
“Kuturuti keinginanmu Bocah Gila!!” teriak Bram sambil bergerak ke arah Munding dengan boxer step-nya, langkah yang unik dimana kaki yang terdekat dengan arah tujuan akan bergerak lebih dulu.
Untuk sesaat tadi Munding teringat tentang nasihat Bapak Mertuanya tentang ‘break the limit’ dan caranya. Dan Munding ingin menggunakan Bram yang sedang bergerak menyerangnya ini untuk mempraktekkan teori itu pertama kali.
Munding ingin menggunakan Bram dan mungkin semua jagoan di SMA ini sebagai batu asahan baginya untuk meningkatkan kemampuannya sebagai petarung terinisiasi. Dengan cara berduel dan menghabisi mereka tanpa menggunakan mode tarung-nya sebagai petarung terinisiasi.
Tapi seperti yang sudah diprediksi oleh Pak Yai, meskipun Munding melihat Bram merangsek maju ke arahnya dengan skull knuckle yang terlihat bersinar terkena cahaya matahari itu, sama sekali tidak ada rasa takut dalam dirinya.
Munding menghela napas dalam, “setidaknya aku harus mencoba, aku tidak ingin melakukan duel hidup mati dengan sesama petarung terinisiasi.”
Ketika Bram sudah sampai di depan Munding dengan sigap kedua tangannya memasang orthodox boxing stance. Dagunya tersembunyi di belakang bahu kirinya dan dia terlihat sedikit menunduk. Kedua tangannya membentuk cover boxing yang sempurna.
Munding melirik ke arah kaki Bram dan melihat kalau distribusi berat badannya seimbang antar kedua kakinya. Tumit kanan Bram juga terlihat sedikit berjinjit, seakan siap untuk meluncurkan seluruh tubuhnya kedepan kearah Munding.
“Dia seorang petarung terlatih,” melihat kuda-kuda Bram yang tanpa celah dan rapi, Munding tahu kalau Bram adalah seorang petinju terlatih.
Munding tersenyum dan mengangkat tangan kanannya seperti tangan kanan Bram yang melakukan cover di depan dada. Sedangkan tangan kiri Munding sedikit berbeda dengan tangan Bram, Munding menjulurkannya ke depan dan sedikit ditekuk.
Berat badan Munding bertumpu pada kaki kanan dan kaki kiri Munding hanya menahan sedikit saja berat badannya. Munding menggunakan kuda-kuda belakang.
Ini adalah stance favorit Munding.
Tangan kirinya terulur kedepan dengan tujuan mengukur jarak serangan antara dirinya dan musuhnya, selain itu bisa juga untuk mengganggu konsentrasi musuh. Sedangkan kuda-kuda belakang dia pilih karena dia bisa menggunakan kaki kirinya untuk melakukan ‘check’ atau ‘intercept’ tendangan lawan sebelum sampai ke tubuhnya.
Tangan kanan Munding yang terlihat sebagai cover di bagian dada dan kepalanya sebenarnya adalah sebuah pistol yang sudah terisi dan siap untuk ditembakkan. Seperti sebuah pistol yang diarahkan ke kepala musuhnya. Sekali musuhnya lengah, boommmm, pukulan tangan kanan Munding siap meretakkan tulang kepala musuhnya.
Bram maju mendekat ke arah Munding, ketika jarak mereka semakin dekat, Bram semakin meringkuk dan kepalanya terlindungi oleh cover dari kedua tangannya. Seluruh siswa yang ada di lapangan sepak bola ini menyaksikan dalam diam.
Sebuah pemandangan yang aneh, ratusan siswa seperti menahan napas dan semua mata tertuju ke dua sosok pemuda yang saling berhadapan di tengah tanah lapang dengan kuda-kuda masing-masing.
__ADS_1
‘Pertahanan terbaik adalah dengan menyerang.’
Munding melakukan pukulan lurus dengan tangan kirinya yang setengah terulur kedepan. Dengan tenang Bram melakukan ‘rear side ducking’ dan menghindari pukulan lurus Munding. Tatapan mata Bram masih tertuju ke arah Munding dengan kedua tangan tetap melakukan cover dengan disiplin.
Pukulan lurus dalam silat sebenarnya sama dengan straight punch dalam tinju, bagi Bram, serangan Munding adalah serangan standar yang sama sekali tidak membahayakan.
Rear side ducking yang digunakan Bram juga merupakan standar elakan untuk straight punch yang dilakukan dengan lead hand tangan kiri Munding. Posisi tubuh Bram setengah membungkuk dan menghindari pukulan tangan kiri Munding dengan membuang tubuhnya sendiri ke arah kanan Bram yang artinya posisi tubuh Bram sekarang berada di sebelah kiri tubuh Munding. Dalam artian, Bram sekarang bisa dikatakan di sisi punggung Munding, dari situlah istilah ‘rear side’ digunakan dalam tinju.
Ketika Munding menarik kembali tangan kirinya ke posisi awal, dengan cepat Bram juga kembali ke posisi tegak kuda-kuda awalnya. Dia tersenyum sambil menatap Munding.
“Dilihat dari seranganmu, aku rasa kamu belajar silat. Kamu tahu kelemahan silat?” kata Bram masih tetap dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Wuussshhhhh.
Bram mengayunkan straight punch dengan tangan kiri, Munding dengan cepat melakukan tangkisan dengan tangan kirinya. Dan ketika pukulan Bram menyentuh tangkisan Munding, Bram menariknya dengan cepat dan melancarkan straight punch dengan tangan kanan.
Jarak serangan antara tangan kiri dan tangan kanannya tadi sangat cepat, seolah-olah mereka memang dilancarkan hampir bersamaan. Meskipun Munding bisa melihat datangnya pukulan straight dari tangan kanan Bram, Munding sedikit mengalami kesulitan untuk menghindarinya.
Buakkkk.
Pukulan straight Bram terhalang oleh tangan kanan Munding yang sedari awal melakukan cover ke wajah dan dadanya. Munding merasakan sedikit rasa sakit di lengan kanannya yang terkena pukulan Bram tadi.
Ketika Munding melirik ke arah lengan kanannya yang terlihat memerah, dia melirik ke kepalan tangan Bram dan melihat knuckle yang terlihat bersinar di bawah sinar matahari.
“Petinju dengan senjata knuckle. Kombinasi berbahaya,” keluh Munding dalam hati.
Munding melompat ke belakang dan menjaga jaraknya dengan Bram.
“Kelemahan pesilat itu, kalian selalu mengharapkan hasil dari setiap serangan kalian. Kalian melakukan sekali serangan tanpa ada follow up. Kami, di tinju, diajarkan untuk melakukan minimal dua kombinasi serangan sekaligus, tadi disebut one-two dalam tinju,” lanjut Bram.
__ADS_1
Bram merangsek maju ketika kata-katanya selesai tadi, dengan cepat dia menggunakan teknik yang sama dengan yang tadi.
One two.
One two.
Empat kali straight punch dilancarkan Bram dengan menggunakan kedua tangannya bergantian. Munding berdiri dengan kuda-kuda kokoh di tempatnya dan menerima keempat pukulan Bram dengan menggunakan kedua tangannya sebagai cover untuk menutupi kepalanya.
Keempat pukulan Bram telak mengenai kedua lengan Munding.
Bram mundur dan menjaga jarak dari Munding.
Kedua tangan Munding masih melakukan cover untuk menutupi kepalanya, tapi pandangan matanya tetap tenang dan mengamati semua pergerakan Bram. Meskipun Munding merasakan rasa sakit di lengannya karena knuckle yang ada di kepalan Bram.
Bram merangsek maju lagi.
One two.
Munding masih menangkis dua pukulan straight dengan kedua lengannya sebagai cover.
Right side steps.
Bram bergerak ke arah samping kiri Munding sambil merunduk dan tetap mengincar kepala Munding.
Right Hook.
Dengan cepat, setelah posisi Bram berada di sebelah kiri Munding dan melihat adanya celah di bagian samping kiri Munding, Bram melancarkan right hook dengan tangan kanannya ke arah samping kiri kepala Munding.
Buakkkkkkkk.
__ADS_1
Pukulan hook Bram telak menghantam tubuh Munding. Bram mundur dengan cepat. Dia sudah melakukan kombinasi serangannya tadi dengan sempurna. One two, side steps, right hook. Untuk sesaat tadi, Bram yakin kalau right hooknya akan telak mendarat di kepala kiri Munding dan mengakhiri duel ini.