
“Serius ini?” tanya seorang pemuda yang terlihat sedang dalam kondisi mabuk berat dan dalam posisi rebahan di sofa itu kepada lawan bicaranya.
Di sebelah pemuda tersebut terbaring dua orang gadis yang pakaiannya entah kemana dan terlihat tercerai berai dan berserakan kemana-mana. Mereka juga terlihat dalam kondisi teler karena mabuk minuman keras.
“Aku serius Bram. Kamu mau balas dendam nggak ke Anak Baru itu?” tanya Rey yang duduk di sofa depan Bram dengan raut wajah serius.
Ardi terlihat terkapar di kasur lantai yang ada di belakang Bram dan sedang memeluk seorang gadis. Bram dan Ardi, mereka berdua tak pernah masuk sekolah lagi sejak Bram kalah dari Munding saat duel sebulan yang lalu.
Bram duduk tegak dan mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya.
Markas MinMaks yang dulu selalu ramai dan ditakuti oleh siapapun itu, kini seperti sebuah rumah kosong yang suram dan gelap tanpa penghuni. Hanya ada sekitar 20 orang anggota geng MinMaks sekarang dan sebagian dari mereka sudah jarang datang berkumpul ke markas ini.
Cewek Salome yang bertahan di tempat ini justru lebih banyak dibandingkan anggota gengnya sendiri. Mungkin bagi gadis-gadis itu, mereka merasa lebih nyaman dengan gaya hidup yang sedang mereka jalani sekarang.
“Kapan?” tanya Bram dengan suara yang sedikit bergetar.
“Malam minggu besok, di ultahnya Citra. Aku sudah mengundang Amel dan Munding,” kata Rey.
“Aku sebenernya dari dulu pengen sekali merasakan tubuh si Amel. Dia itu cantik dan juga seksi sekali, tapi karena status Papa-nya, tidak ada yang berani macam-macam dengannya. Aku juga yakin kalau si Amel pasti masih perawan,” racau Bram dengan suara yang masih bergetar dan sedikit parau.
“Tapi sekarang, I have nothing to lose. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Jadi, kenapa aku tidak berbuat nekat sekalian?”
Hahahahahahahahahahahahaha.
Tawa Bram memenuhi seisi ruangan itu. Kedua Salome yang tertidur di samping Bram terbangun karena terkejut dan meringkuk memeluk kaki mereka sendiri. Boss mereka yang satu ini memang terkadang kalau pas lagi kumat suka melakukan sadisme. Tanpa sadar, mereka berpikir kalau ‘penyakit’ Bram sedang kambuh.
“Tapi Bram,” protes Rey dengan cepat, tapi belum sempat kalimat lanjutannya keluar dari mulut Rey, Bram sudah memotongnya, “kenapa? Kau nggak suka?”
“Bukan begitu Bram,” Rey menundukkan kepalanya, dia memang tidak berani melawan Berandalan nomor 1 di Harsa ini, sekalipun sekarang dia sudah tidak memegang lagi posisinya yang dulu.
“Aku nikmati dulu perawannya si Amel, nanti kau ambil videonya. Setelah itu, kau ancam dia untuk menuruti semua kemauanmu dengan rekaman itu atau video itu bakalan kau sebar ke internet dan semua siswa di Harsa,” kata Bram.
__ADS_1
Setelah beberapa saat terdiam dan tidak melihat Rey bereaksi apa-apa, Bram melanjutkan lagi, “atau kau mau dibalik? Kau yang dapet perawannya Amel, tapi aku yang ambil videonya. Nanti kalau ada masalah, mukamu yang bakalan keluar di video itu. Punya nyali kau?” gertak Bram ke arah Rey.
Rey menggelengkan kepalanya.
Hahahahahahahahaha. Tawa Bram kembali terdengar dalam ruangan itu.
“Nyalimu sekecil ini,” kata Bram sambil menjentikkan ujung kuku jari kelinkingnya, “tapi sok-sokan mau menikmati tubuh gadis seperti Amel,” ejek Bram sambil meraih botol minuman keras yang ada di meja dan menenggaknya langsung dari botol.
Rey menundukkan kepalanya ke bawah. Memang menyakitkan mendengar ejekan Bram, tapi apa yang dia katakan memang benar. Nyalinya tidak sebesar Bram dan dia tidak senekat bocah di depannya ini.
Kalau memang Rey seorang pemberani, dia tidak akan datang meminta tolong Bram untuk membalas perbuatan Munding.
\=\=\=\=\=
Sepasang muda-mudi sedang mengendarai sebuah motor matic Honda BeAT dan melaju di jalanan kota Semarang. Si gadis menggunakan jacket berwarana putih untuk menutupi gaunnya yang berwarna merah gelap. Jaket yang berkibar-kibar karena tertiup angin.
Tangan kanan si Gadis memegang ujung jumper si Pemuda dengan erat. Si Gadis sendiri sudah lupa kapan terakhir kali dia naik motor untuk berpergian. Tapi dia senang sekali sore ini, karena akhirnya dia bisa jalan berdua dengan Bocah Kampung yang sekarang memboncengkannya ini.
Mereka saling mengenal masih dalam hitungan sebulan lebih. Pada awalnya dulu, Amel benci sekali dengan Bocah Kampung yang sedang memboncengkannya ini.
Munding cuma seorang bodyguard, seorang pelindung, yang ditugaskan Papa untuk menjaga Amel, tapi entah kenapa sikapnya sok sekali kepada Amel, yang seharusnya menjadi majikannya. Atau paling tidak employernya lah.
Munding selalu bersikap datar kepada Amel. Dia juga berani melawan perintah Amel dan seolah-olah di mata Munding, Amel hanyalah seorang gadis kecil yang kolokan dan manja.
Munding sama sekali tidak pernah menganggap Amel seorang gadis yang seumuran dengan dirinya sendiri. Munding juga tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikan sama sekali kepada Amel sebagai lawan jenisnya.
Sampai ketika kejadian di suatu pagi ketika Amel melihat Munding sedang berlatih silat dan dua gelas susu coklat panas yang membuat perut Amel mual-mual, setelah menghabiskannya seorang diri.
Rasa ketertarikan Amel muncul ketika itu. Saat dia melihat Munding yang sedang penuh konsentrasi mengayunkan pukulannya sampai tanpa sadar kepalan tangannya berdarah karena kerasnya pukulan Munding ke batang pohon Mangga yang dibalut tali tambang itu.
Sakitkah tangan Munding?
__ADS_1
Kenapa kamu harus berlatih sekeras itu? Ini bukan lagi jaman dulu, saat kepalan tangan berbicara dan seorang Jawara akan disegani oleh kawan dan lawannya.
Sekarang ini adalah eranya hukum diatas segalanya.
Bisakah kamu melawan seorang musuh bersenjatakan pistol di tangannya?
Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala Amel saat itu. Pertanyaan demi pertanyaan yang muncul karena rasa ketertarikan Amel yang tiba-tiba ada untuk si Bocah Kampung itu.
Dibarengi desir-desir aneh di dada Amel saat dia melihat sosok Munding.
Rasa yang berbeda jika dibandingkan dengan saat Amel mengejar-ngejar Reyhan. Amel dulu selalu berpikir kalau rasa yang dia punya untuk Rey adalah perasaan yang disebut dengan cinta. Dia mengagumi ketampanan Rey dan semua tingkah polah Rey terlihat istimewa dan sempurna di mata Amel.
Tapi.
Perasaan yang Amel punya untuk Munding terasa lain. Amel merasa selalu ingin berada di dekat Munding. Amel juga selalu merasa nyaman saat melihat Munding dan berada di sampingnya.
Munding tidak sesempurna Rey di mata Amel, Amel tahu itu. Tapi saat Amel menanyakan kepada dirinya sendiri, jika Rey dan Munding memanggil dirinya secara bersamaan, Amel tanpa ragu akan berlari ke arah Munding.
Sejak pagi itu, Amel selalu bangun lebih pagi dan duduk di teras belakang dan melihat Munding latihan pagi setiap hari. Dia tidak peduli dengan pandangan aneh Mbak-Mbak yang selalu menemaninya di teras belakang setiap hari.
Lambat laun, Amel juga mulai dekat dan lebih mengenal para asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya. Mereka kemudian sering mengobrol akrab dan Amel pun mulai mengenal sosok Munding lebih dekat dari gadis-gadis itu.
Munding yang selalu tepat waktu untuk bangun pagi dan mendirikan Sholat Subuhnya. Yang kemudian akan dilanjutkan dengan rutinitas latihan paginya.
Selalu dan tanpa pernah terputus.
Konsistensi dan ketekunan yang membuat Amel semakin mengagumi Bocah Kampung itu.
Amel sendiri tidak tahu kapan terakhir kali dia sholat. Secara tertulis, keluarga Amel beragama Islam, tapi seingat Amel, mereka hanya akan berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah setiap Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Tak pernah sekalipun dia melihat Papa atau Reni menjalankan sholat di rumah mereka, meskipun ada satu ruang khusus yang dijadikan mushola di dalam rumah utama, lengkap dengan segala perlengkapannya. Ruangan yang kemudian menjadi tak lebih dari sebuah dekorasi, sama dengan ukiran kayu jati yang dijadikan pajangan di ruang tamu mereka.
__ADS_1