
Munding duduk di kursi belakang sebuah mobil. Di kursi depan, duduk si sopir dan Amel yang ada di sebelahnya. Sesekali Amel akan melirik ke spion tengah dan mencuri pandang ke arah bocah kampungan yang duduk di kursi belakang itu.
Di dalam kepala Amel, adegan terakhir duel tadi seperti diulang-ulang.
Bram, siswa paling ditakuti di sekolah dan sekitarnya, melakukan dua kali pukulan dengan tangan kirinya ke arah Munding. Munding membalasnya dengan pukulan tangan kanan, dibarengi dengan tendangan kaki kanan.
Bram menutupi kepalanya dengan tangan kiri dan menahan pukulan Munding sambil melancarkan serangan balasan dengan tangan kanannya ke kepala Munding, anehnya dia seperti tidak melihat kaki Munding dan membiarkannya mengenai kepalanya sendiri dengan telak.
Bram pun pingsan di tanah.
Seluruh siswa kemudian bersorak tak henti-hentinya setelah itu. Amel mengakui saat Munding mengalahkan Bram tadi dan ketika dia menurunkan kaki kanannya pelan-pelan, Munding terlihat keren.
“Ish, bocah kampungan gitu, mana ada kerennya!!” bantah Amel dalam hati, sebuah bantahan untuk dirinya sendiri.
Tapi tanpa sadar, Amel sedari tadi sesekali melirik ke spion tengah dan memperhatikan gerak-gerik si bocah kampungan yang duduk di belakangnya.
Munding tentu sadar dengan ulah si Amel, tapi dia tidak mempedulikannya. Di kepala Munding sekarang cuma ada satu yang dia pikirkan. Bagaimana cara meningkatkan kecepatan dan akurasi gerakannya? Kalau bisa, Munding juga ingin belajar mengelak seperti Bram.
Terus terang, saat Munding mengayunkan pukulan secara berturut-turut tadi dan Bram berhasil menghindarinya dengan sempurna, Munding merasa sedikit iri dengan kemampuan yang dimiliki oleh musuhnya itu.
Dan Munding ingin bisa melakukannya juga.
\=\=\=\=\=
“Yang lu bilang itu beneran?” sebuah suara laki-laki terdengar dari handphone yang dipegang oleh A Long.
__ADS_1
A Long sedang memberitahukan soal duel tadi kepada Papanya. A Long mengambil keputusan ini karena dia merasa kalau efek dari badai yang akan datang terlalu besar untuk dirinya sendiri. Dia ingin mendapatkan perlindungan dari Papanya.
Papanya bernama A Xiong dan secara resminya, A Xiong adalah ketua organisasi kemasyarakatan yang memiliki basis di Pecinan. Sebuah ormas yang bernama Long Jundui. Tapi di balik itu, Long Jundui adalah sebuah kelompok triad atau gangster yang anggotanya mayoritas keturunan Cina dan mempunyai pengaruh kuat dalam dunia bawah di Semarang.
“Iya Pa,” jawab A Long.
Hahhahahahahahahahahaha.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dari A Xiong, “lu tak usah pusing, kalau musuh yang cari lu anak sekolah, lu hadapi dia!! Kalau yang cari lu orang dewasa, bilang ke dia, lu anak gue!” kata A Xiong.
“Siap Pa,” jawab A Long dengan sumringah.
Jelas saja A Long senang sekali, Papanya sudah mewanti-wanti dari jauh hari, jangan pernah sekali-sekali gunakan nama dia untuk kepentingan A Long. Papa mau dia berusaha sendiri dari bawah, karena itu, semua yang sekarang dimiliki Kupu Mas adalah jerih payah A Long sendiri.
Tapi kini, Papa memberikan ijin untuk menggunakan namanya saat sedang berhadapan dengan geng-geng dari luar sekolahnya, meskipun itu cuma terbatas untuk geng yang merupakan bentukan orang dewasa, bukan geng anak sekolahan seperti dirinya. Tapi tetap saja A Long merasa kalau dia sekarang sedang memakai sebuah rompi anti peluru tak kasat mata karenanya.
“Lu orang mau coba-coba main kotor pake tangan orang ha? Sekarang baru kena sekali kalian. Entah siapa yang atur itu anak baru masuk ke sana, tapi gue yakin kalau dia bukan bocah kampung sembarangan,” gumam A Xiong sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya.
\=\=\=\=\=
Berita kekalahan Bram sudah menyebar ke seantero sekolah sore itu. Mulai dari siswa kelas A sampai ke kelas J, dan untuk tiap angkatan, dari kelas satu ke kelas tiga. Beberapa siswa bahkan menerima kiriman video duel yang direkam oleh siswa yang kebetulan hadir di lapangan bola tadi siang.
Seluruh sekolah diliputi oleh euforia yang sedikit aneh. Mereka punya ‘penguasa’ baru sekarang. Penguasa yang entah seperti apa keinginannya. Tapi Sang Raja baru ini juga tidak mempunyai pasukan. Hal itu membuat banyak geng-geng kecil yang ada dalam sekolah ini langsung berniat memberontak sore itu juga.
Seperti yang diprediksi oleh A Long, hasil duel ini juga menyebar ke semua geng yang berdomisili di sekitar SMA ini. Di dalam sekolah ini banyak siswa dan siswi yang tentu saja banyak tersebar ke dalam berbagai kelompok itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Di sebuah ruangan kelas yang terletak di sebuah SMK dengan jarak tak lebih dari 2 km dari SMA Harapan Bangsa tempat Munding bersekolah, seorang bocah berkepala plontos sedang duduk di atas meja dan beberapa anak duduk mengelilinginya.
Mereka terlihat mendengarkan suara si bocah gundul dengan seksama.
“Kita harus manfaatkan kesempatan ini, besok siang, sepulang sekolah, kita serang Harsa!!” kata si Bocah Gundul dengan muka seram dan perawakan kerempeng itu.
Bocah Gundul itu bernama Hernowo Pamungkas, panggilan kerennya Wowo Gundul. Dia sekarang duduk di kelas 3 SMK Sriwijaya. Dan tahun ini, dia adalah komandan tertinggi untuk komando perang di sekolah mereka.
Tidak seperti di Harsa, di Sriwijaya tidak ada geng yang terpisah-pisah. Mereka lebih kompak karena jumlahnya juga lebih sedikit. Cuma ada 3 kelas tiap angkatan. Dan komandan tertinggi selalu dipegang oleh kelas 3.
Jabatan itu juga dipilih setelah dilakukan duel free for all untuk semua kandidat yang menginginkan jabatan komandan dengan masa berlaku setahun tersebut. Dan untuk tahun ini, pemenang duel tersebut adalah Wowo Gundul.
Nanti ketika Wowo Gundul sudah mau lulus, dia akan melakukan proses regenerasi dengan cara yang sama, semua anak kelas 2 yang berminat jadi komandan saat nanti kelas 3, di masukkan ke dalam kamar tertutup dan gelap, setelah itu mereka akan diberikan waktu selama 15 menit dan setelah itu, Wowo Gundul dan anak kelas tiga lainnya akan melihat ke dalam, siapakah yang masih berdiri dan menjadi pemenang duel gila tersebut?
Dan sebagai anak SMK yang hanya dipenuhi oleh siswa-siswa batangan dengan tampilan sesukanya, sudah menjadi impian bagi tiap generasi anak Sriwijaya untuk menaklukkan Harsa, demi tujuan mulia untuk mengakhiri kehidupan mereka sebagai murid SMK yang senantiasa sendirian di malam minggu kelabunya.
Karena itu, ketika Wowo mendengar kalau Bram sudah tumbang dan penggantinya adalah seorang anak baru tanpa pasukan, dengan sigap dia memerintahkan anak buahnya untuk bersiap melakukan perang suci ini.
Dan tanpa ragu, semua perwakilan dari kelas satu, kelas dua dan kelas tiga yang duduk di depannya langsung menyetujui usulan Wowo.
“Demi gadis-gadis manis yang menunggu kita di SMA Harapan Bangsa!!!!” kata Wowo sambil mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke atas.
“Warrr!!!!!!!” jawab pentolan dari masing-masing kelas yang duduk di depan Wowo dari tadi dengan suara keras dan mata berbinar-binar.
__ADS_1
Dasar kumpulan jomblo akut.