Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 163 - Dua Kali


__ADS_3

Kembali ke Afza dan Munding.


Setelah mereka berdua mengambil kuda-kuda dan mengeluarkan intent serigala petarung mereka, sedikit demi sedikit Afza merasakan tubuhnya bergetar, sesuatu dengan pelan tapi pasti masuk menyisip ke dalam dadanya. Sebuah sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan. Tepatnya sejak dia menjadi seorang serigala petarung.


Rasa takut.


Afza tercekat dan terlihat gamang, untuk sesaat, dia melangkah mundur tanpa dia sadari.


“Ini? Takut? Bagaimana bisa?” gumam Afza pelan dan terlihat kebingungan.


Munding membuang napas dan melepaskan intent-nya. Setelah itu, dia hanya menggelengkan kepalanya dan memutar badannya untuk meninggalkan Afza. Afza yang masih terlihat bingung dan larut dalam pikirannya sendiri seperti tersadar dari lamunannya ketika melihat Munding meninggalkan dirinya di tanah lapang berumput itu.


“Munding!! Tunggu!!” panggil Afza.


Munding berhenti berjalan dan menolehkan kepalanya ke arah gadis manis itu. Tak lama kemudian, Afza sudah berdiri di sebelahnya dengan sedikit terengah-engah karena mengejar Munding atau mungkin karena menekan rasa takutnya yang dialaminya tadi?


Sesampainya di sebelah Munding, Afza berhenti dan membungkukkan tubuhnya sambil mengatur napas. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat kepalanya dan melotot ke arah Munding.


“Sparing kita belum mulai, kenapa kamu malah pergi?” sungut Afza dengan ekspresi marah.


“Sparing? Aku bisa mencium rasa takutmu dari kejauhan, apa lagi yang harus kita lakukan? Kamu kalah bahkan sebelum kita mulai bertarung,” jawab Munding pelan.


Muka Afza langsung merah padam saat mendengar jawaban Munding. Dia tidak bisa membantah hal itu, karena memang itulah yang terjadi. Afza menundukkan kepalanya dan menarik napas dalam-dalam, mungkin untuk menutupi rasa malunya atau sedang memikirkan bantahan untuk tuduhan Munding.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Afza berdiri tegak dan mengangkat mukanya ke arah Munding, “Oke. Aku akui, tadi aku memang merasa terintimidasi oleh intent-mu, tapi itu karena kamu curang. Kamu mengeluarkan intent saat aku belum siap,” sanggah Afza dengan muka yang penuh percaya diri.


“Oooo. Jadi menurutmu seperti itu?” jawab Munding sambil tersenyum simpul, entah kenapa, dia merasa sedikit geli melihat tingkah prajurit wanita di depannya ini.


Afza menganggukkan kepalanya dengan penuh percaya diri sebagai jawaban atas pertanyaan Munding barusan. Munding hanya tersenyum melihatnya.


Untuk sesaat, Munding juga teringat Dewi, prajurit dari Angkatan Udara yang dijadikan benchmark untuk tim Merah Putih, lalu sebuah pikiran muncul di kepala Munding, “Apakah semua prajurit wanita yang berhasil menjadi bagian dari kasta elit petarung tertinggi militer semuanya over kompetitif seperti mereka?” gumam Munding dalam hati. Dan tiba-tiba, Munding merasa berduka cita untuk calon suami wanita-wanita itu.


“Kalau menurutmu memang seperti itu, baiklah, kita ulang sekali lagi,” kata Munding sambil berdiri tegak tanpa mengambil kuda-kuda.


Afza seketika berubah tegang dan mundur selangkah. Dia lalu memasang kuda-kudanya dan mengeluarkan intent serigala petarungnya. Munding hanya berdiri tegak dengan badan rileks dan kedua tangan berada di samping badan. Dia sama sekali tidak merasa terancam oleh intent yang dipancarkan oleh Afza.


Ada sesuatu yang terasa kurang dari intent yang dikeluarkan oleh Afza, dan mungkin juga oleh semua petarung elit dari militer yang ada di tim Merah Putih dan dirasakan oleh Munding saat mereka bertemu kemarin di ruang meeting lantai satu markas mereka.


Munding melihat ke arah Afza yang terlihat tegang dan bersiap dengan sepenuh tenaganya, “Siap?” tanya Munding pendek.


Afza dengan sedikit ragu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kali ini tak semantap dan percaya diri seperti beberapa saat yang lalu.


Munding tersenyum dan mengeluarkan intent serigala petarungnya. Afza tercekat seketika ketika intent Munding dengan buas menerjang dirinya yang sedari tadi sudah siaga dan bahkan sudah siap dengan kuda-kuda dan intent-nya sendiri.


Afza seakan merasa berubah menjadi seekor kelinci yang sedang berlarian di padang rumput kecil di atas bukit ini dan dia tahu kalau ada seekor elang sedang terbang di atas sana sedang menatapnya dan siap menukik untuk menancapkan cakarnya.


Afza berusaha mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Munding yang masih dengan tenang berdiri di depan Afza, “aku bukan mangsa, aku juga seorang predator. Aku sudah terlepas dari belenggu itu sejak melakukan awakening sebagai serigala petarung,” teriak Afza dalam kepalanya, tetapi suara yang keluar dari mulutnya adalah suara desisan marah dan tatapan yang makin tajam ke arah Munding.

__ADS_1


Shhhhhhhhhh.


Sedikit demi sedikit, tekanan yang dirasakan oleh Afza mulai berkurang, lututnya yang tadi gemetar hebat juga mulai sedikit tenang. Tapi belum sempat Afza menarik napas lega karena berhasil menekan pengaruh intent Munding sepenuhnya, laki-laki yang berdiri dengan tenang di depannya tiba-tiba mengubah raut mukanya dan menatap tajam ke arah Afza.


Saat itu juga, semua perlawanan yang dilakukan oleh Afza sebelumnya seperti terbang sia-sia dan dia langsung terduduk lemas di atas rumput dengan tubuh bergetar ketakutan.


“Bagaimana mungkin? Kami sama-sama serigala petarung tahap inisiasi, kenapa aku seperti ini?” gumam Afza pelan sambil menundukkan kepalanya ke arah bawah.


Munding menarik napas panjang dan terdiam.


Suasana menjadi sedikit canggung dengan Munding yang masih berdiri diam dan Afza yang terduduk di atas rumput dengan posisi setengah merangkak, seolah-seolah sedang menghormat ke arah Munding.


Munding kemudian berjongkok ke depan, apapun ceritanya, Afza adalah orang kepercayaan Pak Broto. Dia tak akan tega melihat gadis manis itu larut dalam kekalahannya.


“Kamu bingung ya?” tanya Munding pelan.


Afza terlihat masih asyik dengan pikirannya sendiri dan tetap menundukkan kepalanya ke bawah. Tapi, tak lama kemudian dia mengangkat kepalanya dan menatap pasrah ke arah Munding. Mungkin Afza bisa dengan tanpa malu mengatakan kalau yang pertama tadi hanyalah kebetulan karena dia tak siap saat Munding menyerangnya, tapi yang kedua kalinya, Afza sudah bersiap-siap sebisa mungkin dan tetap harus menelan kekalahan.


“Kok bisa?” tanya Afza pelan.


Munding yang tadinya berjongkok di depan Afza, kini meletakkan pantatnya di atas rumput dan duduk bersila di depan Afza yang masih di posisinya yang aneh itu. Melihat tatapan mata Munding yang melihatnya dengan pandangan aneh, Afza segera sadar dengan pose tubuhnya yang memang kurang pantas.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah dalam keadaan duduk bersila dan saling berhadapan di atas rerumputan yang ada di tanah lapang itu dengan ditemani hembusan udara segar di pagi hari dan mentari yang masih setengah hati menyiramkan sinarnya.

__ADS_1


“Kok bisa?” tanya Afza lagi untuk yang kedua kalinya setelah mereka duduk berhadapan.


__ADS_2