Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 121 - Senior


__ADS_3

“Kalian silakan pergi. Tapi lepaskan Amel,” kata Munding pelan di sela-sela napasnya yang masih terengah-engah.


“Cihhhh. Kalau kami melepaskan Amel. Sia-sia saja usaha kami melakukan semua ini,” protes Nia.


“Kalau begitu,” kata Munding sambil kembali berusaha untuk berdiri tanpa menggunakan sandaran apapun di punggungnya.


Meskipun dengan susah payah dan tubuh yang masih bergetar, Munding berhasil berdiri tegak dan memasang kuda-kudanya, bersiap untuk menggunakan apapun yang tersisa dari tubuhnya, “Aku pertaruhkan nyawaku untuk membantai kalian sebanyak-banyaknya,” kata Munding sambil menatap tajam ke arah Nia dan kedua orang yang ada di belakangnya.


Deg.


Jantung Yasin seakan berhenti ketika mendengar kata-kata Munding barusan. Sosok Munding yang bersimbah darah dan berdiri dengan susah payah seperti sebuah gubuk rapuh yang kapan saja bisa rubuh ditiup angin itu seakan overlap dengan sesosok orang yang sangat dia kenal.


Sosok yang sangat Yasin kagumi dan idolakan, bukan hanya Yasin, tapi seluruh serigala petarung dari angkatan mereka sangat mengidolakan sosok itu. Sosok yang dikenal karena keberaniannya dan ketangguhannya dalam bertarung di medan perang.


Komandan perang yang sangat ditakuti lawan dan dihormati kawanan sendiri. Sebagai seorang junior yang berada satu tingkat dibawahnya, Yasin dan rekan seangkatannya sangat mengidolakan sosok itu. Satu-satunya Serigala Petarung yang diberi julukan bukan oleh kawanan mereka sendiri, tapi oleh seluruh kawanan serigala petarung karena rasa hormat mereka.


Izrail, sang Pencabut Nyawa.


Yasin melupakan rasa sakit dari tangan kirinya dan memegang pundak Nia yang berdiri di depannya, “lepaskan gadis itu, nyawa kita lebih berharga daripada uang seberapapun. Kita masih bisa mencarinya nanti,” kata Yasin pelan kepada Nia.


Nia sedikit kaget mendengar kata-kata Yasin, tapi tak lama kemudian Nia menganggukkan kepalanya. Setelah itu sebuah mobil berhenti di depan mereka dan didalamnya terlihat Nomer Tiga yang mengendarainya.


Nia melirik ke arah Amel yang dia jadikan sandera kemudian mendorongnya ke arah Munding. Amel dengan cepat berlari dan memeluk Munding, dia tidak memperdulikan darah Munding yang membasahi tubuh dan mukanya.


Dengan cepat, Nomer Satu masuk ke dalam kursi kosong di sebelah sopir dan Nia memapah Yasin masuk ke bangku belakang mobil. Yasin kemudian membuka kaca pintu mobil sebelah kanan yang menghadap ke Munding.


“Namaku Yasin, sampaikan salamku untuk gurumu. Katakan kalau aku selalu mengaguminya dari dulu, sampai sekarang,” kata Yasin pelan kearah Munding.


Tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan Munding dan Amel yang masih saling berpelukan di halaman rumah Yusuf. Ketika mobil itu sudah pergi meninggalkan gerbang rumah. Munding tiba-tiba terjatuh ke belakang dan duduk bersandar ke mobil hitam milik Amel di belakangnya.

__ADS_1


Napas Munding terlihat terengah-engah, Amel yang tiba-tiba saja melihat Munding menjadi seperti itu merasa panik sekali, dengan cepat dia membuka pintu mobilnya dan mengambil air putih yang selalu dia bawa dalam tas sekolahnya.


Amel kemudian meminumkannya ke Munding yang masih terduduk di halaman dan bersandar. Napas Munding menjadi sedikit teratur setelah dia menghabiskan air yang ada di botol minuman Amel tadi.


“Kamu nggak apa-apa kan Munding?” tanya Amel dengan raut muka kuatir.


Munding yang sehabis minum tadi memejamkan matanya karena ingin mengembalikan staminanya, membuka mata setelah mendengar kata-kata Amel. Ketika Munding melihat ke arah Amel, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


Amel yang menerima senyuman Munding, menundukkan kepalanya. Setelah itu dengan percaya diri Amel memeluk Munding dan mereka berdua rebah di halaman rumah orang sambil bersandar ke sebuah mobil berwarna hitam.


\=\=\=\=\=


Mobil sedan berwarna merah yang dikendarai oleh Nomer Tiga melaju kencang di jalan raya melewati jalanan kota. Mobil inilah yang tadi dia dapat dari garasi rumah Yusuf dan dia pakai untuk melarikan diri bersama rekan-rekannya.


“Ganti mobil ke tempat yang sudah ditentukan,” kata Nia pelan dari jok belakang.


Dengan rasa was-was di dadanya, Nia berulang kali melirik ke arah belakang mobil mereka yang masih melaju dengan kecepatan penuh di jalan raya. Melihat kekasihnya terlihat sangat panik dan selalu menoleh ke belakang untuk melihat apakah ada pengejar yang mengejar mereka, Yasin menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Nia,” panggil Yasin pelan.


Nia menolehkan kepalanya kearah lelaki tua yang sudah menjadi kekasihnya selama lebih dari setengah tahun ini, “ya Mas?”


“Kamu kenapa panik begitu? Bukankah kamu bisa merasakannya?” tanya Yasin sambil menunjuk dada Nia dengan jari tangan kanannya.


Nomer Satu dan Nomer Tiga yang duduk di bangku depan juga terdiam. Mereka sama paniknya dengan Nia selama beberapa menit tadi. Mereka takut kalau militer akan berhasil mengejar mereka.


Nia terdiam setelah mendengarkan kata-kata Yasin. Dan Nia pun kembali teringat lagi proses awakeningnya dulu dan apa arti seekor serigala petarung yang selama ini diajarkan oleh Yasin, guru sekaligus kekasihnya itu.


Yasin kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dia membuang napas panjang dan mulai bergumam pelan, “dari tangan seorang genius akan terlahir genius yang lain.”

__ADS_1


Ketiga orang muridnya yang mendengar kata-kata sang Guru terdiam. Mereka tidak mengerti apa maksud kata-katanya barusan. Yasin masih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia membuka suaranya, “aku sudah menduga siapa guru bocah tadi. Bukan, lebih tepatnya, aku tahu siapa guru bocah tadi.”


“Nia, kamu pasti sedikit kecewa saat di akhir-akhir tadi aku memintamu melepaskan anak Broto Suseno kepada bocah itu kan?” tanya Yasin ke arah Nia.


Nia hanya terdiam, meskipun dalam hati kecilnya dia sempat merasakan sedikit kekesalan karena permintaan Yasin tadi. Tapi tentu saja dia tidak akan menunjukkan itu di depan kekasihnya.


“Aku tidak tahu bagaimana caranya si Broto bisa mengenal bocah itu. Tapi aku tahu siapa guru bocah itu. Dia bernama Ahmad Hanbal. Ahmad merupakan senior satu angkatan di atasku waktu kami masih aktif di kawanan kami dulu.”


“Tapi. Kemampuan kami jauh berbeda. Ahmad bahkan bisa mengalahkan senior-senior diatas kami berdua dengan sangat mudah. Dia itu serigala petarung alami. Dari awal, dia sudah hidup mengandalkan instinct-nya.”


“Metode latihan kami cuma menjadi batu asahan untuk mempertajam cakar dan taringnya.”


“Sepak terjangnya mengerikan, saat di masa puncaknya, tiga serigala petarung terinisiasi dibutuhkan untuk menahannya imbang. Kalau duel satu lawan satu? Orang seperti aku ini, cuma jadi pencuci mulut baginya.”


“Kalau sedari awal, bocah itu memberitahuku kalau dia anak didik Ahmad Hanbal, aku bersedia dengan senang hati menuruti semua permintaannya. Tapi takdir berkata lain. Dan seperti inilah keadaan kita sekarang.”


“Itulah maksud kata-kataku tadi. Hanya seorang genius seperti Ahmad Hanbal yang bisa mendidik seorang serigala petarung terinisiasi semuda Munding. Seorang bocah dengan kemampuan yang tak kalah dariku.”


Yasin mengakhiri ceritanya sambil memegangi lengan kirinya yang masih terasa sakit.


“Kita sudah sampai di tempat penukaran mobil,” kata Nomer Tiga pelan setelah mereka bertiga terdiam selama beberapa saat.


Nomer Satu dengan tergesa-gesa turun dari mobil dan segera menuju ke mobil mereka yang baru dan akan digunakan dalam perjalanan jarak jauh mereka untuk melarikan diri.


Yasin menarik napas dalam, “kalian,” panggilnya kepada ketiga murid-muridnya, “tidak perlu tergesa-gesa. Percayai instinct kalian. Tidak ada yang mengejar kita sekarang ini,” kata Yasin pelan sambil berusaha keluar dari mobil sambil dipapah oleh Nia.


Tak lama kemudian sebuah mobil Panther Grand Touring keluaran terbaru sudah meluncur dengan empat orang di dalamnya. Mobil itu meninggalkan kota Semarang melalui jalan tol dengan tujuan ke arah Barat.


Perjalanan panjang mereka pun baru saja dimulai.

__ADS_1


__ADS_2