Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 179 - Kecewa


__ADS_3

"Lumayan," puji Pak Yai sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung.


"Izrail-san, kami ..." Hiro mundur selangkah dan sedikit membungkukkan badannya ke arah orang tua itu.


Personal target kali ini tak sesuai dengan detail misi mereka. Yasin memberikan semua informasi yang dia tahu tentang Izrail, baik saat dulu masih aktif di kawanan ataupun rumor-rumor yang dia dengar belakangan hari. Tapi itu semua ternyata tak akurat dan bisa mencegah salah perhitungan yang dilakukan oleh Chaos seperti sekarang ini.


Pada awalnya, dengan mengirimkan keempat personil ini, tim mereka akan dapat melumpuhkan dengan mudah dua sasaran mereka. Seorang petarung tahap inisiasi berusia muda yang kurang pengalaman dan seorang petarung tahap inisiasi renta yang sedang berada dalam masa pensiunnya. Tapi kenyataan berkata lain, hanya dengan dua kali serangan, sang Izrail telah membuat dua anggota tim elite Chaos terluka parah bahkan mengalami cidera permanen. Tanpa dibantu oleh anak didiknya yang sekarang entah kemana.


Meskipun Pak Yai tidak sekuat petarung manifestasi yang mungkin mampu menghabisi seberapa banyak pun petarung inisiasi yang menyerangnya, dengan kemampuan half-step manifestasinya, Pak Yai dapat dengan mudah mengalahkan mereka berempat. Hiro dan ketiga rekannya tahu hal itu.


Mungkin ceritanya akan lain jika kesepuluh anggota aktif Chaos datang kesini dan menyerang Pak Yai secara bersamaan. Tapi, sekarang hanya ada mereka berempat. Mereka tahu dan yakin kalau mereka sedang melakukan pertarungan tanpa harapan untuk sebuah kemenangan. Jika mereka bisa meninggalkan tempat ini dengan nyawa masih melekat di badan, itu sudah merupakan suatu keajaiban.


Belum lagi ketika nanti mereka membayangkan pengaruh cacat yang mereka alami akibat cidera kali ini. Mereka tetap akan menjadi serigala petarung inisiasi, tapi kekuatan mereka tak akan seperti dulu.


Mengharapkan Chaos untuk membalaskan dendam mereka?


Itu hanya sebuah impian kosong. Seandainya Chaos tahu kalau Pak Yai yang menjadi sasaran mereka ternyata memiliki kemampuan yang sudah bisa dianggap sebagai half-step manifestasi, Hiro yakin kalau Chaos tak akan mengijinkan misi personal target dieksekusi.


Half-step manifestasi atau sering juga disebut pseudo-manifestasi adalah sebuah tahapan khusus dimana seorang serigala petarung mengalami masa transisi dari tahap inisiasi menuju ke tahap manifestasi. Mereka terjebak diantara kedua tahapan itu.


Tak ada organisasi manapun yang cukup gila untuk mencari masalah dengan para petarung yang sewaktu-waktu bisa menggenapi langkah terakhir mereka dan benar-benar menjadi seorang petarung manifestasi.


"Kalian berniat menghabisi anakku kan?" tanya Pak Yai sambil tersenyum dengan tangan tetap tersimpan di belakang punggungnya setelah mereka semua terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Kami ..." Hiro tak dapat melanjutkan lagi kalimatnya.

__ADS_1


Hiro sangat berharap kalau sang petarung dengan julukan Izrail sang Pencabut Nyawa itu memberikan ampunan kepada mereka dan melepaskan mereka. Tapi, harga dirinya sebagai seorang petarung juga tak bisa menerima kalau dirinya harus memohon ampunan kepada Izrail.


Pak Yai melirik ke arah Yasin dan menghapus senyuman itu dari bibirnya. Untuk Hiro, atau anggota Chaos yang lain, Pak Yai menganggap mereka musuh, tapi sejak dulu, dia selalu menghormati musuh-musuhnya dan tidak pernah mempermalukan mereka. Bahkan saat dirinya sedang unggul atau menang sekalipun.


Pak Yai selalu berpendapat kalau takdir lah yang membuat mereka berhadap-hadapan di medan pertempuran sebagai musuh, tak lebih. Mereka bertarung karena kebetulan keyakinan mereka berbeda, bukan karena mereka saling membenci dan harus saling menghina. Itulah yang membuat Pak Yai selalu bersikap sopan dan hormat kepada para musuhnya.


Tapi.


Ada satu hal yang paling dibenci oleh Pak Yai sejak dulu, melebihi rasa bencinya kepada para musuhnya.


Seorang pengkhianat.


Seorang anggota kawanan yang tega untuk mengkhianati anggota kawanannya yang lain. Karena itu, Pak Yai masih bisa memberikan sebuah senyuman kepada musuhnya seperti dia memberikan senyuman kepada Hiro, tapi dia tidak akan pernah bisa melakukan hal itu kepada Yasin.


"Kamu datang kesini untuk menghabisi nyawa anakku kan?" tanya Pak Yai ke arah Yasin.


Kekecewaan.


Yasin bisa menebak kenapa Izrail kecewa. Karena di hadapan Izrail sekarang berdiri seorang junior dari kawanan yang sama dan membawa tiga orang petarung tahap inisiasi dari bangsa lain untuk mengepung, mengeroyok, dan menghabisi anak Izrail sendiri.


"Yasin, bagaimana mungkin kamu bisa terjerumus sejauh ini," keluh Pak Yai dengan kalimat tanya tapi diucapkan dengan nada memberikan sebuah pernyataan.


Yasin tercekat. Dia tak menyangka kalau senior yang selalu dihormatinya dan dikaguminya dari jauh, ternyata mengenalnya dan bahkan mengetahui namanya.


"Bagaimana?" tanya Yasin kearah Pak Yai tapi lanjutan kalimatnya seolah tertelan oleh lidahnya kembali.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa mengetahui namamu? Begitu maksudmu?" tanya Pak Yai dengan muka datar dan masih dipenuhi kekecewaan.


"Kami, para petarung yang ditunjuk untuk menjadi komandan, selain dipilih dari petarung dengan kemampuan diatas rata-rata, juga ditunjuk karena kami adalah typical orang yang rela mengorbankan nyawanya demi kawanan."


"Tahukah kamu kalau setiap saat sebelum bertempur, kami para komandan diwajibkan mengingat nama dan tempat tinggal kalian."


"Kami para komandan juga diwajibkan untuk mengantar jenazah semua petarung yang berada di bawah kami dan gugur di medan perang kepada keluarganya."


"Pernahkah kamu melihat dan mendengar tangisan keluarga rekan kita saat menerima jenazah anak, atau suami, atau ayah mereka terbujur kaku?"


"Itulah kenapa kami, para komandan, selalu maju ke medan perang di barisan depan dan meninggalkannya dengan barisan terakhir."


"Itu semua kami lakukan untuk memastikan supaya tidak ada junior sepertimu yang tumbang di medan tempur. Kami tak ingin melihat dan mendengar tangisan keluarga kalian."


"Kami bukan Iblis yang gemar membantai nyawa musuh-musuh kami demi kesenangan atau kebanggaan."


"Kami bukan petarung yang gagah berani maju dan menghadapi musuh yang jumlahnya melebihi kami."


"Kami hanya sekumpulan petarung yang tidak kuat untuk mendengarkan ratapan dan tangisan keluarga junior kami."


"Dan sekarang, junior kami, yang dulu kami berusaha melindungi nyawanya dengan sekuat tenaga. kini datang mencariku untuk menghabisi nyawaku dan keluargaku."


"Kamu bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat ini?"


"Dan kamu justru bingung dengan hal sepele seperti bagaimana mungkin aku tahu namamu? Sedangkan aku tahu lebih banyak dari sekedar namamu saja."

__ADS_1


Yasin terdiam seribu bahasa saat mendengar kata-kata seniornya yang kini membuatnya sadar bahwa bayangan yang selama ini dia lihat tentang betapa hebatnya para Komandan yang dulu bertarung dengan gagah berani dan bersimbah darah di depan dia dan rekan-rekannya itu ternyata mempunyai arti yang jauh lebih dalam dari sekedar menjadi seorang Pencabut Nyawa di medan pertempuran.


__ADS_2