
Bagi seorang serigala petarung tahap inisiasi yang akan melangkah ke tahap manifestasi, mereka harus menentukan konsep yang akan dia gunakan sebagai dasar untuk melakukan manifestasi intent mereka.
Para petarung manifestasi menyebutnya sebagai ‘konsep’.
Konsep inilah yang kemudian akan mempengaruhi karakter dari sebuah manifestasi intent yang dilakukan oleh sang Petarung.
Sebagai contoh, Leman sebenarnya adalah seorang petarung yang mempunyai hati lembut. Dia lebih memilih bertahan daripada aktif menyerang. Karena itu dia memilih untuk menggunakan konsep pertahanan diri saat melakukan manifestasi, dan konsep yang dia pilih adalah ‘kekerasan’. Kekerasan dalam artian disini adalah sifat keras sebuah benda bukan tindakan anarki.
Karena Leman memilih untuk menggunakan konsep ‘kekerasan/hardness’ untuk manifestasi intent miliknya, efeknya, saat Leman bertarung, seluruh permukaan tubuhnya akan diselimuti oleh lapisan intent yang termanifestasi ke dalam bentuk nyata dan mempunyai sifat keras yang luar biasa. Inilah yang menjadi sumber dari pertahanan diri Leman saat menerima serangan musuhnya.
Berbeda dengan Leman, Hikari lebih suka menyerang dibandingkan bertahan. Karena dia mendalami kendo dan berasal dari aliran Iaijutsu, ada dua konsep yang sesuai untuk dia gunakan, ketajaman (sharpness) atau kecepatan (speed).
Jika Hikari menggunakan konsep ketajaman untuk dasar konsep manifestasinya, maka serangan pedangnya akan mampu membelah benda apa pun yang menghalangi di depannya. Inilah kelebihan konsep ‘tajam’.
Sekalipun Leman menggunakan pertahanan dirinya, dia tetap akan terbelah menjadi dua di hadapan sebuah pedang dengan konsep ‘tajam’.
Kelemahannya, konsep ketajaman tidak memiliki kecepatan. Itu artinya, serangan mereka sangat tajam dan dapat membelah apa pun, tapi juga lambat, sehingga mudah untuk dihindari oleh musuhnya.
Actualnya, Hikari sendiri memilih untuk menggunakan konsep ‘kecepatan’ sebagai dasar manifestasinya. Semua serangannya menggunakan kecepatan sebagai titik utamanya. Karena memang itulah yang menjadi aspek terpenting dalam jurus quick draw miliknya.
Serangan cepat Hikari sangatlah mengerikan, karena kecepatan yang luar biasa, para korban dari jurus Hikari terkadang seolah-olah terjebak di tempatnya dalam sebuah dimensi yang hampa dimana tak ada suara atau hembusan angin dapat terasakan dan hanya Hikari yang bergerak dalam dunia itu.
Leman pun mengalaminya saat menerima serangan Hikari tadi. Tapi dia sama sekali tak panik. Karena setelah tahu konsep yang digunakan oleh Hikari, Leman tahu sekalipun serangan Hikari cepat dan tak dapat dihindari, tapi sama sekali tak berbahaya bagi dirinya yang terlindungi oleh manifestasi intent-nya yang keras seperti tempurung kura-kura.
“Orang sepertiku dengan konsep defense yang luar biasa, tentu menjadi titik lemah bagi para pengguna konsep kecepatan sepertimu. Aku bisa saja berdiri mematung disini seharian dan membiarkanmu menyerangku sampai tenagamu habis dan aku yakin kalau aku tak akan terluka sedikit pun,” kata Leman sambil tertawa kecil.
Hikari termenung setelah mendengarnya. Dia tahu apa yang dikatakan oleh Leman sangat tepat. Dia masih merasakan sendiri betapa sakitnya saat katana yang dia pegang berusaha untuk menebas Leman tadi. Seolah-olah seperti saat dia sedang menebas batu waktu masa kecil dulu. Hikari merasakan sakit luar biasa di jari-jari tangannya. Hal yang sudah lama tak dia rasakan lagi.
__ADS_1
“Sekarang kau tahu maksudnya sebuah kawanan serigala? Mereka saling melengkapi. Mungkin petarung yang mengandalkan kecepatan sepertimu akan mempunyai rekan dengan defense sekuat aku. Mungkin juga nanti kita punya partner yang memiliki konsep ‘tajam’ atau seorang petarung dengan konsep-konsep yang lainnya,” kata Leman.
“Tidak!! Ini semua omong kosong. Tak mungkin Dokkodo-ku salah. Kita akan jadi kuat jika kita sendirian. Jika kita hidup sendiri. Jika kita tak lagi memiliki hubungan dengan orang lain!” teriak Hikari.
“Kamu terlalu fanatik pada aliran dan jalan hidupmu,” kata Leman sambil mengayunkan pukulan tangan kanannya ke arah Hikari yang terlihat masih shock itu.
Sebuah pukulan tangan biasa tanpa didampingi suara bergemuruh ataupun manifestasi intent yang menyerupai sarung tinju berwarna keemasan seperti milik Paulus Hong.
Hikari mengangkat wajahnya lalu dengan cepat menarik katana miliknya dan menangkis pukulan Leman dengan bilah tajam katana-nya sendiri. Percikan api terlihat keluar dari titik temu antara pukulan Leman dan katana Hikari. Seolah-olah dua buah benda besi baru saja beradu.
“Hmm?” sebuah gumaman degan nada tanya keluar dari mulut Leman.
Lalu dia melancarkan pukulan membabi buta ke arah Hikari. Bergantian antara pukulan tangan kanan dan kiri. Hikari dapat mengimbangi kecepatan pukulan Leman, karena dia sendiri adalah pengguna konsep kecepatan.
Trakk. Trak. Tak Tak Tak. Trak.
Katana itu kini menyerupai gergaji bentuknya. Di banyak tempat, bilah tajam si katana terlihat rompel di sana sini. Hikari menarik napas dalam dan mencoba untuk menghilangkan kemarahannya. Dia tahu kalau dirinya bukanlah lawan dari Pemimpin Chaos yang satu ini.
“Leman!! Lama tak berjumpa, sudah hebat sekali kau sekarang ya?”
Tegur sebuah suara keras yang menggelegar dan memekakkan telinga.
\=\=\=\=\=
“Cynthia!! Mana gadis itu. Saat dibutuhkan justru tak dapat diandalkan,” gerutu Aisah sambil memegangi Munding yang sudah beberapa saat lalu tak sadarkan diri.
Sesekali Aisah melirik kearah luka di dada Munding dan merasakan denyut nadi dari pergelangan tangan keponakannya itu. Aisah menarik napas lega ketika masih bisa merasakan denyut nadi halus disana.
__ADS_1
Ckiiiiiiiiiitttttttttttttt
Tiba-tiba terdengar suara sebuah roda ban mobil yang direm secara mendadak dan melakukan manuver di jalan raya. Sebuah mobil Pajero Hitam terlihat diparkir di depan Aisah dan Munding sekarang.
Seorang gadis keturunan yang cantik dan tinggi turun dengan tergesa-gesa dari mobil tanpa menunggu mobil itu berhenti sempurna.
“Guru!!” teriak Cynthia ketika melihat gurunya bersimbah darah.
Cynthia lalu berusaha memeriksa dengan detail semua bekas darah di tubuh Aisah dan mencoba melihat luka-luka di tubuh gurunya. Tapi Cynthia hanya bisa menggaruk kepalanya karena dia tak menemukan luka itu.
Pletakkkkkkk.
“Adududududuuuh,” Cynthia mengaduh dan meringis kesakitan karena barusan dijitak oleh Aisah.
“Yang terluka bukan aku. Tapi ini, Munding, keponakanku. Dia kritis, rawat dia dengan fasilitas medis terbaik. Kalau dia sampai ‘lewat’ aku ratakan nanti semua aset keluarga Hong,” kata Aisah disertai sebuah ancaman, meskipun sebenarnya dia hanya sekedar balas dendam setelah tadi menerima ancaman yang sama dari Leman.
“Siap Guru!!” balas Cynthia yang lalu menyuruh anak buahnya untuk membawa Munding secepat mungkin ke rumah sakit milik mereka sendiri.
Di dalam mobil, Cynthia tersenyum-senyum sendiri. Aisah yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Anak ini jauh berbeda dengan gadis pendiam dan decisive yang ditemuinya di restoran tempo hari. Sifat asli Cynthia ternyata periang dan suka bercanda. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Aisah menerima saja mempunyai murid secerewet Cynthia.
“Kamu kenapa tertawa sendiri?” tanya Aisah ke arah Cynthia.
Cynthia langsung terdiam, “Guru jangan marah ya?”
“Iya,” jawab Aisah.
“Guru kan belum menikah, Pakde Leman juga dulu menikah tapi bercerai, tapi kok Guru bisa punya keponakan?”
__ADS_1