
Paulus dan Cynthia Hong, hanyalah kambing hitam yang digunakan oleh Aisah sebagai alasan saja. Tak lebih.
Langkah kaki Phantom terhenti lalu dia terlihat berpikir untuk sesaat. Sedetik kemudian, Phantom melirik ke arah Cynthia yang ada di belakang Paulus dengan tubuh yang sedikit gemetar. Phantom tersenyum.
"Paulus, ayo kita bikin kesepakatan," kata Phantom tak lagi dengan nada dingin.
Paulus melihat ke arah Phantom dengan muka penuh tanda tanya, tapi dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun sebagai tanggapan.
"Sebagai ganti untuk tidak menghabisi nyawamu saat ini, aku akan mengambil Cynthia menjadi anak buahku. Dia akan menjadi bagian dari Chaos. Bagaimana?" kata Phantom.
Paulus terlihat sedikit terkejut mendengar kata-kata Phantom. Dia tak takut untuk berduel sampai mati dengan musuh di depannya ini jika perlu. Sekalipun saat ini dia sudah kehabisan tenaga, tapi dia bisa dengan mudah menggunakan cara nekat dan melukai musuhnya sebelum dia meregang nyawa. Tapi sebisa mungkin dia tidak ingin melakukan itu.
Karena dia Paulus Hong.
Ada ratusan orang yang menggunakan nama Hong sebagai nama keluarga mereka dan menggantungkan nasib mereka kepada dirinya. Tak mungkin Paulus akan mengorbankan semua keluarganya demi duel hidup mati dengan Phantom yang dia sendiri tak tahu dimana letak masalah mereka berdua.
Tapi.
Cynthia adalah cucu kesayangannya. Dia adalah petarung inisiasi yang paling berpotensi dari keluarga Hong. Penerus yang sengaja dia gembleng dan didik sedari kecil untuk menggantikan dirinya sebagai pelindung dan tulang punggung marga Hong. Tak akan mungkin dia bisa merelakan Cynthia semudah itu.
Di saat Paulus sedang bimbang dengan keputusan yang akan dia ambil, Cynthia bergerak maju dan dengan berani berdiri di depan Phantom.
"Aku bersedia menggantikan Kakekku sebagai sanderamu," kata Cynthia.
Phantom hanya tersenyum, "Gadis bodoh!! Aku tak mencari sandera, aku mencari seorang murid. Kamu seorang wanita, lebih cocok ikut bersamaku dibandingkan mengikuti Kakekmu," kata Phantom sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Cynthia dan Paulus sama-sama tertegun setelah mendengar kata-kata Phantom. Cynthia dengan cepat lalu tersenyum dan memutar badannya untuk menghadap ke arah Paulus dan memberikan salam hormat untuk sang Kakek.
Paulus membalasnya dengan anggukan kepala lalu dengan cepat Cynthia membalikkan badan dan mengejar Phantom yang sudah berjalan meninggalkan tempat ini. Tapi, baru beberapa langkah Cynthia berjalan, terdengar suara keras yang mengagetkan Cynthia.
"Jangan seenaknya!! Bawa sekalian si Henry," kata Phantom tanpa menoleh sambil menghentikan langkahnya.
Cynthia tersenyum kecut lalu membungkukkan badannya dan meminta maaf, "maaf Guru," kata Cynthia pelan lalu dia berlari ke arah Henry yang masih tak sadarkan diri dan membopong tubuhnya.
Sekalipun dia seorang wanita dan tubuhnya terhitung langsing, tapi Cynthia tetaplah seorang serigala petarung terinisiasi. Mudah baginya untuk mengangkat tubuh Henry yang beratnya mungkin dua kali lipat dari berat tubuhnya sendiri. Tak lama kemudian, bayangan mereka bertiga sudah menghilang dari pandangan Paulus Hong.
Paulus lalu terduduk di kursi karena kelelahan dan napas terengah-engah.
"Apakah era sudah berganti? Aku bisa dibuat kewalahan oleh petarung yang jauh lebih muda dariku?" gumam Paulus di sela-sela napasnya.
"Cynthia, aku tak tahu ini anugerah atau musibah bagimu, tapi ingat! Namamu selalu Hong," lanjutnya sambil memejamkan mata dan berusaha untuk mengistirahatkan badan sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.
Ada beberapa personel security dan 2 orang karyawan berpakaian jas rapi di depannya. Salah satu dari mereka terlihat memiliki ciri fisik warga keturunan Chinese dan menunjukkan sedikit raut muka ragu dan bingung.
"Kamu siapa?" bentak Chief Security yang berdiri di depan Paulus.
Paulus tidak menanggapi petugas keamanan itu, dia justru menunjuk ke arah karyawan Chinese yang berdiri di sebelahnya, "Namamu siapa?" tanya Paulus.
"Aku Tjandra Hong," jawab si karyawan dengan suara ragu-ragu dan entah kenapa sedikit merasa takut.
"Namamu Hong dan kau tak mengenalku??" bentak Paulus dengan suara menggelegar yang memekakkan telinga orang-orang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Setelah itu, Paulus melampiaskan amarahnya kepada karyawan dan tim keamanan restoran itu yang sebenarnya hanyalah salah satu cabang usaha milik keluarga besar Hong sendiri.
\=\=\=\=\=
"Tiga bulan lagi pulang kan?" tanya Nurul dengan nada penuh harap.
Munding menganggukkan kepalanya dengan cepat, "InsyaAllah."
Siapa juga yang ingin melewatkan kelahiran anak pertama mereka? Munding tentu saja tidak ingin melewatkannya. Usia kehamilan Nurul sudah menginjak enam bulan sekarang. Tentu saja Munding tahu apa alasan istrinya menanyakan pertanyaan tadi.
Afza menunggui Munding sambil menyenderkan punggungnya ke mobil yang akan membawa mereka kembali ke markas Merah Putih. Mereka memang cuti agak lama kali ini, hampir sebulan. Dan semua ini tentunya karena keberhasilan mereka untuk menangkap Nia.
Dengan tertangkapnya Nia, mereka bisa mengorek banyak informasi yang tentunya akan sangat berguna untuk mengejar dan menangkap anggota Chaos yang lain.
Amel menunggu di dalam mobil dan mengalihkan pandangan matanya ke sawah di seberang jalan rumah Munding. Selama ini, dia memang selalu bersikap ceria, masa bodoh dan cuek saja apabila berada di sekitar Munding ataupun Nurul.
Tapi, tak ada satu orang pun yang tahu betapa menyakitkannya berpura-pura bahagia di saat hati tersayat-sayat melihat pujaan hati berbahagia dengan wanita lain. Karena itu, dia memutuskan untuk langsung masuk ke mobil karena tak ingin melihat perpisahan mesra antara Munding dan istrinya.
Amel bukan lagi gadis SMA yang meledak-ledak seperti dulu. Usia yang bertambah juga membuatnya semakin dewasa. Kedewasaan yang sengaja dia tutupi dengan tingkah kekanak-kanakan dan keras kepala yang terkadang tak sesuai lagi dengan umurnya.
Moved on mungkin urusan gampang bagi sebagian orang. Tapi bagi seorang gadis keras kepala seperti Amel? Dia sudah mencobanya berkali-kali tapi tetap saja tak bisa melakukannya.
Dulu, sangat susah bagi seorang laki-laki untuk masuk ke dalam hati Amel, tapi ketika seseorang berhasil melakukannya, proses untuk menghapus bayangan laki-laki itu, jauh lebih susah dibandingkan saat menerima keberadaannya dan mengakui perasaan Amel sendiri.
Mungkin ada banyak gadis di luar sana yang dengan gampangnya moved on dari satu hati ke hati yang lain. Berganti pacar dari satu laki-laki ke laki-laki yang lain. Bahkan bangga saat melakukannya, seolah-olah dia adalah gadis cantik yang 'laku' dan 'laris manis' di kalangan pria.
__ADS_1
Betapa Amel ingin sekali menanyakan kepada mereka, "Kamu tu cantik apa murahan?"
Karena Amel sendiri tahu, betapa susahnya menghilangkan sosok manusia brengsek yang sudah bertahun-tahun menganggunya tapi juga selalu membuatnya tersenyum bahagia. Sosok yang sekarang sedang memeluk istrinya dengan mesra di halaman rumahnya sana.