
Dengan cepat Bram melihat ke arah Rey yang ada di belakangnya, “kau kenapa diam saja tolol? Siapkan handphonemu untuk merekam!!”
Dengan tawa sinis dan keji, Bram kembali menatap Amel dan menjilat darah yang keluar dari bibirnya yang pecah dengan lidahnya, “kita lihat nanti, apa tanggapan Papamu kalau melihat video anak gadisnya diperkosa orang? Apalagi jika videonya di upload ke internet.”
“Judulnya, Anak Jenderal diperkosa Ketua Geng Motor,” kata Bram sambil matanya menerawang seolah-olah sedang membayangkannya, “aku yakin pasti akan viral. Kau pikir kau akan punya muka lagi untuk keluar rumah? Siapa yang bakalan mau menjadi suamimu nanti?”
Hahahahahahahahahahahahaha.
Bram tertawa keras sekali setelah itu dan matanya terlihat berbinar-binar penuh nafsu saat melihat ke arah Amel.
Amel dan Citra yang melihat ke semua tingkah laku Bram, merasakan seluruh tubuhnya merinding ketakutan. Pemuda yang ada di depan mereka, mungkin tidak bisa lagi dianggap manusia, tidak ada lagi rasa belas kasihan sama sekali dari nada bicaranya.
Rey dengan gugup dan tangan gemetar mengeluarkan handphonenya yang memiliki resolusi kamera lumayan bagus, “sudah siap Bram,” kata Rey setelah berhasil menyalakan aplikasi rekam video di hpnya.
“Biadab!!!” teriak Amel ke arah Rey yang sedang merekam semuanya.
Bram yang sudah kalap dan nafsunya sudah naik ke ubun-ubun langsung mendorong tubuh Amel jatuh terlentang ke lantai ruang tengah. Untung saja ada karpet tebal disana. Dengan cepat Bram duduk mengangkang di atas perut Amel dan menindihnya.
Amel meronta sekuat tenaga dan menggunakan kaki dan tangannya untuk berusaha melepaskan diri. Amel berlatih beladiri dan seandainya tadi Bram memposisikan tubuhnya seperti adegan pemerkosaan di film-film dimana si laki-laki menempatkan tubuhnya di tengah-tengah kaki si wanita.
Amel berencana untuk melakukan kuncian dengan kedua kakinya dan melakukan ground fight ala Brazillian Jiu Jit Su dengan si Bram. Tapi ternyata meskipun terlihat kalap, Bram cukup cerdik. Dia menduduki perut Amel dan mencegah Amel melakukan kuncian kaki. Dengan punggung tegak, kepala Bram juga aman dari jangkauan pukulan Amel yang ada di bawah tubuhnya.
Citra menjerit ketakutan ketika melihat apa yang Bram dan Rey coba lakukan ke Amel. Dia sama sekali tidak menyangka kalau semua kekacauan ini berawal dari kebodohannya untuk menuruti perintah Rey mengundang Amel ke pesta ultahnya.
Citra merasa bersalah luar biasa kepada Amel dan tanpa berpikir panjang, Citra menubruk Bram yang sedang mengangkangi tubuh Amel dan sedang berusaha untuk membuka gaun Amel dengan satu tangan, karena tangan satunya masih memegangi pistol rakitannya.
Bram yang tidak menyangka Citra akan senekat itu dengan sigap membanting tubuh Citra ke sampingnya. Citra merintih kesakitan dan menangis terisak-isak. Amel yang melihat keberanian Citra, meronta semakin kuat dan menggunakan kakinya untuk melepaskan diri dari tindihan Bram.
Tapi semua usaha Amel sia-sia.
Bram masih menindih Amel di bawah tubuhnya dan semakin senang dengan perlawanan yang Amel berikan. Bram memang punya selera yang aneh, dia suka berbuat sadis saat melakukan hubungan **** dengan gadis-gadis Salomenya. Tapi yang mereka lakukan cuma akting, kali ini, Amel benar-benar memberikan perlawanan sekuat tenaga.
Rey yang menyaksikan semuanya sambil tetap memegangi hp untuk merekam perbuatan Bram cuma bisa menelan ludah. Untuk sekilas tadi, dia sempat melihat bagian tubuh Amel yang masih tertutupi gaun dan memang Amel mempunyai tubuh yang indah.
Tapi sayang, Rey cuma bisa bermimpi untuk mendapatkan keperawanan Amel.
__ADS_1
Amel masih terus meronta dengan sekuat tenaga. Dia menggunakan kaki untuk menendang punggung Bram yang mengangkanginya diatas perut. Amel juga menggunakan kedua tangannya untuk memukul kepala, badan dan tangan Bram. Tapi semua itu tidak membuahkan hasil.
“Amel, sebaiknya kau pasrah saja. Saatnya aku menikmatimu sekarang,” kata Bram sambil menjilat bibirnya.
Wajah yang seharusnya ganteng dan menawan hati wanita itu kini menyerupai sesosok wajah penjelmaan setan yang sedang menuruti hawa nafsunya.
Bram mengangkat tangan kirinya dan mengarahkan pistolnya ke arah Citra yang merintih kesakitan di sebelah mereka, “buka gaunmu sendiri dan turuti apa mauku, kalau tidak, aku tembak kepala Citra,” kata Bram pelan tapi bagaikan petir menyambar di telinga Amel dan Citra.
“Jangan turuti dia Mel, jangan berikan mahkotamu untuk setan bejat seperti dia!” teriak Citra ke arah Amel dengan suara parau disertai tangisan.
Bram tersenyum keji dan berdiri sambil tetap menodongkan pistolnya ke arah Citra.
Amel tersenyum pahit, dia tahu kalau Bram serius dengan ancamannya barusan. Air mata mulai keluar dari pelupuk matanya. Tiba-tiba saja, seraut wajah muncul di kepala Amel. Wajah kampung yang sudah beberapa minggu terakhir ini selalu mengisi kepalanya dan memonopoli perhatiannya.
Munding, maafin Amel ya?
Dengan tangan bergetar, Amel kemudian duduk dan mulai melepas gaunnya sendiri pelan dengan tangan yang bergetar keras. Citra yang menyaksikan itu semua menangis makin keras dan memejamkan matanya karena tak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bram tertawa sambil tetap mengacungkan pistolnya ke arah Citra. Dia sudah merencanakan semuanya dari awal. Dia tidak ingin mengandalkan kemampuan tinjunya untuk membalas dendam ke Munding dan Amel. Dia akan menggunakan senjata api.
Sekalipun Munding saat ini datang dan berniat menyelamatkan Amel, apa yang bisa dia lakukan dihadapan todongan pistolnya?
Bram kemudian berdiri di depan Amel yang masih terduduk di tempatnya tadi. Dengan senyum penuh kemenangan Bram membuka celana panjangnya dan menurunkannya sehingga si Bram kecil yang sudah bangun dari tadi bisa teracung ke arah Amel.
Tubuh Amel berguncang hebat, dia tahu apa yang Bram inginkan dengan pose tubuh mereka saat ini. Tangannya berhenti melepas gaun yang dia kenakan dan Amel maju mendekatkan wajahnya ke arah si Bram kecil di depannya.
Bram menurunkan pistolnya dan tidak menodongkannya ke Citra lagi. Dia tersenyum menyeringai ketika melihat Amel mendekatkan wajahnya ke arah selangkangannya. Amel yang melihat kalau pistol Bram sudah tidak terarah ke Citra lagi semakin mendekatkan wajahnya dan hanya satu pikiran terlintas di kepala Amel saat itu.
Aku akan menggigitnya sampai putus, *******!!
\=\=\=\=\=
Pak Yai dulu pernah melarang Munding untuk tidak gegabah saat memasuki mode tarung. Munding juga dilarang masuk ke mode tarung kecuali ketika dia sedang menghadapi saat yang benar-benar berbahaya dan mengancam nyawanya sendiri.
Tapi saat ini Munding merasa kalau dia harus melakukan ini. Meskipun nyawanya tidak terancam.
__ADS_1
Setelah memasuki mode tarung, Munding merasakan sensasi familiar yang sudah lama tidak dia rasakan itu. Seluruh tubuhnya terasa seperti ditekan oleh sesuatu dengan kuat, sama seperti seorang penyelam yang sedang menyelam di kedalaman air.
Munding merasakan nafasnya sesak dan darah mengalir makin cepat di seluruh tubuhnya. Seluruh ototnya juga mengencang, terkecuali bagian leher ke atas yang tetap terasa relaks. Ketika dia mencoba melangkah, dia membutuhkan usaha yang sama beratnya untuk melakukan sebuah tendangan dengan sekuat tenaga pada kondisi normal.
Munding melihat sekelilingnya dan semuanya menjadi seperti membeku. Butiran-butiran merah berkilauan yang terlihat indah mengambang di udara dan ternyata adalah cipratan darah. Ekspresi muka Wowo yang terlihat bangga setelah berhasil menumbangkan semua musuhnya sambil mengusap hidungnya dengan punggung tangan.
Raut muka lega yang terlihat di wajah beberapa teman Citra yang melihat dan merekam semua perkelahian ini dari jauh. Potongan tongkat kasti yang patah dan terbang karena tendangan karate Fariz dan mengambang di udara.
Semuanya terlihat aneh, asing tetapi sangat indah. Munding seolah-olah masuk ke sebuah dunia lain, dunia dimana semua benda dan orang lain hanyalah ada untuk dirinya. Hanya Munding sendiri yang mempunyai hak untuk ‘hidup’ karena hanya dirinya yang bergerak, sedangkan yang lain hanya diam mematung bagaikan benda mati, tak ubahnya batu ataupun kayu.
Aku satu-satunya. Aku. Bukan mereka.
Pikiran-pikiran yang semakin aneh dan illogical terus menyeruak dalam kepala Munding dengan kecepatan luar biasa, bahkan ada sebersit pikiran kalau dirinya bukan lagi manusia. Munding merasa dirinya adalah seorang dewa, karena dia lebih tinggi dari semua manusia yang sekarang membatu tak berdaya itu.
Munding makin larut dalam pusaran logika tak bertepi yang meledak-ledak dalam kepalanya sampai ketika tiba-tiba nalurinya membisikkan sebuah nama dalam dada Munding.
Amel.
Dan Munding langsung tersadar seketika. Inikah balasan dari ‘logika’ karena aku memilih ‘naluri’ dibandingkan dengannya saat inisiasiku? Tanya Munding dalam hati, pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab.
Munding kemudian melangkah ke arah rumah Citra. Usaha sepele yang sudah sedari kecil dia lakukan seperti berjalan kaki, kini seolah-olah menjadi sebuah tantangan berat saat dilakukan dalam mode tarungnya.
Setelah sekian lama Munding berjalan pelan dari depan gerbang rumah Citra ke dalam ruang tamu, Munding melihat sebuah adegan yang sedang terjadi di ruang tengah rumah Citra.
Bram berdiri dengan sebuah pistol di tangannya. Amel yang menangis dan terlihat sedang melepaskan gaunnya sendiri yang sudah sobek di sana-sini. Citra yang menangis keras sambil memejamkan matanya. Rey yang tubuhnya terlihat dipenuhi keringat dan merekam semuanya dengan hp.
Dan Munding langsung tahu apa yang terjadi saat ini. Karena dia pernah melihat kejadian yang hampir sama dulu.
Saat Joko berusaha memperkosa Asma.
Munding bergerak menuju ke Rey, karena dia harus menghentikan rekaman video tersebut sebelum melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Hanya ada satu hal yang layak dilakukan kepada seseorang sebejat Bram, meskipun itu berarti Munding akan melanggar pantangan yang diberikan oleh Pak Broto saat memberikan misinya dulu.
Menghabisi nyawa Bram.
__ADS_1