Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 61 - Kantin


__ADS_3

Sepanjang pelajaran Amel terus menggerutu kepada Munding. Selama ini biasanya dia akan selalu mengobrol dengan Chloe, tapi kini Munding duduk disebelahnya. Nggak mungkin kan dia ngajak ngobrol anak kampungan ini?


“Liat aja nanti kalau dah sampai ke rumah. Amel bakalan ngasih tahu Papa soal ini,” ancam Amel dengan nada sinis dan marah.


“Terus?” tanya Munding.


“Ya mungkin nanti Papa akan ngambil tindakan sama kamu,” Amel berhenti sebentar, “mungkin gajimu akan dipotong atau mungkin kamu bakalan kena skorsing atau hukuman yang lain.”


“Aku nggak digaji dan aku bukan tentara,” jawab Munding datar.


Amel tahu maksud perkataan Munding. Itu artinya ancaman potong gaji nggak mempan untuknya karena Munding sama sekali tidak menerima gaji. Ancaman skorsing dan hukuman lain ala militer juga tidak berlaku untuk Munding karena dia bukan tentara. Dua buah ancaman yang selama ini selalu dipakai untuk menekan bodyguard-nya kini sama sekali tak berguna untuk Munding.


“Kamu ngapain sih? Kan bisa duduk di meja lain,” kata Amel.


“Tolong bersabarlah,” kata Munding, “kamu pikir aku mau melakukan ini? Aku cuma ingin memastikan kamu selamat sampai kita tiba di rumah. Setelah itu, aku tidak akan mencampuri apapun urusanmu.”


Amel akhirnya hanya bisa menarik napas panjang dan menunduk pasrah.


\=\=\=\=\=


Saat jam istirahat pertama, Amel berdiri dan Munding mengikutinya. Amel terlihat mulai marah lagi. Jangan-jangan, anak kampungan ini akan mengikuti Amel ke manapun Amel pergi? Tidak!!!!!! Teriak Amel dalam hati.


“Kamu ngapain lagi sekarang? Kamu mau ngikutin aku ke kantin juga?” tanya Amel setengah berteriak, yang membuat semua kawan-kawannya menoleh ke arah mereka.


Rey sudah tidak bisa menahan lagi kesabarannya. Dengan cepat dia merangsek maju ke arah meja Amel dari tempat duduknya yang ada di deretan belakang.


Ketika dia sampai di depan Munding, Rey melayangkan pukulannya ke wajah Munding tanpa peringatan sama sekali. Munding terlihat masih rileks dan seolah-olah tidak menyadari pukulan yang diayunkan oleh Rey.


Tapi ketika pukulan itu hanya berjarak 20 cm dari wajah Munding, tiba-tiba kepalan Rey terhenti. Rey merasakan kalau pergelangan tangannya seperti dicengkeram oleh sebuah tang raksasa yang membuatnya tidak bisa menggerakkan tangannya seberapapun kuatnya dia berusaha.


Rey melihat ke arah tangannya dan dia menemukan tangan Munding yang mencengkeram pergelangan tangannya. Rey terus berusaha untuk menggerakkan dan bahkan menarik kembali tangannya tapi tangan Munding sama sekali tidak bergerak sama sekali.


Rey adalah seorang pemuda yang rajin berolahraga dan sudah mengenal istilah workout dan gym pada usianya yang relatif masih muda.

__ADS_1


Jadi tubuh Rey bukanlah tubuh seorang pemuda yang tumbuh dengan menghabiskan waktunya di depan TV sambil bermain PS seharian. Rey punya kepercayaan diri dengan kemampuan fisiknya.


Tapi kenyataan yang terjadi di depannya sekarang berkata lain. Anak kampungan di depannya ini terlihat memiliki otot yang lebih kecil dari dirinya sendiri tapi bagaimana bisa tenaganya sungguh luar biasa? Dia dapat menghentikan pukulan Rey dengan tangannya.


“Lemah!! Jangan pernah mengayunkan pukulan selemah ini di depanku,” kata Munding datar sambil melepaskan cengkeraman tangannya.


Keringat dingin membasahi punggung Rey, tangan kirinya memegangi pergelangan tangan kanannya yang kesakitan karena diremas oleh Munding tadi.


Dia belum pernah merasakan pergelangan tangannya dipegang sekuat tadi. Tidak oleh sesama bocah SMA sepertinya. Rey membungkukkan badannya dengan muka yang dipenuhi keringat karena menahan rasa sakitnya itu.


“Rey,” panggil Amel setelah melihat kejadian barusan, suaranya dipenuhi oleh nada kuatir.


Rey sama sekali tidak membalas panggilan Amel atau bahkan sekedar untuk mengangkat kepalanya. Dia sangat malu sekali oleh kejadian barusan. Dia bahkan kalah tanpa Munding melakukan serangan.


‘Lemah!!’ kata-kata Munding itu terngiang-ngiang terus di kepala Rey dan membuatnya semakin merasa terpuruk.


Amel yang terlihat sangat kuatir dengan keadaan Rey sesaat kemudian memutar tubuhnya dan dia berteriak ke arah Munding, “kenapa kamu melukainya?”


Munding mengangkat bahunya, “aku tidak tahu kalau dia selemah itu.”


\=\=\=\=\=


Seorang siswa duduk sendirian di kantin dan sedang menikmati makan siangnya. Dia terlihat tidak begitu memperhatikan suasana di sekitarnya.


Tiba-tiba, tiga orang cowok menggeser kursi di depan siswa tadi dan langsung duduk di depannya. Siswa yang sedang asyik menikmati makan siangnya itu, mengangkat wajahnya dan menemukan tiga wajah asing sedang memperhatikannya juga.


Cowok yang duduk di tengah dari tiga orang yang barusan datang tadi mengulurkan tangannya kedepan dan mengajak Munding berkenalan, “namaku Nur. Lengkapnya Nur Qosim.”


Munding tersenyum dan menjabat tangan cowok tadi, “Munding.”


“Kami sudah mendengar kejadian tadi pagi di kelasmu. Kelas 2-J,” kata Nur.


Munding terdiam dan mendengarkan. Satu-satunya alasan dia membiarkan Nur dan kedua kawannya duduk disini hanyalah karena dia merasa kalau mereka bertiga sama sekali tidak menampakkan tanda permusuhan dengan dirinya.

__ADS_1


“Ini hari pertamamu di sekolah ini, jadi kamu mungkin belum begitu familiar dengan kondisi di sini,” kata Nur membuka ceritanya.


“Aku mencoba memberitahumu karena aku merasa kalau kamu seharusnya tidak masuk ke kelas J. Kamu lebih cocok ke kelas A atau B, sama seperti kami,” Nur berhenti sebentar dan melirik ke arah Munding, seolah-olah bertanya apakah Munding masih ingin mendengarkan cerita selanjutnya dari Nur.


Munding tersenyum dan menganggukkan kepalanya, memberi tanda agar Nur melanjutkan ceritanya.


“Di sekolah ini, tiap angkatan dibagi menjadi 10 kelas, tak pernah lebih dan tak pernah kurang. Dengan satu kelas berisi 40 orang anak, kecuali kelas J, kelasmu yang jumlahnya tak pernah pasti.”


“Kelas A dan B digunakan untuk siswa berprestasi, katakanlah Si Pintar. Sedangkan sebaliknya kelas H dan I digunakan untuk siswa yang mampu secara finansial, kami menyebutnya Si Kaya.”


“Kelas C sampai ke G digunakan untuk campuran antara si Pintar yang tidak terlalu pintar dan si Kaya yang tidak terlalu kaya. Setiap semester, siswa-siswa berprestasi saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik agar dapat masuk ke kelas A dan B. Untuk Si Kaya, mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk mengganti kelas mereka.”


“Sedangkan kelasmu, kelas yang unik, kelas J adalah kelas monster. Guru dan siswa disini menyebutnya kelas VIP. Siswa yang ada di kelas J tidak pernah berganti dari kelas 1 sampai ke kelas 3. Isinya tidak melulu harus orang kaya, tapi satu hal yang pasti, harus mempunyai pengaruh.”


“Harusnya kamu juga tidak masuk ke kelas J, kamu mendapatkan warisan dari orang tuamu yang sudah meninggal dunia dan sekarang yatim piatu. Munding, kamu memang kaya, tapi kamu tidak mempunyai pengaruh. Seharusnya kamu masuk ke kelas H atau I.”


“Sampai ketika terjadi accident saat kamu memaksa duduk di sebelah Amel. Saat itu barulah semua siswa di sekolah ini sadar kalau kamu pasti punya hubungan khusus dengan keluarga Amel. Disitulah semua orang paham kenapa kamu dimasukkan ke kelas J.”


“Tapi kata-katamu saat perkenalan tadi pagi sungguh membuat seisi sekolah gempar. Seorang siswi kelas 2-J merekamnya dan menyebarkannya ke siswa-siswa lain. Kamu tidak sadar kalau semua orang di kantin ini memperhatikanmu dari tadi?”


Munding melirik ke sekelilingnya sekilas dan memang menemukan banyak siswa dan siswi yang baru saja melirik ke arahnya dengan cepat membuang muka dan sibuk dengan kegiatannya. Munding cuma tersenyum. Dia tidak mempedulikan hal itu.


“Hampir semua siswa di sekolah ini mengenalmu sekarang. Munding si ‘bocah gila’. Kalau untuk panggilan ‘bocah gila’, itu semua gara-gara wali kelasmu, Bu Santi. Dia yang bercerita ke semua orang bahwa sebelum masuk ke sekolah ini, kamu sempat trauma dan mengalami gangguan jiwa dan menjalani perawatan.”


Munding tersenyum. Dari awal dia memang merasa ada sesuatu yang salah dari wali kelasnya itu. Dengan memberitahukan tentang kekayaannya, dengan memberitahukan latar belakang ‘perawatan kegilaannya’, apakah yang ingin dicapai oleh wali kelasnya itu?


Tapi tiba-tiba ada satu pertanyaan yang menggelitik Munding dari tadi pagi.


“Ada satu siswa yang memakai seragam berlengan panjang dan orangnya berkacamata. Siapa dia?” tanya Munding.


Muka Nur dan kedua kawan yang duduk di sebelahnya menjadi pucat pasi dan sedikit ketakutan. Nur yang sebelumnya penuh percaya diri juga terlihat sedikit ragu.


“Mmmm, sebaiknya kamu hindari dia dengan segala cara. Tidak ada akhir yang baik kalau kamu berhubungan dengan dia. Dia tokoh antagonis nomor satu di sekolah ini. Bahkan guru-guru sekalipun tidak ada yang berani melawannya,” jawab Nur.

__ADS_1


“Aku hanya butuh identitasnya,” kata Munding pendek.


__ADS_2