Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 82 - Tim Kelelawar


__ADS_3

“Ceroboh.”


“Sama sekali tidak menggunakan teknik.”


“Gerakannya lambat.”


“Serangannya tidak disertai strength maupun power.”


“Tidak ada kecepatan.”


“Tidak ada akurasi.”


“Tidak ada kewaspadaan terhadap musuh lain di sekitarnya.”


Kata-kata seorang laki-laki tua yang sedang menyaksikan perkelahian satu orang pemuda melawan 10 orang musuhnya di halaman sebuah sekolah itu terdengar memenuhi seisi ruangan. Di depannya ada beberapa orang yang berpakaian seragam taktis suatu kesatuan dan mencermati perkelahian itu dengan seksama.


Munding tidak tahu kalau perkelahian isengnya dengan anak-anak SMK Sriwijaya akan menjadi bahan diskusi serius oleh sebuah tim elite dari kesatuan profesional seperti mereka. Ketidaktahuan yang justru menguntungkan Munding karena musuhnya yang masih tersembunyi dalam gelap ini sama sekali tidak menganggap Munding sebagai sebuah ancaman yang serius.


Laki-laki tua yang berdiri di depan itu kemudian berjalan menuju ke saklar lampu dan menyalakannya setelah video footage perkelahian Munding tadi selesai diputar. Seisi ruangan terlihat terang benderang dan sekarang isinya bisa terlihat jelas.


Ada lebih dari 10 orang campuran antara pria dan wanita dengan menggunakan seragam taktis hitam-hitam lengkap dengan baff-nya yang menutupi separuh muka mereka.


Di sudut ruangan, dekat dengan pintu ruangan ini, ada seorang laki-laki berpenampilan rapi dengan kemeja dan sebuah tanda pengenal tergantung di lehernya. Laki-laki tua yang berdiri di depan ruangan tadi dan barusan mengomentari perkelahian Munding melirik ke arah laki-laki berpenampilan perlente itu beberapa saat.


Kemudian dia kembali mengarahkan pandangannya kepada orang-orang berpakaian taktis yang duduk di depannya seperti sekelompok murid dalam ruangan kelas yang sedang menunggu seorang guru memulai pelajarannya.

__ADS_1


Mereka berdua adalah si Perlente dan sang Guru.


“Sebenarnya kami ingin menggunakan bocah SMA tadi untuk uji coba kemampuan kalian."


"Tim elite yang kami beri nama Kelelawar. Tim yang kami bentuk untuk menjadi senjata rahasia kesatuan kita,” kata-kata si Perlente terdengar memecah keheningan ruangan ini dari sudut tempat dia duduk di kursinya.


“Tapi setelah melihat footage perkelahian tadi, kami tahu bocah itu tidak akan menjadi lawan yang susah bagi misi pertama kalian.”


“Kalian semua baru saja menyelesaikan training intensive kalian bersama Guru selama satu tahun di tengah hutan. Saya yakin kalian sekarang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan ingin melihat hasil latihan kalian dibandingkan dengan dunia luar kan?” tanya si Perlente dengan senyuman tersungging di bibirnya.


“Siap,” jawab 12 orang yang duduk di hadapan sang Guru yang masih berdiri di depan ruangan.


Si Perlente kemudian membagikan fotokopi dokumen ke mereka, “kalian punya waktu 10 menit untuk membaca ini, kemudian aku akan melanjutkan untuk memberikan briefing untuk misi pertama kita.”


Ke 12 orang itu kemudian dengan disiplin membaca dokumen yang barusan diberikan kepada mereka. Isi dokumen tersebut berupa pengenalan tentang keluarga Broto Suseno, anggota keluarganya, biodata masing-masing anggota keluarganya dan yang terakhir tentang Munding yang dicurigai menjadi bodyguard pribadi Amelia Suseno.


“Waktu habis, kembalikan dokumen tadi,” kata si Perlente.


“Misi pertama kita adalah menciptakan chaos antara militer dengan gangster terkuat di Semarang,” kata si Perlente dengan pelan setelah berdiri di depan ruangan dan berada disamping sang Guru.


“Saat ini, militer terlihat diam saja, tapi kami mendapatkan informasi bahwa beberapa pejabat tinggi mereka di Kodam sudah mulai gerah untuk ikut campur urusan yang menjadi wilayah tanggung jawab kesatuan kita.”


“Tidak ada yang salah dengan itu. Karena itu, kita akan membantu mereka untuk lebih intens lagi dalam usaha mereka untuk membantu kita mengatasi penyakit masyarakat.”


“Karena itu, kita akan menciptakan chaos antara militer, dalam hal ini, Broto Suseno dengan A Xiong, ketua gangster Long Jundui.”

__ADS_1


“Dari segi kekuatan personnel, jelas militer tidak memiliki tandingan, baik bagi gangster itu dan bahkan termasuk kita sekalipun. Kalau kita head to head dengan mereka, kita pasti akan kalah dari segi manpower.”


“Tapi kita punya Guru,” tiba-tiba salah seorang laki-laki yang duduk di depan si Perlente dan sang Guru memprotes kata-kata si Perlente.


Hahahahahahahahahaha.


Sang Guru dengan tenang mengedarkan pandangannya ke seluruh murid yang dia didik selama setahun terakhir ini di tengah hutan yang jauh dari hiruk pikuk kota. Terus terang dia sangat puas dengan performa mereka, dari 15 orang yang pertama kali mengikuti program training khusus mereka, kini hanya tersisa 12 orang saja.


Empat dari dua belas orang diantaranya berhasil menjadi serigala petarung tahap awakening, sisanya yang 8 orang gagal untuk menemukan sisi buas dalam diri mereka saat melakukan awakening.


Sedangkan tiga orang lainnya mengalami nasib naas, mereka mengalami ‘berserk’ saat awakening dan membuat kesadaran dirinya ditelan oleh sisi buasnya. Dan tentu saja sang Guru telah mengeksekusi mereka bertiga.


Dari kedua belas orang yang sukses menyelesaikan training khusus ini, 8 orang adalah laki-laki dan sisanya adalah wanita. Ada tiga orang laki-laki dan satu orang wanita yang berhasil menjadi serigala petarung tahap awakening.


Di mata kedua belas orang ini, Guru mereka adalah manusia terkuat yang mereka tahu. Keempat rekan terbaik mereka yang berhasil melewati tahap awakening pernah menyerang Guru mereka secara bersamaan tapi mereka berempat dapat dikalahkan dengan mudah.


Saat itu bahkan sang Guru berkata sambil tersenyum, “sekalipun kalian semua, 12 orang, menyerangku bersamaan, belum tentu kalian bisa mengalahkanku.”


Karena itulah, sang Guru menjadi sebuah sosok tak terkalahkan di mata ke 12 orang yang dilatihnya ini.


Sang Guru tersenyum setelah melihat tatapan mata penuh dengan rasa hormat yang dia dapat dari murid-murid didikannya, dia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka suaranya, “yang dikatakan Komandan kalian benar. Militer punya personnel yang jauh lebih kuat daripada kita. Termasuk untuk orang-orang seperti kita.”


Seluruh ruangan terdiam.


“Sebagai contoh gampang, Broto Suseno memiliki seorang bodyguard pribadi yang levelnya sama denganku. Itu artinya, jika kalian ingin menyerang atau melukai seorang Jenderal seperti Broto Suseno, sama artinya kalian harus mengalahkanku terlebih dahulu sebelum kalian bisa melakukan itu.”

__ADS_1


Murid-murid didikan sang Guru menarik napas dalam ketika membayangkan itu.


“Belum lagi kalau kita hitung bahwa Broto Suseno sendiri adalah serigala petarung tahap awakening seperti kalian berempat,” kata sang Guru sambil menunjuk ke empat orang yang duduk paling depan, “mustahil bagi kita untuk bisa mencelakai Broto secara langsung.”


__ADS_2