Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 122 - Hoax


__ADS_3

Amel memeluk Munding yang rebah di halaman rumah Yusuf yang tertutupi oleh batu alam kecil dan disebar merata. Batuan alam yang menjadi jalan masuk dan keluar itu.


Sesekali Amel akan meminumkan air putih dari botol minumannya dan mengelap keringat atau sedikit darah yang masih menetes dari bibir Munding. Munding ingin menolak perlakuan Amel tapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


Munding sendiri juga heran, apa yang membuatnya bertahan untuk tetap sadar sampai detik ini. Dulu saat pertarungan di rumah Citra, Munding langsung tak sadarkan diri setelah dia menyelesaikan pertarungannya.


Tapi kini, meskipun seluruh tubuhnya menjerit kesakitan dan kelelahan, tapi dia tetap tersadar. Dan itulah yang membuat Munding menjadi serba salah. Karena saat ini Munding sedang menghadapi masalah yang jauh lebih sulit dibandingkan saat dia bertarung melawan Yasin barusan.


Dan masalah itu bernama Amel.


Amel yang makin lama makin berani untuk melakukan kontak fisik dengan Munding yang sedang terkuras habis staminanya. Amel yang awalnya mengelap keringat dan membersihkan wajah Munding dari sedikit noda darah disana, kini menggunakan jemarinya untuk mengelus wajah Munding.


Munding mencoba untuk menghindar tapi dengan cepat Amel maju dan mencium mesra bibir Munding. Amel dengan agresif melumat bibir Munding yang sedikit bercampur rasa asin dan anyir dari sisa darah yang tadi berada disana. Tapi Amel tidak peduli.


Setelah beberapa detik, Amel melepaskan ciumannya dari bibir Munding, "Munding, Amel sayang kamu. Meskipun Amel tahu kalau kamu sudah menikah. Tapi setidaknya, Amel berusaha jujur pada perasaan Amel sendiri."


"Amel belum tahu seperti apa nanti perasaan Amel. Akankah berubah atau tidak? Tapi setidaknya untuk saat ini, kamu laki-laki satu-satunya di hati Amel," bisik Amel pelan sambil kembali memeluk Munding.


Munding hanya terdiam dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Beberapa menit kemudian, Munding diselamatkan oleh suara riuh dari beberapa kendaraan bermotor yang tiba-tiba memenuhi sekeliling mereka. Puluhan personel berpakaian taktis dengan senjata laras panjang terlihat berlarian memasuki rumah Yusuf dan mengelilingi Munding dan Amel.


"Amel?" sebuah suara terdengar keras di antara riuh ramai personel militer yang tiba-tiba memenuhi tempat ini.


Amel kemudian melirik ke arah pemilik suara dan menemukan Papanya yang berdiri bersama dua wajah yang sangat dikenalnya, Umar dan Laras. Umar bergerak cepat kemudian sudah berdiri di dekat Munding dan Amel sesaat kemudian. Tangannya terulur ke arah Munding yang masih berbaring di tanah.

__ADS_1


Munding yang memejamkan mata dan tiba-tiba merasakan ada tangan terulur ke arah tubuhnya dengan cepat langsung menangkap tangan itu dan menekannya kuat secara reflek.


"Aduuhhhhhh," teriak Umar ketika tangannya tiba-tiba digenggam oleh Munding.


"Kau mau apa Pak Tua?" tanya Munding dengan suara bergetar dan lirih sekali.


Pak Tua mengrenyitkan dahinya karena rasa sakit yang dirasakannya di pergelangan tangannya, "kurang aja kau Bocah Ingusan, aku mau menolongmu tapi seperti ini balasanmu?" bentak Umar ke arah Munding yang masih setengah berbaring dan menyender ke mobil di belakangnya.


"Tak perlu, biarkan aku istirahat yang cukup dan aku akan segera pulih," bantah Munding.


"Medis!!" teriak Broto sambil tersenyum ketika melihat tingkah mereka berdua.


Amel melepaskan pelukkan Papanya dan berjalan kearah Munding. Tak lama kemudian, tim medis datang dan meletakkan Munding ke atas tandu dan bersiap membawanya ke mobil ambulance milik tim militer.


Amel terlihat mengikuti para perawat militer itu ke arah ambulance mereka.


Amel menolehkan kepala kearah Papanya dan balas berteriak, "Amel mau nemenin Munding Pa," jawab Amel sambil melambaikan tangan ke arah Broto kemudian masuk ke dalam mobil ambulance yang mengangkut Munding.


Laras terlihat membuang muka ke arah samping dan berusaha menahan tawa.


Umar cuma berpura-pura batuk sebentar, "Broto, memang seperti itulah anak gadis. Ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka akan selalu lebih memilih lelaki pujaannya dibandingkan Papa-nya. Bersabarlah dan cobalah untuk terbiasa dengan hal ini," kata Umar sambil tertawa dan meninggalkan Broto yang masih terlihat kaget melihat Amel menghilang bersama ambulance yang membawa Munding.


Seorang perwira yang menjadi komandan dari operasi kali ini tiba-tiba datang dan melapor kepada Broto dan membangunkan Broto dari mimpi buruknya.


"Mungkin Bapak harus melihat sendiri apa yang terjadi di dalam rumah," kata perwira itu pelan.

__ADS_1


Broto kemudian masuk ke dalam rumah mengikuti si perwira bersama dengan Umar dan Laras. Tak lama kemudian mereka sampai ke ruang keluarga tempat Yusuf dan keluarganya masih diikat oleh Nia dan Yasin tadi.


"Hubungi Ambar, suruh dia berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Kita harus melibatkan mereka untuk investigasi kejadian ini. Aku tidak ingin kita bersitegang karena kesalahpahaman," kata Broto tegas ke arah si perwira yang tadi membawanya ke sini dan kemudian langsung melaksanakan perintah Broto.


Tak lama kemudian, banyak mobil berdatangan ke rumah Yusuf ini. Baik dari militer maupun dari kepolisian, termasuk Santi dan komandannya, karena orang pertama yang dihubungi Ambar tentu saja adalah Santi. Ambar ingin agar Santi paling tidak menerima sedikit kredit untuk perannya dalam misi kali ini.


Olah TKP pun dilakukan di tempat meninggalnya Yusuf. Interogasi gabungan yang dilakukan secara tertutup juga dilakukan terhadap istri Yusuf dan anak gadisnya. Sebuah tamparan keras dirasakan oleh para petinggi kepolisian hari itu, setelah mereka mengetahui rentetan fakta dari seluruh kejadian yang terjadi.


Pihak kepolisian kemudian meminta kerjasama dari pihak militer untuk menutupi kasus ini. Sebagai imbalannya, semua ganti rugi akibat kerusakan yang diakibatkan oleh ulah Tim Kelelawar akan diganti rugi oleh kepolisian.


Ketika Broto menanyakan perihal sepak terjang Yusuf dan segala aktivitasnya selama ini di SMA Harapan Bangsa, para petinggi itu hanya diam tanpa bisa memberikan jawaban. Dari situlah, Broto dan timnya tahu bahwa semua tindakan Yusuf selama ini diketahui oleh atasannya tapi mereka tidak pernah mengambil tindakan apapun tentang hal itu.


Tapi akhirnya Broto setuju untuk menutupi kasus ini demi keluarga Yusuf.


Berita yang menggemparkan kota Semarang akhirnya dilepas siang itu setelah meeting darurat antara kedua belah pihak.


"Seorang pejabat tinggi di Kepolisian menjadi korban perampokan di rumahnya sendiri saat sedang cuti dan berlibur menemani keluarganya."


Itulah tajuk utama di beberapa media lokal kota Semarang hari itu, lengkap dengan beberapa foto saat jenazah Yusuf ditemukan dalam keadaan terikat. Masyarakat langsung terhenyak oleh kenyataan itu. Kalau lah seorang petinggi polisi bisa menjadi korban perampokan, apatah lagi masyarakat awam seperti mereka?


Broto menarik napas dalam setelah semuanya berakhir, yang terpenting baginya, Amel selamat, meskipun Yusuf berakhir tidak seperti yang dia rencanakan.


Setelah itu Broto memerintahkan pasukannya untuk membubarkan diri dan kembali ke markas mereka. Tak lama kemudian, Broto, Umar, Laras dan Ambar sudah berada dalam sebuah mobil yang menuju ke rumah sakit yang dituju oleh ambulan yang membawa Munding tadi.


"Kalau tadi Munding tidak bersikeras untuk mengejar mobil Amel, mungkin bukan hanya tubuh Yusuf yang kita temukan siang ini," celetuk Ambar pelan di dalam mobil yang sedikit hening itu.

__ADS_1


Tiga kepala serentak menoleh kearah Ambar dengan pandangan yang ingin menelan Ambar mentah-mentah tanpa mengunyahnya. Dan ketiga-tiganya adalah serigala petarung. Ambar dengan reflek merapatkan kedua pahanya dan menahan pipis yang tiba-tiba saja mendesak ingin keluar di sana karena rasa takut dari tatapan ketiga orang itu.


"Apa aku salah ngomong?" keluh Ambar dalam hati dan berharap semoga mobil mereka segera sampai di tujuan.


__ADS_2