
"Lalu kau punya usul apa?" tanya petinggi dari Brimob yang usulnya dibantah dengan ejekan okeh rekannya sendiri dari Densus 88.
Para petinggi militer hanya tertawa kecil melihat keduanya. Sedikit banyak, itu bisa mencerminkan persaingan antara kedua kesatuan itu. Mereka sendiri juga tidak memungkiri kalau diantara mereka bertiga, persaingan itu tetap ada, tapi setidaknya mereka tak memperlihatkannya di depan 'orang lain'.
"Merah Putih."
Tiba-tiba terdengar suara memecah adu argumen antara kedua kesatuan itu.
Semua mata memandang ke arah asal suara. Seorang gadis yang sedari tadi diam saja dan tidak berkata apa-apa terlihat gugup dan ketakutan saat mereka semua memandanginya.
Gadis itu hanyalah seorang bintara polisi yang bertugas menjadi notulen untuk rapat kali ini. Tugasnya hanya mencatat hasil rapat lalu menyimpannya sebagai dokumen kerja. Tapi, saat tadi para petinggi itu membahas usulan nama untuk tim gabungan mereka, secara naluriah sebuah nama muncul di kepalanya dan keluar dari mulutnya tanpa sengaja.
Suasan menjadi hening saat mereka menatap gadis yang sedari tadi ada di ruangan ini tapi tak pernah mereka perhatikan sama sekali.
"Bagus!!! Aku suka nama itu. 'Merah Putih', bendera negara kita tercinta. Melambangkan keberanian dan kesucian," kata Broto sambil mengacungkan jempolnya ke arah si Gadis.
Petinggi AL dan AU saling melirik untuk beberapa saat lalu mereka berdua juga menepukkan tangannya untuk memberi applaus kepada usulan nama dari si Gadis.
"Sah ya? 3 suara sudah setuju," celetuk petinggi dari AL.
Petinggi Kepolisian yang memimpin rapat, petinggi Densus 88, dan petinggi Brimob tersenyum kecut. Dari gelagat yang terjadi barusan, gerak komando dari tim gabungan mereka bakalan ada di tangan militer, karena mereka punya 6 kandidat dibanding 4 kandidat dari tim mereka sendiri.
"Oke. Kalau begitu, tim gabungan ini akan kita namakan 'Merah Putih'. Misi dan operasi kita juga akan menggunakan nama kode yang sama," kata Petinggi kepolisian yang memimpin rapat.
"Catet ya!" kata si Petinggi itu kepada gadis yang duduk di sebelahnya.
Si Gadis notulen hanya menundukkan kepalanya dengan muka yang memerah karena malu dan senang. Usulannya ternyata ditanggapi serius dan positif oleh orang-orang yang dalam kegiatan sehari-harinya mungkin tak akan pernah bercakap-cakap dengannya.
Akhirnya, mulai saat itu, tim gabungan untuk memburu Chaos yang bernama Merah Putih terlahir ke dunia.
\=\=\=\=\=
Sebuah mobil berhenti di pelataran rumah Munding. Empat orang turun dari dalam mobil. Seorang pria paruh baya, seorang pria yang sudah berusia lanjut, dan dua orang gadis yang berusia sekitar 20 tahunan.
Mereka adalah Broto, Umar, Afza, dan Amel tentunya. Amel terlihat yang paling gembira dan membawa sebuah bingkisan besar. Gadis berjilbab itu langsung berlari mendahului ketiga orang lainnya dan berteriak mengucap salam bahkan saat jarak ke pintu rumah Munding masih lebih dari 3 meteran.
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam Amel.
"Waalaikumussalam," jawab sebuah suara yang terdengar familier di telinga Amel, suara Munding.
Munding terlihat keluar dari dalam rumah yang pintunya tak tertutup itu dan langsung tersenyum cerah saat melihat wajah-wajah yang dikenalnya. Munding hanya mengenakan pakaian biasa yang dikenakannya sepulang dari sawah. Celana kain 3/4, kaos oblong polos dan wajah yang masih berpeluh keringat. Meskipun sekarang dia tak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya di sawah, tapi pagi tadi Munding melihat sebentar ke sana dan pulang jam 10an karena Nurul tak lagi mengantar makan siangnya ke sawah.
Di belakang Munding sesosok pria berusia tua terlihat berdiri dan menganggukkan kepalanya ke arah rombongan Broto yang berjalan pelan ke teras rumah Munding.
Afza melihat laki-laki tua di belakang Munding dengan raut muka penasaran. Sebelum sampai kesini tadi, ada satu kalimat dari mentornya, Umar, yang selalu terngiang di kepala Afza.
"Kalau nanti kamu ketemu dengan Bapak Mertua Munding, tunjukkan respectmu melebihi apa yang kamu berikan padaku," kata Umar.
Afza bertanya dengan wajah bingung, "kenapa Guru?"
"Karena bagi dia, sekalipun kita bertiga, aku, kamu, dan Broto, menyerangnya bersamaan, dia tetap dapat menghabisi kita dengan mudah," jawab Umar pelan.
"Dia petarung level 3?" tanya Afza dengan raut muka kaget.
"Belum, tapi hampir. Bisa dibilang, dia sudah setengah langkah menuju kesana," jawab Umar.
"Pantas apa?" tanya Broto.
"Pantas, dia bisa melatih seorang petarung seperti Munding," jawab Afza dengan muka serius.
Umar dan Broto langsung tertawa mendengar kata-kata Afza. Hanya Amel yang sama sekali tak peduli dengan obrolan mereka. Kini, dia tahu sosok lain Munding dan istilah 'serigala petarung' yang sering mereka perbincangkan. Tapi bagi Amel sendiri, semua itu tak penting, yang terpenting baginya adalah Munding.
"Mana calon keponakanku? Tante bawain hadiah ni," tanya Amel dengan wajah antusias dan menunjukkan bingkisan di tangannya.
"Baru juga 4 bulan Mel," jawab Munding sambil tersenyum kecut.
Gimana nggak? Seenaknya saja Amel memanggil dirinya 'Tante', bukannya dia kakak angkat Nurul? Seharusnya 'Budhe' dong, bukan 'Tante'.
"Di dalam sama Ibu," jawab Munding dan Amel langsung ngeloyor masuk ke dalam rumah tanpa permisi, seolah-olah ini adalah rumahnya sendiri.
Broto hanya bisa tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri satu-satunya itu. Munding hanya tertawa kecil dan mempersilahkan mereka duduk di kursi yang ada di teras depan.
__ADS_1
"Ahmad," kata Umar sambil menyalami Pak Yai.
"Umar. Sehat?" sambut Pak Yai.
"Alhamdulillah," jawab Umar.
Mereka berbasa basi sebentar kemudian duduk di kursi dan asyik bercerita ngalor ngidul tentang kejadian-kejadian yang sedang menjadi hot topic di negeri ini.
Afza tak berhenti melirik ke arah pria yang menjadi Bapak Mertua Munding itu dan sedikit kaget dengan sosoknya. Dia hanyalah seorang pria tua biasa, tak beda sama sekali dengan sosok orang kampung. Pembawaannya sama persis dengan Munding, tak akan ada yang menyangka kalau mereka berdua adalah petarung tangguh yang mencapai tahap inisiasi seperti dirinya.
"Gadis kecil, kenapa dari tadi kamu memandangiku seperti itu?" tanya Pak Yai tiba-tiba mengalihkan pembicaraan yang terjadi antara Broto, Umar, dan dirinya.
"Afza!" tegur Umar.
Afza menundukkan kepalanya dengan muka memerah. Karena peringatan yang diberikan Umar tadi yang justru membuatnya memperhatikan Pak Yai lebih dari yang seharusnya.
"Hahahahahaha. Tak apa Umar. Dia insiasi kan? Aku curiga justru kamu yang menakuti-nakutinya tentang diriku," kata Pak Yai sambil tertawa kecil.
Umar tersenyum kecut dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang benar sekali tebakan Pak Yai.
"Gadis kecil, sekarang ceritakan apa pendapatmu mengenai aku?" tanya Pak Yai ke arah Afza.
Afza mengangkat kepalanya dan dengan ragu-ragu menjawab, "sosok Bapak tidak seperti yang saya bayangkan. Kata Guru, Bapak bisa mengalahkan lebih dari 2 orang petarung terinisiasi seorang diri. Tapi Bapak lain sekali dari bayangan di kepala saya."
Pak Yai tertawa, "jadi bagaimana sosok yang ada di kepalamu?"
"Lebih kekar, bengis, berwajah seram, dan sedikit kaku," jawab Afza dengan suara pelan.
Semua orang langsung tertawa mendengar kata-kata Afza.
"Apa karena aku kurus kering begini?" tanya Pak Yai.
Afza terdiam dan tak menjawab.
"Sekedar sharing, untuk tahap manifestasi, fisik tak lagi penting, psikis yang lebih utama. Jadi tak masalah kalau aku tak sekekar Munding atau Umar," kata Pak Yai sambil tertawa.
__ADS_1
"Bapak bohong," protes Munding tiba-tiba yang mengagetkan semuanya.