
Yusuf adalah laki-laki serakah, dia suka berbuat maksiat dan dia juga suka uang, tapi tidak ada yang mengalahkan rasa sayangnya pada anak istrinya. Ketika dia melihat istrinya diperlakukan seperti tadi, benteng pertahanan terakhirnya pun jebol.
“Aku akan memberikan semua uang hasil keringatku selama ini, tapi aku minta kalian berjanji satu hal. Ampuni nyawa anak istriku dan kalian harus berjanji kalau mereka berdua tidak akan pernah mengalami kekerasan apapun setelah semua ini berakhir,” kata Yusuf pelan kearah Yasin.
Nia masih memegangi rambut istri Yusuf yang menangis tanpa suara karena mulutnya tertutupi oleh kain yang diikat di kepalanya. Sedari tadi, istri Yusuf tak pernah mengalihkan pandangan matanya sedikit pun dari suaminya.
Laki-laki yang selama ini menjadi pelindung keluarganya dan kini bersimbah darah karena luka goresan pisau di tubuhnya itu. Laki-laki yang sekarang rela menyerahkan semua uangnya demi nyawa anak dan istrinya.
Laki-laki yang dia tahu sering meniduri wanita lain saat dia mengaku ada tugas negara memanggil dirinya dengan tiba-tiba di malam hari. Tapi dia tetap memilih untuk menjadi istrinya karena dia tahu, dibalik semua kebejatan suaminya, hanya dialah wanita yang Yusuf anggap sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.
Istri Yusuf juga mempunyai firasat yang aneh, firasat yang menyuruhnya untuk tidak pernah mengalihkan pandangan matanya sendiri dari sang Suami barang sedetik pun meski apapun yang terjadi.
Dan dia tetap melakukan itu, disaat wanita sadis yang tadi melukai suaminya itu menjambak rambutnya, istri Yusuf dengan teguh tetap memandang suaminya, meskipun air mata tak berhenti mengalir dari sana.
Yusuf juga melakukan hal yang sama. Dia hanya menatap sedih ke arah istrinya. Setelah itu, dia menolehkan kepalanya ke arah Yasin dan memegang handphone ditangannya.
“Berjanjilah! Atau kalian tidak akan menerima sepeserpun uangku,” kata Yusuf dengan tegas dan tanpa rasa takut.
Yasin menghela napas, “aku berjanji, kami akan mengampuni nyawa anak dan istrimu dan aku sendiri yang akan memastikan keselamatan mereka.”
__ADS_1
Yusuf tersenyum lega dan dengan cepat melakukan transfer uang ke nomor rekening yang diberikan oleh Nia. Tak lama kemudian, sebuah pesan notifikasi terdengar di handphone Nia dan dia tersenyum setelah membaca pesan notifikasi itu.
Nia menganggukkan kepalanya kearah Yasin sebagai tanda konfirmasi kalau uang yang ditransfer Yusuf sudah masuk ke rekening Nia. Yasin kemudian berjalan dengan muka sedikit sedih ke arah Yusuf.
“Palingkan muka kalian!” perintah Yasin ke arah anak dan istri Yusuf.
Gadis kecil itu menangis semakin keras dengan tubuh yang berguncang. Anak gadis Yusuf sekarang sudah duduk di kelas 3 SMP, tentu dia tahu maksud perkataan laki-laki tua yang sekarang memegang pisau ditangannya itu.
Si Gadis kecil itu kemudian memalingkan mukanya dan menutupkannya ke tubuh Ibundanya yang ada di sebelahnya. Berbeda dengan putrinya, istri Yusuf masih sama seperti yang tadi, tanpa berkedip menatap ke arah suaminya dengan mata yang berlinang air mata.
Dia kini tahu kenapa firasatnya menyuruhnya untuk tidak berpaling dari wajah suaminya. Karena saat inilah detik-detik terakhir kebersamaan mereka dan dalam kesempatan inilah, dia membuktikan sendiri betapa rasa sayang Yusuf kepada dirinya melebihi apapun.
Ketika Yasin melihat istri Yusuf sama sekali tidak berpaling atau menutup matanya, dia tersenyum pahit. Yasin meletakkan pisau di leher Yusuf dan berbisik pelan ke telinga laki-laki itu.
Yusuf tersenyum manis, “Mama, Papa sayang Mama sampai kapanpun. Maafkan Papa tidak bisa menemani Mama melihat anak gadis kita tumbuh dewasa. Teruslah hidup dengan bahagia sekalipun itu artinya Mama harus melupakan Papa saat memulai hidup yang baru nanti.”
Yusuf terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi, saat itu Yasin tahu kalau Yusuf sudah selesai melakukan perpisahan dengan istrinya. Tangan Yasin bergerak dengan cepat menggorok leher Yusuf melintang dari kiri ke kanan. Darah segar muncrat keluar dari luka di leher Yusuf.
Sebagian darah mengenai istri Yusuf dan anaknya. Tapi istri Yusuf sama sekali tidak mengedipkan matanya meskipun darah itu juga mengotori mukanya. Dia tetap menatap ke arah suaminya sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
Nia menyaksikan semuanya dan membuang napas panjang. Perlukah bagi mereka berdua untuk membunuh Yusuf setelah mereka berhasil mendapatkan uangnya? Jawabnya adalah perlu. Karena mereka akan menggunakan mayat Yusuf sebagai peringatan kepada Broto Suseno, bahwa ancaman mereka tidak main-main.
Bahwa ketika mereka tidak mendapatkan tebusan yang mereka minta, itu artinya, tanpa segan Yasin dan Nia akan menghabisi nyawa Amel. Sama seperti dengan mudahnya mereka menghabisi nyawa Yusuf.
Nia menoleh kearah istri Yusuf yang masih terpaku di tempatnya menatap ke arah tubuh suaminya yang kini tidak lagi bernyawa dan masih terikat di kursi, “kalian tunggu disini, tak lama lagi akan ada yang menyelamatkan kalian,” kata Nia ke arah istri Yusuf.
Setelah mendengar kata-kata Nia barusan, barulah istri Yusuf seperti tersadar dan melirik ke arah Nia dan Yasin yang masih berdiri di dekat kursi tempat mayat Yusuf terikat di kursi. Istri Yusuf melihat mereka berdua dengan lekat sekali tanpa berkedip, seolah-olah ingin memahat wajah dan tampilan mereka kedalam ingatannya.
Pandangan itu juga dipenuhi oleh sorot mata benci dan keinginan untuk melakukan balas dendam. Nia bahkan sedikit merasa bergidik ngeri ketika ditatap seperti itu oleh istri Yusuf. Yasin sang Guru hanya tersenyum ketika melihat wanita itu menatapnya dengan tatapan seperti itu.
Yasin sudah sering melihat tatapan seperti itu. Dimanapun tempatnya, ketika nyawa menjadi taruhannya, akan selalu ada pihak yang merasa tersakiti dan menyimpan dendam, itu adalah sesuatu yang pasti terjadi, sekalipun yang kita habisi nyawanya adalah penjahat atau buronan sekalipun.
“Wanita, ingat pesan terakhir Yusuf, hiduplah! Lupakan ini semua! Kamu dan anakmu tidak akan pernah punya cukup kemampuan dan sumber daya untuk membalas dendam kepada kami. Bahkan Yusuf sekalipun, ketika dia masih hidup, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa kepada kami berdua,” kata Yasin tegas kearah istri Yusuf.
Setelah itu Yasin memutar tubuhnya, Nia hanya melirik sekilas ke arah istri Yusuf setelah itu berjalan cepat menyusul kekasihnya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam yang sering terlihat mengantar dan menjemput Amel dari sekolahnya terlihat memasuki halaman rumah yang luas ini. Mobil itu berhenti di depan teras depan tempat Yasin dan Nia berdiri.
Satu orang laki-laki yang duduk di jok kedua kemudian berpindah ke jok baris ketiga yang ada di belakang. Seorang lagi yang tadi juga berada di samping Amel pindah ke bangku depan sebelah sopir. Nia dan Yasin kemudian masuk ke mobil di kursi baris kedua dan mengapit Amel di sebelah kiri dan kanannya.
__ADS_1
Amel mencium bau anyir darah ketika mereka berdua masuk ke dalam mobil. Dia sedikit mengrenyitkan dahinya karena bau itu, tapi Amel sama sekali tidak berkomentar apa-apa.
Setelah itu Nia memegang handphone dan memberikan isyarat tanya ke arah Yasin. Yasin menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Tak lama kemudian, Nia pun melakukan panggilan telpon. Panggilan telpon yang sangat mengagetkan Amel yang duduk diapit mereka berdua.