
Munding berlari meninggalkan Bu Carik di kebun belakang rumahnya. Dan Bu Carik masih menangis terisak-isak ditempatnya tadi.
“Wage, anakmu benar-benar mirip denganmu. Dia ceroboh, lugu dan selalu memperturutkan emosinya,” kata Bu Carik pelan sambil mengusap air matanya.
Bu Carik sama sekali tidak marah dengan apa yang Munding baru saja lakukan, karena dia tahu seseorang telah berusaha untuk membohongi Munding dan membuat Munding berpikir kalau Jumali berusaha mencelakakan Bapaknya.
Dan Bu Carik tahu kalau itu adalah sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Setelah pengorbanan yang Wage berikan untuk Jumali. Wage mengorbankan kekasihnya demi sahabatnya.
\=\=\=\=\=
Munding berlari di sela-sela kebun yang ada di antara rumah-rumah warga kampung Sukorejo. Perasaan bersalah terus menghantuinya setelah apa yang dia lakukan kepada Bu Carik barusan.
Perasaan bersalah kepada Bapaknya, Wage.
Munding mencoba menepis rasa yang muncul di dadanya itu dan memutuskan menuju rumah Ayu. Dia ingin memperoleh kepastian dan jawaban dari semua pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.
Siapa sebenarnya yang membunuh Bapaknya?
Setelah dia berinteraksi dengan Asma dan Bu Carik, Munding tahu kalau sosok Jumali bukanlah sosok yang digambarkan oleh Ayu saat mereka bertemu dulu. Jumali tidak terlihat seperti seorang penjahat licik yang bersekongkol dan menyuruh Sutinah untuk menikahi Wage.
Dia terlihat sebagai seorang ayah yang baik bagi Asma dan suami yang setia untuk Bu Carik.
Apalagi setelah Munding mendengar dari Joko kalau Ayu adalah istri ketiga Karto Sentono, si Kepala Desa. Munding jadi semakin curiga dengan semua cerita yang Ayu katakan pada dirinya dan Nurul waktu itu.
Satu-satunya jalan bagi Munding adalah dia harus mendatangi rumah Ayu dan menemukan kejelasan tentang semua ini. Apalagi menurut Joko, Jumali disekap orang suruhan Karto di rumah Ayu. Jadi dia bisa melakukan konfirmasi langsung dengan Jumali jika diperlukan.
Orang-orang Karto? Mereka tidak pernah masuk ke dalam hitungan Munding.
\=\=\=\=\=
Munding berdiri di depan sebuah rumah bertingkat dua yang lumayan besar. Sekeliling rumahnya dipagar dengan tembok dan pecahan botol kaca terlihat ditata di ujung temboknya. Mungkin untuk menghindari ‘tamu-tamu’ usil yang suka memanjat tembok dan berkunjung kesana.
__ADS_1
Munding juga melihat sebuah mobil city car warna merah yang pernah dipakai Ayu waktu mencarinya ke Sukolilo dulu. Selain mobil merah itu, Munding juga melihat ada dua buah mobil double cabin dan sebuah mobil MPV keluaran terbaru. Total ada 4 mobil di pekarangan rumah Ayu.
Sebelum ini, Munding menanyakan posisi rumah Ayu kepada Asma saat mengantarnya pulang ke rumah tadi. Meskipun Asma merengek-rengek untuk ikut ke rumah Ayu, tapi Munding terang-terangan melarangnya. Dia tidak ingin Asma menjadi tambahan beban baginya.
Munding tahu, pasti ada lebih dari 5 orang suruhan Karto yang ada di dalam rumah ini. Tiap mobil berkapasitas minimum 5 orang, tanpa menghitung mobil Ayu, setidaknya ada 15 orang yang mungkin sedang berjaga di dalam rumah kalau melihat jumlah mobil yang ada di parkiran.
Munding melompati pagar dengan mudah dan berjalan ke arah pintu depan. Dia ingin datang dengan terbuka dan mencoba memberi kesempatan Ayu untuk menjelaskan kepada dirinya apa yang sedang terjadi.
Sebuah bell pintu terletak di samping pintu utama. Munding memencetnya dan tak lama kemudian seraut wajah manis terlihat berdiri di belakang pintu dengan hanya mengenakan daster yang terlihat minim sekali.
Ayu.
Ayu terlihat kaget ketika melihat adek kandungnya, Munding, berdiri di depan pintu rumahnya. Mungkin dia tidak menyangka sama sekali kalau Munding akan datang selarut ini. Dia mencoba tersenyum manis kemudian mempersilahkan Munding masuk.
Munding ingin melangkahkan kaki ke dalam rumah Ayu tetapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu di dalam dadanya mengingatkan akan adanya bahaya yang mengancam jiwanya di dalam rumah Ayu.
Munding terlihat agak ragu sebentar.
“Nggak pa-pa. Bisa nggak kita diluar saja?” tanya Munding ke arah Ayu.
“Nggak enak kalau dilihat orang. Masuk aja lah, kita ngobrol di dalam,” ajak Ayu sambil tersenyum manis ke arah Munding.
Munding pun menekan rasa kuatir di dadanya dan melangkah masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Ayu melirik sebentar kearah amplop yang terbungkus plastik di tangan Munding.
“Itu apa Dek?” tanya Ayu.
“Aku dapat ini dari rumah Jumali, keliatannya ini sertifikat sawah Bapak yang dipegang dia,” jawab Munding pelan.
Mata Ayu terlihat bersinar saat mendengar kata-kata Munding. Dia pun berdiri dan berjalan mendekati Munding, kemudian Ayu memeluk Munding yang masih berdiri di dekat pintu utama.
Munding terlihat kebingungan dengan tingkah Ayu.
__ADS_1
“Makasih ya Dek,” bisik Ayu pelan di telinga Munding.
Deg.
Dan tiba-tiba saja, Munding merasakan ancaman bahaya yang jauh lebih hebat daripada tadi. Bahaya yang bahkan bisa mengancam nyawanya. Secepat kilat Munding melepaskan diri dari pelukan Ayu, tapi dia masih terlambat sepersekian detik.
Sebuah pisau sudah menancap di perut Munding.
Pisau kecil yang ditancapkan oleh Ayu saat memeluk Munding tadi.
Munding tahu kalau dia dapat menghindari tusukan pisau itu untuk mengenai organ vital karena refleknya dalam sekejap mata tadi. Tapi tetap saja darah mulai mengalir deras dari luka tusukan pisau itu.
Munding tersenyum pahit. Dia tidak butuh penjelasan apa-apa lagi. Tusukan ini telah membuatnya tersadar bahwa Ayu bukan lagi kakak kandungnya. Dari naluri yang dia rasakan tadi, tusukan Ayu jelas ditujukan untuk menghabisi nyawanya.
Ayu tersenyum, “terimakasih banyak Dek. Sebenarnya kami sudah tiga hari ini sakit kepala. Si Jumali itu sungguh keras kepala. Demi sahabatnya si Wage, dia bahkan rela untuk disiksa dengan keji selama tiga hari berturut-turut tapi tetap tidak mau membuka mulutnya.”
“Kamu tahu nggak Dek? Tadi sore itu, Jumali kehilangan nyawanya dan dia tersenyum lega saat ajalnya menjemput. Mungkin dia senang akhirnya dia terlepas dari siksaan kami? Ataukah dia lega karena sampai ajalnya dia tetap tidak mengkhianati Wage?”
“Tapi aku yakin, kalau Jumali tahu rahasia yang dibawanya sampai mati ternyata justru diantar sendiri kesini oleh anaknya Wage. Mungkin dia akan jadi hantu gentayangan karena nggak terima.”
“Hahahahahahahahahahaha.”
Tawa Ayu memenuhi seisi ruang tamu rumahnya. Munding merasakan kalau darah masih terus mengalir dari luka yang ada di perutnya. Pisau kecil itu juga masih menancap di sana. Munding mengedarkan pandangannya ke sekeliling isi rumah ini.
Dia tahu kalau Ayu pasti tidak sendirian.
Dan sesuai dugaan Munding. Karto keluar dari sebuah ruangan di samping ruang tamu dengan diiringi 5 orang berwajah sangar bersamanya. Preman-preman desa Sukorejo yang sudah dari dulu menjadi tangan kanan Karto.
Munding melirik ke dalam kamar yang barusan terbuka itu dan dia melihat sesosok tubuh bersimbah darah dan terikat di kursi. Seluruh tubuhnya penuh luka sayatan dan bekas luka siksaan lainnya. Hanya satu nama terlintas di kepala Munding.
Jumali.
__ADS_1