
Remasan tangan Dewi makin terasa kuat di tangan Munding. Alis Munding naik ke atas ketika dia merasakannya.
"Gadis ini? Apa maksudnya?," batin Munding dalam hati.
"Humph. Coba saja terus berpura-pura tak merasa sakit. Ardian sekalipun tak mampu menahan remasan tanganku," gumam Dewi dalam hati.
Prinsip Dewi sangat sederhana, hormati yang lebih tua dan lebih kuat dari dirimu. Ditambah jiwa kompetitifnya, Dewi selalu ingin mengetahui siapa yang terkuat diantara dia dan orang-orang di sekitarnya. Karena hanya dengan begitulah, Dewi bisa menentukan sikap yang harus dia ambil terhadap orang itu.
Dewi menambah lagi tekanan jemarinya ke telapak tangan Mubding yang diremasnya. Munding yang sebelumnya mengangkat satu alisnya berangsur-angsur merasa gusar dengan tingkah gadis satu ini.
"Apa-apaan ini?" tanya Munding dengan nada tak suka.
Dewi tertawa kecil, "selow, aku cuma main-main kok. Coba tahan sebisamu. Kalau kau tak tahan lagi, bilang saja," katanya sambil melihat ke arah Munding dengan tatapan mata menantang.
Munding merasakan emosinya meluap saat mendengarkan jawaban gadis di depannya dan tatapan matanya yang terlihat sedikit menghina Munding.
Munding kesini untuk mengejar dan membantai Chaos, sebelum gambaran yang dilihatnya menjadi kenyataan. Dia harus melakukan itu, agar keluarganya selamat dan tak mengalami nasib tragis yang dilihatnya saat mengalami 'insight' hari itu. Dia sama sekali tidak ada niat untuk bermain-main atau sekedar meladeni keisengan petarung-petarung elite militer dengan ideologi hasil didikan lembaganya.
Ketika Munding kembali membayangkan gambaran kejadian tragis di sawahnya itu, intent penuh kebencian langsung memancar kuat keluar dari tubuh Munding.
Semua orang di ruangan itu kaget sekali dan dengan sigap memasang kuda-kuda mereka.
Afza, Ardian, Mia, dan Rony, mereka berempat juga memancarkan intent serigala petarung yang dimilikinya.
Dewi? Tubuhnya bergetar hebat di depan Munding. Dia sudah mencoba untuk mengaktifkan intent serigala petarungnya tapi entah kenapa dia tak bisa melakukannya.
Semua orang melihat dengan tatapan ragu dan takut ke arah Munding. Intent yang dipancarkan Munding penuh kebencian dan kemarahan. Sedangkan intent keempat orang lainnya terlihat netral.
Intent mereka berempat bagaikan awan putih di langit yang biru. Indah untuk dipandang, dan menjadi penghias langit cerah serta menambah cantiknya langit biru.
Intent Munding?
__ADS_1
Bagaikan awan hitam pekat yang membuat bumi menjadi gelap gulita dan menutupi cahaya sang mentari. Siapapun yang melihatnya tahu kalau badai akan datang disertai tiupan angin topan yang akan memporak-porandakan segalanya.
"Hentikan!!!"
Tiba-tiba sebuah suara keras terdengar dalam ruangan tersebut dan membuat semua Intent yang memancar dari keempat orang yang mengelilingi Munding dan Dewi menghilang.
Dewi melepaskan genggaman tangannya dan melompat mundur. Munding melihat ke arah suara berasal dan melihat ada empat orang yang memasuki ruangan tersebut.
Mereka adalah keempat anggota tim yang tersisa, Sunarya, Anggie, Ridwan, dan Eiren. Sedangkan pria yang baru saja berteriak adalah Sunarya. Dia adalah salah satu petarung yang masuk kategori D+. Itu artinya dia bisa mengalahkan Dewi.
Petarung lain yang masuk ke kategori D+ adalah Ardian, Mia, dan Ridwan.
Semua anggota Tim Merah Putih telah berkumpul.
"Hentikan kataku!!" perintah Sunarya saat melihat Munding tak juga melepaskan intent-nya.
Munding melihat ke arah Sunarya lalu kembali melirik Dewi, "aku tak suka caramu. Aku tak pernah main-main dengan kemampuanku. Aku bertarung dengan bertaruh nyawa. Bukan untuk main-main atau sekedar iseng."
"Kalau kalian ingin sparing, cari lawan lain. Aku disini bukan untuk menjadi lawan sparing kalian atau menjadi babysitter kalian," lanjut Munding sambil mengatur nafas dan meredakan emosinya.
"Arogan sekali!" teriak Ridwan sambil melompat ke arah Munding.
"Ridwan!!" teriak Mia.
Intent Munding yang tadinya sudah mulai memudar kembali menguat dan kali ini dia mengarahkannya ke arah sang penyerang, Ridwan.
Buakkkkkk.
Ridwan terhuyung ke belakang saat tadi dia beradu serangan dengan Munding. Dia meringis kesakitan, semua orang terpana melihatnya.
Ridwan masuk kategori D+, meskipun dia sedikit berada di bawah Sunarya, bisa dibilang, Ridwan adalah salah satu yang terkuat di tim ini. Tapi saat dia beradu pukulan dengan Munding tadi, Ridwan kalah dan terdorong ke belakang.
__ADS_1
Sekuat apakah si Petarung dari warga sipil ini?
Pertanyaan itu keluar dalam kepala ke tujuh orang lainnya. Hanya Afza yang tersenyum pahit. Dia satu-satunya yang tahu kalau semua ini akan terjadi. Dua hal yang sudah dia perkirakan sedari awal sebelum Munding dan dirinya sampai ke markas ini.
Pertama, soal kemampuan Munding yang imbang dengan Umar. Serendah apapun grade yang dipakai, Afza yakin kalau Munding adalah yang terkuat atau peringkat kedua dalam tim ini.
Kedua, Munding satu-satunya petarung dalam tim yang memiliki background non militer. Dia pasti menjadi sasaran penolakan bersama atau common enemy bagi seluruh anggota tim ini.
Semua orang juga menyadari kalau Munding mungkin saja petarung terkuat dalam tim mereka. Tapi, sebelumnya, tentu Munding harus berduel dengan Sunarya.
"Afza, diakah yang menjadi kandidat dari AD bersama dirimu?" tanya Mia pelan ke arah gadis manis dari Makassar itu.
Afza yang masih saja menyunggingkan senyuman pahitnya hanya bisa menganggukkan kepala.
Semua orang menghela napas panjang. Pimpinan AD memang eksentrik. Memilih orang seperti Munding untuk bergabung dengan tim mereka.
Setelah hasil adu kekuatan tadi antara Ridwan dan Munding, seluruh anggota tim melihat ke arah Sunarya. Dia satu-satunya yang tersisa untuk membuktikan kalau petarung militer lebih superior dibanding warga sipil tanpa disiplin ini.
Sunarya melihat Munding dengan tatapan ingin tahu dan menantang, tapi Munding hanya meliriknya sekilas.
"Aku tak mau menjadi pemimpin kawanan ini. Aku tak berminat menjadi alpha bagi kalian. Jadi, pikir baik-baik saat kamu berniat menantangku duel. Yang tadi, kuanggap tak pernah terjadi. Tapi selanjutnya, aku tak berniat untuk menahan diri atau memberi ampun," kata Munding pelan tak jelas berkata kepada siapa.
Tapi, semua orang tahu kalau kata-kata Munding ditujukan untuk Sunarya, karena saat ini, dia yang dianggap sebagai serigala terkuat dari kawanan kecil ini.
Kata-kata Munding juga mengandung beberapa makna tersirat yang membuat mereka semua menarik napas dalam. Entah karena lega atau justru kuatir.
Pertama, Munding tak berniat menjadi leader dari tim ini atau berebut pengaruh sama sekali untuk pengambilan keputusan.
Kedua, Munding tadi masih menahan diri dan tak menggunakan semua kemampuannya.
Ketiga, Munding tak menganggap mereka kawan dan bila perlu akan menyerang mereka dengan segenap kemampuannya bila dia diprovokasi.
__ADS_1