
Seorang pria yang berusia diatas 40 tahunan sedang duduk di sebuah kursi malas yang ada di sebuah pantai di Kepulauan Karimunjawa.
Pria itu sedang menikmati matahari tropis, pasir putih dan deburan ombak yang membuatnya merasa senang. Dia mencintai kepulauan ini begitu menginjakkan kakinya pertama kali di tempat ini.
Karimunjawa tak seperti Bali yang sudah berubah menjadi sebuah destinasi wisata yang komersil, tapi di tempat ini, masih banyak sudut-sudut tempat yang tak tersentuh dan alami yang dapat dia nikmati seperti sekarang.
Orang-orang mungkin akan menganggap si Pria Kaukasia yang menikmati keindahan alam dan hangatnya mentari ini sebagai bule pelancong yang sedang menikmati liburan wisatanya di tempat ini.
Tapi dia lebih dari itu.
Tak lama kemudian, dari arah pantai di depan si Pria Kaukasia, seorang wanita terlihat berjalan dengan tubuh yang basah dan hanya mengenakan bikini di tubuhnya. Berbeda dengan si Pria yang berkulit putih dan berambut pirang, wanita ini berkulit hitam dan berambut ikal. Jelas terlihat kalau dia baru saja menikmati segarnya berenang di pantai seorang diri.
“Kelly, they failed,” kata Pria Kaukasia itu.
Wanita yang dipanggil Kelly terlihat terdiam untuk sejenak lalu dia kembali berjalan dan meraih handuknya. Setelah mengeringkan tubuhnya, Kelly duduk di kursi malas yang ada di sebelah si Pria Kaukasia.
Kelly lalu memejamkan matanya dan sesaat kemudian, tubuhnya yang berkulit hitam tapi seksi itu tiba-tiba saja seperti terangkat keatas. Kelopak matanya berkedip-kedip dengan cepat dan jika kita melihat bola mata Kelly saat terbuka sesaat, hanya warna putih yang terlihat di sana.
Kelly hanya berada dalam kondisi itu selama beberapa detik sebelum akhirnya dia melepaskan nafas panjang dan kembali terjatuh ke kursi malasnya.
Sedikit darah terlihat mengalir dari sudut-sudut bibir Kelly, dan dia tersenyum pahit.
“Kita kehilangan momen terbaik kita untuk melenyapkan Cahaya. Dia sudah terselamatkan dan untuk kembali mencoba menghabisinya kita akan membutuhkan pengorbanan yang luar biasa,” gumam Kelly sambil menyeka darah di bibirnya dengan menggunakan bahasa Inggris yang lancar dengan logat British.
__ADS_1
“Maksudmu?” tanya si Pria Kaukasia.
“Tempo hari, Cahaya hanya bersinar lemah dan hanya ada beberapa perisai di sekelilingnya. Perisai yang tak begitu rapat dan kuat. Karena itu, aku setuju ketika kamu mengusulkan untuk menghabisi Cahaya dengan menggunakan trik yang melibatkan Clown,” jawab Kelly.
“Tapi kini saat aku mencoba lagi untuk melihat masa depan Cahaya lagi, dia sama sekali tak terlihat. Ada kegelapan yang sangat pekat dan hitam yang menutupinya. Seolah-olah kegelapan itu melindungi Cahaya yang masih redup dan belum bersinar terang. Aku tak tahu apa maksud dari kegelapan itu. Ketika aku mencoba untuk mendekatinya, aku justru terluka,” kata Kelly sambil menunjukkan jemarinya yang baru saja dia gunakan untuk mengusap darah di bibirnya.
Si Pria Kaukasia menarik napas panjang.
Kelly adalah aset dari kawanannya yang paling berharga, sekalipun sebagai serigala petarung manifestasi Kelly tak mempunyai kemampuan tarung yang diatas rata-rata, tapi konsep yang dimilikinya yang membuat dia istimewa dan menjadi asset terpenting dalam kawanannya.
Konsep Kelly adalah prophecy.
Sebuah konsep yang membuat Kelly mampu untuk ‘melihat’ ke masa depan. Tapi kemampuan ini sangat berbeda dengan insight yang pernah terjadi pada Munding. Meskipun insight biasanya lebih jelas, tapi insight hanya berhubungan dengan diri seseorang yang melakukannya. Sedangkan kemampuan yang dimiliki oleh Kelly, dia bisa melihat masa depan orang lain atau apapun yang diinginkannya.
Tapi, tak seperti insight yang begitu nyata dan jelas, bayangan masa depan yang dilihat Kelly sangat kabur dan hanya berupa kilasan-kilasan saja. Terkadang Kelly sendiri bahkan juga tak memahami maksud dan arti dari bayangan yang dilihatnya.
Kelly mencoba untuk menggali lebih dalam dan mencari tahu tentang sosok Cahaya yang dilihatnya di masa depan itu dan semuanya bermuara ke seseorang, seorang wanita yang bernama Nurul Islam, seorang manusia normal yang di masa kini tengah mengandung dan sebentar lagi menjalani proses persalinan.
“Demi tujuan kita, Cahaya harus dipadamkan. Seberapapun pengorbanannya, sebelum dia bersinar terang, kita harus menghabisinya,” kata si Pria Kaukasia itu setelah berpikir untuk beberapa saat dan akhirnya mengambil keputusan.
\=\=\=\=\=
Munding mendengarkan cerita dari Cynthia dengan seksama. Selain mereka berdua, di dalam ruangan ini ada Aisah, Leman, Pak Yai dan Paulus.
__ADS_1
“Siapa mereka?” tanya Munding.
“Aku tahu tersangkanya, dia Clown, executioner organisasi Chaos,” jawab Aisah.
“Munding kamu mungkin sudah menyadari ini, tapi Chaos bukanlah sebuah kawanan yang solid dengan pemahaman dan keyakinan yang sama. Chaos hanyalah organisasi yang dibentuk dengan dasar kepentingan yang sama. Chaos memberikan wadah bagi para serigala petarung yang tak memiliki kawanan untuk mendapatkan perlindungan sekaligus untuk mengumpulkan uang saat melakukan misi mereka. Tak ada istilah kesetiaan dalam kamus Chaos. Kami hanya saling memanfaatkan,” kata Aisah.
Munding tahu itu. Saat dia mendapatkan insight-nya dulu, Munding sudah menyadari hal itu dan bahkan sempat berencana untuk mengadu domba antar anggota Chaos, karena saat itu dia melihat sendiri para anggota Chaos saling menyerang sebelum akhirnya Munding tewas di tangan Hikari.
“Tapi, Clown tak mungkin bergerak sendiri. Dia hanya pesuruh. Dia hanya dimanfaatkan karena serum yang dibuatnya. Dia bukan mastermind dari usaha pembunuhan Nurul. Dan terus terang, aku tak bisa menebak motif mereka menyerang seorang manusia normal seperti istrimu,” lanjut Aisah.
Semua orang terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing.
Tapi, tiba-tiba saja, Munding berkata, “aku tak peduli dengan motif mereka, tapi mereka telah berusaha menyakiti keluargaku. Jika Clown adalah pelakunya, aku akan memburu Clown, jika Clown bukan mastermind di belakang ini semua, aku akan membuatnya memuntahkan semua yang ingin aku ketahui dari mulutnya,” kata Munding mantap, rencana yang terlihat bodoh, tapi itu satu-satunya yang bisa dia lakukan.
Semua orang terkejut ketika mendengar kata-kata Munding.
Memang benar apa yang dia katakan, tak ada gunanya pesimis dan kebingungan dengan hal-hal yang tidak kita ketahui, teruslah melangkah maju, tanpa berhenti, tanpa ragu-ragu. Pada akhirnya, semua akan terbuka dengan sendirinya.
“Aku suka semangatmu!” kata Pak Yai sambil menepuk-nepuk pundak Munding, bangga sekali dia punya menantu sekaligus murid seperti Munding.
“Munding, bolehkah Tante bertanya sesuatu?” kata Aisah pelan, ini kali pertama dia menyebut dirinya ‘Tante’ di depan Munding.
“Silahkan Tante,” jawab Munding.
__ADS_1
“Apakah kamu masih Inisiasi atau sudah melangkah ke tahap Manifestasi?”
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh semua orang yang ada di ruangan ini dan memenuhi kepala mereka sejak Munding bangkit dari koma-nya.