
“Umi, ada Ante…” teriak seorang bocah kecil pagi itu.
Tak lama kemudian, suara tawa terdengar dari bibir mungil milik si kecil yang sudah berada dalam gendongan seorang wanita berjilbab yang memasuki rumah Munding setelah mengucapkan salam.
“Tante bawa oleh-oleh untuk Alit, mau?” tanya Amel sambil menurunkan Alit dari gendongannya.
Amel duduk berjongkok di depan si Alit dan mencubit pelan pipi bocah kecil itu sambil menyembunyikan sesuatu dengan tangan kirinya di belakang badan.
“Mauuu…” jawab Alit sambil mengacungkan kedua tangannya ke arah Amel.
“Ni,” kata Amel sambil memberikan bingkisan di tangannya dan mengecup pelan kening si kecil.
“Bilang apa kalau dikasih sesuatu?” tegur Nurul dari dalam dapur.
“Makasih Ante…” kata Alit sambil melihat lekat-lekat ke arah bingkisan di tangannya.
Amel tersenyum dan menyorongkan pipi kanannya, “kalau gitu, kiss dulu,” kata Amel sambil menepuk-nepuk pipinya.
Alit pun mencium pipi kanan Amel dan menghilang.
Amel lalu berjalan masuk ke dapur dan melihat ke arah sosok yang dengan cekatan menyiapkan masakan sekalipun dia duduk di atas kursi roda miliknya itu. Amel menghela napas dan berjalan mendekat ke arah Nurul lalu memeluknya.
Beberapa perabot di rumah Munding memang sudah disesuaikan untuk membantu aktivitas Nurul dengan kekurangan yang dia miliki. Lagipula, Nurul juga tak mau memperkerjakan asisten rumah tangga di rumahnya, dia merasa kurang nyaman dengan kehadiran orang asing yang berada di dekat keluarganya.
Apalagi semenjak semua kejadian yang dia alami waktu itu. Kejadian yang membuat Nurul sadar, bahwa dunia yang digeluti oleh suami dan bapaknya sendiri adalah dunia yang sangat berbahaya.
Nurul tersenyum kecil. Dia memeluk lalu menempelkan pipi kanan dan kirinya.
“Gimana kerjaan Mbak?” tanya Nurul.
“Ya gitu deh,” jawab Amel pendek.
“Om sama Tante sehat kan?” lanjut Nurul lagi.
“Alhamdulillah, Alit makin pandai ya? Ish, makin ganteng juga,” puji Amel sambil meraih pisau di tangan Nurul setelah meletakkan tasnya entah kemana.
__ADS_1
“Ya iyalah ganteng, siapa dulu dong Bapaknya,” jawab Nurul yang membuat muka Amel langsung bersemu merah.
“Udah ah becandanya, sini Mbak bantuin masak,” sungut Amel.
\=\=\=\=\=
Sraaakkkkkkkk.
Sebuah cangkul bergerak mengayun turun dan mengenai tanah yang ada di depan Munding. Munding lalu mengangkat cangkul dan tanah yang ada di daun pisau cangkul itu keatas dan meletakkan tanah yang melekat tadi ke pematang sawah di sebelahnya.
Sraaakkkkkkk.
Munding mengulangi gerakan yang sama dengan gerakan tadi selama beberapa kali sebelum akhirnya dia memegang cangkul itu dengan tangan kanannya dan menaruhnya di pundak.
Munding menegakkan badan dan mendongakkan kepalanya sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Dia memejamkan matanya selama beberapa menit, lalu Munding kembali mengayunkan cangkul itu untuk meneruskan pekerjaannya.
Dulu, waktu kejadian dengan preman kampung di warung remang-remang milik Aditya, Munding pernah merasakan sendiri betapa kondisi dan koordinasi tubuhnya melemah karena kurangnya latihan. Munding tak ingin itu terjadi lagi.
Munding lalu menemukan cara latihan uniknya sendiri.
Itulah alasan kenapa Munding tidak meletakkan cangkulnya ke tanah saat beristirahat tadi. Dengan beban yang dimilikinya, si cangkul akan terbenam ke dalam lumpur sawah yang agak dalam dan susah diambil. Munding harus memikul cangkul itu setiap kali dia berisitirahat.
Munding tak bertanya jenis logam apakah yang dipakai oleh Arya untuk membuat benda ini. Munding juga tak menanyakan berapa harganya tapi beratnya lumayan dan bisa membuat otot-otot tubuh Munding terbebani maksimal hanya dengan melakukan aktivitas sederhana seperti mencangkul sawahnya.
Setelah melihat hasil kerjanya dari pagi sampai tengah hari ini, Munding tersenyum puas dan berjalan ke arah gubuknya. Biasanya di jam-jam segini, Nurul akan membawakannya makan siang lalu mereka akan menikmatinya di sini sebelum akhirnya bersama-sama pulang ke rumah.
Munding sebenarnya kasihan juga kalau melihat Nurul yang berusaha untuk tetap melakukan semuanya sendiri. Dengan keterbatasannya, dia masih harus memasak dan merawat Alit untuknya. Munding berusaha membantu sebisanya, dia juga menawari Nurul agar mencari asisten rumah tangga untuk membantunya. Tapi Nurul selalu menolak semua itu, dan diskusi mereka pasti berujung ke satu nama, Amel.
“Assalamualaikum,” terdengar suara lembut terdengar di telinga Munding.
“Eh?” Munding kaget, nama yang baru saja terlintas di kepalanya tiba-tiba saja kini sosoknya muncul di depan Munding.
“Bukannya jawab salam, malah ‘Eh?’ nggak sopan banget,” sungut Amel.
Munding tersenyum kecut dan menjawab salam Amel, “Waalaikumussalam,” setelah itu dia mencari-cari sosok istrinya, tapi kok nggak keliatan?
__ADS_1
“Nurul mana?” tanya Munding.
“Bentar lagi nyusul kok, tadi dia minta tolong aku bawain makan siang dulu buat Mas,” jawab Amel sambil berjalan ke gubuk dan membuka rantang yang dia bawa.
Lalu mereka berdua saling bergerak dalam diam. Amel melayani Munding dengan cekatan, mengambilkan makanan, minum dan lauk pauknya. Setelah itu, dia hanya melihat Munding makan siang tanpa berniat untuk ikut makan sekalian.
Munding jelas saja risih ketika menyadari kalau Amel melihatnya seperti itu.
Munding dan Amel sama-sama berumur 26 tahun saat ini. Mereka bukan lagi anak-anak atau remaja yang masih sibuk dengan urusan mencari jatidiri. Mereka sudah melewati tahapan itu.
Mereka berdua tahu apa yang ada dalam dada masing-masing tanpa harus berkata apa-apa. Amel yang akan selalu punya rasa untuk Munding sejak SMA dulu, dan Munding yang akan selalu menomorsatukan keluarganya dibandingkan apa pun.
Dua orang anak manusia, satu pria dan satu wanita, menikmati siang yang cerah di sebuah gubuk yang berada di pinggir sawah. Ditemani dengan sepoi-sepoi angin segar pedesaan dan kicauan burung di kejauhan.
Sang wanita tak bisa mengalihkan tatapan matanya dari sang pria, sedangkan sang pria tak berani mengangkat kepalanya dan berpura-pura menikmati hidangan di depannya seolah tak terjadi apa-apa.
“Enak Mas?” tanya Amel memecah keheningan diantara mereka berdua.
“Enak, siapa yang masak?” tanya Munding.
“Mmm. Aku lah yang masak,” kata Amel sambil tersenyum bangga.
Munding mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Amel dengan tatapan mata tak percaya dan seolah-olah meragukan Amel.
Muka Amel memerah lalu dia mendelik ke arah Munding, “Apaan ngelihatin segitunya? Ndak percaya? Emang Amel yang masak kok, bareng Dek Nurul,” sungut Amel.
“Hahahahahahahahaha,” Munding tertawa melihat reaksi Amel.
“Kamu tu nggak pernah berubah ya Mel. Masih kek dulu,” lanjut Munding sambil kembali menundukkan kepalanya.
“Tapi seriusan lho Mas, aku dah bisa masak sekarang,” protes Amel dengan suara yang tak sekeras tadi.
“Iya-iya, aku percaya,” jawab Munding sambil tersenyum dan meneruskan makan siangnya.
“Huft,” dengus Amel kesal.
__ADS_1