
Hikari menarik katana yang menancap di dada Munding. Darah terlihat keluar dengan deras dari luka tusuk itu. Munding langsung terjerembab ke tanah ketika Hikari menarik pedangnya.
Trotoar jalan raya dibasahi oleh darah Munding yang kini terbaring disana. Hikari mengibaskan katananya ke samping untuk membersihkan sisa darah yang ada dalam bilah pedang itu, lalu dia menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang seolah-olah dia menyesal dengan apa yang dia lakukan.
Hikari mengangkat pedang itu pelan ke atas dan bersiap untuk memenggal kepala Munding.
Hikari adalah seorang yang pragmatis. Dia harus memastikan bahwa Munding benar-benar telah tewas dengan cara memenggalnya. Dia tak suka bayang-bayang seseorang akan datang mencarinya untuk membalas dendam di masa depan. Dan Munding punya potensi untuk itu.
“Humph!” dengus Hikari sambil mengayunkan pedangnya ke bawah, tepat ke arah leher Munding.
Crassssssssss.
Terdengar suara sesuatu yang terkena tebasan pedang.
“Bang! Cepat!!” lalu terdengar suara seorang wanita yang berteriak memanggil orang lainnya.
Hikari melihat ke arah Munding dan menemukan kalau laki-laki itu kini sudah berada dalam pegangan seorang wanita yang terlihat sedikit berumur tapi masih terlihat cantik.
Hikari melirik ke arah tempat Munding tadi terbaring dan menemukan sebuah semangka yang ditaruh disana. Itulah yang tadi membuat suara sebuah benda terkena tebasan pedang.
“Hikari Makoto, akhirnya kamu menunjukkan sifat aslimu setelah sekian lama,” gumam si wanita sambil memegangi Munding yang masih tak sadarkan diri dan terus mengeluarkan darah.
Hikari menyarungkan katananya ke sarung lalu melihat ke arah Aisah dengan sedikit kebingungan, “kamu siapa?”
“Tak mengenaliku? Atau nalurimu selemah itu?” ejek Aisah.
Hikari terdiam lalu dia mencoba mengenali wanita di depannya dengan menggunakan kepekaan naluri yang dia miliki. Dan sebuah nama langsung muncul di kepala Hikari.
Shadow.
__ADS_1
“Shadow?” tanya Hikari dengan nada sedikit terkejut.
“Kenapa? Tak menyangka kalau aku seorang perempuan? Atau mungkin karena aku bukan orang Jepang?” cibir Aisah.
Lalu tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang terengah-engah karena kehabisan napas. Hikari menoleh ke arah laki-laki itu dan sedikit terkejut. Dia melihat seorang laki-laki berbadan gempal dan berotot tapi tinggi badannya tidak terlalu istimewa dan lebih pendek daripada orang kebanyakan.
Kulitnya putih dan ada sesuatu yang membuat Hikari takjub, tubuh laki-laki pendek itu dipenuhi tribal tattoo yang abstrak dari mulai pergelangan tangan sampai ke lengan. Hikari juga melihat tattoo dengan motif sama di leher laki-laki itu. Dia juga melihat tattoo itu di bagian kaki yang hanya mengenakan celana pendek dan sepasang sandal jepit itu.
Hikari tahu kalau seluruh permukaan tubuh laki-laki itu pasti dipenuhi tattoo. Dia terlihat terengah-engah kehabisan napas yang mungkin karena berlari, tapi Hikari tak mempercayainya. Detak jantung laki-laki itu datar. Seperti seseorang yang sedang tidak melakukan aktivitas fisik apa pun.
“Hai,” sapa Leman sambil melambaikan tangan ke arah Hikari, seperti seorang kawan lama yang lama tak berjumpa.
“Bang!! Lihatlah ini, Munding kritis,” protes Aisah.
“Kamu bawa pergi dulu dan berikan perawatan secepatnya. Tapi yang pasti, dia harus hidup,” kata Leman tiba-tiba berubah tegas.
Aisah terlihat tak peduli dengan kata-kata Leman dan hanya mencibirkan bibirnya lalu pergi dengan membawa Munding menghilang di sela-sela kerumunan orang yang melihat kecelakaan lalu lintas di dekat mereka.
Jangan-jangan?
Sebuah kemungkinan muncul dalam kepala Hikari. Sebuah kemungkinan bahwa laki-laki di depannya ini adalah pemimpin sesungguhnya dari Chaos.
Hikari tiba-tiba merasa senang ketika akhirnya dia berhasil bertemu dengan pemimpin Chaos yang sesungguhnya setelah bertahun-tahun bergabung dengan organisasi itu. Dia tersenyum ke arah Leman dan membungkukkan badannya.
“Hikari memberikan hormatnya kepada Pemimpin,” kata Hikari dan belum beranjak bangkit dari posisinya.
“Tak apa-apa. Tenang saja,” jawab Leman.
Hikari mengangkat tubuhnya dan tersenyum. Leman bisa melihat dengan jelas keinginan Hikari untuk menantangnya duel. Leman tersenyum kecil lalu menyilangkan tangannya di belakang punggung.
__ADS_1
“Dimana Titis?” tanya Leman pelan.
Hikari terlihat kaget, tapi sesaat kemudian dia kembali tenang, “jangan salah sangka, aku tak bergabung dengan dia. Kami hanya bekerjasama dan kebetulan kami punya motif yang sama.”
“Aku tahu itu, tapi aku menanyakan dia karena kamu tak akan bisa melawanku sendirian,” jawab Leman pelan, nadanya datar, dan sama sekali tidak terlihat sedang menyombongkan diri tapi hanya menyampaikan sebuah fakta.
Muka Hikari berubah merah padam karena malu dan sedikit terpancing emosinya. Ini kali pertama sejak dia berhasil menjadi seorang serigala petarung manifestasi dan seseorang dengan terbuka berani merendahkannya.
“Kamu terlalu percaya diri,” geram Hikari lalu dia mengambil posisi kuda-kuda Iai dan bersiap melancarkan serangannya ke arah Leman yang masih tetap melipat tangannya di balik punggung dengan ekspresi santai.
Hikari makin geram ketika melihat Leman yang seolah-olah sedang merendahkannya, lalu tiba-tiba.
Sreeettttttttttttttttt
Trangggggggggg
Hikari masih tetap dalam posisi yang sebelumnya dengan kuda-kuda Iai-nya tapi tangan kanannya yang memegang gagang katana terlihat bergetar hebat. Bahkan sedikit darah terlihat di sela-sela jemari tangan kanannya itu dan membasahi gagang katana-nya.
Leman masih tetap dalam posisinya semula, tangannya terlipat di belakang badan. Dia sama sekali tak menangkis atau melakukan apapun untuk menahan serangan Hikari. Kaos yang dipakai Leman terlihat sobek dengon potongan menyilang dari kanan bawah ke kiri atas, menampakkan tubuh Leman yang berotot dan gempal. Tattoo terlihat memenuhi bagian dada dan perut Leman.
Hikari menatap tak percaya ke arah Leman. Baru kali ini dia menemui seseorang yang tak melakukan apa pun dan sama sekali tidak terluka setelah menerima sabetan pedangnya.
“Kenapa kamu terkejut? Sejak awal aku sudah menduganya. Kamu tak akan bisa melukaiku, karena itu aku memintamu untuk menghubungi Titis,” kata Leman.
“Ini tidak mungkin!!” kata Hikari tak percaya.
Hahahahahahahaha.
Leman tertawa mendengar kata-kata Hikari, “Apa yang tak mungkin? Ada alasannya kenapa serigala selalu berusaha hidup dalam sebuah kawanan. Mereka saling melengkapi. Kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lainnya. Karena tidak ada yang sempurna.”
__ADS_1
“Konsep dasar manifestasiku adalah defensive (bertahan) dan aku memilih ‘kekerasan’ untuk menjadi pertahananku. Sedangkan konsep dasar manifestasimu adalah offensive (menyerang) dan aku menduga kalau kamu memilih antara ketajaman atau kecepatan sebagai dasarnya. Setelah menerima seranganmu tadi, aku tahu kalau kau menggunakan ‘kecepatan’ sebagai konsep manifestasimu,” kata Leman.