Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 160 - Pointless


__ADS_3

Wuuuuussshhhhhh.


Bayangan Munding langsung melesat cepat kearah dua orang yang berdiri di depannya tanpa mengeluarkan intent ataupun masuk ke mode tarung. Munding murni mengandalkan kemampuan fisiknya. Kemampuan yang kembali dia latih dan tingkatkan bersama teknik silatnya setelah malam memalukan itu di Sukorejo.


Sunarya dan Anggie yang sedari tadi siaga mengambil kuda-kuda untuk bersiap menerima serangan Munding.


Bletakkkkkk.


Sebuah tendangan melayang dan ditangkis oleh Sunarya. Laki-laki itu tetap tegak berdiri setelah menerima tendangan dari Munding. Anggie yang melihat sasaran mereka sekarang berada dalam jarak serangnya melayangkan pukulan ke arah Munding dengan cepat.


Munding melompat kesamping untuk menghindari serangan Anggie.


Sunarya yang memegangi lengannya karena terkena tendangan Munding dan terasa sakit tadi, juga merangsek maju dan melompat ke arah Munding.


Tak lama kemudian, tiga buah bayangan manusia yang saling bertukar serangan terlihat di antara pepohonan dalam gelapnya malam.


Setelah lima menit mereka bertukar serangan tanpa hasil, Sunarya meloncat mundur diikuti oleh Anggie.


"Ini tak ada habisnya," kata Sunarya pelan sambil menatap tajam ke arah Munding.


Anggie terdiam. Dia tahu maksud perkataan Sunarya.


"Jangan main-main. Tadi siang aku sudah jelas mengatakan kalau aku akan serius melawan kalian," kata Munding, "aku tidak tahu apa tujuan kalian, tapi satu yang pasti, kalian berdua berbeda dengan anggota tim yang lain," lanjutnya.


Sunarya dan Anggie menunjukkan ekspresi terkejut saat mendengarkan kata-kata Munding.


Untuk sesaat, suasana menjadi hening di tempat itu.


"Munding, kami tak tahu sejarahmu dengan AD. Tujuan kami cuma satu, memastikan bahwa kamu bukan mata-mata yang dikirim pihak lain untuk menggagalkan misi kami," kata Sunarya pelan.


"Kami, para tentara, sedari awal dididik dan digembleng oleh kesatuan kami. Untuk sampai ke tahap ini, entah berapa kali test internal yang sudah kami lewati. Intinya, tidak ada pengkhianat diantara kami. Kamu satu-satunya anggota yang tak bisa ditebak dan masih diragukan kesetiaannya," timpal Anggie.


"Aku militan. Berbohong dan menggunakan tipuan bukan sesuatu yang diajarkan oleh guruku. Aku bukan mata-mata," jawab Munding.

__ADS_1


"Kami tak bisa semudah itu mempercayai kata-katamu, ka ... "


Kata-kata Sunarya terhenti karena dipotong oleh Munding dengan cepat, "aku tidak tahu dengan anggota tim yang lain. Tapi kalian berdua seharusnya yang paling tahu. Kalian dididik menjadi serigala petarung dengan metode militan kan?"


"Apakah mentor kalian tak pernah mengajarkan untuk mempercayai naluri kalian?"


"Tanyakan pada diri kalian sendiri, apakah aku ini musuh kalian atau bukan?"


"Apakah aku ini ancaman atau kawan?"


"Kalian seharusnya sudah punya jawabannya saat kita pertama kali bertemu tadi siang. Karena kita bertiga dilatih dengan metode yang sama," kata Munding.


Sunarya dan Anggie saling berpandangan mata lalu menundukkan kepalanya masing-masing. Mereka berdua tahu kalau Munding bukan musuh mereka, tapi ada intruksi dari komandan operasi yang menyuruh mereka untuk mengetes Munding dan kalau bisa membuatnya keluar dari tim Merah Putih.


"Biarlah! Toh dia bukan atasan langsung kita," kata Sunarya ke arah Anggie dengan pelan.


Anggie menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Munding, selamat bergabung dalam tim. Kami harap, kamu bisa menjaga rahasia kami tentang latihan ala militan kami," kata Anggie.


Munding sadar kalau mereka berdua menyerangnya karena perintah seseorang, tapi sampai sejauh apa? Hanya mengetes? Atau mungkin sampai menciderai?


Ketika mendengar kalimat terakhir Sunarya barusan, Munding sadar kalau yang menyuruh mereka berdua pasti bukan berasal dari Angkatan Laut atau bahkan bukan dari militer. Mungkin sang pemberi perintah hanyalah atasan sementara Sunarya dan Anggie.


Ketiga orang itu lalu menurunkan kuda-kuda mereka dan terdiam.


"Kamu kuat. Meskipun aku belum mengeluarkan kekuatanku dengan maksimal dan masuk ke mode tarung, aku rasa hasilnya akan tetap sama saja," gumam Sunarya.


"Semua ini pointless dan tak ada gunanya ya kan?" tanya Munding menjawab pujian Sunarya.


"Maksudmu?" jawab Sunarya.


"Kalian semua terlihat memusuhiku. Lalu kalian berdua datang untuk mengejar dan menyerangku di malam hari, padahal ini hari pertamaku bergabung dalam tim," kata Munding pelan.

__ADS_1


"Kita tidak bermusuhan. Kita tak pernah bertemu sebelumnya. Pasti ada alasan kalian semua melakukan ini. Kalau tidak, semua ini hanya pointless action, tindakan tanpa arti."


"Apakah kalian para prajurit suka melakukan tindakan tak berguna seperti ini?" tanya Munding.


Sunarya tersenyum kecut.


"Munding, maafkan kami. Kamu warga sipil. Pernahkah kamu membayangkan menjadi seorang prajurit? Saat kita harus melaksanakan perintah yang terkadang berlawanan dengan naluri dan nurani kita?" kata Sunarya dengan wajah terlihat sedikit sedih.


"Tapi, kami bangga melakukannya. Karena demi kedaulatan negara, harus ada orang-orang seperti kami yang memikul beban ini. Biar kami lah yang berkorban demi kalian," lanjut Sunarya dengan mengatupkan rahangnya.


Munding terkejut ketika mendengar kata-kata Sunarya.


'Melaksanakan perintah bahkan saat itu tak sesuai dengan kata hati?'


"Bukankah seharusnya seorang serigala petarung akan terinisiasi saat dia mempercayai nalurinya sepenuh hati?" kata Munding dalam hati, "kalau kita bahkan bisa mengesampingkan naluri kita demi perintah dari atasan, bagaimana caranya mereka terinisiasi?" lanjutnya dalam hati.


Kali ini, pertanyaan tentang metode yang digunakan militer untuk melatih serigala petarungnya sangat mengusik dan menarik minat Munding. Jauh lebih menarik perhatiannya tentang siapa yang memerintahkan kedua orang ini untuk mengikutinya dan menyergapnya.


"Kalian dididik secara militan kan?" tanya Munding sedikit ragu.


"Ya. Pada awalnya, kami melakukan awakening dengan cara militan tapi melakukan inisiasi dengan metode militer," jawab Anggie.


Saat ini, Munding tersadar, setiap orang, siapapun dia dan seperti apapun karakternya, pasti punya cerita masing-masing dalam hidupnya.


Mereka juga pasti telah melalui sesuatu yang mungkin jauh lebih berat dari apa yang Munding alami. Munding juga kini tahu, semua pelajaran dan pengalaman hidup dapat diambil dari siapapun dan kapanpun. Dia tak akan pernah tahu kapan dia akan mendapatkan sesuatu yang baru dalam hidupnya.


Munding lalu tersenyum ke arah mereka berdua. Dia yang sedari tadi terlihat tegang dan waspada terhadap Sunarya dan Anggie juga berangsur-angsur lebih relaks.


Anggie dan Sunarya tersenyum melihat Munding yang sekarang sudah jauh lebih bersahabat. Saat Munding benar-benar tidak memancarkan lagi intent bermusuhan, Sunarya melangkah maju dan mengulurkan tangannya ke arah Munding.


"Selamat datang di Tim Merah Putih. Aku Sunarya, panggil saja Arya. Aku akan melindungi punggungmu dengan segenap nyawaku saat bertarung, kuharap kamu bisa melakukan hal yang sama untukku," kata Sunarya pelan.


"Aku akan melakukan apa yang kau lakukan untukku," jawab Munding sambil menggenggam erat telapak tangan Sunarya.

__ADS_1


Anggie cuma tertawa kecil tanpa mengulurkan tangan, "Aku Anggie," kata gadis manis itu, pendek dan tegas.


Malam itu, Munding resmi menjadi anggota tim Merah Putih setelah diskusi kecil dengan Sunarya dan Anggie. Sebuah kesempatan yang membuat rasa ingin tahu Munding terusik terhadap metode latihan Serigala Petarung ala militer.


__ADS_2