Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 111 - Terkuat


__ADS_3

“Munding kemana?” tanya Amel ke supir yang biasa mengantar jemput mereka ke sekolah karena dia tidak melihat Munding di dalam mobil pagi ini.


Si sopir hanya membalasnya dengan gelengan kepala saja.


Tadi pagi saat dia ingin menemani Munding berlatih silat seperti biasanya, dia tidak menemukan Munding di kebun belakang rumah. Ini kali pertama Munding tidak melakukan latihan rutinnya.


Amel dengan rasa penasaran mencari Munding ke pavillionnya tapi tidak menemukan dia disana. Amel akhirnya memutari rumahnya sendiri dan setelah lelah berkeliling sepagian ini, dia akhirnya menyerah saat tidak juga berhasil bertemu dengan Munding.


Amel masih berharap kalau pagi ini, dia akan menemukan cowok itu sudah duduk di kursi belakang mobil seperti biasanya saat mereka berangkat ke sekolah. Tapi ternyata harapannya juga tak terjawab.


“Kemana sih si kampungan itu, pagi-pagi gini dah bikin mood orang jadi sumpek aja,” gerutu Amel sambil masuk ke mobil.


“Kita berangkat ya Mbak?” tanya pak Sopir sambil melirik ke spion tengah karena Amel duduk di jok belakang sendirian.


Amel menganggukkan kepalanya dengan muka cemberut.


Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil menjadi sedikit sepi tidak seperti biasanya yang akan dipenuhi oleh ocehan Amel yang selalu mengganggu dan minta diperhatiin Munding.


Amel melirik ke arah luar jendela dan satu kalimat terpikir di kepalanya saat itu, “kalau Munding sudah balik ke kampungnya, bakal sepi gini terus ya?”


Air mata meleleh turun di pipi Amel tanpa dia sadari, Amel mencoba mengusapnya tapi air mata itu juga tak kunjung berhenti. Lama kelamaan, Amel mulai terisak-isak. Entah kenapa, dia menjadi sedih saat dia harus kembali berangkat dan pulang sekolah sendiri seperti saat ini.


Dulu dia terbiasa dengan itu, dia berusaha menjadi seorang gadis yang kuat dan tidak gampang menangis. Dan setelah bertahun-tahun akhirnya dia berhasil melakukan itu.


Tapi.


Semua usahanya bertahun-tahun hancur hanya dalam waktu dua bulan sejak dia mengenal Munding.


Amel yang selama ini sudah menjadi gadis yang kuat dan mandiri, kini kembali menjadi gadis yang rapuh. Dia bahkan merasa takut dan sedih hanya karena membayangkan kalau suatu saat Munding sudah tidak ada lagi, kesepian seperti inilah yang nanti akan dia rasakan setiap hari.


\=\=\=\=\=


Buakkkkkkkk.


Seorang laki-laki berbadan kekar tersungkur di lantai yang dilapisi matras tipis setelah terkena tendangan rekan latih tandingnya.


Kawan-kawan mereka yang lain pun bersorak ketika melihat si Sepuluh tersungkur di lantai setelah terkena tendangan Empat. Meskipun Empat adalah seorang wanita, tapi dia karena dia berhasil melakukan awakening dia jauh lebih kuat dari pria-pria lainnya yang gagal melakukan awakening.


Guru cuma berdiri sambil tersenyum ketika melihat kedua belas muridnya yang sedang melakukan sparing di dalam ruangan latihan milik unit mereka ini. Dari keempat serigala petarung, hanya Empat yang selalu meladeni rekan-rekan lainnya untuk sparing.


Karena meskipun dia yang terlemah, tapi Empat memiliki kontrol emosi yang paling bagus diantara mereka berempat. Guru tidak mengijinkan serigala petarung lain untuk sparing karena takut mereka tidak bisa mengendalikan emosinya dan mengalami ‘berserk’.

__ADS_1


Saat mereka tengah asyik melakukan sparing, Yusuf memasuki ruangan latihan itu dan langsung mendekati Guru. Dia membisikkan sesuatu dan membuat sang Guru mengrenyitkan dahinya.


“Kamu sudah mengkonfirmasi berita ini?” tanya sang Guru.


Yusuf menganggukkan kepalanya, “aku sudah melakukan cross check ke tiga sumber. Sumber dari dalam rumah Broto, sopir yang membawa Amel dan sumber dari rumah sakit tempat Munding dirawat.”


Kalau Broto dan timnya mendengar kata-kata Yusuf, mungkin mereka akan sangat marah sekali. Dari ketiga sumber informasi yang digunakan oleh Yusuf, dua diantaranya berada di sekitar Amel setiap hari.


Sumber dari dalam rumah Broto yang belum teridentifikasi dan sopir harian Amel.


“Ini kesempatan yang sangat bagus, kita harus majukan rencana kita sehari lebih cepat,” kata sang Guru.


Setelah itu, sang Guru berjalan ke arah 12 orang muridnya yang sedang bermain-main di atas matras itu dan berdiri di sana. Lambat laun seluruh muridnya menyadari keberadaan sang Guru yang sudah berdiri di dekat mereka.


“Kalian bersenang-senang?” tanya sang Guru sambil tersenyum.


Ke dua belas anggota tim Kelelawar itu tertawa dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan guru mereka. Beberapa diantaranya hanya membalasnya dengan tersenyum kecut, biasanya mereka yang menjadi korban bully saat acara sparing seperti ini.


Sang Guru menarik napas panjang dan berkata pelan tapi dengan intonasi yang jelas kepada murid-muridnya, “oke, tapi ingat. Sparing seperti tadi itu cuma main-main. Tak ada manfaatnya selain membuat kalian lebih relax dan mengurangi stress.”


Semua murid-murid sang Guru tertawa mendengar candaan darinya. Yusuf sudah berdiri di sebelah sang Guru dan memberi isyarat agar mereka semua berkumpul.


“Seharusnya, misi kita akan dieksekusi besok. Tapi hari ini kita mendapatkan kesempatan yang sangat langka. Kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Karena itu, kami memutuskan untuk memajukan misi kita menjadi hari ini,” kata Yusuf dengan muka serius.


“Kalian punya waktu lima belas menit untuk melakukan persiapan,” lanjut Yusuf dengan suara lebih pelan, “bawa peralatan taktis tempur perkotaan tanpa senapan laras panjang dan perbekalan. Minimalkan bawaan kalian supaya kita bisa bergerak lebih cepat.”


Kedua belas anggota tim Kelelawar masih terdiam di tempatnya padahal Yusuf sudah selesai melakukan briefingnya. Mereka seakan masih kaget mendengar bahwa mereka akan melakukan misi pertama mereka lima belas menit lagi.


Mereka tahu kalau misi mereka adalah menculik seorang putri tunggal jenderal angkatan darat. Dan semudah-mudahnya melakukan itu, pasti tetap akan terjadi konfrontasi dengan mereka. Tidak mungkin para war maniac itu membiarkan keluarga mereka diganggu oleh siapapun dan itu artinya semua anggota tim kelelawar harus siap dengan kondisi terburuk.


Kondisi terburuk yang akan mereka hadapi dalam waktu lima belas menit lagi, bukan besok pagi.


Sang Guru yang melihat kedua belas muridnya terdiam setelah mendengar pengumuman dari Yusuf tadi cuma tertawa kecil. Dia kemudian maju dua langkah dan melihat ke wajah mereka satu persatu.


“Kenapa wajah kalian seperti itu?”


“Dulu, aku tidak pernah tahu kapan sebuah pertempuran akan datang dan terjadi kepadaku dan kawananku.”


“Setiap musuh menyerang, saat itu juga kami harus siap sedia untuk melawan.”


“Mereka tidak memberikan waktu lima belas menit untuk persiapan seperti yang kalian terima sekarang ini. Bahkan setengah menit pun tidak."

__ADS_1


"Kalau kalian lengah, kepala akan melayang terkena tebasan pedang. Seperti itulah kehidupan para petarung."


“Petarung yang sesungguhnya harusnya bertarung di jalanan sana. Bukan berpuas diri dengan melakukan sparing anak-anak seperti yang kalian lakukan tadi.”


“Mereka bertarung tanpa aturan dan tanpa wasit yang memisahkan.”


“Tanpa ada larangan apapun untuk melukai dan melumpuhkan lawan.”


“Mempertaruhkan nyawanya dengan setiap pukulan yang dia layangkan.”


“Meremukkan tulang kepala musuh di atas aspal yang keras, bukan matras empuk yang kalian injak ini.”


“Merasakan darah yang mendidih karena luapan emosi.”


“Merasakan tubuh bergetar karena adrenaline yang mengalir di seluruh tubuh.”


“Menjawab pertanyaan mendasar dalam dada kita.”


“Siapa yang terkuat antara aku dan musuhku?”


“Dan ketika semua sudah berakhir, kita akan selalu bersyukur atas nikmat kehidupan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita."


"Nikmat yang kalian tidak pernah sadari dan syukuri sampai ketika kalian harus mempertahankannya.”


“Kalau kalian adalah petarung,”


“Kalau kalian bukan orang-orang lemah pengecut yang selalu menggunakan orang lain untuk mempertahankan hak hidupnya sendiri.”


“Maka angkat wajah kalian!!”


“Kepalkan tangan kalian!!”


“Dan biarkan musuh kita merasakan gemetar di sekujur tubuhnya saat berhadapan dengan kita.”


“Karena kita adalah petarung yang terkuat!!!”


Sang Guru berteriak kencang di akhir pidato pemberi semangatnya dan mengepalkan tangan kanannya keatas yang disambut oleh semua muridnya dengan teriakan kencang yang seakan-akan bisa merubuhkan gedung bertingkat itu.


Sang Guru memutar tubuhnya dan cuma melirik sekilas ke arah Yusuf si Perlente yang sedang mengelap keringat dingin di keningnya.


Untuk sesaat tadi Yusuf membayangkan apa jadinya jika bukan dua belas orang yang tadi mendengarkan kata-kata sang Guru. Bagaimana jika ada 10 ribu atau 20 ribu orang pasukan berani mati yang sudah dicuci otak dan mendengarkan pidato sang Guru?

__ADS_1


Tiba-tiba seluruh tubuh Yusuf merinding ketika membayangkan itu semua. Apa jadinya jika rencana mereka sukses dan sang Guru berhasil merekrut pasukannya sendiri?


Aku harus meninggalkan kota Semarang ini sejauh-jauhnya saat itu terjadi, janji Yusuf dalam hati.


__ADS_2