Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 72 - Bram vs Munding part 3


__ADS_3

Sekeliling lapangan masih terdiam dan semua mata memandang ke arah mereka berdua. Puluhan smartphone mengarah ke mereka dan mengabadikan momen duel menegangkan itu. Siapapun pemenangnya, semua orang yakin kalau peta kekuatan SMA elite ini akan berubah setelah siang ini.


Seperti sudah disepakati sebelumnya, Bram dan Munding yang sebelumnya sama-sama menjaga jarak maju dan berhadap-hadapan kembali. Seperti dua ayam jago yang tidak akan berhenti sebelum salah satu dari mereka mengaku kalah dan menundukkan kepalanya kepada sang pemenang.


Straight left.


Bram memulai serangannya, tidak seperti tadi, dia tidak melakukan kombinasi one two.


Munding menghindar dengan memiringkan tubuhnya ke arah kiri dan tangan kanannya melakukan pukulan bandul sebagai balasan. Tapi Bram menarik cepat tangan kirinya dan kembali melakukan double arm cover.


Munding menarik tangan kanannya dan melancarkan pukulan lurus dengan tangan kirinya. Kali ini Bram tidak menerima pukulan Munding dan justru melakukan sway back untuk menghindari pukulan lurus tangan kiri Munding.


Munding sedikit terkejut ketika melihat gerakan Bram. Gerakan pinggang keatas yang luwes dan cepat. Melakukan liukan ke belakang untuk keluar dari jangkauan pukulan tangan kiri Munding.


“Kita lihat seberapa hebatnya elakan petinju yang terkenal melegenda dibanding cabang beladiri lainnya itu,” kata Munding dalam hati.


Dengan jarak mereka berdua yang sangat dekat dan berada dalam jangkauan pukulan. Munding menjadi penyerang dan Bram dalam posisi bertahan.


Pukulan lingkar kanan.


Ducking.


Pukulan lurus kiri.


Sway back.


Pukulan lurus kanan.


Lead side ducking.


Pukulan lingkar kiri.


Rotation.


Empat kali Munding melakukan pukulan beruntun dan Bram dapat menghindarinya dengan mudah. Mulai dari sway back seperti tadi, ducking dengan menurunkan kepala dan tubuhnya ke bawah, lead side ducking ke arah sebelah kanan Munding dan terakhir bahkan melakukan rotation atau rolling, Bram berganti sisi dari kiri ke kanan untuk menghindari pukulan Munding.


Munding kemudian mundur ke belakang dan mengambil napas. Mengalahkan seorang petinju dengan beradu pukulan bagi seorang pesilat seperti dia adalah sesuatu yang susah. Bram dapat dengan mudah menghindari pukulannya dan dia tahu kalau pukulan Bram sendiri jauh lebih cepat dan terarah daripada pukulan Munding.


Satu-satunya kesempatan untuk bisa mengalahkan Bram adalah dengan menggunakan kelebihan yang dipunyai pesilat dibandingkan beladiri tinju.

__ADS_1


Menggunakan kakinya.


Bram tersenyum bangga setelah mereka berdua melakukan adu pukulan jarak dekat tadi. Rasa percaya dirinya makin meningkat.


Di sekolah ini, dialah yang terkuat.


Dia tahu kalau pukulan Munding sangat keras, bahkan dia harus akui kalau entah bagaimana caranya, tenaga dibalik pukulan yang dilancarkan oleh Munding mungkin bahkan lebih keras dari pukulan Bram sendiri.


Tapi.


Setelah melakukan sedikit uji coba tadi, Bram tahu kalau Munding punya kelemahan fatal dibanding dirinya. Pukulan Munding memang lebih keras dan bertenaga dibanding pukulan Bram, tapi Munding kalah dalam segi kecepatan dan akurasi.


Itulah alasannya Bram dapat dengan mudah menghindari rentetan pukulan Munding barusan.


“Percuma saja jika kau punya power tapi tidak punya speed dan accuracy. Apa gunanya pukulan bertenaga tapi tidak mengenai sasaran?” ejek Bram dalam hati, kali ini dia yakin kalau dia akan menang dalam duel dengan si anak baru ini.


Kalau Bram bisa mengetahui point penting soal kecepatan dan akurasi serangan Munding, tentunya Munding juga lebih paham tentang kelemahannya sendiri. Kini Munding tahu di bagian mana dia lemah dan perlu ditingkatkan.


Selama ini, Munding melakukan tiga macam latihan: teknik, strength, endurance. Teknik dengan jalan melakukan repetisi gerakan silatnya secara berulang-ulang sebanyak-banyaknya, hingga membuat tubuhnya mengingat gerakan itu secara naluriah.


Strength dengan cara melakukan strength training seperti push ups, sit ups dan sebagainya. Serta endurance dengan jalan melakukan lari marathon, melakukan pekerjaan rumah seperti menimba air, mencangkul sawah dan pekerjaan lain yang intinya memaksa Munding melakukan suatu pekerjaan yang tidak begitu berat tapi dalam durasi yang lama.


Munding melakukan strength dan endurance training dengan intensif karena dia ingin bisa bertarung dalam mode tarung dengan durasi yang lebih lama. Munding sama sekali tidak pernah berpikir untuk melatih kecepatan dan akurasi serangannya.


Tapi kini Munding menyadari kelemahannya itu.


Bram yang sekarang yakin kalau dia bisa menghabisi si Bocah Gila ini maju dan masuk ke dalam jangkauan serangan Munding. Bram kembali maju dengan forward steps yang lincah dan ketika dia masih belum masuk ke jarak pukulan efektifnya, tiba-tiba Munding menyerangnya.


Sssshhhhhhhhhhh.


Tendangan melingkar kaki kanan.


Munding menggunakan kaki kanannya untuk menendang ke arah kepala Bram yang masih bergerak maju dan bersiap untuk menyerang Munding. Bram dengan cepat melakukan rear arm block ke arah kiri kepalanya dengan kedua tangan untuk menahan tendangan Munding.


Buakkkkkkkkk.


Kedua tangan Bram terasa nyeri karena menangkis tendangan Munding. Munding menurunkan kaki kanannya dan menariknya ke belakang.


Bram meringis kesakitan, “betapa bodohnya aku, Munding bukan petinju, dia seorang pesilat, tidak mungkin dia akan mengandalkan pukulannya saja. Dan jarak serang tendangan lebih jauh dibandingkan dengan jarak pukulan. Itu artinya, aku masuk ke daerah serangnya sebelum aku bisa melayangkan pukulanku,” rutuk Bram dalam hati.

__ADS_1


“Tapi aku tidak bisa bertahan saja, apapun ceritanya, aku harus bisa menyarangkan pukulanku ke kepalanya kalau ingin membuatnya terkapar,” batin Bram sambil bergerak maju dan menahan rasa sakit di kedua lengannya.


Sssshhhhhhhhhhh


Sama seperti sebelumnya, sebelum Bram masuk ke jarak serang yang cukup untuk melayangkan pukulannya, tendangan gojos Munding telak mengenai cover Bram yang dia turunkan dan menutupi perutnya. Kali ini, Bram terdorong ke belakang, tapi kedua tangannya tidak sesakit yang tadi.


“Aku tidak bisa mendekat untuk memukulnya,” keluh Bram dari jarak aman.


Siswa-siswa di sekeliling mereka masih memperhatikan duel itu dengan tegang. Dua kali Munding melakukan tendangan dan memaksa Bram mundur dan menggagalkan serangannya. Ini kali pertama dalam duelnya Bram MinMaks sedikit kewalahan.


Bahkan saat melawan A Long dulu, duel berakhir dalam hitungan menit.


“Satu-satunya kesempatan, aku harus berani bertukar serangan,” kata Bram dalam hati dan menarik napas panjang sebelum akhirnya mengambil keputusan.


Bram hanya bisa menyarangkan serangan kalau dia berani menerima tendangan Munding, karena hanya setelah dia masuk ke dalam jarak serangan tendangan Munding dan tetap merangsek maju, barulah Bram bisa melayangkan tinjunya.


Bram maju dan dengan cepat melakukan feints dan double arm cover menutupi kepala. Dengan lincah dia meliuk-liukan tubuhnya.


Sama seperti tadi, Munding melakukan sapuan kaki kanan ke arah kaki Bram yang melangkah dengan lincah. Kali ini, Bram tidak melompat kebelakang tapi melakukan side steps ke kiri agak lebar dari biasanya dan berhasil menghindari sapuan kaki Munding.


Bram kemudian kembali merangsek maju dan melakukan one two dengan straight punch bergantian dengan kedua tangannya. Munding menangkis kedua pukulan one two Bram dan menarik kembali kaki kanannya ke belakang.


Merasakan nyeri di kedua lengannya yang terkena knuckle keras Bram, Munding masih menatap wajah Bram dengan tatapan seperti elang mengincar mangsa.


Setelah melakukan one two tadi, Bram kembali melakukan side steps dan berusaha untuk memutari tubuh Munding. Bram juga melakukan gerakan feints dan melancarkan pukulan straight kiri tapi hanya untuk tipuan dan memancing cover tangan Munding agar terbuka.


Dua kali feint punches dengan tangan kiri dan Munding pun melontarkan meriam tangan kanannya. Pukulan lurus dengan tangan kanan ke arah bagian kiri kepala Bram.


Bram tersenyum, “kena kau!!”


Dengan cepat Bram mengayunkan tangan kanannya melakukan counter dengan sebuah hook, serangan advance bagi seorang petinju dimana Bram melakukan serangan balik saatnya musuhnya terlebih dahulu menyerangnya.


Tapi ketika hook tangan kanannya belum sempat mendarat ke kepala Munding, Bram merasakan sesuatu yang keras mengenai bagian belakang kepalanya.


“Aku sudah mengcover pukulan tangan kanan Munding, apa yang mengenai bagian belakang kepalaku?” tanya Bram dalam hati kebingungan.


Tak lama kemudian, Bram merasakan kalau Munding, lapangan bola dan semua yang ada disekelilingnya terasa berputar cepat dan berubah menjadi gelap.


“Aku kalah?” gumam Bram tak percaya, “how??”

__ADS_1


__ADS_2