ada lagi dalam ruangan ini. Entah sejak kapan. Kecuali Hikari yang memang sedari awal selalu mengawasi dan bersikap waspada kepada gerak-gerik si Ninja yang merupakan petarung tahap manifestasi itu.

__ADS_1


Hanya Hikari yang sempat melihat Shadow melirik ke arahnya sekilas lalu bayangan hitam itu tiba-tiba menghilang. Ini bukan kali pertama Hikari melihat kemampuan menghilang Shadow, tapi sampai saat ini, Hikari tak pernah tahu rahasia dan trik yang dilakukan oleh si Ninja.


Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Shadow bukanlah trik murahan ala Yasin saat dulu menipu Bram. Yasin hanya sekedar menggunakan mode tarungnya dan bergerak super cepat sehingga di mata orang awam seperti Bram, Yasin seolah-olah menghilang.


Mungkin Shadow bisa melakukan hal itu kepada serigala petarung awakening atau mungkin tahap inisiasi yang tidak begitu peka nalurinya. Tapi, Hikari adalah serigala petarung tahap manifestasi, level yang sama dengan Shadow sendiri. Tak mungkin Shadow bisa menipu Hikari dengan trik murahan ala Yasin.


Karena itulah, sampai saat ini, Hikari tak berani gegabah untuk mengambil tindakan apapun terhadap Chaos. Baik itu terhadap Phantom maupun Shadow sendiri. Setidaknya sampai Hikari tahu bahwa dia punya peluang untuk menang saat bertarung melawan Shadow.


Tak lama setelah ketiga anggota inti Chaos meninggalkan ruangan, hanya suara gumaman tak jelas dari berbagai arah yang terdengar dalam ruangan ini. Hikari berdiri dan menggunakan tangan kirinya untuk memegang katana dan meletakkan pedang itu di pundaknya sendiri. Lalu dia berjalan dengan santai ke arah pintu keluar.


Setelah itu ruangan itu berangsur-angsur kosong dan hanya menyisakan Maria, Hiro, jasad Choi dan si petarung Muay Thai, Saenchai.


“Aku suka negeri ini. Disini indah. Aku akan pensiun dan hidup sederhana di sini,” jawab Hiro mantap.


Maria terlihat terkejut ketika mendengar kata-kata Hiro, “Kamu tak ingin pulang ke Jepang?”


“Aku tak punya siapa-siapa lagi di Jepang. Aku yatim dan aku besar di jalanan. Sensei adalah satu-satunya keluarga yang kupunya dan dia sudah tiada,” jawab Hiro sambil tersenyum.


“Kurasa kehilangan satu tangan tak akan begitu bermasalah untuk seorang karateka sepertimu kan?” tanya Maria.


Hiro terdiam sebentar dan terlihat sedang berpikir, tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku rasa kamu benar.”

__ADS_1


“Kalau begitu, maukah aku memintamu untuk merawatku dan menemaniku untuk seterusnya?” tanya Maria dengan suara pelan.


Kali ini, giliran Hiro yang terkejut saat mendengar pertanyaan Maria. Kedua orang itu terdiam. Tetapi yang paling merasa canggung adalah si hitam Saenchai yang sekarang merasa seperti pihak ketiga yang keberadaannya tidak diinginkan di tempat ini.


“Itu kehormatan bagiku, Maria-san,” jawab Hiro sambil membungkukkan kepalanya setelah terdiam selama beberapa menit.


Maria tertawa dan berjalan tertatih-tatih dengan tongkat seadanya ke arah Hiro. Saenchai tersenyum lalu dia membantu pasangan itu untuk berjalan ke arah mobil yang akan mengantar mereka ke salah satu sudut terpencil yang indah di negeri ini. Tempat terbaik untuk menghabiskan sisa hidup mereka.


\=\=\=\=\=


“Ahmad Hambali,” gumam seorang wanita yang sedang berdiri didepan sebuah cermin.


Bibir wanita itu terlihat bergetar ketika mengucapkan nama tersebut, sebuah nama yang dulu pernah selalu mengisi kepalanya. Wanita itu juga terlihat masih cantik di usianya yang berkisaran di penghujung 30an atau awal usia 40an. Rambutnya panjang sepunggung, kulitnya tidak terlalu putih tapi sawo matang yang justru membuatnya terlihat menawan. Wajahnya khas milik seorang wanita Indonesia dengan keanggunan dan kecantikan yang unik.


Dada wanita itu dibalut dengan menggunakan sebuah kain berwarna putih yang dililit keras dan membuat benda indah milik seorang wanita yang harusnya menonjol itu menjadi rata. Dengan pelan-pelan dia membuka lilitan di dadanya dan setelah itu, dia terlihat makin menarik dengan tubuhnya yang tak lagi tersembunyi.


Di atas ranjang tempat wanita itu berdiri, terdapat sebuah pakaian serba hitam yang baru saja dilepas dan dibiarkan teronggok di sana. Pakaian serba hitam yang terlihat menutupi seluruh permukaan tubuhnya dari ujung kepala dari rambut sampai ke kaki. Sosok yang akrab di kepala semua orang dan dikenal dengan sebutan Ninja.


Wanita itu adalah Shadow, serigala petarung tahap manifestasi yang menjadi salah satu anggota inti dari kawanan Chaos.


Seandainya Hikari ada disini, dia pasti akan tewas berdiri karena rasa terkejutnya jika sosok misterius yang memiliki julukan Shadow dan selama ini selalu ditakutinya adalah seorang wanita. Seorang wanita cantik yang umurnya tak terpaut jauh dengan umur Hikari sendiri.

__ADS_1


__ADS_2