
“Demi gadis-gadis manis yang menunggu kita di SMA Harapan Bangsa!!!!” kata Wowo sambil mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke atas.
“Warrr!!!!!!!” jawab pentolan dari masing-masing kelas yang duduk di depan Wowo dari tadi.
Dengan cepat kopral-kopral di bawah Wowo tadi langsung menyiapkan pasukannya untuk perang suci mereka besok. Wowo juga langsung mengirimkan pesan whatsapp ke semua ketua geng yang ada di sekitaran Harsa dan Sriwijaya untuk memberitahukan niatnya.
“Besok ane mau nyerang Harsa, kalau kalian mau liat, silahkan. Kalau kalian rese, kami libas juga kalian!!” kata Wowo melalui pesan whatsapp ke grup whatsapp KPK, Konsolidasi Para Ketua. Sebuah grup whatsapp yang dibentuk oleh entah siapa dan hanya beranggotakan ketua-ketua geng di sekitaran wilayah mereka.
A Long yang membaca pesan grup dari Wowo cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Lebih cepat dari yang A Long bayangkan.
Tim Sriwijaya sudah bergerak dan memberitahukan niat mereka untuk menyerang Harsa. Bahkan kali ini serangan itu akan dipimpin oleh Wowo Gundul, komandan perang mereka langsung.
Itu artinya, Sriwijaya akan menyerang dengan kekuatan penuh tanpa menahan diri.
SMK Sriwijaya memang bisa dibilang sekolah kecil. Setiap angkatan hanya terdiri dari 3 kelas, sekalipun jika ditotal jumlah siswa dari kelas satu sampai kelas tiga, mereka hanya akan berjumlah 9 kelas.
Bandingkan dengan SMA Harapan Bangsa, satu angkatan terdiri dari 10 kelas, dikalikan tiga untuk tiap angkatan, jumlahnya menjadi 30 kelas, lebih dari tiga kali lipat siswa di Sriwijaya.
Tapi Sriwijaya mempunyai satu kelebihan dibandingkan sekolah lain, mereka punya sistem pendadaran yang jelas. Senioritas dan kekompakan dijunjung tinggi. Sekalipun seseorang lebih jago berkelahi dibandingkan kakak kelasnya, dia tetap harus hormat dan menuruti perintah seniornya, seperti itulah kira-kira kondisi anak-anak SMK Sriwijaya.
Mungkin dari segi fisik atau kemampuan berkelahi, si Wowo Gundul bisa dibilang bukan siapa-siapa, orangnya kerempeng, sekali pukul juga pasti tumbang, tapi di belakangnya berdiri siswa-siswa Sriwijaya sejumlah 9 kelas itu, yang selalu merana karena kejombloan mereka dan ingin melampiaskan birahinya dengan berkelahi.
Itulah yang membuat sekolah dan geng lainnya bergidik ngeri.
__ADS_1
A Long menggunakan otaknya, yang selalu digunakan untuk berpikir bagaimana caranya mencari uang itu, untuk memikirkan solusi dari masalah ini. Dia tidak ingin Harsa menjadi sasaran penjarahan anjing-anjing liar dari Sriwijaya yang dikomandani oleh Wowo.
“Nggak bisa gitu dong Wo!” protes A Long dalam grup membalas pengumuman dari Wowo Gundul beberapa menit setelah Wowo mengumumkan niatnya mengibarkan bendera tawuran dengan SMA Harapan Bangsa.
“Apanya yang nggak bisa Long? Ente bukan pemimpin Harsa kan? Ente belum pernah ngalahin si Bram. Sekarang mana si anak baru yang ngalahin Bram tadi siang?” tanya Wowo.
“Justru itu Wo, lu harusnya ngerti aturan. Pemimpin kami aja belum masuk ke grup ini, itu artinya dia tak tahu kalau lu mau nyerang Harsa kan? Lu mau maen belakang Wo? Dah ganti selera lu?” cerca A Long sambil tersenyum, “dasar jomblo ngenes, mana bisa lu adu argumen sama gue,” batin A Long dalam hati.
“Bangsat!! Ente kalau ngomong dijaga Long!! Ane lelaki normal, belum pindah haluan yang enggak-enggak. Enak aja ente ngatain ane maen belakang, ane nggak suka lubang pantat, ane sukanya yang lubang depan,” balas si Wowo dengan emoticon penuh amarah di setiap akhir pesan chatnya.
“Makanya Wo, kasih waktu buat pemimpin baru kami untuk ngerti dulu aturan maen kita, jangan asal nyosor aja lu! Segitu ngenesnya ya jomblo lu?” tembak A Long to the point.
Kepala si Wowo terasa pecah membaca pertanyaan terakhir A Long yang sangat menusuk hatinya, “ente jual ane beli. Ayo kita duel!! Silakan tentukan tempat dan tanggal maennya. Ane samperin. Dasar cina brengsek, seenak-enaknya ngatain orang jomblo ngenes!!” balas si Wowo, untung ada salah satu kopralnya yang segera menangkap tangan Wowo dan merebut hpnya, kalau tidak, sudah dilempar sama si Wowo ke dinding.
\=\=\=\=\=
Ambar terlihat berdiri di dalam ruangan dengan meja ukir kayu jati di depannya. Dia baru saja memberikan laporan harian sejak Munding memasuki sekolahnya selama 2 hari pertama ini.
Di hari pertama, Munding membuat sensasi dan menjadi terkenal ke seluruh SMA Harapan Bangsa, sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan tugasnya menjadi seorang pelindung bagi Amel. Seorang bodyguard yang seharusnya low profile.
Di hari kedua, Munding berhasil mengalahkan pemimpin SMA Harapan Bangsa yang bernama Bram MinMaks dalam sebuah duel. Meskipun menurut banyak saksi mata, termasuk informan Ambar sendiri, menilai kalau Munding menang karena kebetulan saja.
Tapi fakta tetap fakta dan Munding telah mengalahkan Bram. Jadi sekarang Munding menjadi raja baru di SMA Harapan Bangsa.
__ADS_1
Ambar juga menyampaikan beberapa laporan dari pergerakan geng-geng lain sehubungan dengan pergantian kekuasaan di Harsa dan semuanya diluar sepengetahuan Munding. Munding juga terlihat sangat rileks dan sama sekali tidak mengindahkan pergerakan geng-geng lain itu.
Saat Ambar terdiam dan menunggu istruksi dari Jenderal Broto, atasannya, justru Umar yang berdiri di belakang Broto membuka suaranya, “Ambar, kamu punya footage perkelahian Munding kemarin?”
“Ada, Pak Umar,” kata Ambar sambil mengeluarkan smartphonenya dan memutar video duel Munding dan Bram.
Broto juga sedikit tertarik dan ikut melihatnya bersama Umar. Kurang dari lima menit kemudian video itu berakhir.
“Kok seperti itu sih? Harusnya Munding bisa menghabisi anak ini dalam hitungan detik kan?” tanya Broto ke arah Umar.
Umar terlihat sedang memikirkan sesuatu, kemudian dia memutar kembali video itu dan tangannya bergerak cepat saat melihat adegan Bram memukul kepalanya sendiri. Umar kemudian memutar mundur video itu dan setelah itu dia tersenyum karena menemukan jawabannya.
“Hahahahahahahahahaha,” tawa Umar memenuhi seisi ruangan, “bocah kampret itu menggunakan musuhnya sebagai sparing partner. Dia sengaja tidak memasuki mode tarung dan ingin menikmati pertarungan dalam kondisi biasa. Liat ini!” lanjut Umar sambil menunjukkan bagian video yang dia pause sebelum Bram memukul kepalanya sendiri.
Broto pun mendekat dan melihat smartphone yang dipegang oleh Umar. Ambar juga sebenarnya penasaran, komen dari expert seperti Umar tentu sangat berharga bagi seorang pebeladiri seperti dirinya. Lagian itu kan smartphone Ambar, protes Ambar dalam hati.
Broto mengulangi video itu selama beberapa kali sebelum akhirnya dia menyadari sedikit perubahan ekspresi di wajah Bram. Bram yang awalnya apathis sempat menunjukkan rasa ketakutan kepada Munding.
Tapi Munding sama sekali tidak menggunakan intent atau memasuki mode tarung. Apa yang menyebabkan Bram sebegitu takutnya?
Saat itu baik Broto dan Umar sangat berharap mereka ada di lokasi kejadian untuk mengalami sendiri kondisi yang dirasakan oleh Bram saat itu. Mereka berdua adalah petarung yang selalu berusaha untuk menaikkan kemampuannya dengan jalan menempa diri sendiri tanpa pernah mengenal kata berhenti.
Sekecil apapun pengalaman untuk bisa menambah kemampuan mereka akan menjadi sangat berharga.
__ADS_1