
“Apa gunanya kekuatan?”
“Apa gunanya kemampuan?”
“Apa gunanya seluruh dunia dan seisinya?”
“Kalau aku harus hidup sendiri tanpa belahan jiwa.”
Munding terus mengumbar kemarahannya ke segala arah. Dia tak tahu sudah berapa lama dia meluapkan emosi amarahnya yang tak terbendung itu. Amarah yang bercampur dengan sedih, ketakutan, dan kecewa.
“Kenapa semua orang yang menyayangiku harus meninggalkan dunia ini lebih cepat?”
Teriakan Munding kembali menggelegar dan bergemuruh di dalam dunia penuh kegelapan ini.
Setelah waktu yang sangat lama dan emosi Munding mulai mereda. Munding terdiam. Dia melihat sosoknya. Sosok tak berbentuk dan berwarna hitam pekat, tapi masih menyerupai manusia. Dan Munding tiba-tiba terdiam.
Ketika Nurul datang, dia datang ke dunia kegelapan ini dalam sosoknya sebagai manusia. Tapi kenapa selama ini Munding tak memiliki sosok dan bahkan tak dapat merasakan apapun?
Ketika Nurul mengulurkan tangannya dan Munding dengan sekuat tenaga melakukan usahanya untuk meraih tangan itu. Munding sama sekali tak menyangka kalau dia akan bisa memiliki lagi sosok manusia yang lengkap dengan semua inderanya, di dalam kegelapan tanpa batas yang telah memenjarakannya selama ini.
Tapi Munding merasakannya.
Sebuah proses penciptaan, dari ketiadaan menjadi ada.
Bukan! Itu bukanlah sebuah proses penciptaan. Karena penciptaan adalah hak mutlak Sang Pencipta. Tak ada mahluk yang akan bisa melakukannya.
Munding tahu itu.
Munding yakin itu.
Ini sesuatu yang lain.
Itu bukanlah sebuah ‘creation’ yang menciptakan sesuatu dari ketiadaan yang benar-benar tiada, menjadi ada.
Karena Munding tahu kalau dirinya sudah ada di dalam dunia kegelapan ini. Jadi dia tidak menciptakan. Itu bukanlah sebuah creation. Itu hanyalah sebuah...
Manifestation.
Memunculkan sesuatu yang sebelumnya tak terlihat menjadi terlihat. Mengubah sesuatu yang sebelumnya tak nyata menjadi nyata.
Tapi...
Munding tiba-tiba berpikir, kenapa dia harus memanifestasikan wujudnya di dunia kegelapan ini. Itu artinya, Munding ada tapi tak nyata, dia ada tapi tak memiliki wujud.
Munding mencoba kembali berpikir keras, dia tahu kalau kali ini, arah dan tujuan dari cara berpikirnya sudah benar, hanya ada semacam lapisan tipis saja yang menghalangi dirinya dari kebenaran yang dia cari.
Sebuah kebenaran yang Munding yakini akan membawanya keluar dari tempat ini. Dan menyelamatkan Nurul.
__ADS_1
Ada tapi tak nyata. Ada tapi tak berwujud.
Kepala Munding tiba-tiba seperti disambar petir ketika dia memikirkan dua kalimat itu. Di kepalanya ada satu kata yang langsung muncul ketika dia menggumamkan dua kalimat tadi.
Intent.
Intent ada tapi seolah tak nyata dan tak memiliki wujud.
“Apakah aku ini sekarang perwujudan intent milikku?” tanya Munding kepada dirinya sendiri.
Tapi Munding segera menepisnya. Dia memiliki memori, dia memiliki ingatan. Meskipun sebelumya dia tak memiliki panca indera di tempat ini. Tapi dia bisa merasakan emosi saat mengulangi kehidupannya, saat kembali mengingat masa lalunya. Dia bisa merasa sedih, merasa marah dan merasa bahagia.
“Aku bukanlah intent,” kata Munding kepada dirinya sendiri.
Munding lalu mencoba berpikir kembali dan kini tiba-tiba dia tersenyum cerah, jawabannya sederhana dan sangat dekat sekali, dan sebenarnya dia sudah menyadarinya sejak dulu.
“Aku adalah kesadaran diri. Aku adalah consciousness. Aku adalah keakuan diriku sendiri. Aku adalah jatidiriku sebagai Munding. Aku adalah Munding,” gumam Munding pelan dan dia tahu kalau dirinya benar.
Munding kini menyadari bahwa setidaknya ada dua substansi yang sedari awal ada di dalam dunia kegelapan ini. Kesadaran dirinya dan intentnya.
Saat Nurul datang, kesadaran diri Munding memanifestasikan intent-nya untuk menciptakan sosok Munding dan menjadi wadah bagi kesadaran diri Munding dan dapat berinteraksi dengan Nurul. Itulah yang terjadi saat itu.
Tapi semua itu dilakukan di dalam dunia kegelapan ini.
Apakah hanya ada kesadaran diri Munding dan intent-nya di dalam dunia gelap tanpa batas ini?
Kenapa tidak dunia yang penuh cahaya?
Kenapa tidak dunia normal?
Atau dunia yang menyerupai surga dan penuh dengan bidadari cantik jelita?
Deg.
Dan Munding tiba-tiba teringat pertemuan pertamanya dengan ‘sesuatu’ yang telah mengubah jalan hidupnya. Pertemuan yang dilakukannya bertahun-tahun lalu dan membuka jalannya sebagai seorang serigala petarung.
Pertemuan yang terjadi di dunia gelap yang menyerupai saat ini.
Pertemuan antara kesadaran Munding dengan naluri-nya.
Dan saat itulah Munding tersadar.
Dia tersenyum.
Kini Munding juga teringat bahwa sebenarnya dia tak pernah sendiri. Dimanapun dan kapanpun akan selalu ada yang menemani dirinya.
Nalurinya.
__ADS_1
Munding tertawa, “petak umpet?”
“Sekian lama aku terjebak di tempat ini. Dan baru kini aku menyadarinya. ‘Kau’ memang selalu ada disini bersamaku,” kata Munding.
“Kegelapan?”
“Kenapa kau suka sekali dengan kegelapan?” kata Munding sambil memejamkan matanya dan mencoba merasakan sendiri dimana Nalurinya sekarang berada.
Munding terus mencoba dan mencoba, tapi dia tak merasakannya. Dia sama sekali tak merasakan keberadaannya.
Munding sedikit kaget.
“Apakah aku salah?”
“Kenapa aku tak bisa merasakan naluriku berada di dalam dunia kegelapan ini?” gumam Munding.
Munding terus terpaku di tempatnya.
“Apa yang salah dengan pemahamanku?”
“Apa yang tidak kumengerti dari semua ini?”
“Masih adakah celah dalam pemahamanku?”
“Meskipun hanya untuk sesaat, tapi aku bisa memanifestasikan intent-ku tadi.”
“Meskipun hanya disini, di dunia kegelapan ini, tapi setidaknya aku bisa memanifestasikan intentku.”
Kali ini, Munding tidak merasa seperti tersambar petir, tapi lebih mirip terkena lampu jauh dari mobil berlawanan arah saat menyopir di malam hari saat dia kembali memikirkan kata-katanya barusan.
“Di sini?”
“Di tempat ini?”
Tiba-tiba sebuah ide masuk ke dalam kepala Munding dan tak terbendung lagi. Sebuah pemikiran gila yang selama ini tak pernah terbersit dalam kepalanya tapi kini dia yakini kebenarannya.
Selama ini Munding mencoba untuk memahami kegelapan yang mengitarinya dengan kebingungan. Mencoba berbagai pendekatan dari berbagai arah tapi tanpa hasil. Tapi kini dia sadar bahwa pendekatannya salah.
Kini Munding menyadari bahwa dunia gelap ini dan seluruh kegelapan yang menyelimutinya adalah perwujudan dari naluri Munding sendiri. Bukan tempat yang asing atau tempat yang mungkin terletak di antah berantah.
Munding juga tersadar bahwa ketika dia melakukan awakening dan inisiasi dulu, naluri Munding mewujudkan dirinya dalam sosok yang menyerupai dirinya, karena itu Munding selalu beranggapan bahwa seperti itulah sebenarnya wujud sang Naluri.
Tapi kini, Munding tahu kalau dia salah besar. Sosok yang menyerupai dirinya itu hanyalah manifestasi yang dilakukan oleh naluri untuk berkomunikasi dengannya. Sama seperti yang Munding lakukan tadi saat bertemu dengan Nurul.
Wujud Naluri yang sesungguhnya adalah dunia kegelapan tanpa batas ini.
Dan kini Munding juga sadar bahwa nalurinya sendiri yang ternyata telah memerangkap kesadaran diri Munding selama ini.
__ADS_1
Ketika menyadari itu, Munding hanya berbisik lirih, “kenapa kau melakukan ini?"