
"Huh. Aku pengen melihat juga seberapa hebatnya petarung genius dari lembaga lain," gumam seorang gadis manis yang menggunakan seragam pakaian dinas harian yang berwarna biru muda.
Seorang pria yang duduk di sebelahnya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan rekannya itu.
Mereka adalah Ardian dan Dewi, kandidat yang diusulkan oleh Angkatan Udara. Keduanya berusia sekitat 25 tahunan dan menjadi prajurit elit dari kesatuan mereka. Sama seperti Afza, ketika mereka ditunjuk untuk masuk ke dalam tim gabungan ini, mereka dengan senang hati dan bangga menerimanya.
"Dewi, nanti kalau sudah bertemu dengan anggota tim yang lain, tolong sedikit lebih dewasa. Kita semua adalah prajurit pilihan dan kita berdua mungkin yang terbaik di Angkatan kita, tapi jangan meremehkan yang lain," kata Ardian pelan ke arah rekannya.
"Justru itu, kapan lagi kita bisa bertemu dengan prajurit terbaik dari Angkatan lain? Kita harus buktikan kalau AU yang terhebat," bantah Dewi berapi-api.
Ardian menarik napas dalam dan melihat keluar jendela.
\=\=\=\=\=
"Ingat! Di atas langit masih ada langit, cangkir yang penuh tak akan pernah bisa terisi lagi," teriak seorang laki-laki paruh baya ke arah sepasang laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian training dan terlihat kelelahan.
Si pria paruh baya berjalan dari kiri ke kanan dan terus menatap garang ke arah dua orang yang berdiri dengan sikap siaga di tempatnya.
"Eiren!!"
"Siap Pak!" jawab si Gadis dengan cepat.
"Apakah kamu yang terkuat?" tanya si pelatih dengan muka yang berdekatan dengan muka si Gadis dan seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Tidak Pak!" jawab si Gadis.
"Ridwan!!"
"Siap Pak!" jawab si Pria muda dengan cepat.
"Apakah kamu yang terhebat?" tanya si Pria paruh baya ke pria di sebelah si Gadis dengan tatapan yang tak kalah garang.
"Tidak Pak!" jawab si Pria.
"Bagus," kata si Pria paruh baya sambil tersenyum.
"Saat kalian merasa kalau diri kalian masih lemah, masih merasa takut kalau ada banyak petarung yang lebih kuat dari kalian di luar sana, kalian akan selalu waspada dan tidak bertindak gegabah," lanjut si Pria paruh baya.
"Terima kasih atas petunjuknya Pak," jawab Ridwan diikuti anggukkan kepala oleh Eiren.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Seorang pria merintih diatas lantai yang terletak dalam sebuah ruangan yang berisi tiga puluhan orang.
Di depannya seorang gadis berdiri sambil tersenyum puas dan berkacak pinggang.
"Anggie, lain kali, kalau mukul jangan keras sekali. Ini kan cuma latihan," keluh si Pria yang merintih di lantai sambil bangkit berdiri.
"Hei, kita ini prajurit, saat menghadapi musuh, kita tak akan menahan diri kan. Setidaknya saat kita berlatih, kita harus serius agar nanti terbiasa saat menghadapi pertarungan sesungguhnya," bantah si Gadis yang bernama Anggie.
"Jadi begitu menurutmu? Kalau begitu, sparinglah denganku. Kalau ingin serius berlatih, cari lawan yang seimbang."
Terdengar sebuah kalimat menyahuti kata-kata Anggie. Semua orang yang berada dalam ruangan itu terdiam. Mereka tahu siapa yang barusan berbicara. Dia Sunarya.
Sunarya dan Anggie adalah dua petarung terbaik dari Angkatan Laut. Ketiga puluh orang yang sekarang berada dalam ruangan ini semuanya adalah petarung, tetapi hanya mereka berdua yang mencapai tahap inisiasi.
"Berapa skor terakhir kita?" tanya Anggie dengan raut muka serius.
"4-3," jawab Sunarya, "aku menang dengan selisih satu angka," lanjutnya.
"Humph," dengus Anggie dan mulai memasang kuda-kudanya.
Sunarya berjalan dan mendekati Anggie, setelah jarak mereka kurang dari 3 meter, dia memasang kuda-kuda juga.
"Sampai akhir," jawab Sunarya dengan muka serius.
Dan mereka berdua memulai pertarungan kedelapan mereka untuk menentukan siapa yang terbaik dari mereka berdua.
\=\=\=\=\=
"Ndan! Ini," kata seorang pria sambil menyerahkan amplop yang entah berisi apa ke seorang laki-laki berpakaian rapi.
Mereka berdua sedang berada di sebuah diskotik entah dimana diiringi suara dentuman musik yang keras.
"Humph, setelah ini, mungkin aku lama tak akan kesini. Kamu transfer saja ke rekeningku," kata si Pria berbaju rapi.
"Siap Ndan. Aman itu," jawab pria beperut buncit satunya lagi, "memang ada tugas kemana Ndan?" lanjutnya.
"Tugas tak jelas memburu grup pembunuh bayaran," jawab si Pria rapi.
"Wah. Bahaya tu Ndan. Ati-ati lho Ndan," kata si Pria buncit dengan raut muka kuatir, entah serius atau cuma pura-pura.
Si Pria rapi hanya tertawa mendengar nada bicara si Pria buncit, "A Hong, kau tahu seberapa kuatnya aku?"
__ADS_1
Pria buncit yang dipanggil A Hong cuma meringis tanpa menjawab.
"Semisal semua preman yang kau sewa untuk menjaga diskotik ini mengeroyokku, aku bisa menghabisinya dengan satu mata terpejam," jawab si Pria rapi dengan percaya diri.
A Hong cuma menganggukkan kepalanya tanda mengerti meskipun aslinya dia tak percaya dengan kata-kata anggota Brimob yang bernama Rony dan menjadi backing diskotiknya selama hampir setahun ini.
"Kau tak percaya?" bentak Rony.
"Nggak Ndan. Aku percaya," jawab A Hong.
"Humph," dengus Rony.
Wussshhhhh.
Tiba-tiba Rony menghilang dari tempatnya duduk. A Hong sangat terkejut sekali. Sekejap kemudian, Rony sudah muncul lagi di tempatnya semula sambil memegang remote TV yang digunakan untuk karaoke di ruangan itu.
"Kalau aku mau, tadi aku bisa membunuhmu lebih dari 3 kali," kata Rony sinis.
Mulut A Hong terbuka lebar. Dia memang mengenal pria bernama Rony ini dari relasinya di kepolisian, tapi dia tak menyangka kalau oknum yang dibayarnya tiap bulan dengan jumlah besar itu ternyata punya kemampuan yang sepadan dengan uang yang dia keluarkan.
"Setahun aku menjaga tempat ini. Tak pernah sekalipun aku merasakan desakan adrenaline yang kucari. Mungkin dengan bergabung dengan tugas ini, aku bisa merasakan rasanya membunuh orang lagi," kata Rony sambil tertawa.
A Hong merasakan keringat dingin keluar dari punggungnya dan semua bulu kuduknya berdiri. Dia tak menyangka kalau pria yang selama setahun ini dan setiap bulan dia temani selama beberapa menit ternyata seorang pembunuh yang mengerikan.
"Jangan pernah ragukan aku. Ingat itu!" kata Rony.
"Siap Ndan!" jawab A Hong dengan suara bergetar.
"Kalau lain kali ada orang yang ingin kau hilangkan. Kasih tahu aku. Bersih dan tanpa jejak. Tapi semua ada harganya. Ngerti?" tanya Rony lagi.
"Paham Ndan!" jawab A Hong.
"Sekarang carikan aku dua wanitamu yang paling mantap. Ingat! Paling mantap. Aku ingin merasakannya yang terakhir kali sebelum berangkat nanti," kata Rony.
"Segera Ndan," jawab A Hong sambil beranjak berdiri dan setengah berlari keluar ruangan.
Rony menganggukkan kepalanya. Kini yang terlintas di kepalanya adalah sosok seorang gadis manis yang dulu sama-sama mengikuti training super berat bersama dirinya. Satu-satunya petarung terinisiasi dari kesatuan yang sama dengannya. Seorang gadis manis bernama Mia.
Rony menyukai Mia, dan dia satu-satunya gadis yang dia kejar tapi tak berhasil dia dapatkan. Rony tahu kalau kandidat kedua yang akan bersamanya adalah Mia.
"Mia, masihkah kamu menolakku setelah kita berpisah selama tiga tahun ini?" bisik Rony pelan kepada dirinya sendiri.
__ADS_1