
Kesembilan orang lainnya terdiam. Mereka adalah prajurit elite dari yang terelite. Ahlinya ahli, intinya inti, dan core of the core. Tentu paham dengan makna tersirat dari kata-kata Munding barusan.
Sunarya menarik napas panjang dan melihat ke arah Afza dengan tatapan memohon. Afza tahu, maksud Sunarya. Dia ingin Afza menjadi penengah untuk konflik mereka. Apapun ceritanya, Munding adalah kandidat dari AD, sama seperti dirinya, tentu sedikit banyak, Afza adalah orang yang mempunyai hubungan terdekat dengan dirinya.
"Munding," panggil Afza pelan.
Munding menolehkan kepalanya ke arah gadis Makassar itu.
"Ini semua adalah rekan satu tim kita. Kita semua punya tujuan yang sama sekalipun caranya berbeda," kata Afza pelan.
"Aku tahu maksudmu," jawab Munding sambil tersenyum ke arah Afza, "kita tetap disini atau adakah tempat aku bisa meletakkan barang-barangku?" tanya Munding.
Afza balas tersenyum saat melihat Munding mulai melunak, "Ayo! Aku akan mengantarmu ke kamarmu," kata Afza.
Afza dan Munding lalu berjalan keluar dari ruangan meeting itu diiringi oleh tatapan aneh dari rekan-rekan mereka yang lain.
Suasa ruangan meeting itu juga terasa sedikit aneh setelah Afza dan Munding menghilang. Delapan orang anggota tim Merah Putih masing-masing asyik dengan pikirannya sendiri-sendiri.
"Wan, kok kamu bisa kalah tadi?"
Terdengar sebuah suara memecah keheningan ruangan itu dan sedikit mengagetkan orang-orang yang sedang terdiam itu. Suara itu berasal dari si Rony, Kandidat dari Brimob.
Ridwan terlihat sedikit gusar dengan pertanyaan Rony, "kenapa? Kau pikir aku lemah?" tanya Ridwan.
Rony hanya tersenyum kecut dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ridwan masuk kategori D+, sedangkan dia sendiri D-, Rony tak akan berani menghadapi tantangan Ridwan.
__ADS_1
"Sun," panggil Mia ke arah Sunarya.
Muka Sunarya memerah. Dia sudah berkali-kali meminta rekan-rekannya untuk tidak memanggilnya dengan panggilan 'Sun'. Setiap kali dia mendengar panggilan itu, cuma dua hal yang terlintas di kepalanya. 'Sun' yang artinya orang berciuman dan 'Sun Go Kong' si kera sakti.
Karena itu, dia meminta rekan-rekannya memanggil 'Arya' atau 'Sunarya' jangan 'Sun'. Tapi, khusus untuk gadis manis bernama Mia ini, Sunarya tak pernah berani memprotes atau memarahinya gara-gara masalah panggilan itu.
"Hm?" tanya Sunarya ke arah Mia dengan suara deheman biar terlihat lebih cool dan macho.
"Tadi saat Munding melepaskan intent-nya, aku merasa kalau dia bagaikan awan hitam yang siap memuntahkan badai. Sangat berbeda dengan intent kita yang terlihat netral. Intent yang dimiliki oleh Munding penuh kebencian dan kemarahan," Mia menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan lagi kata-katanya, "apakah menurutmu aman kalau kita biarkan saja Munding bergabung dengan tim kita?"
Anggota tim yang lain mendengarkan dengan seksama. Ini percakapan para elite. Sunarya, Mia, Ardian, dan Ridwan adalah petarung terkuat di tim mereka. Dan melihat clash antara Ridwan dan Munding tadi, seorang lagi masuk ke dalam lingkaran mereka.
"Aku tidak tahu. Aku juga belum pernah melihat seorang petarung dengan intent sejahat dan sekelam miliknya. Saranku untuk kalian semua, untuk sementara, jaga jarak dengan Munding. Tanyakan masalah intent Munding kepada mentor kalian masing-masing. Coba liat nanti apa yang bisa kulakukan," kata Sunarya sambil tersenyum ke arah Mia.
Tak lama kemudian, mereka semua berpencar dan meninggalkan ruangan ini.
Munding membuka matanya dan tersenyum. Yang dia tunggu akhirnya datang juga.
Secepat kilat dia berdiri dari tempatnya berbaring dan mengenakan kaosnya yang tergantung di gantungan baju. Munding lalu membuka jendela kamarnya dan melompat ke bawah.
Munding berlari ke arah bukit yang berada di belakang bangunan tua yang menjadi markas tim mereka. Munding masuk ke sela-sela pepohonan rimbun yang ada di bukit kecil itu sambil melirik ke belakang.
Munding merasakan dua buah intent yang mengejarnya dari belakang.
Setelah merasa jaraknya cukup jauh dari bangunan markas Tim Merah Putih, Munding berhenti berlari di antara sela-sela pohon dan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
Melihat orang yang mereka kejar berhenti berlari dan menunggu mereka, laju lari kedua orang yang mengejar Munding melambat. Munding memasang kuda-kuda siaga dan menunggu kedua orang itu datang ke tempatnya.
Kedua pengejar Munding berhenti berlari dalam jarak 30 meter di depan Munding. Dalam gelapnya malam apalagi rimbunnya pohon yang menghalangi sinar rembulan, Munding maupun kedua pengejarnya tak bisa melihat dengan jelas raut muka masing-masing dengan jarak sedekat itu.
"Sunarya dan Anggie. Hmmm. Aku tahu kalian akan datang mencariku malam ini," gumam Munding pelan.
Terdengar suara tawa kecil suara seorang gadis dari depan Munding, Anggie.
"Darimana kamu tahu kalau kami akan datang malam ini?" tanya Anggie.
Munding terdiam. Saat pertemuan pertama dengan anggota tim yang lain tadi siang, Munding merasa seolah-olah sangat familier dengan Sunarya dan seorang gadis yang belakangan dia ketahui bernama Anggie.
Munding sendiri merasa sedikit heran dengan apa yang dia rasakan. Dia yakin sekali kalau dirinya tak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Tapi rasa kedekatan dan familier itu muncul dengan sendirinya.
Rasa kedekatan yang muncul seperti ketika kita sedang pergi ke daerah asing yang menggunakan bahasa asing dan tiba-tiba kita bertemu dengan seseorang yang berasal dari kampung yang sama. Seseorang yang kita tahu dapat kita ajak berkomunikasi dengan lancar dengan bahasa yang kita sama-sama pahami. Rasa kedekatan seperti itulah yang Munding rasakan dari dua orang ini sejak pertemuan pertama mereka.
Dan sore tadi selepas Magrib, Munding menemukan alasannya. Dia curiga kalau meskipun Sunarya dan Anggie adalah petarung elite dari militer, tapi mentor yang mendidik mereka menjadi serigala petarung adalah seorang militan. Itu satu-satunya penjelasan yang membuat Munding merasakan kedekatan abnormal dengan mereka berdua.
Tapi, naluri Munding bukan sesuatu yang omnipotent atau omniscient. Munding tetaplah manusia biasa. Sekalipun tebakannya benar tentang Sunarya dan Anggie, tapi Munding tidak tahu motif mereka. Karena itu, dia memilih diam dan bersikap waspada saat Anggie menanyainya barusan.
"Munding, kamu itu ancaman bahaya bagi Tim. Kami berdua tidak ingin itu terjadi. Jadi, kamu tahu maksud kami kan?" kata Sunarya setelah melihat Munding terdiam dan tak berniat menjawab pertanyaan Anggie.
Munding tersenyum dalam gelapnya malam dan bayang-bayang pepohonan, "ancaman bagi Tim?" gumam Munding, dirinya sendiri tahu seberapa besar keinginannya untuk membasmi Chaos, baginya, kedua orang itu yang justru mencurigakan.
"Aku tak tahu apa tujuan kalian berdua. Tapi, dimana-mana, pemenanglah yang menuliskan sejarah. Pecundang akan jadi tokoh antagonis yang dihina dan diludahi orang," kata Munding, "dan aku tak takut dengan kalian berdua."
__ADS_1
Wuuuuussshhhhhh.
Bayangan Munding langsung melesat cepat kearah dua orang yang berdiri di depannya tanpa mengeluarkan intent ataupun masuk ke mode tarung. Munding murni mengandalkan kemampuan fisiknya. Kemampuan yang kembali dia latih dan tingkatkan bersama teknik silatnya setelah malam memalukan di Sukorejo.