
Afza tersenyum sumringah dan segera mengemasi berkas yang ada di depannya. Dia lalu memasukkan laptopnya ke dalam ransel dan berdiri mendekati Munding.
“Kamu serius?” tanya Arya dengan tatapan sedikit memerintah ke arah Afza.
Afza hanya tertawa kecil ke arah Arya, “Kan sudah lama aku tak bertugas di lapangan,” jawab Afza.
“Munding, ayo!!” teriak Afza lalu berjalan duluan meninggalkan ruangan.
Munding hanya tertawa lalu berdiri dari sofanya, “Jangan terlalu keras saat bekerja. Mungkin saatnya kamu mencari pendamping hidup,” kata Munding sambil menepuk pundak Arya dan berlalu.
Muka Arya memerah karena malu dan marah.
Kalau hanya ada mereka bertiga di ruangan ini, tak masalah kalau Afza melakukan tindakan indisipliner seperti tadi, tak masalah juga kalau Munding meledeknya seperti barusan. Toh mereka sudah pernah bertarung bersama-sama dulu. Dan mereka juga tahu kalau mereka bertiga adalah sahabat sehidup semati.
Tapi, saat ini, banyak anak buah Arya yang ada di dalam ruangan ini. Sebagai pemimpin tertinggi di lembaga ini, tak akan mungkin dia diam saja melihat dirinya diperlakukan seperti itu di depan semua anak buahnya kan?
“Kalian!!!” teriak Arya yang sama sekali tak digubris oleh Afza dan Munding.
Bayangan mereka berdua lalu menghilang di balik pintu. Arya berusaha meredam kemarahannya, “Ingat, mereka berdua bukan contoh yang bagus untuk kalian tiru!” teriak Arya ke arah semua anak buahnya.
Beberapa dari mereka berusaha keras menahan tawanya sampai badan mereka berguncang-guncang. Arya lalu membubarkan mereka dan meraih apel di meja dengan kesal.
\=\=\=\=\=
“Ini tempatnya?” tanya Munding.
Seorang wanita muda yang berpenampilan rapi dan sopan dengan sedikit gugup membuka notebook kecil di tangannya dan menganggukkan kepalanya ke arah Munding, “iya Pak,” katanya pelan.
“Afza, kamu disini aja ya?” kata Munding.
“Huft. Kalau gitu sama aja kalau aku harus nunggu di mobil,” sungut Afza.
__ADS_1
Munding hanya menarik napas, dan membuka pintu mobil itu lalu turun keluar. Afza dengan cepat mengikuti Munding dan berjalan di sampingnya. Bayangan dua orang itu lalu menghilang ditelan kegelapan malam di tempat ini.
Masih ada tiga orang lagi di dalam mobil yang ditinggalkan oleh Munding dan Afza. Dua orang laki-laki dan seorang wanita. Mereka menarik napas lega ketika melihat Munding dan Afza meninggalkan mobil ini.
Bagaimana mungkin mereka tidak gugup sedari tadi?
Mereka sedang bersama dua orang yang memiliki status luar biasa. Si laki-laki adalah petarung legenda yang dianggap sebagai petarung terkuat di negeri ini. Si wanita adalah pemegang pucuk pimpinan kedua di lembaga mereka sendiri.
Munding berjalan pelan sambil mengunyah apel yang tadi dibawanya dari kantor. Sejak dia menjejakkan kakinya di tempat ini, Munding sudah menyebarkan intentnya ke segala arah dan membentuk perimeter yang selalu bergerak bersama dirinya.
Perimeter dengan diameter 50m di sekelilingnya yang dapat dia aktifkan kapan saja untuk menjadi domain kegelapan miliknya.
Sekalipun Munding sudah dianggap petarung terkuat di negeri ini, tak pernah sekalipun dia bertindak gegabah. Karena itu sama saja membahayakan nyawanya. Dia masih punya Nurul dan Alit yang menunggunya di rumah. Dia tak mau Alit tumbuh tanpa sosok seorang Ayah.
Munding lalu berjalan pelan menuju puncak bukit yang sama sekali tak memiliki penerangan ini. Sesampainya disana, dia melihat sesosok laki-laki yang mengenakan topi jerami dan kemeja aloha. Dia juga hanya mengenakan celana pendek dan sandal jepit, sebuah katana terlihat bersender di sebelahnya.
“Hikari-san, lama tak berjumpa,” kata Munding masih dengan apel di tangannya sembari mengunyah pelan-pelan.
Afza sedikit kaget lalu dia mulai memasang sikap waspada. Nama Hikari sudah berkali-kali didengarnya, dialah petarung manifestasi yang membantai rekan-rekan setim Afza.
“Munding-kun, saat pertama bertemu denganmu lewat insight, aku tahu kalau kau adalah seseorang yang special. Tapi aku tak pernah menyangka kalau kau sespesial ini,” kata Hikari sambil tertawa kecil.
“Hanya dalam waktu beberapa tahun, kau berubah dari seekor tikus kecil yang kabur dari sabetan pedangku di pinggir jalan raya saat itu, menjadi sang “Demon” yang ditakuti di seantero Asia,” puji Hikari sambil menghisap rokok di bibirnya.
“Hikari-san, kau tak datang jauh-jauh kesini hanya untuk memujiku atau kangen denganku kan?” jawab Munding sambil tertawa.
“Tentu tidak, aku cuma pengen tahu sehebat apa petarung yang dijuluki Demon dan sangat ditakuti itu?” kata Hikari sambil meraih katana yang ada di depannya.
“Kamu serius?”
Sebuah suara terdengar dari samping Hikari dan Munding tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah kiri samurai itu dengan dua buah jari menempel di pelipis Hikari.
__ADS_1
Sebuah intent hitam pekat terlihat di ujung jari Munding. Intent itu berbentuk runcing dan siap menembus kepala Hikari jika dia salah memberikan jawaban yang diminta Munding.
Keringat dingin tanpa sadar mengalir dari punggung Hikari.
Hikari yang memiliki konsep kecepatan, bahkan sama sekali tak melihat bagaimana Munding bergerak atau kapan dia bergerak. Itu artinya satu, kecepatan yang dia banggakan tak berarti apa-apa di depan Munding.
Dan yang paling membuat Hikari benar-benar ketakutan adalah laki-laki ini masih dengan santainya memakan apel dan mengancam akan membunuhnya di saat yang sama. Seolah-olah, bagi Munding, menghabisi Hikari bukanlah sesuatu yang susah, sama gampangnya dengan memakan apel di tangan kanannya.
“Munding-San, aku hanya bercanda,” kata Hikari sambil meletakkan kembali katananya, dia mengubah panggilan kun dengan san tanpa sadar.
“Hmmm. Kupikir kamu serius tadi,” jawab Munding sambil menurunkan tangan kirinya yang menunjuk ke arah pelipis Hikari barusan.
“Lalu, kamu mau apa kesini?” tanya Munding.
“Aku punya informasi yang sangat berharga. Informasi tentang siapa yang menyuruh untuk melakukan penyerangan terhadap keluargamu bertahun-tahun lalu,” kata Hikari.
Munding terdiam dan berhenti mengunyah apelnya. Kali ini, informasi yang ditawarkan oleh Hikari benar-benar dia butuhkan. Selama bertahun-tahun Munding mencari informasi tentang mereka tapi organisasi itu seolah seperti ditelan Bumi.
Tapi kini, Hikari datang dengan membawa secercah harapan.
Munding tak ingin balas dendam.
Dia ingin mencari Clown. Nurul dalam kondisi seperti ini karena ulah Clown. Munding sudah melakukan berbagai upaya untuk menyembuhkan kaki istrinya. Tapi sampai saat ini usahanya belum berhasil.
Munding menganggap kalau Clown adalah peluang terbesar istrinya untuk kembali sembuh seperti sedia kala. Itulah alasannya kenapa Munding tetap bertahan untuk bekerjasama dengan militer dan tidak memutus kontaknya dengan dunia serigala petarung. Dia selalu berusaha dan berdoa agar menemukan sedikit saja petunjuk tentang Clown dan organisasi di belakangnya.
Semuanya demi Nurul.
“Aku mendengarkan,” kata Munding pelan dan serius.
“Oke. Tapi semua ada harganya,” jawab Hikari sambil tersenyum lebar, dia tahu kalau Munding sudah masuk perangkapnya.
__ADS_1
“Iya. Aku tahu semua ada harganya. Bagaimana kalau seharga nyawamu?” gumam Munding sambil kembali meletakkan telunjuknya ke kening Hikari.
“Munding-San??” wajah Hikari langsung pucat seketika, Hikari cuma memaki-maki dalam hati, pantas saja dia dipanggil Demon, Munding sama sekali tak bisa ditebak dan bertindak sesuka hatinya.