
Pagi itu, Munding dan Nurul melaksanakan ijab qabul mereka di mushola rumah Pak Yai. Acara yang sederhana dan hanya dihadiri beberapa kerabat dekat keluarga dan tetangga mereka. Tentu saja, Munding kini tak lagi harus tidur di mushola yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun itu.
Siang harinya, Munding dibantu dengan Nurul mulai memindahkan barang-barang Munding ke dalam rumah Pak Yai, ke dalam kamar Nurul tentunya.
Meskipun ini hari bahagia Munding, sebenarnya selama beberapa hari lalu sejak Munding masih dirawat di RSUD Sukolilo, naluri Munding selalu membisikkan kepadanya bahwa hari-hari bahagianya bersama keluarga Pak Yai akan segera berakhir, bukan dalam waktu dekat, tapi pasti akan berakhir.
Itulah sebenarnya alasan Munding menolak perintah Pak Yai untuk menikahi Nurul. Munding tahu kalau sesuatu yang buruk akan menimpanya dan memisahkan Munding dengan Nurul dan juga dengan semua yang ada di Sumber Rejo.
Tapi firasat itu terasa begitu lemah dan seolah-olah seperti bisikan-bisikan lembut saja di dada Munding.
“Mas, kenapa murung?” tanya Nurul kepada Munding yang sedang termenung di pinggiran sawah Pak Yai.
Sore itu, mereka berdua memang sedang duduk di pematang sawah yang terletak di belakang mushola. Nurul menyenderkan tubuhnya ke Munding dan mereka berdua melihat ke arah hamparan sawah yang menghijau di depan mereka.
Sama seperti sawah Bapaknya di Sukorejo, sawah Pak Yai juga belum menampakkan tanda-tanda butiran padi mulai keluar di ujungnya. Tapi warna hijau daun padi yang bergerak berayun-ayun terkena tiupan angin sore, membuat Munding merasa nyaman dan beban di hatinya sedikit berkurang.
“Mas..” panggil Nurul.
“Nggak pa-pa Dek,” jawab Munding.
“Mas nyesel ya kita nikah?” tanya Nurul.
“Nggak,” jawab Munding cepat.
“Kalau nggak, kenapa Mas murung kaya gitu? baru juga tadi pagi kita ijab,” balas Nurul.
“Mas bahagia, cuma Mas takut aja kalau ini nggak akan lama,” kata Munding pelan.
“Maksudnya?” tanya Nurul kebingungan.
__ADS_1
“Nggak pa-pa. Kalau suatu saat Munding nggak ada disini lagi, Nurul kira-kira gimana?” tanya Munding.
“Mas kok ngomong gitu sih?” protes Nurul.
Munding menghela napas dan akhirnya menceritakan semua yang dialaminya malam itu di Sukorejo dengan jujur. Toh, mereka berdua sudah menikah secara sah di mata agama. Munding nggak ingin ada rahasia antara mereka.
Nurul terlihat kaget dan menutup mulut dengan tangannya. Dia memang sudah menduga kalau malam itu Munding berniat membalas dendam kematian Bapaknya, tapi Nurul sama sekali tidak mengira kalau Munding akan mengalami dan melakukan semua yang telah dia lakukan.
“Waktu di jembatan, dua orang prajurit itu memang mengatakan kalau militer yang akan menangani kasus ini. Jadi Mas nggak akan diperiksa sama kepolisian. Tapi Mas nggak tahu pihak militer akan mengambil tindakan apa,” kata Munding mengakhiri ceritanya.
Nurul terdiam mendengar cerita Munding. Gimana nggak? Mereka baru saja menikah pagi ini, tapi Munding sudah memberi tahu kalau suatu saat ada kemungkinan dia akan ditahan dan dibawa pergi oleh yang berwenang, siapapun itu, polisi atau militer.
Nurul pun meneteskan air matanya kemudian dia memeluk Munding, “Nurul tetep akan nungguin Mas Munding kembali pulang. Sampai kapanpun.”
Mata Munding kembali menerawang ke arah hamparan sawah di depannya.
\=\=\=\=\=
“Mas, kita udah halal lho,” bisik Nurul ke telinga Munding yang sedang merapikan baju-bajunya di dalam lemari.
“Huh?” Munding agak kaget dengan ulah Nurul yang tiba-tiba.
Nurul memeluk Munding dari belakang dan mencoba melepaskan tangan Munding yang sedang memegang baju yang barusan disetrika oleh Nurul dan sedang ditata Munding ke dalam lemarinya.
Munding melirik sebentar ke arah pintu kamar Nurul yang terbuka dan melihat Pak Yai, salah, sekarang harusnya manggil Bapak, duduk di teras depan rumah sambil menikmati teh hangat dan gorengan seperti biasanya.
“Ada Bapak tu Dek,” protes Munding.
“Ya biarin lah, kita tutup aja pintu kamarnya,” jawab Nurul.
__ADS_1
“Tetep kedengaran lah Dek,” jawab Munding.
“Makanya nanti nggak boleh berisik,” bisik Nurul yang tetep aja masih memeluk Munding.
Dan Munding akhirnya menyerah kalah oleh bujukan Nurul. Setelah tadi sore Munding menceritakan semua yang dia alami di Sukorejo, Nurul memang seolah-olah nggak ingin melewatkan setiap kesempatan untuk bermesraan dengan Munding.
Munding meletakkan bajunya dan berjalan ke pintu kamar. Dia menutup pintu kamar itu pelan dan menguncinya dari dalam. Ketika Munding membalikkan badannya, dia sudah melihat Nurul yang berbaring di kasur dan tertutupi oleh selimut.
Pakaian dan jilbab Nurul sudah tergeletak di lantai dan Munding tahu apa yang tersembunyi di balik selimut itu. Munding pun mendekat ke kasur dan masuk ke dalam selimut bersama Nurul. Dan kalian tahu sendirilah apa yang mereka lakukan didalam situ.
Ini adalah kali kedua Munding dan Nurul melakukannya setelah kejadian Bapak dirawat di rumah sakit waktu itu. Munding tidur terlentang dan Nurul melayaninya dengan mesra.
Ketika mereka sudah bersatu, Munding berbisik ke arah Nurul, “masih sakit?” yang dijawab Nurul dengan gelengan kepala dan senyuman bahagia. Tak lama kemudian kedua remaja ini berpelukan setelah sama-sama kelelahan.
“Nurul, kamu nggak tadarus malam ini?” tiba-tiba terdengar suara teriakan Bapak dari ruang tamu mengagetkan mereka berdua.
Munding dan Nurul gelagapan mendengar suara itu. Nurul dengan suara gemetar menjawab pertanyaan Bapaknya, “Nurul masih nyetrikain baju Mas Munding ini Pak.”
Tak ada jawaban terdengar dari luar kamar mereka. Nurul melihat sebentar ke arah Munding dan spontan mereka berdua tertawa kecil.
\=\=\=\=\=
Satu bulan kemudian.
Masa ini adalah masa terindah untuk Munding. Dia kembali ke aktivitas biasanya yang selalu dia jalani. Bangun pagi sebelum waktu subuh tiba, mengisi bak air di mushola, adzan subuh dan rentetan rutinitas keseharian yang sudah dia akrabi selama bertahun-tahun ini.
Munding juga mulai kembali melakukan latihan silat dan fisik yang sempat dia tinggalkan sejak dia dirawat di rumah sakit. Munding juga masih mengaji bersama Nurul sehabis Maghrib dan bergantian untuk tadarus dengan Nurul selepas Isya.
Yang membedakan dari semua rutinitas yang dia lakukan sebelumnya ada dua hal: Bapak tidak pernah menyabetkan rotan lagi kepada Munding dan Munding tidak perlu lagi tidur di atas sajadah Mushola, karena dia sekarang sudah menjadi suami Nurul.
__ADS_1