
Semua pemain inti sudah berkumpul, Munding sendiri kemana?
Nyasar.
Munding benar-benar nyasar di dalam Kafe Aditya. Dia tak pernah sekalipun masuk ke tempat seperti ini. Dan dengan PDnya dia mengambil kesimpulan sendiri, padahal dah jelas diajarkan sejak SD, malu bertanya sesat di jalan. Mungkin Munding sedang tidak masuk kelas saat gurunya mengajarkan itu.
Dan disinilah Munding sekarang, di sebuah ruangan yang penuh sesak dengan botol minuman keras berbagai merek yang ventilasinya terbatas dan sedikip pengap.
Terkunci di dalamnya tanpa bisa kemana-mana dari tadi.
Munding bukan Superman yang bisa menghancurkan tembok dengan kepalan tangannya. Munding manusia biasa yang sama seperti kita, makan nasi dan sayuran, merasakan sakit jika terkena pukulan dan berdarah saat terkena senjata tajam.
Karena itu, sedari tadi, Munding berusaha mencari cara agar bisa keluar dari ruangan ini tapi belum berhasil.
"Nggak lucu, sama sekali nggak lucu," gumam Munding, "sungguh tega si author kacangan menghancurkan image-ku sedemikan rupa. Nyasar? Sontoloyo!!" teriak Munding.
Saat sedang merenungi nasibnya, tiba-tiba Munding melihat sebuah cahaya muncul dari pintu yang dibuka dan ternyata pintu itu ada tepat di sebelahnya. Sepasang muda mudi yang terlihat mengenakan seragam karyawan Kafe sedang bercumbu dengan hot-hotnya dan berencana untuk menggunakan gudang miras ini sebagai tempat penuntasan hasrat mereka.
Munding hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, apa yang bisa diharapkan dari kelakuan pekerja Kafe yang mempertontonkan dan memperjualbelikan kebejatan non stop?
Ya seperti ini, sepasang karyawan horny yang memanfaatkan jam kerja mereka melakukan quickie di gudang miras.
"Tunggu Yang, keknya ada orang di dalam sini deh," bisik si cewek.
"Mana ada, kan kita tadi yang buka pintunya. Lagian aku sendiri yang ngunci gudang ini tadi. Kuncinya juga aku pegang terus. Nggak bakalan ada yang ngeganggu kita," jawab si cowok yang langsung membuat Munding meradang.
"Ternyata bede**h satu ini yang membuatku terkunci disini?" rutuk Munding dalam hati, saking emosinya sampai keluar kata-kata kasar meskipun cuma dalam hati.
Munding dengan cepat berdiri di belakang si cewek dan melihat ke arah si cowok.
Awalnya si cowok tak menyadari kehadiran Munding, tapi saat dia mengambil napas sebelum melanjutkan mimik susunya, dia melihat sosok Munding di belakang cewek yang dipeluknya.
"Haaaaa," kata Munding sambil menyeringai, melotot dan membuka mulutnya lebar-lebar, mirip orang dewasa yang sedang menakuti anak-anak kecil.
__ADS_1
Tapi, diluar perkiraan Munding, triknya sukses. Si cowok itu langsung lemas pingsan tak sadarkan diri, "Yang? Belum juga nancep dah lemes aja sih?" protes si cewek yang bakalan membuat siapapun yang mendengar kata-katanya percaya kalau cowoknya impoten.
Munding tak peduli lagi kepada kedua karyawan bejat itu dan meninggalkan mereka di gudang miras itu. Dia berjalan dengan cepat dan menuju ke ruang utama yang ramai tadi dan berniat bertanya saja daripada mencari sendiri seperti tadi.
Tapi sesampainya di ruangan utama, Munding kaget. Ada banyak pria berwajah sangar dan mata jelalatan disana. Apalagi saat melihat Munding dan dandanannya yang tak sesuai dengan tempat ini. Mereka langsung mengepung Munding.
"Kamu yang berniat menyerang tempat ini?" tanya salah satu pria berwajah sangar itu.
"Nggak, aku cuma mau reunian dengan Puji. Dia kawanku SD," jawab Munding.
"Masih bisa becanda kau ya?" bentak si pria tadi.
Musik keras yang terdengar menghentak tiba-tiba saja terhenti. Semua mata memandang ke arah Munding yang sudah dikepung 5 orang pria berwajah sangar di tengah dance floor yang sekarang memberikan ruang untuk mereka berenam.
Para pria dan wanita bejat yang tadinya sedang asyik bergelap-gelap ria, kini melayangkan pandangannya ke tengah ruangan secara serentak.
Mereka tahu kalau bakalan ada UFC live entertainment sebentar lagi.
"Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Pikir baik-baik langkahmu," kata salah satu preman bayaran yang terlihat paling senior dan sudah banyak makan asam garam kehidupan.
Muka si preman tua langsung merah padam. Niat baiknya malah dijadikan bahan ejekan oleh anak muda tak tahu diri itu.
Dengan cepat si preman tua meraih botol miras di meja yang terdekat dengan tempatnya berdiri tapi belum sempat dia melemparnya ke arah Munding, seorang pramuria memanggilnya.
"Bang, yang itu masih ada isinya. Ni yang udah kosong," kata si gadis sambil menyodorkan dua buah botol kosong ke si preman tua.
"Makasih Dek," jawab si preman tua sambil menerima dua botol kosong dari si pramuria.
"Hiyaaaaaa," teriaknya sambil mengayunkan botol kosong di tangan kanannya ke arah Munding.
Ssshhhhhh.
Praakkkk.
__ADS_1
Prangggg Pranggggg.
"Lho?" Munding kaget.
"Kok bunyinya prakkkk?" Munding lalu melihat ke arah preman tua yang tersungkur di lantai sambil memegangi pergelangan tangan kanannya dengan tangan kiri.
Dua botol miras pecah di dekatnya. Saat Munding menggunakan tendangannya tadi, dia berniat menendang botol miras di tangan si preman tua. Seharusnya berbunyi prangg. Tapi di luar dugaannya, tendangan Munding meleset dan mengenai pergelangan tangan preman tua dan mematahkannya.
Akibatnya, botol kosong di tangan kanannya terjatuh dan saat dia menggunakan tangan kirinya untuk memegang pergelangan tangan kanannya yang patah, botol kedua jatuh.
Munding malu sekali.
Ini kali pertama tendangannya meleset dan setelah dia memikirkan penyebabnya, dia tahu kalau semua itu gara-gara sejak menikah dengan Nurul dan tinggal di Sukorejo, Munding tak pernah latihan silat lagi.
"Pak Yai ... " gumam Munding.
"Kata Bapak, nggak perlu lagi latihan fisik dan teknik, gini nih hasilnya," keluh Munding dalam hati dan dia berjanji setelah semua ini selesai, dia musti balik latihan lagi.
Untung saja suasana di Kafe Aditya gelap temaram, gurat merah di wajah Munding tak terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.
Tapi, lain isi kepala Munding, lain pula isi kepala musuh-musuhnya.
Mereka mulai jiper melihat Munding dengan mudahnya mematahkan pergelangan tangan si preman tua dengan tendangan kakinya.
Oke, mungkin karena faktor usia, tulang kawan itu mulai rapuh, tapi kalau tendangan yang sama mengenai mereka, hasilnya tak akan jauh berbeda.
Suasana diam mencekam kembali melanda ruang utama Kafe Aditya.
Mungkin kalau ada suara yang terdengar, hanyalah napas yang mulai menderu dari arah meja yang ditempati Tante-Tante girang. Sebagian dari mereka melihat Munding dengan tatapan seekor predator yang seolah-olah melihat mangsa yang menggiurkan. Memang sakit jiwa mereka.
"Kalian mau maju bersamaan atau satu-satu?" tanya Munding ke arah empat orang yang tersisa.
Keempat orang itu saling bertatapan mata dan seperti dikomando mereka serempak menyerang Munding bersamaan.
__ADS_1
Munding menghela napas, "kalau tahu mau main keroyokan, nggak perlu aku tanya tadi," keluhnya dalam hati.
Munding bergerak maju dengan langkah silatnya dan memasang kuda-kudanya. Otot tubuhnya mengencang semua kecuali di bagian leher ke atas. Mempersiapkan diri untuk menerima serangan ke tubuhnya. Persiapan yang sama ketika Pak Yai dulu sering menggebuknya dengan batang bambu.