
Munding melihat kearah 14 orang anggota MinMaks yang menyerang mereka ditambah dengan Rey, Ardi dan Bram. Total jumlah mereka semua ada 17 orang. Sedangkan di pihak Munding hanya ada lima orang yang siap bertarung melawan mereka.
Sebenarnya, ada banyak kawan laki-laki Citra yang datang ke acara ultah ini, tapi saat mereka melihat bahwa kali ini geng motor MinMaks yang membuat onar, mereka memilih untuk menyembunyikan diri.
Pilihan logis dan masuk akal bagi mereka, toh bukan mereka kan yang dicari oleh MinMaks?
“Perlukah aku masuk ke mode tarung?” batin Munding dalam hati.
Dia tidak ingin perselisihan yang timbul karena dirinya sendiri akan mengakibatkan orang lain terluka. Kawan-kawan Munding yang baru saja dia kenal tetapi rela untuk menemaninya berkelahi tanpa syarat dan tanpa kata ajakan dari Munding.
Apalagi, anggota geng motor MinMaks bukan seperti anak-anak Sriwijaya yang berkelahi hanya untuk menyalurkan energi berlebih mereka. Anak-anak Sriwijaya yang berkelahi dengan tangan kosong untuk menikmati adrenaline yang mengalir ke dalam tubuh dan kepala mereka dan tidak berniat untuk melukai musuhnya sampai meninggalkan cacat permanen dalam tubuh lawannya.
Sedangkan gerombolan MinMaks yang ada di depan Munding sekarang, mereka menyerang dengan niat melukai dan mereka juga menggunakan berbagai macam senjata yang sudah dipersiapkan dari awal. Pisau, tongkat kasti, sabuk dengan gear bekas sepeda motor, pedang bergerigi dari gergaji kayu yang di modifikasi, sabit yang bentuknya sama persis dengan yang digunakan oleh Pak Yai untuk mencari rumput. Dan masih banyak lagi piranti lain yang mereka siapkan sebelumnya dan kini mereka ayunkan di tangan.
Munding menarik napas dalam kemudian berkata pelan, “hati-hati kawan.”
Fariz tersenyum, “kamu juga Bro.”
Munding kemudian berlari maju menerjang ke arah musuh yang berada paling depan, diikuti oleh keempat orang kawannya.
Melihat Munding yang datang merangsek ke arahnya, seorang anggota MinMaks yang bersenjatakan sebuah pedang menyerupai katana, yang sering dipakai oleh samurai dari Jepang, terlihat sedikit panik. Tapi beberapa saat kemudian, dia menyabetkan pedangnya dari atas ke bawah, menyerupai gerakan seorang petani mengayunkan cangkulnya.
Gerakan yang terlogis dia lakukan, mengingat banyak rekan-rekannya sendiri di sebelah kiri kanannya, seandainya dia menyabetkan pedang katananya kesamping, panjang urusannya kalau terkena teman sendiri.
Dengan cepat Munding menghindari sabetan katana imitasi yang dipegang oleh musuh pertamanya itu dengan memiringkan tubuhnya ke kiri. Ketika katana itu melewati bagian sisi tubuhnya, Munding mengayunkan tangan kanannya ke arah muka si pemakai katana imitasi dan membuatnya terjatuh ke belakang dengan mulut bersimbah darah.
Musuh pertama Munding terlihat sedikit shock. Untuk sesaat tadi, dia sebenarnya sangat ketakutan. Bukan takut karena serangan Munding, tapi saat dia melihat Munding yang berada dalam trajektori ayunan pedangnya dan tidak segera menghindar, sebuah pikiran terlintas dalam benaknya.
Bagaimana kalau dia terkena pedangku dan mati? Berarti aku jadi seorang pembunuh?
__ADS_1
Dan ternyata dia belum siap untuk menjadi seorang pembunuh, karena itu, di saat-saat akhir dia melihat Munding berhasil menghindari pedangnya, si Pemakai Katana ini langsung terlihat lega dan detik berikutnya, tonjokan Munding sudah mendarat di bibirnya.
Belum sempat Munding mencari target berikutnya, tiba-tiba dia merasakan firasat bahaya datang dari belakangnya dan dengan cepat Munding merebahkan tubuhnya ke depan, suara desingan roda gigi belakang sepeda motor yang diikat dengan sabuk terdengar pelan di dekat tubuhnya.
Munding dengan cepat membalikkan tubuhnya dan melihat seorang anggota geng MinMaks yang barusan menyabetkan senjatanya dari belakang Munding. Setelah serangan pertamanya gagal, musuh kedua Munding ini menarik senjatanya dengan cepat kemudian memutarnya di atas kepala.
Dia menatap tajam ke arah Munding, mencari sasaran berikutnya untuk roda gigi motor yang sedang diputar-putarnya.
Munding yang sedang dalam kondisi berjongkok, melihat kearah bocah yang baru saja menyerangnya secara licik tadi, tapi tiba-tiba saja Munding melakukan guling harimau ke depan dan melayangkan sapuan ke arah kaki musuh keduanya.
Si pengguna sabuk beroda gigi menyabetkan senjatanya ke bawah saat dia melihat Munding berguling dengan cepat ke arahnya dengan sekuat tenaga.
Buakkkkk.
Dia tersenyum ketika merasakan roda giginya menghantam sesuatu, tapi beberapa saat kemudian, si pengguna sabuk beroda gigi ini tiba-tba merasakan rasa sakit di kakinya dan semuanya berputar dengan cepat.
Dia merasakan benturan keras di kepalanya yang diikuti oleh rasa sakit luar biasa dari sana. Untuk sesaat, si pengguna sabuk beroda gigi ini sempat melihat semuanya seperti berdiri terbalik dan kepalanya terasa sangat pusing.
Munding meringis kesakitan meskipun dia masih dalam posisinya dengan kuda-kuda rendah di atas permukaan tanah. Punggungnya baru saja terkena hantaman roda gigi. Munding tahu kalau jumper dan kaosnya pasti robek, karena dia bisa merasakan rasa perih dari punggungnya yang tertiup angin malam.
Untuk sesaat tadi, Munding dihadapkan dua pilihan, berguling ke samping untuk menghindari serangan musuh atau tetap merangsek kedepan dan melayangkan sapuan kaki. Munding mengikuti nalurinya untuk merangsek ke depan.
Naluri yang juga mulai membuat Munding merasakan perasaan tidak enak dalam dadanya. Seperti sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya, tapi bisikan naluri ini sangat lemah. Bahkan lebih lemah daripada saat musuh kedua Munding tadi melakukan serangan licik dari belakang punggungnya.
Karena itu, Munding memutuskan untuk menerima serangan musuh keduanya dan berniat menukarnya dengan mendaratkan sapuan kakinya dan mengakhiri perlawanan si pengguna sabuk beroda gigi.
Hanya dalam waktu beberapa detik, Munding sudah melumpuhkan dua orang musuhnya. Total jumlah musuh dari geng MinMaks ada 17 orang, itu artinya, Munding dan kawan-kawan paling tidak harus melumpuhkan tiga orang musuh untuk diri mereka masing-masing.
Satu lagi, batin Munding dalam hati.
__ADS_1
Dengan cepat Munding meloncat berdiri dan menerjang ke arah seorang anggota geng MinMaks yang terlihat sedang memutar tubuhnya untuk melarikan diri setelah melihat kedua rekannya tumbang di tangan Munding dalam hitungan detik.
Ketika jarak mereka sudah dekat, Munding melayangkan pukulan tangan kirinya ke arah bagian belakang kepala anggota MinMaks yang menjadi musuh ketiganya itu. Si anggota geng MinMaks yang membelakangi Munding dan terlihat mau melarikan diri karena ketakutan itu tiba-tiba memutar tubuhnya dan mengayunkan celurit yang ada di tangannya ke arah perut Munding.
Seluruh tubuh Munding menjerit karena datangnya ancaman tiba-tiba ini. Untuk sesaat tadi, Munding sudah menganggap kalau si pemakai clurit sudah putus nyalinya dan ingin melarikan diri. Ternyata, dia hanya berpura-pura dan berniat menyerangnya dari saat lengah.
Tubuh Munding yang sudah terlanjur maju dan melayangkan pukulan berhenti tiba-tiba dan Munding menarik tubuhnya ke belakang.
Sreetttttttttt.
Sabetan clurit melintang ke arah perut Munding itu berhasil mengoyak jumper Munding dan kaos yang ada di dalamnya. Munding juga merasakan sedikit rasa pedih di area perutnya. Munding tahu kalau dia baru saja menerima luka keduanya malam ini.
Tapi.
Kepala Munding justru dipenuhi ucapan Hamdalah. Karena baru saja dia diselamatkan dari bahaya yang benar-benar mengancam nyawanya. Seandainya Munding terlambat untuk menahan serangannya dan mundur untuk menghindari sabetan clurit si musuh ketiganya ini. Bisa dipastikan, usus Munding sudah terburai ke tanah.
Munding setengah berjongkok di tanah dan memegangi luka di perutnya sambil menatap musuh ketiganya yang berdiri di depan Munding sambil tersenyum menyeringai dengan sinis. Dari tatapan matanya, Munding tahu kalau musuh ketiga-nya ini bukanlah seorang siswa nakal dan berandal seperti anggota geng MinMaks lainnya.
Laki-laki yang mengenggam erat clurit di tangan kanannya itu terlihat tenang dan rileks. Tidak memperlihatkan wajah panik sama sekali terhadap peperangan yang terjadi di antara mereka. Meskipun raut mukanya terlihat bersih dan rapi tapi sudah terlihat gurat kedewasaan disana.
Munding tahu kalau musuh ketiganya ini bukan seorang siswa SMA.
“Pantas kalau si Bram kalah dari kamu. Reflekmu luar biasa. Meskipun kamu terlalu polos, mudah sekali ditipu oleh musuhmu, tapi di saat terakhir, tubuhmu yang menyelamatkanmu dari kesalahan yang dibuat oleh kebodohanmu,” kata laki-laki itu pelan sambil memutar-mutar clurit di tangannya.
Munding tersenyum setelah mendengar kata-kata musuhnya barusan, “keliatannya kau bukan murid Harsa, tapi kau bergabung dengan MinMaks. Bahkan saat MinMaks sudah tumbang, kau masih tetap bertahan di MinMaks.”
“Kaukah yang selama ini mengendalikan MinMaks dari balik layar dan memakai Bram hanya untuk bonekamu?” tanya Munding.
Musuh ketiga Munding terlihat terkejut setelah mendengar kata-kata Munding barusan, tapi setelah beberapa saat, dia justru tertawa kecil, “selain polos dan bodoh, ternyata kau juga mempunyai imajinasi yang liar ya? Atau itu semua karena efek dari perawatanmu dulu saat mengalami gangguan jiwa?”
__ADS_1
“Aku ini hanyalah pion, sama seperti Bram. Tugasku hanya mengawasi keseharian Bram dan melaporkannya ke bossku, orang yang mengendalikan Bram.”