Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 114 - Niat Busuk


__ADS_3

Di sebuah rumah yang terletak tidak begitu jauh dari rumah Broto Suseno, seorang laki-laki tua dan seorang perempuan muda sedang berdiri di depan seorang laki-laki yang terikat di kursi dan darah terlihat melumuri seluruh tubuhnya.


Di belakang laki-laki yang terikat di kursi tersebut, seorang wanita yang mengenakan jilbab dan seorang anak gadis usia SMP duduk di atas sofa dalam posisi tangan dan kaki terikat ke belakang dan mulut yang ditutupi oleh kain yang diikat ke belakang kepala mereka.


Tubuh wanita dan gadis kecil itu saling bersender satu sama lain, seolah-olah mereka ingin saling memeluk. Tubuh mereka berdua juga terguncang-guncang karena isak tangis yang mengiringi air mata yang turun ke wajah mereka.


Mereka berdua adalah istri dan anak Yusuf Budi Setia.


Laki-laki yang sedang terikat di atas kursi dari kayu yang kelihatannya diambil dari meja makan adalah Yusuf sendiri.


Yusuf melihat ke arah kedua orang yang berdiri di depannya dengan pandangan masih tak percaya, meskipun dia baru saja merasakan sakitnya goresan pisau yang dilakukan oleh si wanita itu di kulitnya.


Setelah melakukan briefing tadi, semua anggota Tim Kelelawar bergerak sesuai rencana mereka, Yusuf si Perlente dan sang Guru seperti biasanya akan berpergian dengan mobil yang sama. Tapi ada satu hal yang aneh tadi, si Nomer Empat, satu-satunya wanita yang berhasil melakukan awakening dari Tim Kelelawar, ikut masuk ke dalam mobilnya.


Saat Yusuf menanyakan hal itu kepada sang Guru, sang Guru cuma tersenyum dan detik berikutnya Yusuf sudah kehilangan kesadaran diri. Yusuf kembali tersadar ketika dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Rasa sakit akibat siksaan dari si Nomer Empat.


Yusuf melihat ke sekeliling mereka dan menemukan kalau dirinya sudah berada di rumahnya sendiri dan betapa takut dan terkejutnya Yusuf ketika dia melihat istri dan anaknya yang sangat dia sayangi sudah diikat dan diletakkan di sofa yang terletak di belakang Yusuf.


Yusuf memang laki-laki super brengsek yang serakah dan bisa melakukan segalanya demi uang. Tapi, bagi Yusuf, yang terpenting di dunia ini adalah kedua wanita itu, istrinya dan gadis kecilnya.


Karena itu, sampai detik ini, Yusuf masih menatap tak percaya ke arah Sang Guru dan Si Nomer Empat yang berdiri di depannya.


“Kenapa kalian melakukan ini, apa yang pernah aku perbuat kepada kalian?” tanya Yusuf dengan suara yang bergetar, dia tahu, bagi dua orang di depannya ini, membunuh dirinya akan semudah menginjak semut di lantai.

__ADS_1


Yusuf menoleh ke arah sang Guru, “Yasin, selama ini aku menuruti semua keinginanmu, aku hanya sedikit mencari uang disaat sedang membantu tujuan besarmu, kenapa kalian melakukan ini pada keluargaku?”


Yasin sang Guru menjawab pertanyaan Yusuf dengan sebuah senyuman, “karena tujuanku juga sama sepertimu, aku juga hanya mencari uang, uang sebanyak-banyaknya untuk memulai hidup baruku dengan kekasihku,” kata Yasin sambil memegang jemari tangan Nia si Nomer Empat yang ada di sebelahnya.


Yusuf melihat mereka berdua dengan mata terbelalak karena terkejut, Yasin sang Guru yang meskipun memiliki badan yang tegap dan otot yang masih terlatih tapi memiliki wajah yang tidak bisa menutupi usianya lagi dan rambut yang sudah seluruhnya memutih, memegang tangan Nia yang cantik dan berusia di kepala duanya, bagaikan bunga yang sedang mekar-mekarnya.


Yasin kemudian mencium kening Nia dan melihat ke arah Yusuf, “Yusuf, kamu bukan serigala petarung, jadi kamu tidak tahu pentingnya jati diri dan naluri bagi para petarung seperti kami.”


“Dulu, aku memang bercita-cita besar menciptakan daerah konflik baru di Semarang ini. Dengan begitu, chaos akan terjadi, kecemasan dimana-mana dan akhirnya mereka akan kembali berpaling kepada ajaran-Nya.”


“Tapi, semua itu berubah sejak kita mulai mengeksekusi rencana kita untuk membentuk tim Kelelawar dan aku bertemu Nia.”


“Kamu mungkin tak percaya karena umurku hampir dua kali umur Nia, tapi kami benar-benar saling mencintai.”


“Hahahahahahahahahahaha.” tawa sang Guru pun terdengar nyaring.


“Saat proses awakening itulah, aku menemukan rahasia terbesar, yang bahkan kamu juga tidak mengetahuinya kan?” tanya Sang Guru kepada Yusuf.


“Nia adalah mata-mata yang ditanam A Xiong di tempatmu.”


“Saat itulah dia menceritakan semua rahasianya dengan jujur kepadaku, tentang masa kecilnya, tentang jatidirinya, tentang semuanya. Dan dari situlah hubungan kami berawal.”


“Ketika hubungan kami mulai serius, aku sudah tidak ingin lagi melanjutkan rencana awalku. Aku mengubur dalam-dalam cita-cita besarku kemudian berencana menggantinya.”

__ADS_1


“Dengan bantuan Nia, kami berdua merencanakan semua kekacauan ini hanya demi mendapatkan uang sebanyak-banyaknya kemudian kami akan memulai hidup baru kami berdua. Meninggalkan semua tatanan masyarakat bobrok ini dan menikmati kebahagiaan kami.”


“Semua rencana penculikan Amel yang melibatkan A Xiong ini merupakan ide dari Nia. Aku hanya menyampaikannya saja kepadamu.”


“Sampai saat ini pun, aku sendiri juga masih tidak percaya kalau di usiaku yang seperti ini, aku masih punya kesempatan untuk merasakan jatuh cinta.”


“Hahahahahahahahahaha.”


“Sekarang saatnya mengambil tabungan kami selama ini, itu adalah semua uangmu yang telah kamu kumpulkan selama ini, baik dari cara yang benar maupun dari hasilmu melakukan kejahatan.”


“Setelah itu, kami akan mengambil bunganya dari Broto Suseno dengan tebusan untuk si Amel. Setelah semua ini berakhir, kami akan punya cukup uang untuk hidup sampai akhir hayat kami.”


Yusuf terdiam mendengar ceramah sang Guru. Ternyata selama ini, orang yang selalu ditakutinya dan dianggapnya selalu hidup sesuai dengan prinsipnya tidak lebih mulia daripada dirinya sendiri. Semua rasa hormat dan takut yang dimilikinya untuk sang Guru pun raib dengan sendirinya.


“Setidaknya aku tak pernah malu mengakui kalau aku adalah ********, tidak sepertimu yang selama ini berpura-pura menjadi manusia suci dengan tujuan muliamu yang ternyata hanya kedok untuk niat busukmu,” geram Yusuf ke arah Yasin sang Guru.


“Terserah kau mau bilang apa, yang penting, kau harus mentransfer semua uangmu ke dalam rekening ini,” kata Nia sambil menyerahkan sebuah kertas berisi nomor dan nama pemilik rekening sebuah Bank di luar negeri, tentu saja dilengkapi dengan SWIFT codenya.


Yusuf hanya menatap kertas itu tanpa berniat sama sekali untuk memungutnya. Karena dia tidak bisa, kan kedua tangannya masih diikat di kursi.


Nia kemudian melepas ikatan di tangan Yusuf dan menyerahkan handphone Yusuf ke dia. Sama seperti sebelumnya, Yusuf hanya melihat ke arah handphone dan kertas yang tergeletak di atas meja itu.


Ketika melihat Yusuf masih belum bergerak juga, Nia kemudian berjalan ke arah sofa di belakang Yusuf. Yusuf dengan panik memutar tubuhnya dan ketika dia melihat Nia menjambak hingga lepas jilbab yang dipakai istri Yusuf, Yusuf tak kuat lagi untuk mempertahankan pendiriannya.

__ADS_1


“Hentikan!!!” teriak Yusuf sambil melihat ke arah istrinya yang masih dijambak oleh Nia.


Yusuf adalah laki-laki serakah, dia suka berbuat maksiat dan dia gila uang, tapi tidak ada yang mengalahkan rasa sayangnya kepada anak dan istrinya. Ketika dia melihat istrinya dipelakukan seperti tadi, benteng pertahanan terakhirnya pun jebol.


__ADS_2