
Apakah Bapak punya hubungan khusus dengan Bu Carik? Mereka dulu sepasang kekasih? Tapi kenapa akhirnya justru Jumali yang menikah dengan Bu Carik? Dan kemudian banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala Munding dalam waktu yang sangat singkat. Sampai akhirnya dia tiba-tiba tersadar.
“Aku hampir kehilangan point pentingnya. Apapun hubungan Bapak, Jumali dan Bu Carik, aku tidak pernah tahu tentang hal itu. Jadi darimana aku bisa merasa bersalah untuk sesuatu yang bahkan aku tidak tahu?” tanya Munding dalam hati.
Dan dengan cepat Munding melirik ke arah ‘dia’ yang berdiri diam sambil tetap menatap kearah Munding.
“Naluriku,” gumam Munding dalam hati.
Munding tiba-tiba merasa kalau sekelilingnya yang diselimuti kegelapan ini menjadi sedikit lebih terang. Dia masih tetap mengambang tanpa injakan kaki, ditemani keheningan dan ‘dia’ yang tetap diam.
Kemudian dengan cepat ingatan Munding melayang pada dua kejadian yang membuatnya ragu-ragu dalam bertindak malam ini. Pertama, saat dia akan menolong Asma di tanah lapang dan yang kedua saat dia akan masuk ke rumah Ayu.
Pada saat akan menolong Asma, kepalanya dipenuhi oleh teriakan dan alasan logis yang mengatakan bahwa Asma adalah anak Jumali dan tidak perlu ditolong, sedangkan dia merasakan seluruh tubuhnya ingin bergerak menolong Asma.
Terjadi pertentangan dan keragu-raguan yang sempat membuat Munding bingung tentang apa yang harus dia lakukan.
Dan akhirnya Munding pun memutuskan untuk menolong Asma. Dia dapat merasakan kalau pada saat itu tidak ada sedikitpun rasa menyesal dalam dirinya karena tindakannya tersebut.
Munding tahu kalau itu adalah sesuatu yang seharusnya dia lakukan, sekalipun mungkin dia tidak berhasil menyelamatkan Asma dan terluka dalam prosesnya. Munding yakin kalau dia tidak akan pernah menyesali keputusannya.
Dan saat ini, Munding tahu apa penyebabnya. Karena dia mengikuti panggilan nalurinya.
Munding semakin merasa dekat dengan jawaban yang dia cari, tapi dia masih juga belum bisa menemukan jawabannya. Di dalam kepala Munding seolah-olah ada lapisan tipis yang membatasi dirinya dengan jawaban itu.
Jawaban yang akan membawanya ke proses inisiasi yang dia cari.
Munding kembali berpikir keras, berusaha untuk menemukan kunci dari semua pertanyaan dan keraguan yang ada di dalam dirinya. Munding tahu kenapa ‘Munding’ yang berdiri diam di depannya merasa bersalah, tapi ada satu lagi emosi yang Munding rasakan dari ‘Munding’ selain rasa bersalah.
Kesedihan.
Emosi yang jauh lebih kuat dari rasa bersalah yang ikut memancar dari ‘tubuhnya’. Kenapa kau bersedih? tanya Munding dalam hati sambil terus berpikir keras.
“Bukankah aku sudah menerimamu sebagai bagian dari diriku?” tanya Munding.
‘Munding’ hanya terdiam.
“Tolong beritahu aku kenapa kau bersedih?” Munding tetap memaksa untuk bertanya.
__ADS_1
“Lupakah dirimu? Kenapa kamu menggunakan kepalamu untuk sesuatu yang berhubungan dengan perasaan? Apa yang kamu rasakan tentang keberadaanku?” jawab ‘Munding’.
Munding tiba-tiba tersadar. Dia lupa apa yang diajarkan Pak Yai saat awakening dulu. Nasihat yang sangat jelas dan dia ingat sampai saat ini.
Don’t think, feel!!
Munding menutup matanya dan dia mencoba mengetahui apa yang dia rasakan terhadap ‘Munding’. Naluri predatornya yang telah dia akui keberadaanya sebagai bagian dari jatidirinya. Bagian yang sudah tidak terpisahkan dari dirinya sendiri.
Deg.
Munding merasakan suatu emosi yang tiba-tiba menjadi sangat jelas ketika dia mencoba merasakannya. Emosi yang menggambarkan apa yang sebenarnya Munding rasakan terhadap naluri predatornya. Dan Munding tahu apa itu.
Rasa takut.
Rasa takut terhadap naluri predatornya sendiri.
Munding merasa takut kalau naluri predatornya akan berusaha untuk menelan kesadaran dirinya, membuatnya tak lebih dari seekor binatang buas yang hanya mengandalkan nalurinya.
Munding merasa takut kalau naluri predatornya akan membuat Munding melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan agama dan keyakinan Munding.
Munding merasa takut kalau naluri predatornya suatu ketika akan membahayakan orang-orang yang dikasihi Munding yang ada di sekitarnya.
Munding terdiam.
“Kamu menerima keberadaanku, tapi kamu takut kepadaku,” lanjut ‘Munding’, “ketakutan yang membuatmu tidak mempercayaiku. Nalurimu sendiri.”
“Ketakutan yang membuatmu selalu ragu-ragu dalam bertindak dan mengambil keputusan.”
“Ketakutan yang menjadi segel yang membatasi dirimu.”
Keheningan kembali hadir di dalam ruangan hampa ini.
“Aku punya orang-orang yang kusayangi dan harus kulindungi. Aku punya agama dan keyakinan yang juga harus kupertahankan. Aku tidak ingin naluriku membuatku kehilangan keduanya,” kata Munding tegas kepada ‘Munding’.
‘Munding’ terdiam.
“Apakah rasa takutmu membuatmu tidak mempercayaiku? Aku bagian dari dirimu. Apa yang penting bagi dirimu, mungkinkah aku akan menghancurkannya?” kata ‘Munding’.
__ADS_1
“Di saat kamu menerimaku sebagai bagian dari dirimu. Aku adalah kamu. Bagaimana mungkin aku mengambil alih tubuhmu dengan menghilangkan kesadaran dirimu. Bukankah itu sama saja aku mengambil alih diriku sendiri?”
“Dari semua yang ada di dunia ini, aku adalah salah satu yang mungkin tidak akan pernah mengkhianatimu apalagi menghancurkanmu. Karena aku adalah kamu. Aku bukan lagi seekor binatang buas yang tidak terkendali. Aku adalah nalurimu yang akan selalu membantumu mempertahankan nyawamu.”
“Masihkah kamu meragukanku? Naluri predatormu?” kata ‘Munding’ sambil mengulurkan tangannya ke arah Munding.
Munding melihat ke arah tangan ‘Munding’ yang terulur.
Inisiasi.
Kata-kata itu muncul di kepala Munding secara tiba-tiba. Seorang serigala petarung harus mengambil nyawa orang lain untuk proses inisiasi. Itu yang dikatakan Pak Yai dan telah beredar secara luas di kalangan serigala petarung.
Tapi apakah benar seperti itu?
Munding tersenyum. Kini dia tahu jawabannya. ‘Awakening’ adalah proses mengetahui dan mengakui keberadaan naluri predator dalam tubuh seekor serigala petarung. Tapi setelah itu, apakah dia selalu bertindak dan mengambil keputusan sesuai nalurinya?
Tidak.
Dan itulah yang Munding lakukan saat memperkosa Bu Carik dan saat dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Ayu meskipun ada sesuatu yang mengingatkannya akan ancaman bahaya di dalam sana.
Munding sekarang sadar bahwa inisiasi sebenarnya adalah suatu proses untuk mempercayai sepenuhnya naluri predator yang ada dalam dirinya. Ketika nalurinya berkata bahwa sesuatu hal adalah salah, maka dia harus menghentikannya.
Ketika nalurinya berkata bahwa tindakan itu benar, meskipun seluruh dunia menentangnya, dia tak akan mundur selangkah pun.
Munding juga tahu kalau nalurinya tidak akan mengkhianati keyakinannya. Karena dia tahu bahwa agama dan keyakinannya juga merupakan bagian dari dirinya. Tanpa itu, dia bukan lagi seorang Munding.
Munding juga akhirnya sadar, bahwa siapapun dan apapun yang penting baginya, itu berarti sama pentingnya untuk nalurinya sendiri. Karena mereka adalah satu. Karena mereka adalah sama.
Dan Munding juga kini tahu bahwa tujuan untuk menghabisi nyawa orang lain dalam inisiasi adalah cara paling ekstrim untuk mempertentangkan logika dan naluri seseorang.
Apalagi ketika seorang petarung dihadapkan pada pilihan untuk menghabisi nyawa orang lain yang sama sekali tidak dia kenal. Haruskah dia mengikuti logikanya? Ataukah dia mengikuti nalurinya?
Semua itu adalah proses menuju inisiasi. Proses dimana seorang serigala harus memilih untuk mempercayai naluri predatornya sendiri atau tidak.
Munding tersenyum dan meraih tangan ‘Munding’ yang terulur di depannya.
Dan saat itu juga Munding tersadar, naluri, keyakinan, pengalaman hidup, orang-orang terdekatnya dan banyak hal lainnya adalah suatu kesatuan utuh yang membentuk kesadaran dirinya. Yang menentukan jati dirinya. Jati diri seorang Munding.
__ADS_1
Munding sang Serigala Petarung.