Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 222 - Berkumpul


__ADS_3

“Guru kan belum menikah, Pakde Leman juga dulu menikah tapi sudah bercerai, tapi kok Guru bisa punya keponakan?” tanya Cynthia sambil tersenyum.


Pletakkkkkk.


“Katanya tadi nggak marah?” protes Cynthia sambil bersungut-sungut dan mengelus-elus kepalanya.


“Aku nggak marah. Cuma pengen ngejitak aja,” jawab Aisah.


Cynthia hanya memonyongkan bibirnya dan bergumam tanpa suara sambil tetap mengelus kepalanya. Dia melirik ke arah Munding yang terbaring di jok kedua bersama sang Guru. Sedangkan Cynthia sendiri ada di kursi sebelah sopir. Mobil mereka membelah jalanan dan meraung-raung dengan kecepatan tinggi. Membawa Munding ke rumah sakit untuk merawatnya.


Cynthia lalu menelepon seseorang dan memberikan instruksi untuk segera menyiapkan tenaga medis dan ruang gawat darurat di RS yang mereka tuju. Dia tahu kalau laki-laki yang terluka itu adalah seorang yang penting bagi Gurunya. Dia tak pernah melihat raut muka Aisah yang kuatir seperti saat ini.


“Siapa sih keponakan Guru ini?” tanya Cynthia dalam hati.


\=\=\=\=\=


“Leman!! Lama tak jumpa, sudah hebat sekali kau sekarang rupanya?”


Suara teriakan itu mengagetkan Hikari dan juga Leman yang sedang berhadap-hadapan. Dua orang laki-laki yang terlihat berumur berjalan dengan santai setelah keluar dari sebuah kendaraan yang berwarna hijau tentara.


Mereka adalah Dirman dan Nasution.


Yang barusan berteriak dengan logat Medan dan suara keras tentu saja Nasution.


Hikari melihat ke arah kedua orang yang barusan datang itu dan sedikit kaget. Dia tahu kalau kedua orang ini juga petarung manifestasi sama seperti dirinya dan Leman. Tapi dia tak tahu mereka berdua ada di pihak mana.

__ADS_1


“Lae Nasution, ini urusan anak-anak muda seperti kami. Yang sudah cukup usia, silakan melihat saja dari tepian,” gumam seseorang yang tiba-tiba muncul di sebelah Hikari, Titis.


“Hahahahaha. Bodat, kau rupanya juga mulai berlagak ya?” jawab Nasution.


Muka Titis berubah merah padam dipanggil Bodat oleh Nasution. Bukan apa-apa, Titis sendiri menggunakan konsep agility (kelincahan) untuk manifestasi intentnya. Dia mengkombinasikan itu dengan kesukaannya menggunakan senjata api alias pistol. Ketika seseorang melihat Titis bertarung, yang pertama terbayang di kepala adalah seekor kera yang meloncat kesana kemari sambil menembakkan pistolnya.


Panggilan yang diberikan oleh Nasution tentu saja sangat mengena untuk Titis.


“Hai Jepang! Kami mengusirmu sejak awal kemerdekaan waktu itu. Kenapa kamu muncul lagi disini?” tanya Dirman ke arah Hikari, bercanda tentu saja, tak mungkin Hikari sudah lahir saat itu.


Hikari tak menjawab tapi hanya mendenguskan nafasnya. Lalu dia mengambil posisi Iai dan tiba-tiba saja dia menyerang Dirman dan Nasution.


Craaaassssssss.


Trakkkkkkkkkkkk.


“Kura-kura, terima kasih sudah menolong kami. Tapi apa kamu pikir kami selemah itu dapat dikalahkan oleh serangan mentah seorang Samurai Jepang yang sudah ketinggalan zaman itu?” kata Dirman ke arah Leman yang berdiri di depan mereka berdua.


“Dasar goblok, akan aku kasih tahu kenapa jahe yang lebih tua rasanya lebih pedas,” kata Nasution lalu dia berjalan pelan ke arah Hikari dan melambaikan tangannya.


Hikari tiba-tiba merasakan sebuah benda yang sangat besar terasa menghantamnya dari arah kiri, sama seperti arah lambaian tangan Nasution berasal. Hikari mencoba melihat ke arah kirinya tapi tak menemukan manifestasi intent dalam bentuk apapun.


“Apa ini? Konsep apa yang dia pakai?” kata Hikari dalam hati.


Tapi tentu saja Hikari bukanlah seorang samurai kacangan. Dengan cepat dia mengangkat pedangnya tinggi dan membelah ke arah kirinya, tiba-tiba Hikari merasakannya lagi, hembusan angin dan hiruk pikuk keramaian tempat dia berada.

__ADS_1


“Lumayan,” puji Nasution, “coba yang ini!”


Kata Nasution sambil merentangkan kedua tangannya ke samping. Sesaat kemudian dia menepukkan kedua tangan itu ke depan, lurus di depan dadanya.


Hikari kembali merasakan tekanan yang luar biasa dan datang dari arah samping kanan dan kirinya. Tekanan yang dua kali lebih besar daripada serangan Nasution yang pertama. Hikari mengangkat katana-nya lalu menyabetkan pedang itu ke samping sejauh 180 derajat. Berusaha menghilangkan serangan Nasution yang kedua.


Tapi, tak seperti usahanya yang pertama. Usaha kedua Hikari gagal membuahkan hasil. Ketika tekanan itu mengenai dirinya, Hikari merasa seakan-akan dirinya dihimpit oleh dua buah tembok dan kehabisan napas. Seluruh tulang-tulangnya terasa remuk dan dia mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya.


“Konsep apa ini?” tanya Hikari dalam hati yang baru saja merasakan serangan dari Nasution.


Leman hanya tertawa kecil. Seandainya dia boleh memilih, satu-satunya musuh yang tidak ingin dia lawan adalah Nasution. Leman pernah bertarung dengannya sekali dan hasilnya?


Leman habis dihajar oleh Nasution. Karena konsep sang Jenderal Tua dari militer itu adalah ‘believe/kepercayaan’. Sebuah konsep abstrak yang Leman bahkan tak tahu kalau itu bisa dijadikan sebagai sebuah konsep dasar manifestasi.


Dirman, rekan Nasution, lebih parah lagi. Leman belum pernah bertarung dengannya, tapi Jenderal Tua yang satu ini, sepengetahuan Leman memiliki konsep ‘wisdom/kebijaksanaan’. Leman tak pernah sekalipun melihat Dirman menyerang atau bertarung sehingga dia tidak bisa melihat langsung seperti apa manifestasi intent dengan sebuah konsep seperti milik Dirman.


Sedangkan Nasution, Leman tahu persis seperti apa karakter konsep Jenderal tua itu. Manifestasi intent Nasution tak berwarna, tak berbentuk, dan tak berwujud. Hanya didasarkan pada kepercayaan Nasution dalam melakukan sebuah serangan. Meskipun serangannya susah dideteksi, tapi secara overall, serangan unik Nasution tidaklah mempunyai kekuatan yang luar biasa.


Tapi, karena dia tak berbentuk dan juga tak berwujud, pertahanan diri dari konsep ‘kekerasan’ milik Leman tak berlaku untuk konsep Nasution. Alhasil, dengan mudah si Jenderal Tua itu menghajar Leman saat duel mereka dulu. Nasution adalah kelemahan natural dari Leman.


Mungkin konsep milik Nasution bisa dikatakan mirip dengan kemampuan telepati para psikis seperti milik Jean Grey dalam serial X-Men.


“Lae, cukup. Hikari adalah rekanku!” kata Titis ke arah Nasution.


“Monyet, kenapa kau menyuruh rekanmu membantai prajurit elite angkatanku?” tanya Nasution.

__ADS_1


“Lae, berhentilah memanggilku monyet,” protes Titis sambil menggengam pistol di pinggangnya.


Titis sebenarnya sedang berpikir keras. Dia sama sekali tak menyangka kalau pimpinan Chaos dan dua Jenderal Tua dari militer akan muncul secara bersamaan di tempat ini. Kali ini, dia harus bisa memberikan penjelasan yang baik atau justru pihaknya akan menerima serangan gabungan dari berbagai pihak.


__ADS_2