
Nama Ahmad Hambali memang menjadi pusat perhatian dalam komunitas serigala petarung pada masanya dulu. Dia dianggap sebagai kandidat terkuat untuk menjadi petarung manifestasi selanjutnya. Bahkan Dirman dan Nasution sudah mempersiapkan diri sejauh mungkin untuk mengantisipasinya.
Karena sepak terjangnya, para petarung manifestasi sudah menebak ke arah mana konsep Pak Yai berkembang. Sebuah konsep yang sangat mengerikan dan bahkan membuat Jenderal tua sekaliber Dirman bergidik ketakutan. Dia memang bercanda saat tadi mengatakan kalau dia akan pensiun saat Pak Yai berhasil melewati tahapan manifestasi sepenuhnya, tapi Dirman serius dengan candaan itu.
Karena konsep yang dimiliki Pak Yai adalah slaughter.
Tidak ada yang istimewa dengan manifestasi intent dengan konsep Pak Yai. Intent Pak Yai akan berubah menjadi senjata yang ingin dia gunakan. Bisa berupa pisau, pedang, celurit, tombak dan benda apapun yang bisa digunakan untuk bertarung.
Tetapi yang mengerikan dari konsep itu adalah efek yang diterima oleh sang Petarung sendiri.
Konsep slaughter milik Pak Yai akan membuat dia menjadi semakin kuat seiring dengan lamanya pertarungan yang dia jalani. Akan membuat dia semakin kuat seiring bertambahnya jumlah musuh yang tumbang di tangannya. Pak Yai tak akan merasakan kelelahan dengan berjalannya waktu, tapi dia justru akan semakin kuat, secara terus menerus, tanpa henti, tanpa batas.
Konsep itu seusai dengan karakter Pak Yai yang memang sedari muda sudah mengalami pertarungan demi pertarungan tanpa henti. Tapi, saat dia hidup berkeluarga dengan istri keduanya dan memiliki putri kecil bernama Nurul. Pak Yai merasakan sisi kehidupan yang lain. Dia hidup bahagia bersama keluarganya.
Pak Yai kehilangan momentum dan akhirnya, proses manifestasi Pak Yai terhenti sampai saat ini dan dia hanya berada pada level half-step saja. Tak pernah sekalipun menunjukkan progress ke arah tahapan selanjutnya.
“Ingat. Aku sudah bilang di awal. Aku tak pernah menyesal sekalipun aku terjebak di levelku yang sekarang. Aku hidup bahagia,” jawab Pak Yai sambil tersenyum.
“Oke-oke. Cukup nostalgianya. Tuhan itu adil. Kalau Ahmad sukses naik ke manifestasi, tak akan ada keseimbangan lagi. Tapi kita juga tak mungkin berkumpul disini untuk membahas masalah ini seperti sekarang kan?” kata Dirman.
Semua orang terdiam.
“Tapi, apa yang dikatakan oleh Ahmad benar. Masalah terbesar Munding sekarang adalah konsep.”
“Kita, dulu saat mencoba untuk melewati tahapan manifestasi memilih sendiri konsep yang akan kita pakai dan paling sesuai dengan naluri dan kesadaran diri kita.”
“Konsep yang akan memberikan karakter kepada intent yang kita miliki. Intent yang akan menjadi jembatan untuk melakukan proses asimilasi naluri dan kesadaran diri.”
“Jadi, pilihan konsep kita harus sesuai dengan naluri dan kesadaran diri kita. Harus sesuai dengan karakter kita. Harus sesuai dengan tujuan kita saat menjadi seorang petarung. Harus sesuai dengan naluri kita tentang apa yang kita inginkan yang sebenarnya.”
“Itu adalah proses manifestasi yang kita semua jalani.”
“Tapi Munding berbeda. Proses manifestasinya terjadi secara alami. Disaat dia bahkan belum tahu apa itu manifestasi dan mungkin juga dia bahkan tak tahu tentang konsep sama sekali.”
__ADS_1
“Dan ini sangat berbahaya!” kata Dirman mengakhiri analisanya.
Mereka semua kembali terdiam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing. Tak ada seorang pun yang berbicara tetapi mereka semua sedang mencoba untuk memikirkan solusi untuk masalah ini.
Tapi mereka tak mendapatkannya.
Itulah kenapa seseorang guru hanya bisa menunjukkan jalan dan si murid harus menempuh perjalanan itu sendiri saat menjadi serigala petarung. Hanya diri kita sendiri yang memahami sepenuhnya apa yang kita inginkan dan seperti apa sebenarnya jati diri kita.
Tak akan ada orang lain yang mengenal kita melebihi diri kita sendiri.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Aisah, menyerah.
Dirman menarik napas dalam, “Kita hanya bisa menunggu dan berdoa, semoga Munding mampu memahami semua proses yang asing baginya ini dan mengambil jalan yang tepat.”
Kalimat Dirman barusan mengakhiri pertemuan istimewa ini. Dan mereka harus akui kalau mereka gagal untuk membangunkan Munding dari kondisi koma-nya.
\=\=\=\=\=\=
Munding tak lagi merasa asing dengan kegelapan di sekitarnya. Dia sekarang justru merasa nyaman dan aman di antara ruang gelap tak berbatas ini. Seolah-olah merasa kalau dia telah kembali ke tempat yang seharusnya.
Tiba-tiba, Munding merasa melihat sebuah titik cahaya yang makin lama makin membesar. Titik itu menyerupai sebuah bintang. Berwarna putih terang lalu lama kelamaan berubah menjadi kekuningan. Kemudian terus meredup lalu bintang itu meledak dan menghilang. Meninggalkan sebuah lubang hitam gelap yang menghisap apapun di depannya. Lalu gambaran itu menghilang dan semuanya kembali dipenuhi kegelapan.
Bukankah aku tak bisa melihat apapun disini? Kenapa aku tadi melihat proses evolusi sebuah bintang?
Apakah aku tidak sendirian disini?
Apakah ada yang mencoba untuk membuatku memahami sesuatu?
Munding akhirnya memutuskan untuk melupakan semua pertanyaan itu dan mencoba untuk mengingat lagi proses evolusi sebuah bintang yang dilihatnya tadi.
Bintang adalah sumber cahaya di alam semesta. Dia tumbuh dan berkembang lalu berakhir sebagai lubang hitam. Apa maksudnya?
Tapi entah kenapa Munding merasa lebih tertarik dengan lubang hitam yang dilihatnya terakhir kali sebelum penglihatan itu menghilang.
__ADS_1
Betapa mengerikan dan menakutkannya saat Munding melihat benda itu.
Tak ada yang lebih mengerikan dari lubang hitam. Sebuah entitas yang bisa menghisap semuanya, benda, planet, asteroid, semuanya. Bahkan dia mampu menghisap sesuatu seperti cahaya, ruang dan waktu.
Tapi, siapa yang menyangka kalau entitas mengerikan itu berasal dari bintang yang bersinar terang dengan cahayanya dan juga menjadi sumber kehidupan bagi planet-planet yang mengitarinya.
Tetapi bahkan benda sebesar dan sehebat sang bintang, pada suatu ketika akan hancur dan menjadi sebuah benda mengerikan seperti lubang hitam.
Apa lagi manusia lemah seperti dirinya?
Pada akhirnya semua akan hancur lebur saat waktunya tiba.
Dan tiba-tiba Munding teringat kata-kata Om-nya dulu.
“Mahluk itu fana, yang kekal hanya Sang Pencipta. Jadi sudah sewajarnya kalau semua ciptaan akan kembali hancur karena sifat aslinya yang fana itu.”
Apakah ini yang dulu dimaksud oleh Om Leman?
Munding sudah memahami itu. Bintang, manusia, planet, hewan, tumbuhan, semua mahluk akan hancur karena sifatnya yang fana.
Tapi apa hubungannya dengan manifestasi?
Apa hubungannya dengan tempat ini?
Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini?
Munding kembali merasakan kehilangan arah dan kebingungan lagi.
Munding mulai benar-benar putus asa. Dia sudah tak ingat lagi berapa lama dia berada di tempat ini. Puluhan tahun? Ratusan tahun? Masihkan Nurul hidup? Apakah anaknya sudah lahir?
Tak ada konsep waktu disini. Saat Munding menjalani ulang kehidupannya dengan mengulang semua ingatannya. Dia seolah-olah menjalani kehidupan itu lagi.
Karena itu, Munding sudah kehilangan petunjuk dan tidak tahu lagi berapa lama dia sudah tejebak di dalam dunia yang hanya berisi kegelapan dan kesunyian ini.
__ADS_1
Mungkin dia akan berada disini untuk selamanya?