Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 69 - Break the Limit


__ADS_3

“Munding,” panggil Pak Yai malam itu, malam kesekian kali mereka bertukar pikiran dan pengalaman antara seorang Guru dan Murid juga antara seorang Mertua dan Menantu.


“Nggih Pak,” jawab Munding yang duduk bersila di depan Pak Yai.


“Menurutmu, apakah inisiasi adalah titik terakhir perjalanan seorang petarung?” tanya Pak Yai ke arah Munding membuka topik diskusi malam itu.


Munding terlihat berpikir sebentar, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya, “bukan Pak.”


“Darimana kamu tahu?” tanya Pak Yai sedikit penasaran ketika mendengar jawaban Munding.


“Meskipun Munding sekarang sudah terinisiasi, Munding selalu merasa kalau Munding sama sekali bukan lawan Bapak. Dulu, waktu Munding pertama kali belajar silat sama Bapak, Munding pikir Bapak seperti orang tua kebanyakan dan tidak ada bedanya dengan orang tua lain.”


“Tapi saat ini, Munding tahu kalau Munding yang sekarang tidak akan bisa mengalahkan Bapak,” jawab Munding pelan, “kalau memang inisiasi adalah titik terakhir dari perjalanan seorang petarung, seharusnya Munding sudah mencapai puncaknya.”


“Dan tentunya Munding tidak akan merasa selemah ini di depan Bapak,” lanjut Munding setelah menarik napas panjang.


Hahahahahahahahahahahaha.


Terdengar tawa Pak Yai memenuhi teras depan rumah malam itu. Tawa seorang Bapak yang senang ketika anaknya mendapatkan nilai bagus saat ujian di sekolah atau saat anaknya berhasil melakukan sesuatu yang membanggakan dirinya.


“Bapak ini kok ketawanya keras bener sih?” terdengar suara Bu Nyai menegur suaminya dari dalam rumah.


Tawa Pak Yai pun kemudian berubah menjadi tawa kecil, tapi raut muka bangga masih jelas terlihat di wajahnya. Bangga kepada anak menantunya yang sekarang duduk di depannya ini.


“Setelah inisiasi, tahapan selanjutnya disebut ‘manifestasi’. Tapi Bapak tidak akan membahas itu. Kenapa? Karena Bapak sendiri belum berhasil masuk ke sana. Bapak cuma berada di ambang pintunya sampai saat ini,” kata Pak Yai pelan supaya Munding menangkap kata-katanya.


“Yang ingin Bapak tekankan kepadamu malam ini, meskipun kamu sudah terinisiasi, tapi rentang tahapan yang disebut ‘inisiasi’ itu sangat panjang dan luas. Ada petarung yang baru saja terinisiasi sepertimu atau seorang petarung tua yang hampir mendekati tahapan selanjutnya seperti Bapak,” lanjut Pak Yai.

__ADS_1


“Sekarang Bapak ingin menyampaikan hal terpenting yang perlu kamu pahami. Untuk seorang petarung terinisiasi seperti kita, meningkatkan kemampuan dan kekuatan sangatlah sulit. Ingat, kemampuan kita sudah bisa dianggap diatas manusia normal.”


“Sangat mudah bagi kita untuk mengalahkan dan menghabisi mereka. Selain itu, dalam sistem masyarakat sekarang ini, semua masalah diselesaikan dengan norma dan aturan yang berlaku, baik norma hukum maupun norma yang lain.”


“Kesempatan kita untuk bertarung, untuk mengasah dan untuk meningkatkan kemampuan kita sangat terbatas. Bagaimana lagi agar kita bisa meningkatkan kemampuan kita?”


“Karena itulah banyak petarung akan tertahan dalam tahap awakening atau inisiasi seumur hidupnya, tanpa mengalami kemajuan. Tak lebih dan tak kurang karena eksistensi mereka memang sudah tidak sejalan dengan kemajuan jaman yang ada sekarang ini,” Pak Yai menarik napas panjang dan pandangan matanya terlihat menerawang ke arah sawah di belakang mushola, yang pastinya tidak akan terlihat dalam gelapnya malam.


“Tapi Bapak kok bisa sampai ke tahap yang sekarang?” tanya Munding yang lebih mirip protes kepada Pak Yai daripada sebuah pertanyaan.


“Justru karena itu Bapak sekarang akan memberitahumu cara untuk meningkatkan kemampuanmu sebagai petarung terinisiasi,” jawab Pak Yai sambil tersenyum.


Munding memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama. Ini penting baginya jika dia ingin meningkatkan kemampuannya. Bukan karena Munding ingin menjadi superhuman atau hero yang ingin menyelamatkan sesama, tetapi semata-mata karena Munding ingin punya kemampuan untuk melindungi keluarga kecilnya kelak.


Tak lebih dan tak kurang.


“Cara pertama, bertarung dalam duel hidup dan mati dengan serigala petarung terinisiasi lainnya. Ini cara tercepat dan terampuh untuk bisa meningkatkan kemampuan seorang petarung. Tapi cara ini punya dua kelemahan fatal.”


“Kelemahan pertama, resiko sangat tinggi. Ingat, ini duel hidup dan mati dan terkadang menang atau kalah hanya ditentukan dalam sepersekian detik saja dalam mode tarung.”


“Kelemahan kedua, serigala petarung bukan kerikil di pinggir jalan atau rumput di pematang sawah. Tidak semudah itu untuk menemukan mereka, apalagi serigala petarung yang bersedia untuk berduel hidup dan mati denganmu tanpa alasan yang kuat. Bisa dibilang hampir mustahil.” lanjut Pak Yai.


“Kecuali kalau kamu berada dalam area konflik dan berada di tengah-tengah peperangan antara dua gerombolan serigala petarung. Seperti yang Bapak alami dulu di Ambon.”


Munding menarik napas dalam. Opsi pertama ini keliatannya tidak mungkin baginya. Sekarang tidak ada konflik skala nasional yang terjadi di negeri ini. Dan lagi, dia bukan seekor serigala petarung terafiliasi dalam sebuah gerombolan seperti Bapak Mertuanya.


Tetapi alasan yang paling penting bagi Munding adalah, dia punya Nurul, dia tidak ingin mempertaruhkan selembar nyawanya karena ada seorang istri yang menunggunya di rumah. Munding tidak akan pernah mau terlibat dalam duel hidup dan mati tanpa alasan yang jelas dan membahayakan nyawanya sendiri.

__ADS_1


Pak Yai tertawa ketika melihat wajah Munding, dia tahu apa yang dipikirkan menantunya, “Bapak tahu kalau kamu nggak bakalan mau menggunakan cara pertama. Kamu memikirkan istrimu kan?”


Munding menundukkan kepalanya dan terdiam, “bukannya istriku itu anakmu Pak?” protes Munding dalam hati.


“Cara kedua, kamu mencoba ‘break the limit’ sebagai petarung biasa dengan harapan limitmu sebagai seorang petarung terinisiasi juga akan meningkat seiring perubahan tadi,” kata Pak Yai.


Munding agak kebingungan dengan kata-kata Pak Yai barusan. Dia cuma menangkap sebagian kecil maksud perkataan Pak Yai.


Ketika Pak Yai melihat ekspresi muka Munding yang kebingungan, Pak Yai tertawa.


“Begini, anggap tangan kananku ini adalah batas kemampuanmu sebagai seorang petarung terinisiasi,” kata Pak Yai sambil menggunakan telapak tangan kanannya dan meletakkannya sejajar dengan dada.


“Sekarang, anggap tangan kiriku adalah batas kemampuanmu sebagai petarung biasa tanpa memasuki mode tarung,” kata Pak Yai sambil menggunakan tangan kirinya dan meletakkannya sejajar dengan perut, satu jengkal di bawah tangan kanannya tadi.


“Cara kedua ini maksudnya begini, kamu memaksa untuk bertarung sebagai petarung biasa tanpa memasuki mode tarung dan berusaha untuk ‘break the limit’ sebagai petarung biasa. Sehingga nantinya, batas kemampuanmu sebagai petarung biasa akan meningkat dan tujuan akhirnya juga akan mendorong batas kemampuanmu sebagai seorang petarung terinisiasi,” sambil menerangkan maksudnya, Pak Yai mengangkat tangan kirinya pelan-pelan keatas dan diikuti dengan gerakan tangan kanannya yang juga naik keatas.


Setelah melihat demonstrasi Pak Yai dengan kedua tangannya, Munding akhirnya mengerti cara kedua untuk meningkatkan kemampuannya. Bukankah itu artinya dia harus berusaha bertarung tanpa memasuki mode tarung?


Sesederhana itu kan?


“Kamu pasti berpikir kalau cara kedua ini sederhana dan gampang kan? Jangan salah, meskipun cara kedua ini terdengar lebih mudah dan tidak mempunyai resiko setinggi cara pertama, tapi supaya bisa efektif kamu harus mencari seorang lawan yang benar-benar mampu mengancam keselamatan nyawamu dalam keadaan biasa tanpa memasuki mode tarung.”


“Selain itu, cara ini juga tidak akan se-efektif cara pertama, karena pada dasarnya cara ini sama saja dengan menipu diri sendiri. Jauh di lubuk hatimu yang paling dalam, kamu tahu kalau musuhmu ini sama sekali tidak memberikan ancaman apapun bagimu. Ketika kamu merasa terancam, kamu dapat dengan mudah menghabisinya dengan memasuki mode tarung.”


“Jadi dimana letak tantangan bahayanya? Secara tak sadar, tubuhmu mengetahui hal itu. Proses ‘break the limit’ akan jauh lebih sulit dilakukan,” lanjut Pak Yai, “tapi setidaknya cara ini lebih aman dan sesuai untukmu.”


Munding menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


“Dah sana tidur! Nurul sudah selesai tadarus itu,” kata Pak Yai sambil beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan menantunya yang terlihat sedang berusaha mencerna pelajaran berharga yang barusan dia terima dari Mertuanya.


__ADS_2