
“Makasih Mas,” kata Nurul sambil mencium kening suaminya yang baru saja mengambilkan dia sarapan, “Alit mana?” tanya Nurul kemudian.
“Sama Eyangnya,” jawab Munding, “Dek Nurul mau jalan-jalan?”
Nurul menganggukkan kepalanya, “Dah lama nggak jalan sama Mas Munding,” bisik Nurul pelan.
Munding tersenyum lalu dia mendorong kursi roda istrinya, menyusuri jalan pedesaan yang sepi di pematang sawah desa Sukorejo.
Padi terlihat menguning di samping kiri dan kanan jalan kecil tapi beraspal halus ini. Segerombolan burung Gereja juga terlihat kesana kemari berniat untuk meminta jatah makan mereka dari padi yang mulai menguning itu.
Petani-petani yang rajin dengan giat akan menarik tali yang disambungkan dengan orang-orangan sawah di tengah pematang. Orang-orangan sawah yang akan bergerak mengangguk-angguk dan membuat rombongan burung Gereja itu takut mendekat.
Bunyi riuh juga terdengar dari kaleng-kaleng berisi batu yang digantungkan di sepanjang tali itu, yang akan berbunyi nyaring saat talinya ditarik oleh si Petani Rajin. Sesekali, suara teriakan mengimbangi suara dentang kaleng berisi batu terdengar di kejauhan. Suaranya yang selalu akan disusul oleh bunyi riuh burung Gereja yang terbang ke awan karena kaget akan teriakan sang Petani.
Sebuah simfoni alam pedesaan yang tak akan pernah membuat Munding dan Nurul bosan sampai kapanpun.
Munding dan Nurul sesekali melambaikan tangan kepada petani-petani yang memang saling mengenal itu. Sekali dua, mereka akan menawari Munding untuk ikut sarapan bersama mereka di pagi yang cerah ini. Meskipun mentari masih setengah hati menunjukkan dirinya.
“Kata Mbak Amel, Mas mau pergi ke luar kota lagi?” bisik Nurul perlahan.
“Nggak lama kok Dek, paling dua atau tiga hari,” jawab Munding.
Nurul terlihat sedih, sedari dulu, dia tak pernah ingin suaminya menjadi seseorang yang selalu mempertaruhkan keselamatannya demi orang lain. Nurul ingin suaminya menjadi seorang petani sederhana dan selalu menemaninya di rumah dan sawah mereka.
Cita-cita sederhana yang bahkan sangat sulit untuk terwujudkan.
\=\=\=\=\=
Seorang laki-laki yang mengenakan kaos berwarna hitam polos dan celana berwarna senada terlihat berjalan memasuki sebuah gedung yang terlihat bersih dan rapi. Di dalam gedung terdapat banyak pria dan wanita yang berbadan tegap dengan menggunakan pakaian yang rapi dan sopan. Mereka terlihat teratur dan tertib. Ciri khas dari didikan militer.
Dimanapun laki-laki berkaos hitam ini berjalan, semua prajurit yang dilewatinya akan segera menghentikan aktifitasnya dan memberikan hormat kepadanya.
Karena mereka semua tahu betapa mengerikannya laki-laki berkaos hitam ini, sekalipun dia tak terlihat menakutkan atau berwajah sangar, sekalipun dia hanya memakai kaos murahan dan terkesan seperti orang pinggiran.
__ADS_1
Dia adalah seorang petarung yang diakui sebagai salah satu serigala petarung terkuat di Asia. Dulu, dia sanggup merobohkan empat orang petarung manifestasi saat masih belum sempurna menyelesaikan proses asimilasinya.
Setelah beberapa tahun berjalan, tak ada yang tahu lagi seberapa kuatnya laki-laki berkaos hitam ini.
Sekalipun dia adalah petarung militan tapi dia juga dikenal dekat dengan militer. Dia juga diketahui mempunyai lebih dari satu orang anggota keluarga yang merupakan petarung manifestasi. Dengan semua background yang dimilikinya, tak ada satu orang waras pun yang akan berani menyentuh keluarganya.
Laki-laki berkaos hitam itu bernama Munding.
\=\=\=\=\=
“Kapan datang?” tegur seorang wanita ketika melihat Munding memasuki ruangan.
“Barusan,” jawab Munding.
“Nurul dan Alit sehat?” tegur si wanita sambil pura-pura sibuk melakukan sesuatu di mejanya.
“Alhamdulillah,” jawab Munding.
“Arya mana?” tanya Munding.
“Sedang sibuk dia,” jawab Afza.
“Yang lain?” tanya Munding.
Setelah kejadian sandiwara yang disusun Titis waktu itu, kini hanya tersisa tujuh dari sepuluh orang yang bergabung dalam tim Merah Putih. Tapi, setelah insiden penyerangan yang terjadi pada keluarga Munding di rumah sakit keluarga Hong, semua pihak akhirnya tersadar. Tak ada gunanya saling bertengkar, karena ada ******-****** lapar yang melihat dengan mata kelaparan dan siap menerkam dari luar sana.
Para pemimpin kepolisian dan militer akhirnya memutuskan untuk tidak membubarkan tim ini, dan menjadikan mereka menjadi ujung tombak untuk mengantisipasi kejadian yang sebelumnya terjadi pada keluarga Munding agar tidak menimpa target lainnya.
Sebagian besar tugas tim ini, yang sekarang sudah menjadi sebuah badan resmi yang beroperasi di bawah naungan militer, adalah mengumpulkan informasi dan mengetahui setiap ada serigala petarung level inisiasi keatas yang memasuki atau meninggalkan wilayah NKRI, termasuk juga melakukan pendataan tentang setiap serigala petarung inisiasi baru yang muncul dari dalam negeri.
Tugas tim ini memang lebih banyak ke information gathering dan counter-espionage, tapi bukan berarti mereka tak punya tim serang. Mereka punya dan tim serang itu hanya beranggotakan satu orang saja. Dia juga hanya bergerak dan datang ke markas ini ketika dia dibutuhkan.
Dan personel tim serang itu sekarang sedang menikmati buah apel di sebuah sofa yang berada di tengah-tengah ruangan terpenting di gedung ini. Ruangan kantor milik para pejabat tertinggi lembaga ini.
__ADS_1
“Tidak bisa. Pastikan semua informasi yang kita...” tiba-tiba, pintu terbuka dengan kencang dan seorang laki-laki yang mengenakan pakaian rapi terlihat berjalan diikuti beberapa orang yang mendengarkan semua ocehannya dengan seksama.
Laki-laki itu mempunyai penampilan yang mengerikan, tapi tak ada yang berkomentar sama sekali tentang itu. Telinga kanannya putus dan ada luka melintang di wajahnya yang lumayan dalam, dari kiri bawah ke kanan atas mukanya.
Pemimpin tertinggi dari Badan Pendeteksi dan Pencegah Aksi Teror ini, Sunarya aka Arya.
Kata-katanya langsung terhenti ketika dia melihat sosok yang sedang asyik memakan buah apel di sofa dan sesekali mengobrol dengan Afza, “Munding, kapan datang?”
“Barusan. Afza yang menelponku,” jawab Munding sambil menerima uluran tangan dari Arya yang mengajaknya bersalaman.
“Kami mohon maaf sekali. Ada serigala petarung manifestasi yang memasuki wilayah kita kemarin pagi. Kurasa kamu juga mengenalnya. Kami sekarang sedang memantaunya selama 24 jam,” kata Arya pelan dengan nada meminta maaf.
“Tak masalah, kasih tahu aku dimana lokasinya, semakin cepat masalah ini selesai, aku justru senang. Nurul sering marah akhir-akhir ini,” kata Munding yang mirip sebuah curhatan.
Arya hanya tertawa, dia tahu kalau sebenarnya petarung terkuat di negeri ini bukanlah Munding yang sedang duduk di hadapan mereka saat ini. Petarung terkuat itu adalah Nurul, karena sekuat apapun Munding, dia tak akan pernah berani melawan istrinya.
Beberapa orang yang mendengar percakapan Boss mereka dengan laki-laki di depannya hanya bisa terdiam dan sedikit gugup. Semua orang di lembaga ini pasti pernah mendengar nama Munding dan sepak terjangnya, tapi hanya sebagian kecil saja yang pernah melihatnya secara langsung.
Kini saat mereka melihat sendiri sang legenda di depan mata, mereka hanya bisa terdiam dan mencoba untuk bernapas sepelan mungkin.
“Kamu tak ingin istirahat dulu?” tanya Arya.
“Aku sudah istirahat dari tadi,” jawab Munding.
Arya mengangkat tangannya ke rombongan orang yang mengikutinya. Salah satu wanita diantara mereka maju dan menyerahkan sebuah berkas.
“Ini fotonya dan ini lokasinya sekarang,” kata Arya.
“Oooo, dia rupanya. Berapa cepat kamu bisa mengantarku kesana?” tanya Munding.
“Hmmmm. 20 menit,” jawab Arya cepat.
“Oke,” kata Munding sambil meraih dua buah apel dan memegangnya, “mana tahu aku lapar di jalan. Afza, mau ikut? Kamu tak bosan duduk disini seharian?”
__ADS_1