Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 255 - Merah Putih


__ADS_3

Seorang gadis yang berwajah cantik dan mengenakan hijab berwarna abu-abu terlihat sedang asyik mengobrol dengan wanita lain yang duduk di sebelahnya.


Di sebelah mereka berdua, seorang pria yang berambut keriting tetapi dibiarkan gondrong dan diikat sedang berdiri sambil menggendong seorang bayi di tangannya.


Bayi mungil itu terlihat ceria dalam gendongan Papanya. Jelas terlihat kalau si bayi mempunyai karakter perpaduan dari kedua orang tuanya, rambut keriting dan kulit yang putih. Sesekali si pria akan bercanda dan menggoda bayinya lalu dia juga akan mendekatkan si kecil ke Mamanya yang masih asyik mengobrol dengan gadis berjilbab tadi.


"Pa," panggil wanita itu pelan dan si Pria mendekatkan bayi mereka agar bisa disuapi oleh istrinya.


Amel melihat pasangan ini dengan senyuman bahagia. Dia sama sekali tak menyangka kalau Citra dan Wowo bisa langgeng sampai punya anak seperti sekarang ini. Pasangan yang dulu sering menjadi ledekan semua kawan-kawan mereka.


"Mel, sudahlah. Let it go. You deserve better," kata Citra pelan sambil memegangi jari sahabatnya.


"Aku sudah coba Cit. Bukan cuma sekali, berkali-kali malah. Tapi tetep aja nggak bisa," keluh Amel pelan.


"Terus mau sampai kapan? Kita sudah berumur Mel, nggak mungkin kan kamu selamanya gini terus?" tanya Citra.


"Aku nggak tahu Cit," jawab Amel sambil menundukkan kepalanya.


"Assalamualaikum," tiba-tiba terdengar sebuah suara mengagetkan mereka.


Wowo langsung tersenyum cerah. Sedari tadi, hanya dia cowok disini, Amel sibuk ngobrol dengan Citra, dia bingung mau ngoceh sama siapa. Tapi sekarang, sobatnya datang juga.


"Sini, salim dulu sama Om dan Tante," kata seorang wanita berjilbab dan berkacamata ke arah kedua anaknya.


"Gimana kabarnya Bro? Sehat?" tanya Rin ke Wowo Gundul, eh salah, Wowo Gondrong sekarang.


Billa duduk di sebelah Amel dan Citra setelah mereka berpelukan tadi. Rini dan Billa adalah pasangan yang menikah pertama kali diantara geng mereka.


Nikah dini, lulus SMA langsung tancap gass. Takut dosa kalau kata si Billa.


Sekarang mereka sudah memiliki tiga orang anak. Dua sudah berlarian entah kemana tadi setelah bersalaman dengan Om dan Tantenya, yang satu masih di gendongan Billa.


"Ma," panggil Wowo pelan.


"Hmmm?" jawab Citra sambil melirik ke arah suaminya.


Wowo cuma meringis kecil dan Citra tahu maksudnya, pasti suaminya mulai asem mulutnya pengen ngerokok, makanya dia pengen ngasih bayi mereka ke Mamanya.


"Sini," kata Citra sambil mengambil dedek dari gendongan Wowo.


Rin dan Wowo lalu mencari tempat yang agak jauh dari tempat duduk emak-emak dan bayi mereka, takut kalau ngasepin.


"A Long belum keluar juga?" tanya Rin ke arah Wowo yang baru saja menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Belum," jawab Wowo, "Emang nasib dia tu apes bener. Ketangkep nggak sengaja pas bawa narkoba gara-gara nabrak tukang bakso dipinggir jalan."


Rin hanya tersenyum pahit.


"Fariz?" tanyanya lagi ke Wowo.


"Malu dia katanya, padahal ane udah suruh dia datang," jawab Wowo.


Rin hanya bisa tertawa kecil, gimana enggak. Fariz yang terlalu banyak membaca novel mesum di ******* mungkin sudah tak bisa menahan lagi fantasi liarnya. Alhasil saat kuliah dulu, dia ngembat ibu kosnya sendiri.


Hubungan yang awalnya iseng ternyata keenakan dan keterusan sampai sekarang dan mereka akhirnya nikah. Tiap kali diajak kumpul kayak gini, Fariz tak pernah mau dengan alasan malu. Padahal mereka tak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Pa..." terdengar teriakan Citra memanggil suaminya.


Ya iyalah, nggak mungkin kan Amel atau Billa yang teriak?

__ADS_1


Wowo dan Rin menolehkan kepalanya.


"Pesenan kita dah datang, kita makan dulu yuk?" ajak Citra sambil memberikan senyuman termanisnya untuk suaminya.


\=\=\=\=\=


"Kalau kamu punya kekuatan..."


"Apa yang akan kamu lakukan dengan kekuatan itu?"


"Kamu ingin menjadi seperti apa?"


"Apa yang menurutmu paling penting dalam hidupmu?"


"Menjadi yang terkuat?"


"Melindungi keluargamu?"


"Menghancurkan dunia?"


"Membalas dendam?"


"Tanyakan ini pada dirimu!! Jawab dengan jujur, karena tidak ada yang sedang dinilai disini. Jadi jangan bohongi diri sendiri atau siapapun!!"


Kata-kata Aisah terus terdengar di telinga Cynthia yang sedang duduk bersila di depannya. Mereka berdua sedang berada di tengah sebuah padang rumput yang ada di antah berantah.


Cynthia terlihat berkonsentrasi dan melakukan instruksi gurunya dengan bersungguh-sungguh. Tapi, beberapa saat kemudian dia membuka matanya dan tersenyum pahit.


"Cynthia nggak tahu apa tujuan hidup Cynthia, Guru," keluh gadis itu.


Pletakkkkkk!!


Cynthia hanya meringis saja, pukulan seperti itu, baginya bukanlah sesuatu yang berarti. Tapi dia tetap harus menunjukkan ekspresi kesakitan demi rasa hormatnya kepada sang Guru.


Muka Aisah memerah ketika ditanya oleh Cynthia seperti itu. Rotan di tangannya bergerak ke arah kepala Cynthia tapi berhenti sesaat sebelum mengenai kepala muridnya.


Aisah sama sekali tak berniat memberitahu konsepnya pada Cynthia. Dia membiarkan saja muridnya dan para readers bertanya-tanya tentang konsep yang dimilikinya.


\=\=\=\=\=


"Bang, sudah Bang!! Stop dulu!!" teriak Leman dengan napas terengah-engah.


Pak Yai menghentikan serangannya dan berdiri di depan adek angkatnya, "Kau ini katanya petarung manifestasi, jangan memble gitu lah," cibir Pak Yai.


Leman hanya tersenyum kecut dan tak berani memprotes. Sudah berkali-kali mereka melakukan sparring seperti ini dan Leman juga menyadari betapa mengerikannya konsep 'slaughter' yang dimiliki oleh Pak Yai itu.


Setiap sparring yang mereka lakukan selalu berakhir dengan ending yang sama. Pak Yai tegak berdiri dengan tubuh bersimbah darah dan Leman terkapar di tanah tanpa tenaga.


"Sudah berkali-kali aku melakukan ini tapi aku tak merasakan intent berwarna merah lagi seperti waktu itu. Apakah aku harus mengalami duel hidup mati?" keluh Pak Yai.


\=\=\=\=\=


"Mas ini tehnya," panggil seorang wanita sambil membawa segelas teh hangat ke halaman belakang rumah.


Di luar sana, seorang lelaki yang sudah agak berumur tapi memiliki badan yang masih terlihat kekar tersenyum sambil memberikan makanan ikan ke kolam di depannya.


Laki-laki itu lalu berjalan ke rumah dan menerima segelas teh hangat dari istrinya. Dia mencium kening istrinya mesra yang lalu dibalas dengan cubitan oleh sang istri.


"Makasih," jawab Yasin pelan.

__ADS_1


Nia tersenyum manis ke arah Yasin.


Yasin menarik napas panjang. Kini dia tahu kenapa seorang petarung sehebat Izrail sanggup selama puluhan tahun menghilang dan memilih menjadi petani di sebuah desa terpencil bersama keluarga kecilnya.


Tiba-tiba dari dalam rumah, seorang wanita keluar dengan membawa seorang bayi kecil dalam gendongan tangannya. Dia menciumi dan menggoda bayi itu dengan penuh kasih sayang.


"Nanti Budhe main kesini lagi ya?" tanya Santi ke si bayi yang jelas tak akan menjawab pertanyaannya.


Santi lalu menyerahkan bayi itu ke gendongan Nia.


"Mbak ada kerjaan. Kapan-kapan Mbak kesini lagi," kata Santi.


"Iya Mbak," jawab Nia sambil tersenyum.


"Hati-hati," kata Santi pelan sambil mencium kening adiknya, satu-satunya keluarganya yang pernah hilang tapi kini telah kembali lagi.


\=\=\=\=\=


"Domain? Legendary concept?"


"Jadi selama ini, kita hanya katak dalam tempurung?" teriak Titis sambil menggenggam erat kertas di tangannya.


Dia baru saja membaca hasil analisa yang didapatnya dari Australia yang memang menawarkan diri untuk mengetahui seperti apa proses pertarungan hari itu.


Saat ini kepolisian masih menyimpan keempat tubuh petarung manifestasi asing yang menyerang Munding dan keluarganya.


Secara medis sendiri, mereka berempat masih hidup. Tubuh mereka juga menunjukkan semua gejala kehidupan layaknya orang normal. Tapi mereka tak pernah terbangun. Seperti orang koma.


Barulah setelah bertahun-tahun mencoba memahami dan tidak berhasil, mereka meminta bantuan Australia dan mendapatkan hasil yang dia pegang sekarang.


Penyerang disinyalir seorang petarung yang memiliki legendary concept.


Semua korban tumbang dalam waktu bersamaan di beberapa tempat yang berbeda. Kemungkinan terbesar mereka terkena domain milik penyerang.


Konsep yang dimiliki oleh Penyerang mampu menghilangkan kesadaran diri seorang petarung yang terjebak dalam domain miliknya sehingga menyebabkan korban mengalami permanent vegetative state tanpa kemungkinan untuk kembali sadar.


Tingkat ancaman: Sangat berbahaya dan masuk dalam kategori kill on sight oleh Pemerintah Australia.


Bruakkkkkkkk.


"Kenapa harus dia yang mempunyai kemampuan seperti itu???" teriak Titis menggelegar setelah menghancurkan mejanya sendiri tadi.


\=\=\=\=\=


Seorang laki-laki sedang melemparkan koin di atas tangannya. Tapi anehnya ketika koin itu jatuh ke bawah, kecepatannya sangat lambat. Seperti sebuah film slow motion.


"Kegelapan yang melindungi cahaya?"


"Demon yang melindungi Angel?"


"Yin dan Yang?"


"Aku tak percaya omong kosong seperti itu," teriak Tommy.


Dia adalah pemilik legendary concept 'gravity' dan pemimpin organisasi Utopia. Dia jugalah yang memerintahkan Geoffrey dan timnya untuk melenyapkan Nurul.


Seorang pemilik domain yang bisa mempengaruhi gravitasi benda apapun dalam domainnya. Seperti gedung yang dia tempati sekarang. Melayang diatas awan entah diatas bumi bagian mana.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Author note:


Saya hapus.


__ADS_2