
Munding terbaring lemah di dalam mobil ambulan yang membawanya ke rumah sakit. Seorang gadis duduk di samping Munding dan terlihat sedikit kuatir, pandangannya tak berhenti melihat ke arah pemuda yang terbaring lemah di atas tandu itu.
“Kamu ngapain sih ngelihatin segitunya Mel?” kata Munding pelan.
“Kenapa, emang nggak boleh?” jawab Amel, sekalipuan kata-katanya terdengar ketus, tapi nada suaranya sama sekali tidak seperti itu.
Munding hanya menggelengkan kepalanya pelan, “aku nggak apa-apa, paling setelah istirahat cukup juga pasti bakalan baikan. Kamu nggak usah terlalu kuatir gitu.”
Amel menyenderkan punggungnya di sandaran kursi yang ada di belakangnya kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Dia membuang mukanya dan melihat kearah depan yang hanya berisi sebuah kaca kecil yang nyambung ke kursi supir di depan.
Mata Amel terlihat sedikit berkaca-kaca, tak lama kemudian dia menggunakan punggung tangannya untuk mengusap air mata yang mulai turun ke pipinya.
Munding cuma memaki-maki dalam hati, lebih baik dia berkelahi daripada harus mengerti dan memahami perasaan mahluk yang bernama cewek. Tadi waktu mereka di rumah Yusuf, Amel dengan nekat menciumnya dan mengatakan kalau dia suka Munding, tapi sekarang gadis itu justru menangis sendiri tanpa sebab.
Munding pun tidak tahu harus berbuat apa.
Sebuah pemandangan yang aneh pun terlihat di mobil ambulance siang itu.
Seorang pemuda terbaring lemah dan seorang gadis yang menangis terisak-isak di dekatnya. Dan juga seorang perawat wanita yang sedari tadi tidak berani bergerak ataupun membuat suara apapun di dekat pintu belakang ambulan karena takut dia akan mengganggu sepasang muda-mudi yang ada di dalam sana.
Perawat itu tahu kalau si gadis adalah putri semata wayang atasan tertinggi mereka, kalau sampai seorang perawat seperti dia mengganggu urusan asmara si tuan puteri, bisa-bisa seseorang akan menyeretnya untuk interogasi ke kantor nanti.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Munding terlihat sudah kembali seperti biasa, dia sedang memutar-mutar tangannya dan mencoba melakukan gerakan sederhana. Seorang dokter wanita terlihat menemani di sampingnya dan melihat Munding dengan seksama, sesekali dia akan mencatat sesuatu di dalam kertas yang ada di tangannya diatas sebuah clip board.
Selama empat hari ini, Munding bisa beristirahat dan mengembalikan staminanya dengan efektif. Amel tak pernah mengunjunginya lagi sekalipun. Pertemuan terakhir Munding dengan Amel adalah saat gadis itu mengantarnya di dalam ambulan.
Justru teman-teman Munding yang hampir setiap hari datang kesini. Fariz, A Long, Rin, Wowo dan gadis-gadis mereka. Yang paling rajin datang berkunjung menjenguk Munding tentu saja si Fariz. Dan semua orang tahu sebabnya. Ambar memang ditugaskan oleh Broto untuk mengurusi semua keperluan Munding selama perawatan di rumah sakit ini.
Fariz tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendekati Ambar. Munding dan kawan-kawannya yang lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Fariz. Semua orang bisa melihat kalau Ambar hanya menganggap Fariz sebagai seorang adek, seorang anak kecil. Bukan sebagai laki-laki. Hanya Fariz yang berkeras kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Meskipun Munding tidak melihat Amel selama beberapa hari ini, tapi dia tidak pernah menanyakan gadis itu kepada siapapun. Sekalipun itu kepada teman-temannya ataupun kepada Ambar. Dia tidak mau kalau nanti pertanyaannya disalahartikan oleh siapapun.
Dan di hari keempat ini, Munding meminta dokter untuk mengijinkan dirinya untuk pulang ke rumah. Karena itulah sekarang Munding sedang melakukan beberapa gerakan aneh dan sederhana untuk menguji apakah ada kelainan atau gejala lain yang belum diketahui.
Setelah melakukan berbagai gerakan yang diminta oleh dokter, Munding tersenyum puas ketika dokter wanita berkacamata itu mengacungkan jempolnya sebagai tanda kalau dia sudah sehat dan bisa didischarge sesegera mungkin.
\=\=\=\=\=
Beberapa siswa yang selama ini mendapatkan pasokan narkoba dari Bram dan kemudian Kusnadi sedikit demi sedikit mulai menampakkan gejala sakawnya. Jumlah yang ternyata cukup mengagetkan pihak sekolah. Sekitar 10% dari murid di sekolah mereka adalah pengguna narkoba.
Itu artinya lebih dari 100 orang adalah pengguna dan membutuhkan perawatan atau rehabilitasi. Dari kelas Munding sendiri, ada hampir 5 anak yang merupakan pecandu narkoba. Sebagian besar dari pengguna itu juga diidentifikasi berasal dari kelas yang rata-rata adalah kelas si Kaya. Sedangkan sebagian kecil saja yang berasal dari kelas normal. Dan kebanyakan dari mereka adalah gadis-gadis yang berwajah cantik.
Di kelas Munding sendiri, kegiatan belajar mengajar mulai berangsur normal, meskipun siswa masih belum memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh guru, tapi tidak ada yang bersuara gaduh dan dengan sengaja membully guru-guru mereka.
__ADS_1
Amel dan Munding masih tetap duduk satu meja seperti sebelumnya, meskipun semua orang bisa melihat kalau hubungan mereka sedikit canggung dan tidak seperti dulu. Amel juga terlihat menjaga jarak dengan Munding.
Munding tidak pernah menanyakan apa alasan Amel tidak menjenguknya sama sekali ketika dia dirawat di rumah sakit selama beberapa hari kemarin, “biarkan saja semuanya berlalu dan dilupakan waktu, toh setelah ini semua selesai, aku akan pulang ke rumah dan tidak akan bertemu lagi dengan Amel,” batin Munding waktu itu.
Lama-kelamaan Munding menjadi seperti Bram jaman dulu, tidak ada yang meragukan eksistensinya sebagai raja di Harsa dan tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya di seluruh Harsa, kecuali satu orang, Amel.
Tanpa terasa, waktu sudah berjalan hampir satu bulan setelah tragedi berdarah di rumah Yusuf. Munding yang merasa bahwa semua misinya di sekolah ini sudah tercapai, memutuskan untuk menemui Pak Broto malam itu untuk mengakhiri tugasnya ini.
\=\=\=\=\=
Broto duduk di sofa ruang keluarga rumahnya dengan Umar yang masih setia berdiri di belakangnya. Munding sempat juga bertanya dalam hati, apakah Umar juga akan tetap menjaga Broto saat dia masuk ke kamar tidur bersama istrinya?
Cuma ada mereka bertiga di dalam ruang keluarga saat ini.
“Kamu serius Munding?” tanya Broto.
Munding menarik napas, “sesuai kesepakatan dulu. Saya kan dianggap sudah menjalani masa tahanan ketika saya sudah selesai menjalankan misi. Dan saya merasa kalau misi saya sudah selesai, jadi tidak ada alasan lain untuk tetap tinggal disini.”
“Tapi kamu bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik di sini. Setidaknya kamu bisa tetap disini sampai kamu mendapatkan ijazah SMAmu,” kata Broto.
Munding hanya tersenyum, “entah kenapa, dari dulu saya tidak pernah merasa kalau ijazah sekolah itu sepenting itu. Saya sama sekali tidak berniat mencari atau melamar kerja ke manapun.”
Mereka bertiga terdiam.
__ADS_1
“Amel tahu?” tanya Broto pelan, kali ini, pertanyaan ini bersifat pribadi. Broto tahu kalau putri semata wayangnya itu sudah jatuh hati pada pemuda di depannya ini.
Munding menggelengkan kepalanya dan mereka bertiga kembali terdiam.