Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 96 - Bakso


__ADS_3

Munding tersadar setelah terbaring diatas ranjang dan dirawat selama 8 hari. Tubuhnya terasa segar dan penuh energi. Ketika dia membuka matanya, dia melihat ruangan yang sepertinya tidak begitu asing jika dilihat dari karakteristik dinding dan keramik lantainya.


Munding kemudian duduk dan keluar dari ruangan yang terlihat besar dan mewah itu. Sesampainya di depan pintu dia tertegun. Ada tiga ruangan dengan pintu yang saling berhadapan dan ada ruang terbuka sedikit di tengah-tengah ketiga ruangan ini.


Munding kini tahu kalau dia pasti ada di dalam rumah utama. Tapi dia tidak tahu Munding tadi tidur di kamar siapa. Tak lama kemudian seraut wajah cantik keluar dari pintu kamar yang ada di sebelah kanan kamar Munding.


Si gadis itu hanya mengenakan celana dalam dan kaos saja saat keluar dari kamarnya. Munding dapat dengan jelas menikmati lekuk tubuh seksi milik gadis itu. Untuk sesaat mereka berdua terpaku di tempatnya masing-masing sebelum akhirnya si gadis menjerit keras dan berlari masuk ke kamarnya lagi.


Munding mendengar suara riuh dari kamar sebelah tempat Amel keluar barusan. Beberapa menit kemudian, Amel sudah keluar dengan dandanan rapi dan terlihat mengenakan sedikit make up tipis.


Tapi muka Amel masih terlihat merah sekali seperti kepiting yang direbus, “itu kamar kamu Mel?” tanya Munding ke arah Amel.


Amel menganggukkan kepalanya dan melihat ke lantai. Dia terlihat salah tingkah.


“Berapa hari aku tak sadarkan diri?” tanya Munding.


Amel terlihat berpikir sebentar kemudian menjawab pelan, “seminggu lebih.”


Kemudian Munding tiba-tiba teringat tentang si pemakai clurit yang bisa menjadi petunjuk untuk menyelesaikan misinya, “jumper yang kupakai waktu itu dimana Mel? Anggota MinMaks juga ditahan semua kan?” tanya Munding.


Seminggu lebih setelah kejadian itu, bisa saja orang itu dilepas lagi tanpa sadar dan berhasil melarikan diri. Itu berarti sia-sia semua usaha Munding untuk melumpuhkan orang tersebut tanpa melukainya.


“Amel sih nggak tahu detailnya. Tapi harusnya Mbak Ambar tahu,” jawab Amel sedikit kebingungan dengan tingkah Munding, “kamu kok nggak nanyain aku baik-baik saja atau nggak sih?” protes Amel dalam hati.


Tapi beberapa saat kemudian Amel teringat kembali kata-kata Papa beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa cowok kampung di depannya ini sudah menikah dan mempunyai istri. Amel kembali menundukkan kepalanya dengan sedih.


“Kenapa sih Amel nggak ketemu Munding lebih cepat?” keluh Amel dalam hati.


\=\=\=\=\=


Sebuah mobil berwarna putih keluar dari parkiran SMA yang terletak di kota kecamatan kecil yang terletak di tengah-tengah pegunungan. Dua orang gadis manis berseragam putih abu-abu terlihat duduk di dalamnya.

__ADS_1


“Mau mampir makan bakso dulu atau mau langsung pulang Dek?” tanya si gadis yang menyetir mobil.


“Cari bakso dulu aja Mbak, Bapak sama Ibu kondangan nih. Pasti di rumah ndak ada apa-apa,” jawab gadis satunya lagi yang duduk di sebelahnya.


Mereka adalah Asma dan Nurul.


Sesuai permintaan Munding, Pak Yai mengurus pemecahan sawah peninggalan Wage menjadi dua. Separuh atas nama Asma dan separuh lagi tetap atas nama Munding karena Pak Yai tidak setuju untuk menggantinya menjadi atas nama Nurul.


Karena urusan itulah, keluarga Asma yang kini hanya terdiri dari Asma dan Ibunya, menjadi dekat dengan keluarga Pak Yai. Asma yang juga penasaran dengan sosok Nurul yang sempat disebut-sebut Joko sebagai kekasih Munding, akhirnya mempunyai kesempatan bertemu dengan Nurul.


Awalnya, Asma menganggap bahwa Munding dan Nurul adalah sepasang kekasih. Jadi dia hanya ingin sekedar mengenal Nurul saja karena rasa ingin tahunya. Tapi seiring waktu dan semakin dekatnya hubungan keluarga mereka berdua. Asma akhirnya mengetahui kalau Munding dan Nurul sudah menikah secara siri.


Asma mengalami masa tergelapnya saat mengetahui hal itu. Bukan hanya sekedar patah hati, tapi semua kesempatan untuk bersama Munding seolah-olah tertutup dengan kenyataan bahwa Munding sudah menjadi suami seseorang.


Bahkan di usia mereka yang masih semuda itu.


Setelah sempat terpuruk selama beberapa waktu, Asma akhirnya berhasil bangkit dan mencoba untuk menjadi lebih dewasa. Dia tetap berhubungan dengan Nurul, bahkan jauh lebih dekat daripada sebelumnya.


Keadaan ekonomi keluarga Asma juga membaik karena sawah yang diberikan oleh Munding. Meskipun tidak ada laki-laki dalam keluarga mereka, tetapi mereka menggunakan sistem bagi hasil dengan petani-petani yang menggarap sawahnya.


Nurul mungkin naif dan lugu, tapi dia tidak bodoh. Dia tahu kalau Asma mempunyai perasaan terhadap Munding, suaminya. Tapi dia percaya kalau Munding pasti tetap akan memilihnya setelah apa yang mereka lalui bersama selama bertahun-tahun.


Nurul justru merasa kasihan dengan Asma. Kakak angkatnya yang mungkin perasaannya tidak akan pernah mendapatkan balasan dari Munding.


Nurul juga tahu kalau Asma sama sekali tidak mempunyai niat untuk berbuat jahat terhadap dirinya demi mendapatkan Munding atau mendekatinya dengan sengaja karena ada tujuan lain. Dia bisa melihat sorot mata tulus dan tanpa ada rasa kebencian terpendam dari tatapan mata Asma kepada dirinya.


“Mau makan bakso dimana?” tanya Asma memecah keheningan dalam mobil mereka.


“Tempat biasanya aja Mbak,” jawab Nurul sambil tersenyum ke arah Asma.


Nurul tiba-tiba teringat kembali saat pertama kali dia bertemu dengan Asma.

__ADS_1


Gadis manis yang lahir dan tumbuh di desa abangan seperti Munding-nya dulu. Sama sekali tak bisa mengaji dan tak pernah menjalankan sholat. Pak Yai kemudian mengambil keputusan yang sama dan menyuruh Nurul mengajari Asma mengaji.


Tak lama kemudian, Asma juga memutuskan untuk memakai hijab, sama seperti Nurul. Dan dua gadis berhijab itulah yang sekarang sedang berada dalam mobil putih sepulang sekolah dari SMA mereka.


“Mbak kok ngeliatin Nurul terus sih?” tanya Nurul.


Asma menarik napas dalam, “pantesan Munding bisa kecantol sama kamu Dek. Senyummu manis banget sih. Kalau Mbak jadi cowok, Mbak juga bakalan naksir kamu,” goda Asma.


“Apaan sih Mbak?” protes Nurul ke arah Asma.


Tak lama kemudian, Nurul dan Asma sampai ke warung bakso langganan mereka. Mereka berdua pun memesan makanan dan minuman mereka. Setelah pesanan mereka sampai, mereka pun menikmati makan siang mereka.


“Dek Nurul nanti malam nginap ke rumah Mbak kan?” tanya Asma.


“Mmmmmm,” Nurul terlihat ragu-ragu, “Nurul kasih tahu Bapak Ibu dulu ya Mbak,” lanjut Nurul sambil mengeluarkan hp yang belum lama dimilikinya itu.


Beberapa saat kemudian, Nurul tersenyum kearah Asma yang masih asyik menikmati baksonya, “Nurul nginep Mbak. Ibu sama Bapak dah ngijinin kok.”


“Sip,” balas Asma sambil mengacungkan jempol.


Mereka berdua memang sering nginep di rumah masing-masing bergantian. Kadang Asma yang nginep di Sumber Rejo, kadang juga Nurul yang nginep di Sukorejo, meskipun tidak selalu setiap hari. Kecuali kalau berangkat dan pulang sekolah, Asma akan selalu menjemput dan mengantar Nurul, toh mereka juga sekolah di SMA yang sama.


Tiba-tiba Nurul terdiam sambil melihat ke arah HPnya.


Asma melihat ke arah Nurul dengan penasaran, “napa Dek?”


“Kalau di dalam penjara, boleh punya HP nggak sih Mbak?” tanya Nurul tiba-tiba, “dan lagi, kenapa sih kok Mas Munding jauh sekali penjaranya? Nurul pernah merengek ke Bapak minta jenguk Mas Munding. Waktu itu Bapak cuma bilang kalau Mas Munding penjaranya khusus dan lokasinya jauh, jadi nggak mungkin dijenguk.”


Asma cuma terdiam karena dia juga tidak tahu sama sekali soal itu. Asma kemudian memegang tangan Nurul dan mengelus-elusnya pelan, “yang sabar ya Dek.”


Nurul menganggukkan kepalanya dengan sedih, “Nurul kangen Mas Munding, Mbak.”

__ADS_1


Asma cuma terdiam, karena dia juga punya perasaan yang sama dengan Nurul.


__ADS_2