
Sama seperti Yasin, saat dia mengajukan misi personal target untuk memburu Munding, Chaos meminta semua informasi yang berkaitan dengan Munding dan orang-orang terdekatnya. Dan ketika, diketahui bahwa Munding mempunyai seorang guru sekaliber Izrail, ancaman resiko dari misi ini meningkat drastis.
Yasin lah yang harus menanggung akibatnya. Awalnya, dia hanya akan mendapatkan ‘ikatan’ sebanyak 3 kali misi sebelum akhirnya dia bisa menyusul Nia dan menetap di rumah mungil mereka yang ada di atas gunung. Tapi kenyataan berkata lain, Chaos meminta Yasin untuk tetap tinggal sampai 7 x misi setelah misi personal target ini terselesaikan.
Yasin terduduk lemas setelah mendengarnya, tujuh kali misi terdengar sedikit. Tapi, bagi anggota Chaos, mereka tahu seberapa lamanya itu. Mendapatkan sebuah misi dalam waktu sebulan dapat dikategorikan sebagai cepat. Terkadang, Yasin tidak mendapatkan misi apapun selama 2 atau 3 bulan berturut-turut. Bisa dibayangkan berapa lama Yasin harus tetap bertahan bersama Chaos untuk menyelesaikan ketujuh misi wajibnya.
Yasin langsung menolak permintaan Chaos dan membatalkan misinya. Mungkin balas dendam pribadinya penting, tapi dia tidak mau menukar waktunya selama 2 atau 3 tahun demi itu.
Chaos melunak dan akhirnya meringankan permintaan mereka menjadi 5 x misi dan Yasin diijinkan untuk berdiam di kediamannya. Tapi ketika misi datang, Yasin harus bersedia meninggalkan rumahnya dan menjalankan misinya.
Akhirnya Yasin dan Chaos mencapai kesepakatan dan Chaos menunjuk tiga orang anggota aktif lainnya untuk menemani Yasin ke Sukorejo. Dan disinilah mereka berempat sekarang. Berada dalam sebuah mobil 4WD mewah berwarna hitam dan melaju di jalan pedesaan yang berada di pegunungan.
“Berapa kali misi?” tanya Maria.
Semua orang di dalam mobil tahu maksud pertanyaan Maria.
“Lima,” jawab Yasin sambil tetap memandang keluar jendela.
“Yasin-san, kami sudah membaca details tentang target kita dan gurunya. Tapi kami sama sekali tak menyangka kalau ini personal target. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Yasin-san,” timpal Hiro.
“Terima kasih Hiro-san,” jawab Yasin.
Mereka berempat kembali terdiam dan jalanan yang sepi dan lengang itu hanya dipenuhi debu-debu beterbangan setelah dilewati oleh mobil hitam mereka berempat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Seorang wanita berjilbab terlihat sedang berusaha untuk berdiri dari duduknya dengan susah payah. Seorang wanita lain yang terlihat seumuran dengannya berdiri cepat dan membantu si wanita tersebut untuk berdiri tegak.
“Kan sudah Mbak bilangin, libur aja dulu ngajarin anak-anak ngaji. Masih aja ngeyel!” tegur Asma ke arah Nurul siang itu.
Nurul hanya tersenyum kecil dan mengelus-elus perutnya yang terlihat mulai membuncit. Saat ini, kandungan Nurul masih berusia 5 bulan, meskipun perutnya belum terlihat terlalu besar, tapi si calon bayi yang ada di dalam kandungannya sudah membuatnya susah untuk beraktivitas seperti biasanya.
Pak Yai terlihat sedang berjalan dari sawah Munding yang ada di depan rumah dengan pakaian yang kotor dan membawa alat-alatnya. Ketika dia sampai di halaman rumah yang sekaligus menjadi halaman mushola, anak-anak yang baru saja pulang mengaji bersama Nurul dan Asma langsung mengerubungi Pak Yai dengan gembira.
“Pak Guru, nanti sore kita latihan silat kan?” teriak anak-anak itu ke arah Pak Yai.
“Iya. Kalian pulang dan ganti baju dulu sana!” kata Pak Yai ke anak-anak itu.
Bocah-bocah kecil yang riang itu lalu berlarian pulang ke rumah masing-masing setelah mencium tangan Pak Yai satu persatu, mereka terlihat terbiasa dengan sedikit lumpur yang menempel di tubuh Pak Yai, menunjukkan kalau anak-anak itu adalah anak petani biasa di sekitar sini.
“Cucuku kapan lahirnya? Mbah nggak sabar ingin ngajari silat ini,” kata Pak Yai sambil tersenyum.
“Nggak boleh!” teriak Nurul.
“Lho kok nggak boleh?” tanya Pak Yai kebingungan.
“Bapak aja kayak gitu. Kalau sama anak-anak tadi aja, latihan silat sambil ketawa dan bercanda, tapi dulu kalau sama Mas Munding galaknya minta ampun. Nanti pasti kalau ngajari silat anakku, Bapak pasti sama galaknya dengan waktu ngajari Mas Munding ya kan?” tanya Nurul.
__ADS_1
Pak Yai terdiam dan menggaruk-garuk kepalanya. Apa yang dibilang Nurul memang benar, untuk calon cucunya sendiri, Pak Yai tetap akan menggunakan metode yang sama saat dia mengajari Munding silat. Tapi dia tak menyangka kalau keinginannya akan ditentang oleh putrinya sendiri.
“Lagian, siapa yang bilang kalau calon cucu Bapak anak cowok? Mana tahu dia calon gadis yang cantik seperti Ibunya?” lanjut Nurul sambil tersenyum dan mengelus-elus perutnya.
Pak Yai hanya bisa menghela napas panjang saat mendengar kata-kata Nurul. Jaman mungkin sudah berubah, gumam Pak Yai dalam hati.
Nurul lalu masuk ke dalam rumah bersama Asma. Pak Yai berjalan ke arah gudang perkakas yang ada di sebelah rumah Munding dan meletakkan alat-alatnya disana. Setelah ini, dia akan membersihkan badan lalu bersiap-siap untuk menunggu kedatangan anak-anak kecil yang membuat hari-hari tuanya kembali ceria dan penuh tawa itu.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan tak jauh dari rumah Munding. Pak Yai sedikit heran. Tak biasanya di Sukorejo ada mobil semewah itu, terkecuali saat Amel datang berkunjung. Tapi jika gadis itu yang datang kesini, dia pasti akan langsung memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah. Bukan memarkirnya di pinggir jalan seperti itu.
Tak lama kemudian pintu mobil terbuka dan ada sesosok laki-laki yang turun dari pintu sebelah kiri pengemudi.
Pak Yai mengenal laki-laki itu. Dia salah satu junior Pak Yai saat dulu masih aktif di JFS.
Tiga orang lainnya turun beberapa saat kemudian. Saat Pak Yai melihat mereka bertiga, dia langsung tahu maksud kedatangan mereka. Munding sudah pernah memberitahukan detail insight-nya kepada Pak Yai setelah rombongan Broto pulang. Jadi Pak Yai dapat dengan mudah menebak identitas keempat orang yang sekarang sedang berjalan memasuki halaman rumah menantunya itu.
Yasin berjalan dengan sedikit canggung ke arah Pak Yai yang sedang duduk di halaman mushola. Dia terlihat gugup. Dalam hatinya, masih ada kekaguman dan respect luar biasa untuk laki-laki tua yang menjadi seniornya itu.
"Assalamualaikum," salam Yasin sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Waalaikumussalam," jawab Pak Yai pendek dan datar.
"Komandan, aku ..."
__ADS_1
Baru dua patah kata keluar dari mulut Yasin tetapi Pak Yai memotongnya dengan memberikan isyarat tangan dengan mengangkat kedua tangannya. Yasin terdiam.
"Jangan panggil aku Komandan. Aku sudah lama tak memakai gelar itu. Lagipula, aku tahu tujuanmu datang kesini bersama anggota Chaos. Aku tak menganggapmu bagian dari kawanan lagi," kata Pak Yai datar.