
Nurul datang tergopoh-gopoh dengan membawa sekantung plastik es batu dan langsung memberikannya kepada bapaknya.
Pak Yai mengambil es itu kemudian mencari palu dan memecahkannya kecil-kecil.
“Sini!” kata Pak Yai kepada Munding.
Pak Yai kemudian mengompress bagian tubuh Munding yang memar-memar dengan es batu. Munding menggeliat-geliat antara kedinginan, geli dan ngilu. Tapi untungnya setelah dikompress rasa ngilu agak berkurang.
“Kalau nggak pulang ke rumah, kamu dicari sama Bapakmu nggak?” tanya Pak Yai ke Munding setelah selesai mengompress luka memar di tubuh Munding.
“Munding sudah nggak punya Bapak, Pak Yai,” jawab Munding pelan.
“Oooooooo,” entah kenapa, nada suara Pak Yai menjadi lebih lembut.
“Ya udah kalau gitu. Kamu tidur di Mushola sana! Nanti biar Nurul yang nganter sarung untuk selimut,” perintah Pak Yai.
Munding berjalan tertatih-tatih ke mushola yang ada di dekat rumah Pak Yai dan masuk ke dalamnya. Meskipun mushola ini terlihat kecil, tapi lantai dalamnya sudah dilapisi karpet tebal yang bermotif sajadah. Lumayan anget buat alas tidur.
Munding merebahkan badannya ke atas karpet yang ada di mushola. Matanya mulai terpejam dan tubuhnya yang lelah mengantarkannya terlelap cuma dalam hitungan menit.
“Masssss. Massss Mundinggg,” ada suara terdengar yang memanggil nama Munding.
Munding membuka matanya dan menemukan dirinya tertidur di tempat asing. Tapi sesaat kemudian dia sadar dan ingat semuanya. Dia menginap di rumah Pak Yai.
“Mas? Sudah bangun to Mas?” tanya Nurul, gadis kecil anak Pak Yai.
Munding menganggukkan kepalanya sambil mengedip-ngedipkan matanya, mencoba menghilangkan kantuk yang tadi sudah membuatnya terlelap.
“Ni selimutnya. Baru juga rebahan, kok bisa langsung tidur gitu to Mas?” protes Nurul.
“Makasih ya Dek Nurul,” kata Munding sambil tersenyum.
Nurul membalas dengan senyuman, kemudian dia berlari kembali ke dalam rumah Pak Yai.
__ADS_1
Munding memakai selimut yang diantar Nurul dan tubuhnya menjadi terasa lebih hangat dan mendingan. Munding baru teringat kalau sedari tadi dia cuma memakai sarung. Kaos dan celananya masih basah kuyup diguyur Pak Yai tadi.
Tak lama kemudian Munding sudah terlelap ke alam mimpi.
\=\=\=\=\=
Munding kecil sedang menemani bapaknya, Wage, di sawah. Menemani Bapaknya di sawah adalah hal yang paling membahagiakan bagi Munding kecil yang masih kelas 4 SD. Munding senang melihat Bapaknya yang sedang mencangkul, menyiangi dan merawat padi yang ada di sawahnya.
Tak lama kemudian, serombongan anak-anak kecil seusia Munding lewat di dekatnya yang sedang asyik melihat Wage menyiangi rumput di pematang sawah.
“Nding, maen kelereng yuk?” ajak salah satu anak itu.
“Nggak ah. Aku nggak punya kelereng,” jawab Munding sambil menggelengkan kepalanya dengan raut muka yang agak sedih.
Sebenarnya Munding juga ingin bermain kelereng seperti anak-anak sebayanya yang lain, tapi dia tidak pernah mendapatkan uang jajan dari Bapaknya. Meski begitu Munding tidak pernah mengeluh akan hal itu.
Wage yang melihat percakapan antara Munding dan kawannya tersenyum.
“Bapak tadi mampir ke Kokoh sebentar, beli kelereng satu kantong Le. Bapak simpan di lemari Bapak yang paling bawah. Lupa tadi mau ngasih ke kamu,” teriak Wage dari tempatnya berdiri.
Wage hanya tersenyum sambil mengangguk ke arah Munding.
“Kalian mau maen dimana? Aku ambil kelereng dulu ya? Nanti aku nyusul kalian,” kata Munding sambil berdiri.
“Kami tunggu di depan rumah Edi ya?” kata salah satu anak tersebut.
Munding secepat kilat berlari pulang ke rumahnya. Ketika Munding sampai dirumah, tanpa pikir panjang, Munding langsung masuk ke dalam kamar Bapaknya. Dia membuka lemari dan kemudian mencari-cari sekantong kelereng yang dibelikan oleh Bapaknya.
Tubuh Munding masuk seluruhnya ke dalam lemari karena setelah beberapa menit mencari, dia tidak menemukan kelereng yang ada disana.
Dan ketika Munding akhirnya menemukan 10 butir kelereng yang dibungkus dengan kantong plastik kecil transparan itu, Munding bagaikan menemukan harta karun yang paling berharga di dunia.
Munding senang sekali waktu itu.
__ADS_1
Brakkkkkk.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbanting dari luar lemari. Tubuh Munding kecil yang dari awal sudah ada di dalam lemari terkejut mendengar suara tersebut. Secara tidak sadar, Munding duduk meringkuk di dalam lemari dan tidak berani keluar.
Saat itu, Munding dengan tidak sengaja melihat kejadian yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
Ibu Munding, Sutinah, sedang berada dalam pelukan seorang laki-laki. Munding tahu laki-laki itu. Dia adalah si kepala desa, Karto Sentono.
\=\=\=\=\=
*Scene deleted.
\=\=\=\=\=
Sutinah mengambil handuk dari gantungan baju kemudian dengan bibir yang mencibir dia membuka kamar dan berjalan ke arah kamar mandi yang ada di belakang rumah.
Munding yang bersembunyi di dalam lemari merasakan seluruh tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan. Munding, anak desa yang baru duduk di kelas 4 SD, sama sekali tidak mengerti apa yang barusan terjadi beberapa menit lalu.
Tapi entah kenapa dada Munding terasa sesak dan sakit sekali. Munding tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tanpa tahu alasannya, Munding merasa saat itu dia ingin sekali mengambil pisau yang ada di dapur dan menusukkannya ke dada Karto.
Munding menggenggam kuat kantong plastik yang berisi sepuluh butir kelereng itu dengan telapak tangannya. Munding merasakan rasa takut yang luar biasa di dalam dirinya. Rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Munding kecil tidak merasa takut kalau dia ketahuan oleh Karto atau Ibunya. Tidak, sama sekali tidak.
Munding takut kalau saat itu dia tidak bisa menahan desakan yang muncul tiba-tiba dan mencoba menguasai dirinya. Desakan tiba-tiba yang berteriak dan menyuruhnya untuk menancapkan sebuah pisau ke dada Karto.
Bunuh!!
Bunuh!!
Teriakan lantang yang berteriak di kepala Munding dan memenuhi isi otaknya, yang muncul berbarengan dengan rasa sesak dan sakit di dadanya. Munding kecil terengah-engah menarik napas panjang di dalam lemari. Dia mencoba untuk menekan dorongan itu sebisa mungkin.
Dan tiba-tiba saja Munding teringat wajah Bapaknya yang penuh keringat dan sedang bekerja dengan tekun di sawah. Wajah Bapaknya yang tertawa sumringah saat melihat padinya menguning dan siap dipanen.
__ADS_1
Wajah Bapaknya yang siap untuk memanggul Munding di pundaknya, meskipun lelah bekerja seharian.